
“Pah, tamunya di ajak sarapan dulu. Mereka pasti belum sarapan Pah. Perjalanannya cukup jauh.” Ajak Ellie yang menyiapkan makanan dibantu Bi Inah.
“Mari, kita isi tenaga dulu supaya bisa berpikir dengan jernih.” Maysarah dan Ratih berjalan di belakang Edwin.
“Perkenalkan saya Ellie.” Sapanya dengan sopan.
“Maysarah, ini keponakan saya Ratih.” Ratih tersenyum dengan sopan, mengulurkan tangannya pada Ellie.
Ratih menunduk tidak mampu melihat kesedihan di wajah Bibi yang selalu dia sayangi. Dia mencurahkan cinta kasihnya melebihi Ibu kandungnya sendiri.
“Jangan sungkan ya May, Ratih. Kita ini keluarga, bagaimanapun kita tidak mungkin bisa terpisahkan.” Hibur Ellie yang merasakan perih di hatinya.
Maysarah menahan tangisnya, matanya berkaca-kaca meski masih mencoba tegar dan terlihat baik-baik saja. Ratih menggenggam erat tangan Bibinya agar tetap kuat.
Sarapan begitu hening, hanya ada beberapa celetukan dari mulut Ellie mengusir ketegangan. Maysarah dan ratih tidak banyak bersuara, mereka terlihat sangat kelelahan.
Selesai sarapan Ellie membawa Maysarah dan Ratih ke taman belakang menikmati secangkir the hangat untuk menemani pembicaraan mereka pagi ini. Masih tidak ada yang membuka suara.
Hening.
“Hmmmm……” Ellie bingung harus memulai dari mana. “May, kita sepertinya seumuran. Putrimu berapa usianya?”
“Dia meninggal di usia 30 tahun.” May mencoba tetap tersenyum. “Dia gadis yang sangat baik, dia tidak pernah marah padaku. Dia rutin memberikan kabar padaku.” May membuka ponselnya, pesan lama yang tidak pernah dia hapus.
Putriku cantik kan Mah, namanya Hanna Gayatri.
Mulai sekarang Mamah di panggil Eyang yah sama Hanna.
Eyang…..cucunya sudah bisa jalan Yang.
Kapan-kapan kita berkunjung ya Eyang, Hanna ingin kenal sama Eyangnya.
Beberapa pesan menyayat hati karena saat itu May masih belum membuka hati untuk putrinya. Padahal dalam lubuk hatinya dia sangat kehilangan putri semata wayangnya yang lebih memilih hidup dengan laki-laki pilihannya.
“Dia pasti Putri yang sangat menganggumkan.” Ellie terharu membaca isi pesan yang begitu hangat. Pantas saja Nindi tumbuh menjadi gadis yang sangat hangat dan manis. “Pasti Nindi dapat sifat-sifat baik menurun dari Putrimu May.”
May mengangguk setuju, karena setahu dirinya Nindi tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Putrinya lah yang menggantikan peran membesarkan Nindi penuh cinta kasih.
“May….” Edwin menggenggam tangan istrinya, dia takut kata-katanya akan menyakiti Maysarah.
“Katakan saja, aku juga bingung harus bagaimana sekarang. Aku benar-benar hanya ingin menebus kesalahanku pada Putriku Agni. Hanya dengan mengurus dan merawat Hanna aku bisa menebus kesalahanku.” May menahan tangisnya, dadanya terasa sesak.
“Tapi, apa aku bisa memberimu saran?” May mengangguk. “Jangan tersinggung May, bagaimana jika kita membiarkan Hanna nyaman dulu dengan kehadiranmu. Menginaplah, buat Hanna mengenal siapa dirimu May.” Pintanya agar Hanna juga tidak merasa bingung.
“Apa Nindi akan membiarkanku berada dekat dengan Hanna? Dia pasti takut aku memisahkannya dari Nindi, aku tidak mungkin bisa melakukannya.”
“Bisa May, Nindi hanya ketakutan. Dia akan bisa menerima jika kita masuk secara perlahan, Nindi gadis yang sangat baik dan penuh cinta May. Lihatlah Putrimu, dia bahkan sangat menyayangimu bagaimanapun hubungan kalian.” Jelas Ellie agar May mau mengikuti saran suaminya.
“Lagipula kita juga tidak bisa memaksa Hanna, dia akan terluka May. Percayalah Nindi dan Hanna sama-sama saling terikat. Mereka tidak bisa dipisahkan May.” Nindi sangat terluka May, ucap Edwin pada dirinya sendiri.
“Aku sebenarnya hanya ingin meminta Nindi menyerahkan Hanna, biarkan Nindi tidak lagi menanggung beban membesarkan Hanna. Biarkan aku yang merawatnya.”
