Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Ibu Hamil Sensitif


__ADS_3

Ivar masih betah duduk di taman belakang berbincang dengan Ayman dan Edwin. Mendengarkan bagaimana kehidupan mereka selama Ivar tidak bersama mereka, tidak banyak yang Ivar khawatirkan. Keluarganya selalu aman karena saling menjaga satu sama lain. Kini perhatiannya tertuju pada Luna yang harus mengalami kejadian buruk karena dirinya.


Prabu pasti begitu berat menghadapi ujian ini sendirian, tidak ada anak laki-laki yang sering dia banggakan pada teman-temannya. Ivar tersenyum getir, dirinya harus bisa menyembuhkan luka yang dia goreskan.


Ayman melihat sorot mata Ivar yang sedikit menampakkan kesedihan, menepuk punggung tangan Ivar mencoba menguatkan.


“Ternyata pekerjaan Ivar tidak hanya beresiko besar diriku terluka, kalian semua bisa kapan saja terluka.” Sedikit berkaca-kaca.


“Jangan bicara seperti itu Nak, kami semua hanya sedang tidak beruntung ada di situasi yang berat. Tapi liat! Kita semua masih bisa berjalan bersama. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Edwin tidak tega melihat Ivar sangat terpukul.


“Nindi, sudah siap Nak?” Tanya Edwin yang melihat Nindi berjalan ke arah mereka yang sedang berkumpul.


“Sudah Pah, ayo Bang.” Ivar segera berdiri menghampiri sang Puan.


“Pah, Mas Ayman, Nindi pergi yah.” Ivar Menatap netra Nindi yang begitu indah. Mengecup sekilas pipi Nindi tiba-tiba.


“Kau sangat cantik Nin.” Menggandeng Nindi menuju mobil.


“Abang tidak malu mencium Nindi di depan Papah dan Mas Ayman.” Pipinya masih merona. Ivar menggeleng, hanya ada senyum di bibirnya. “Jangan begitu Abang, Nindi malu.”


“Kenapa malu sayang, kan hubungan kita resmi. Tercatat di Negara. Untuk apa malu?” Nindi tidak lagi menjawab Ivar. Bagaimanapun jawabanya tidak akan membuat Ivar mengalah.


Ivar menghentikan mobilnya di toko buah dekat komplek, Nindi tidak sempat bertanya karena Ivar turun begitu saja tanpa bicara padanya.


“Abang beli buah banyak sekali sampai satu keranjang, apa mau menjenguk orang yah. Tapi...siapa yang sakit?” Bicara pada dirinya sendiri.


Ivar membuka bagasi belakang, menaruh belanjaan setelahnya kembali melajukan mobilnya. Ivar masih diam, Nindi juga enggan bertanya untuk apa buah yang Ivar beli padahal sangat penasaran. Sesekali Nindi melirik ke arah Ivar yang seolah tidak ingin bicara padanya.


“Kenapa dari tadi melirik Abang terus Nin? Mau tanya apa sayang? Tanya saja, jangan ragu Nin.” Nindi memalingkan mukanya menahan malu.


Padahal aku tidak bicara apapun, tapi kenapa Abang sangat tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini.


Nindi meracau dalam dirinya, bisa-bisanya Ivar mampu membaca isi hatinya. Nindi merasa malu tertangkap basah sedang melakukan hal konyol.


“Hmm...tidak Abang. Nindi sedang tunggu Abang bicara sendiri tanpai Nindi minta.” Jawabnya yang membuat Ivar sedikit tersenyum. “Tidak kasih tahu juga Nindi tidak keberatan.” Sedikit drama wanita bergejolak dalam jiwanya.


“Kenapa harus tunggu Abang bicara sayang, biasanya Nindi selalu tanya saja tidak perlu tunggu Abang.” Ivar merasa Nindi sedikit berubah sejak kehamilannya, dia sangat sensitif dan sedikit tertutup.


Memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak puas dengan tanggapan Ivar yang malah membuatnya merasa dipojokkan. Ada jengkel sedikit yang Nindi rasakan.


“Nindi marah sama Abang?” Menggeleng. “Kenapa tidak mau melihat Abang?” Nindi menatap Ivar yang masih fokus menyetir, membuang lagi pandangannya karena kesal saat melihat wajah Ivar yang seolah sedang mengejeknya.

