
Rintik hujan sore ini sudah berhenti, airnya yang meski turun sedikit tetap membasahi dedaunan hijau yang terawat dengan indah. Suara tawa dua wanita yang sedang bersenda gurau sesekali membuat laki-laki tampan yang menjaga mereka menorehkan senyum malu-malunya.
Sindiran-sindiran tentang asmara keduanya mengganggu namun hanya bisa dia abaikan sebagai tanda restu dari kedua orang tua pujaan hatinya. Tidak banyak harapan, dirinya hanya lelaki tidak tahu malu yang berani mencintai wanita berharga putri kebanggan Ayahnya.
“Abi….” Tantri melambaikan tangannya, meski sering melarang Prabu membahas pernikahan, hatinya sudah terpikat dengan kebaikan dan ketulusan Abi selama ini.
“Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?” Ucapnya tanpa berani menatap mata Tantri yang dengan teduh menatap wajahnya yang menunduk.
“Apa kau sudah siap menjadi menantuku?” Abi meremas tangannya dengan kuat, ada rasa bahagia namun bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Calon Mertuanya. “Ih….Abi mah serius sekali. Heheheh…..” Tantri tertawa, Luna yang terkejut ikut tertawa hambar. Mereka kira Tantri sedang bicara serius.
“Ibu……!!!! Kau bisa buat Abi kena serangan jantung Bu, jangan diulangi.” Kode mata agar Abi segera menjauh. Yang si penurut melangkah mundur mengikuti keinginan Luna.
“Tunggu Bi, Mamah belum selesai bicara.” Ucapnya enteng.
Uhukkk…uhukkk…uhuukkkk…
“Kau kenapa tersedak Abi, kau kan tidak sedang makan Bi.” Memukul mukul pundak Abi dan memberikan air putihnya untuk Abi. Abi membalikkan badan meminum air putih meredakan gatal ditenggorokannya yang tiba-tiba saja muncul.
Luna mendekat memukul lengan Ibunya yang suka sekali mengganggu Abi belakangan ini. Gurat bahagia namun malu-malu terpancar dari wajah keduanya menanggapi gurauan Tantri sore ini.
“Baru juga begitu kau sudah tersedak, bagaimana kalau melihatku buka baju. Hahahha….” Tantri meloto tidak suka dengan bercandaan anak jaman sekarang yang vulgar. “Maaf…” Lirihnya.
Canda tawa ketiganya terhenti kala Prabu datang dengan wajah tidak ramah, sepertinya hal buruk telah terjadi namun Prabu bahkan tergagap bicara.
“Ikut a…ku seka…rang, Ab…i cepat ki…ta ke rumah sa…kit.” Prabu terlihat gontai, matanya tidak fokus dan keringat mengucur membasahi sekujur tubuhnya.
“Tenang Yah, pelan-pelan.” Tantri menggandeng Prabu menuju mobil. Luna dan Abi hanya membisu tidak mau memperkeruh keadaan. Mengikuti langkah Prabu yang begitu terburu-buru.
Suasana mencekam, Tantri menapat wajah suaminya yang matanya berderai air mata. Menunggu sampai laki-lakinya siap bicara, Prabu tidak akan bisa membuka suara saat dirinya sedang emosional. Tantri memberikan waktu.
“Semua salahku…” Tangan Tantri yang memeluk suaminya erat sedikit bergetar.
“Kalau saja aku tidak membawa Ivar dulu, mereka tidak akan pergi secepat ini.” Otaknya mulai menebak-nebak apa yang saat ini sedang terjadi. “Aku menyesal…..”
Luna menangis mendengar kepiluan yang Ayahnya rasakan. Entah siapa yang saat ini sedang Prabu bicarakan. Namun yang jelas, keadaan sedang tidak baik-baik saja.
“Tenang Yah, aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.” Tantri ikut terisak. Prabu tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya seperti ini.
“Aku seharusnya yang mereka incar, kenapa malah wanita-wanita baik yang mereka lukai.” Tantri mencoba mengatur nafasnya yang mulai menderu tidak beraturan. Kepalanya berdenyut seperti tersengat aliran listrik begitu kuat.
Tantri semakin bingung, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Prabu bicara terpatah patah membuat Tantri tidak mengerti maksud ucapannya.
__ADS_1
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit yang begitu ramai, banyak Aparat Kepolisian yang berjaga dan memeriksa siapapun yang datang memasuki rumah sakit. Dua orang mengikuti Prabu menjaga dari jauh saat Prabu dan keluarganya masuk.
Lift berhenti di lantai dua. Dari kejauhan Tantri melihat dua sosok laki-laki yang sangat dia kenal. Keduanya terlihat berantakkan, Tantri menemukan sosok lain berada di ujung ruangan tidak kalah berantakkan. Tantri mencoba memijat tangannya yang gemetar hebat. Dadanya bergemuruh membuat keringat mengucur deras.