__ADS_1
“Tidak bisa May, Nindi atau pun Hanna tidak akan mau jika diminta untuk saling melepaskan. Mereka saling menjaga dalam suka dan duka.” Ellie mencoba meyakinkan May agar menempuh jalan lain agar tetap dekat dengan Hanna.
“Aku benar-benar butuh bantuan kalian. Tolong aku! Bujuk Nindi agar mau menyerahkan Hanna dengan lapaang dada padaku. Aku mohon…” Terisak pilu.
Ratih ikut menangis mendengar Bibinya memohon.
"Jangan berkeras hati May, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi memaksa Hanna saat dia tidak mengenalmu malah akan membuatmu tidak bisa dapat simpati darinya. Dia anak yang cerdas May." Edwin mencoba meyakinkan Maysarah, tindakannya membawa Hanna secara paksa salah.
"Kalau aku menunggu dan dia tidak bersedia ikut bagaimana? Aku tidak bisa menebus kesalahanku pada Putriku."
"Bukan begitu seorang Ibu seharusnya bersikap. Kau sudah salah karena tidak mencintai Putrimu. Tapi jangan bawa Hanna karena aku tidak akan pernah mengijinkannya." Ayman tiba-tiba muncul dengan emosi yang menggebu.
Dirinya baru saja kembali dari luar kota.
"Tenang Nak." Ellie membawa Ayman duduk di sebelahnya. Tidak melepaskan tangan Ayman yang terkepal menahan amarah. "Dia Ayman Putraku. Dia menjaga Hanna selama ini seperti Putrinya sendiri. Kau bisa bayangkan jika Hanna kehilangan kami May."
Maysarah mulai berfikir.
Hanna tidak hidup kesulitan, banyak orang-orang baik yang menyayanginya dengan tulus.
Maysarah terisak di pelukkan Ratih, dirinya sungguh hanya menginginkan Hanna agar bisa hidup bersamanya, menebus segala kesalahannya di masa lalu yang memisahkan dirinya dengan Putri semata wayangnya yang ternyata nasibnya begitu menyedihkan.
“Sabar dan tabahkan hatimu May, kita coba rawat Hanna bersama May. Kita bisa membesarkannya penuh kasih sayang seperti yang sudah kami lakukan selama ini May. Berbesar hatilah May.” Ellie mengusap punggung Maysarah penuh kesedihan, seorang Ibu yang kehilangan buah hatinya.
“Aku memang tidak pantas dapat pengampunan. Aku pasti di hukum Tuhan karena dosa-dosa ku pada Putriku.”
“Tidak May, justru Tuhan memberikan mu kesempatan agar bisa berubah. Nindi pasti akan lihat ketulusanmu May. Percayalah, dia wanita yang bijak dan penuh kasih May.”
Setelah perdebatan panjang akhirnya Maysarah memutuskan untuk memperkenalkan dirinya pada Hanna. Tidak akan memaksa Hanna untuk ikut dan tinggal bersamanya. Biarkan Hanna mengenalnya dulu sebagai Neneknya.
"Sudah lebih baik Nin?" Nindi menggangguk penuh rasa terimakasih. Tanpa Ivar dirinya pasti sudah hilang arah.
"Aku benar-benar belum siap jika harus melepas Hanna saat ini." Ivar merasakan sesak, bagaimana bisa Hanna jauh darinya. Meraka saling menjaga dan saling membutuhkan.
"Jangan berfikir Hanna juga bisa jauh darimu Nin. Kau tidak tahu bagaimana Hanna menata hatinya saat kau mendiamkannya beberapa hari lalu." Nindi tersenyum getir. Ingat bagaimana perlakuannya pada Hanna mencoba jauh darinya.
“Hanna dan aku sudah berjanji akan selalu ada di setiap keadaan yang kami hadapi. Aku bahkan memintamu menerima Hanna saat kau melamarku.” Ivar menggenggam erat tangan Nindi.
“Aku juga jatuh cinta padanya, tidak hanya dengan mu aku jatuh cinta Nin….Hehehehe.” Ivar sendiri begitu besar menyayangi Hanna.
“Aku tahu, dia kekuatan ku Bang, aku tidak akan bisa sejauh ini tanpa Hanna. Dia selalu tahu bagaimana keadaanku.”
"Tante.....ayo ikut main." Hanna melambaikan tangan meminta Nindi bermain bersamanya.
"Tante capek Han, biar Paman yang temani." Ivar bangun dari duduknya, Ivar duduk di ayunan bersama Hanna.
Ada tawa penuh kebahagiaan saat Ivar menggodanya. Sederhana bahagia Hanna. Dia tidak butuh kemewahan atau hal yang berlebihan. Dia hanya minta di perhatikan oleh orang-orang yang dia sayangi.
Tidak lama Ivar membawa Hanna dan Nindi pulang.