__ADS_1


Ivar yang tidak tega akhirnya menepikan mobilnya sebentar, akan panjang jika di diamkan saja. Nindi sangat manja belakangan ini, Ivar sampai tidak mengenal karakter Nindi yang mudah sekali berubah-ubah.


“Hey....” Ivar menarik lembut tangan Nindi. Menatap mata Nindi yang mampu memberikan ketenangan pada dirinya. “Lihat Abang....” Nindi sedikit mengangkat kepalanya yang menunduk. “Katakan apa yang membuat Nindi tidak mau bertanya pada Abang?” Tidak ada respon, Nindi malah kembali menunduk. Ivar mendepap tubuh Nindi ke pelukannya.


“Nindi merasa Abang tidak mau bicara pada Nindi.” Ivar mengulas senyum, sebelumnya Nindi tidak pernah bersikap kekanakan seperti ini.


“Mana mungkin Abang tidak mau bicara pada Nindi. Itu sangat tidak mungkin.” Ivar menyelipkan rambut Nindi di belakang telinganya. “Kenapa Nindi selalu kesal pada Abang? Apa Abang membuat Nindi marah? Sikap Abang? Penampilan Abang? Atau apa, coba jelaskan apa yang Nindi rasakan.” Dirinya sendiri bingung kenapa merasa kesal padahal Ivar tidak melakukan kesalahan apapun.


Nindi menggeleng, mencari tahu apa yang membuatnya kesal pada suaminya sendiri tidak ada jawaban.


“Abang anggap ini tidak jadi masalah yah, Nindi hanya kesal saja tidak ada alasan. Oke?” Nindi mengangguk setuju. “Sudah bisa Abang lanjutkan perjalanan kita?”


“Iya Abang, Nindi minta maaf yah.” Merasa bersalah tidak bersikap ramah pada suaminya.


“Jangan minta maaf, mungkin calon anak Abang minta lebih diperhatikan.” Ivar mengecup kening Nindi sebelum kembali melajukan mobilnya.


Ivar menggandeng tangan Nindi memasuki ruang pemeriksaan. Wajah istrinya terlihat sangat bahagia, ini pertama kalinya Ivar menemaninya melakukan pemeriksaan pada calon buah hatinya. Nindi tidak berhenti tersenyum sepanjang pemeriksaan, dia sangat bahagia.


“Bagaimana Dokter? Ibu dan Calon anak kami sehat?” Dokter duduk sambil memperhatikan wajah Nindi yang tidak seperti biasanya.


“Sangat sehat Var.” Ivar ikut menatap Nindi yang terlihat begitu bahagia. “Nin, apa vitaminnya diminum teratur?”


“Iya Dok, sesuai anjuran yang Dokter berikan.” Dokter mengangguk masih ikut merasakan kebahagiaan yang Nindi rasakan.


“Itu artinya kalau Ibunya marah dan suka kesal tidak jelas, apa calon anak kami juga merasakannya Dok?” Tanya Ivar ingin menggoda Nindi.


“Tentu saja Var, kau harus selalu menjaga perasaan Nindi agar tidak mudah kesal, marah, dan emosi. Dia harus selalu bahagia Var.” Nindi merasa puas dengan jawaban Dokter.


“Baiklah Dok, jika semua sehat dan baik-baik saja Ivar dan Nindi permisi. Terimakasih banyak.” Ivar bahagia melihat calon Bayi dan Nindi sama-sama sehat.


“Sayang..”


“Aba....”


Bicara bersamaan.


“Abang saja, kenapa Bang?”


“Benar Nindi tidak mau kasih tahu Abang duluan?” Menggeleng, Ivar menurut saja daripada Nindi kembali kesal padanya. “Abang mau menjenguk Abi, Nindi lelah tidak? Kalau Nindi merasa lelah, Abang antar Nindi pulang dulu.”


“Tidak Abang, Nindi ikut saja.” Suaranya terdengar lemas, Ivar berjongkok di depan Nindi. “Abang jangan begitu, Nindi malu. Banyak yang liatin Abang sama Nindi.” Nindi menarik tangan Ivar agar kembali berdiri.

__ADS_1


“Kenapa Nindi sangat menggemaskan sekali, Abang jadi tidak tahan tidak menggoda Nindi.” Ivar menggandeng tangan Nindi, tidak mau sebentar saja melepaskan tangan Nindi. “Tadi apa yang mau Nindi minta pada Abang? Kenapa sayang?”