Tantri memeluk Ivar dan Ayman, keduanya kembali terisak. Sangat pilu keduanya menangis, Tantri sampai tidak bisa berkata-kata.
“Kenapa mereka pergi meninggalkan kita. Mamah dan Kak Edel jahat Mah.” Tubuh Tantri melemah, mendengar dua nama yang keluar dari mulut Ivar.
Kini Tantri ikut terisak tidak tahan dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa yang sebenarnya terajdi, kenapa dan bagaimana bisa terjadi. Apalagi yang sedang Tuhan rencanakan.
Abi mencoba menahan tubuh Luna yang limbung, membawanya menjauh agar tidak semakin menambah luka di hati wanita yang selalu ingin dia lindungi. Biarkan, Abi membiarkan Luna menangis di pelukkannya. Tidak ada yang bisa Abi lakukan selain memastikan Luna aman dan baik-baik saja bersamanya.
Edwin terlihat sangat tegar, dia tidak mau lemah karena keluarganya butuh dirinya saat ini. Prabu yang tahu sahabatnya tidak baik-baik saja memeluk Edwin erat, memintanya menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada dua wanita kesayangannya.
“Marahlah padaku….berteriak yang keras Ed…..jangan diam saja. Pukul aku jika perlu, aku pantas mendapatkan semua itu Ed.” Racau Prabu yang saat ini merasa hancur.
“Aku tidak apa, aku harus jadi kekuatan untuk mereka. Bantu aku agar aku tidak goyah.” Mencengkeram tangan Prabu dengan kuat. Wajahnya bahkan sangat berantakan, dia hanya pura-pura kuat. Prabu semakin merasa bersalah dengan sikap Edwin.
***
“Apa maksud ucapan kalian! Kenapa kalian semua menangis? Ada apa? Apa yang terjadi?” Meski sesak Nindi ingin memastikan yang terjadi, tidak mau lagi dirinya kebingungan seorang diri.
Tidak ada yang menjawab, semua membisu tidak ada yang menjelaskan. Hanya isak tangis yang membuat Nindi semakin bingung.
“Kenapa kalian semua bersikap aneh! Apa yang terjadi! Tolong jelaskan Kak. Aku mohon padamu.” Pintanya memelas. Wajahnya sudah sangat pucat, Abrar tidak tega mengatakan kebenaran yang terjadi.
Ezra dan Abrar tidak membuka suara juga, mereka berdua bingung karena Ivar hanya meminta mereke menjaga Nindi dan jangan katakan apapun. Ivar khawatir Nindi akan syok dan bisa berakibat fatal pada kandungannya.
“Kita lewati ini bersama ya Nin. Tenang Nin.” Ucap Abrar yang malah membakar amarah Nindi.
“Persetan kalian semua! Apa yang kalian rahasiakan! Kenapa tidak bicara padaku! Aku seperti orang bodoh ditengah kalian semua.” Teriaknya kesal karena tidak ada yang memberikan jawaban. Ungkapan kekesalan yang malah melemahkan tubunya.
Nindi lemas tidak bertenaga. Untungnya dirinya meminta Bi Lastri menjaga Hanna dan Jason di kamar Nindi agar tidak mendengar kegaduhan yang terjadi. Benar saja Nindi tidak bisa menjaga kewarasannya.
“Kenapa kalian menyiapkan semua itu? Kenapa dua? Kenapa? Kak tolong Kak jelaskan Kak.” Tangannya yang gemetar meminta Abrar dan Ezra menjelaskan situasi yang terjadi.
“Tapi berjanjilah kau akan baik-baik saja.” Nindi sudah kehilangan fokusnya, dia menatap dua tempat tidur kecil yang tiba-tiba di siapkan di ruang tamu. “Ya Tuhan, bagaimana aku menjelaskannya.” Ezra yang baru saja akan membuka mulut begitu panik.
Tubuh Nindi melemas di pelukkannya, dia sudah tidak bisa menjaga kesadarannya karena terlalu panik dengan pikirannya sendiri. Ezra segera membawa Nindi ke kamar Hanna yang ada di lantai satu.
Dua sahabat Ivar itu hanya saling pandang begitu terpukul, mereka bertubi-tubi mendapatkan ujian besar.
__ADS_1
“Aku akan kirim pesan pada Ivar, bagaimanapun aku harus memastikan kesehatan Nindi.” Abrar mencoba bertindak semaksimal mungkin menangani kegaduhan yang terjadi.
“Nindi pingsan, tapi dia belum sempat tahu apa yang terjadi. Aku sudah panggil Dokter Brasko agar segera datang. Aku dan Ezra akan mengurus Nindi di sini, jangan khawatir.”