“Hanna, seandainya Hanna tidak tinggal bersama Tante bagaimana?” Hanna menyipitkan mata, merasa aneh dan asing dengan pertanyaan yang Nindi lontarkan.
__ADS_1
Ivar yang sedang mengemudi mencengkeram kuat stir mobil yang dia kendarai.
“Pertanyaan yang tidak bisa Hanna jawab.” Menatap keluar jendela.
“Kan itu seandainya Han, Hanna akan besar dan akan menemukan pasangan hidup juga nanti Han.” Nindi tersenyum melihat wajah cemberut Hanna dari kaca spion.
“Masih lama sekali, aku malas memikirkannya.” Hanna memejamkan mata.
Berharap Nindi tidak akan menanyakan pertanyaan aneh lainnya.
Ibu hamil suka sekali menjadi aneh.
“Kami memang di takdirkan hidup bersama.” Ada senyum bahagia di wajah Nindi.
“Kemungkinan Nenek Hanna masih ada di rumah, dia sudah berdamai. Dan ingat ya Nin, jadilah wanita baik seperti yang kami kenal. Dia berhak dekat dengan Hanna.” Nindi menepis tangan Ivar. Hatinya masih belum bisa berdamai.
“Biar Abang yang bawa Hanna masuk.” Ivar segera menggendong Hanna yang tertidur selama perjalanan.
Benar saja, Nindi tidak bisa menyembunyikan kekesalannya saat melihat Maysarah masih ada di rumah. Dia masih takut Hanna akan di bawa pergi diam-diam jika mereka lengah.
“Dia tidur yah?” Tanya May saat melihat Hanna ada di gendongan Ivar.
Ivar hanya mengangguk dan segera masuk membawa Hanna. Maysarah mengikuti Ivar ke kamar Hanna.
“Dia pasti kelelahan ya Nak.” Maysarah mengecup kening Hanna penuh kasih sayang.
“Bibi sudah makan?” Bertanya pelan takut mengganggu Hanna yang masih terlelap tidur.
“Ayo kita keluar Nak, kasihan nanti Hanna bangun.” Maysarah berjalan di gandeng Ivar yang tidak tega melihat wajahnya penuh kepiluan.
“Nindi, boleh Bibi peluk kamu Nak?” Nindi yang masih sedikit kesal tapi tidak bisa marah dengan orang tua mengangguk. “Terimakasih Nin, Hanna tumbuh jadi gadis yang sangat cantik, pintar dan penuh dengan orang-orang baik di sekelilingnya.” Nindi menangis, airmatanya lolos begitu saja.
“Maaf karena Nindi tidak bisa hidup tanpa Hanna Bi.” Suara tangisnya tidak tertahankan, mengeluarkan semua kekesalannya agar lega.
“Tidak Nin, jangan minta maaf. Orang tua ini yang tidak tahu diri. Aku yang salah Nin, aku yang harusnya tidak mengganggu kalian. Aku yang seharusnya minta maaf pada kalian.” May tidak kalah sedih mengingat bagaimana selama ini jarak memisahkan karena keegoisannya.
“Aku akan tetap menjaga Hanna, aku mohon jangan bawa Hanna Bi. Biarkan Hanna bersama Nindi.” Kini suaranya memohon dengan tulus.
“Bibi tidak akan membawa Hanna, Bibi rasa Hanna lebih nyaman dan aman bersama kalian. Ada Ivar dan Ayman yang bisa menggantikan peran Ayahnya yang sudah tidak ada. Kalian semua membuat aku yakin Hanna akan lebih baik bersama kalian semua.”
Nindi masih terisak tidak berdaya, dirinya lega mendengar Maysarah tidak lagi menginginkan Hanna hidup bersama denganya.
“Tante…” Suara Hanna yang ternyata dari tadi mendengar percakapan mereka.
“Han…sudah bangun yah, sini sayang.” Nindi mengusap air matanya dengan kasar.
Hanna mendekat. Hanna duduk di pangkuan Nindi. “Salam sayang, ini Eyang.” Hanna sedang mencerna jika Eyang adalah panggilan lain dari Nenek atau Omah. Nindi mengangguk.
“Iya Nak, ini Eyang Nak.” Hanna menggaruk alis matanya masih tidak paham.
“Pelan-pelan saja Han, dia anggota baru keluarga kita sayang.” Hanna kini tersenyum, penjelasan Ayman lebih bisa Hanna mengerti.
__ADS_1
“Jadi keluarga kita semakin banyak ya Paman.” Hanna sudah berpindah ke pangkuan Ayman yang baru saja memasuki ruang keluarga, Ayman mengangguk mengiyakan pertanyaan Putrinya.
Kini Maysarah benar-benar paham bagaimana mereka saling menjaga dan mencintai satu sama lain.