Nindi mengurungkan niatnya yang ingin meminta Ivar makan di restoran yang akhir-akhir ini sangat terkenal, Nindi sering melihat sang pemilik restoran siaran langsung menyajikan makanan demi makanan yang menggugah selera.


“Nanti saja, tidak mendesak.” Ivar merangkul Nindi agar lebih dekat.


Jarak rumah sakit tempat Nindi melakukan pemeriksaan dengan rumah sakit dimana Abi di rawat cukup jauh, Nindi sampai beberapa kali merubah posisi duduknya merasa tidak nyaman sampai akhirnya dia terlelap. Ivar yang tidak tega membangunkan Nindi akhirnya masih tetap di dalam mobil meski sudah sampai tiga puluh menit yang lalu.


Tin...tin....


Suara klakso membuat Nindi mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya yang begitu nyaman tertidur.


“Apa kita sudah sampai?” Ivar hanya tersenyum menatap Nindi. “Abang sudah sampai dari tadi yah?” Ivar tidak menjawab, kalau dia bicara yang sebenarnya Nindi pasti akan merasa tidak nyaman.


“Baru saja sampai sayang, mau turun sekarang?” Nindi segera merapihkan bajunya yang sedikit berantakan sebelum turun.


Nindi berjalan di belakang Ivar yang sedang kerepotan membawa parsel buah besar. Entah mengapa rasanya tidak nyaman tidak menggandeng tangan Nindi.


“Sayang...” Nindi segera mendekat. Ivar mengisyaratkan agar Nindi memasukan tangannya di sela lengannya. “Abang tidak bisa jauh dari Nindi.” Nindi hanya tersenyum.


Suara pintu membuat semua yang ada dalam ruangan memperhatikan siapa yang datang. Luna yang melihat Ivar masuk menghambur ke arah Ivar memeluknya.


“Kak Ivar....” Suara Luna yang sangat manja membuat Nindi cemburu, Nindi melepaskan tangannya. “Kak Ivar baik-baik saja?” Ivar menaruh keranjang buah di meja dan membalas pelukkan Luna.


“Kak Ivar baik-baik saja, bagaimana Luna? Apa Luna berhasil menjaga Abi?” Luna mengangguk penuh bahagia.


“Sayang biarkan Kak Ivar masuk dulu Nak.” Ucap Prabu yang tidak di gubris oleh Luna.


Semua orang ikut bahagia melihat Ivar datang dalam keadaan baik-baik saja. Nindi menutupi perasannya dengan senyum, bagi Ivar dan keluarganya, Luna memang sudah seperti adik perempuannya. Mereka hidup bersama cukup lama bahkan sebelum mengenal siapa Nindi.


Kali ini Nindi mencoba tidak egois meski dia terbakar rasa cemburu yang akhir-akhir ini mudah sekali tersulut. Nindi mencoba menyembunyikannya.


“Kak Nindi....” Luna berjalan ke arahnya yang masih ada di belakang Ivar. “Apa keponakanku sehat Kak?” Luna memegang perut Nindi yang sedikit menonjol.


“Dia sehat, baru saja Kak Ivar dan Kak Nindi melakukan pemeriksaan.” Ivar menggandeng tangan Nindi mendekati brangkar Abi. Luna juga menggandeng tangan Nindi seperti Kakak perempuannya. Nindi hanya tersenyum menanggapi keduanya.


“Kak Nindi duduk yah, Ibu hamil tidak boleh terlalu lama berdiri.” Luna sangat manis, Ivar mencubit ujung hidung Luna gemas.


Entah perasaan apa yang membuat Nindi ingin sekali lari dari sana. Tidak mau sedikitpun melihat Ivar memperhatikan wanita lain di depannya. Ivar yang tidak tahu perasaan istrinya saat ini masih asik bercanda dan menggoda Abi dan Luna. Dia tidak tahu batin Nindi sedang berperang melawan rasa cemburunya.


“Sayang mau minum?” Ivar menyodorkan air mineral yang ada di dalam tasnya. “Kau terlihat sangat lemas, apa perutmu sakit?” Ivar berjongkok mengelus perut Nindi lembut.

__ADS_1


“Aku ingin ke toilet sebentar.” Ivar menuntun Nindi menuju toilet.


“Hati-hati sayang. Abang tunggu di depan pintu.” Nindi tidak menjawab, Ivar kembali tersenyum melihat semua orang sadar dengan Nindi yang terlihat tidak nyaman


__ADS_2