Ivar membaca pesan dari Abrar yang semakin membuatnya hancur. Nindi pasti tidak baik-baik saja, tiba-tiba saja bencana besar seperti ini menghantam keluarganya. Ivar hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sakit. Air matanya sudah habis, sudah tidak mampu lagi dirinya menangis.
“Apa dia pingsan sudah lama?” Tanyanya dengan wajah serius.
“Tidak Dok, aku segera menelpon Dokter saat Nindi pingsan.” Jelas Abrar yang memang langsung menelpon Dokter keluarga Ivar yang mereka juga kenal baik.
“Apa Nindi baik-baik saja Dok?” Tanya Ezra penasaran.
“Tidak mungkin dia baik-baik saja dalam keadaan seperti ini. Aku akan hubungi Dokter kandungan Nindi, dia harus memastikan kandungan Nindi baik-baik saja.”
Tidak lama Ivar dan rombongan jenazah sampai. Semua keluarga terlihat sangat terpukul mengantar mereka pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Trauma mendalam saat ini tengah mereka rasakan.
Kedatangan mereka disambut sanak saudara dan para kolega bisnis yang sudah datang lebih awal dari kepulangan mereka.
Setlahnya Ivar segera masuk ke kamar Hanna menemui Nindi yang dikabarkan oleh Dokter belum juga siuman. Mereka khawatir Nindi syok berat dan tubuhnya tidak bisa merespon dengan baik. Namun Ivar melarang siapapun membawa Nindi, dia tidak lagi percaya pada siapapun termasuk orang-orang kepercayaan keluarganya sekalipun.
“Var…” Ezra dan Abrar bergantian memeluk tubuh sahabatnya.
“Apa dia seperti ini sejak tadi?” Ezra mencoba tetap tersenyum. “Kenapa dia tidak bangun juga?” Abrar mendekat, memijat pundak Ivar mencoba memberikan kekuatan.
“Apa kita bisa bawa Nindi ke rumah sakit? Kita harus cek lebih lanjut keadaannya Var.” Pintanya yang sedari tadi selalu di jawab dengan Tidak.
“Aku akan mengurusnya, setelah semua bisa aku tangani. Aku akan bawa Nindi sendiri ke rumah sakit.” Ucapnya dengan wajah menakutkan.
“Kau bisa mengandalkan kami Var. Kami akan menjaga Nindi Var.” Ivar menggeleng. Wajahnya tidak lagi bersahabat. Ezra memberikan kode Agar Abrar berhenti, sahabatnya sedang tidak waras.
Abrar yang frustasi hanya bisa memijat pelipisnya yang mulai merasakan pusing. Dirinya mungkin tidak akan kuat berdiri jika ada di posisi Ivar. Kehilangan dua orang kesayangannya sekaligus. Yang bisa dia lakukan hanya mengawasi Ivar yang tidak berhenti menciumi wajah Nindi penuh rasa sayang.
“Paman….” Sangat Sendu. Suara yang memecah keheningan. “Ivar baru ingat dua malaikat kecilnya.” Tangan Ivar gemetar saat memeluk Hanna. Apa yang harus dia katakan sekarang, Hanna punya kenangan buruk dengan kematian seperti ini.
“Hanna, Paman sangat menyayangi Hanna.” Mencium surai Hanna yang hitam legam. “Paman sayang Hanna.” Hanya itu keluar dari mulut Ivar. Hanna yang paham menangis dalam diam, dirinya ingat bagaimana dulu melepas kedua orang tuanya bersama Nindi.
“Var, banyak yang menunggu mu di depan Nak.” Pinta Tantri yang baru saja masuk karena begitu banyak yang menanyakan keadaan Ivar. Ivar menatap Nindi tidak mau meninggalkannya.
“Mamah yang jaga Nindi, ada Abi dan Luna juga.” Pintanya memastikan Ivar mau keluar menemui para tamu yang masih dating silih berganti.
Dengan berat hati Abi meninggalkan Nindi dan Hanna dengan orang-orang yang saat ini ada di sana. Dirinya mencoba percaya dan menghempaskan perasaan khawatirnya. Keadaan sedang membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Hanna yang kelelahan menangis kini terlelap di pelukkan Ezra, Paman kesayangannya yang suka sekali membuatnya tertawa.
“Bibi mohon, jangan tinggal Ivar bagaimanapun keadaannya. Dia butuh kita semua sekarang.” Ezra dan Abrar mengangguk paham dengan apa yang Tantri maksud. Entah akan seperti apa Ivar kedepannya. Mereka harus terus membuat Ivar merasa memiliki banyak kasih sayang, dia harus kuat demi semua orang-orang yang bersandar padanya.