
Semua terkejut pintu terbuka dengan sangat keras.
Bu Nin, tolong bawa Pak Ivar. Seolah Tomo memintanya menenangkan Ivar lewat sorot matanya.
"Ada....apa...." Gunar mengangkat bahunya bingung.
"Saya sepertinya harus keluar sebentar." Ijin Nindi merasa tidak enak hati. Menunduk menghindari kontak mata dengan semua orang yang ada di ruangan.
Ivar menurut saat Nindi menariknya keluar dengan lembut. Wajahnya lebih mengesalkan dari kemarin. Nindi benar-benar tidak habis piker akan mengalami hal seperti ini dalam hidupnya. Dalam sekejap suaminya menjadi pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Apa lagi Abang, ada apalagi." Menghela nafasnya panjang. Meski kesal, Nindi bicara dengan lembut pada suaminya.
"Aku cemburu." Jawabnya seperti bayi. Memilin ujung baju Nindi yang dia raih dengan jari jemarinya, membuat Nindi ingin sekali terbahak.
“Abang seperti anak kecil.” Ucapnya spontan karena tidak tahan melihat tingkah Ivar.
“Nindi! Abang benar-benar kesal, kenapa Nindi malah tertawa.” Wajahnya tidak lagi menggemaskan, sorot matanya menakutkan.
"Cemburu kenapa lagi Abang." Nindi depresi. Suasana hatinya mudah sekali berubah.
"Kenapa kau pegang-pegang tubuh Ken. Aku cemburu!." Nindi mencoba mengingat.
"Yang mana? Dimana? Kapan aku memegang Ken?" Mulai kesal.
"Kau tidak boleh kesal, aku yang sedang cemburu!." Nindi mengatur nafasnya. Mengembalikan senyum yang sedikit berubah menjadi rasa jengkel menghadapi Ivar yang kekanakan.
"Baik Abang, katakana aku harus bagaimana agar abang mau menaafkanku. Tolong Jangan bercanda, aku sedang banyak kerjaan." Memelas.
"Suruh Gunar membereskannya." Jawabnya enteng. Hatinya lebih penting, harus diselamatkan.
Dialah pemilik perusahaan ini Nindi. Ingat!!!!!!
"Tidak bisa seperti itu suamiku sayang. Katakan bagaiman aku harus bersikap agar Abang cepat kembali ke ruangan Abang."
"Kau mengusirku?" Semakin melebar. Nindi menggelang dan memegang dadanya dengan tatapan tajam.
"Kita bahas ini setelah aku selesai, bisa Bang? Aku ke ruangan Abang istirahat nanti." Ivar sedikit tidak tega. Nindi terlihat menahan emosinya.
"Baiklah, jangan duduk di sebelah Ken." Nindi mengangguk, tersenyum dengan sangat manis sebelum masuk agar Ivar tidak lagi merengek.
Teman-temannya tersenyum pada Nindi, mereka pasti dengar suaminya yang marah tidak jelas. Mariska menepuk kursi sebelahnya yang kosong.
"Suamimu lucu Nin." Bisik Mariska.
"Kita lanjutkan bisa?" Gunar kembali menjabarkan kesepakatan meeting hari ini.
Nindi masih menahan malu berulang kali dengan sikap Ivar yang sangat berlebihan padanya. Sedangkan di ruangan lain, Ivar sedang merengek tidak jelas pada sekertarisnya yang juga ikut pusing. Tomo menelan ludah berulang kali, menahan diri agar tidak meluapkan emosinya.
"Tom....ayolah Tom, bagaimana? Biasakan?" Tomo masih fokus dengan berkasnya yang menumpuk.
__ADS_1
"Aku yakin Nona tidak akan setuju, percayalah Bos." Jawabnya tanpa menatap Ivar.
"Dia istri yang baik Tom, dia pasti mau Tom." Yakinnya lagi agar Tomo mau menuruti permintaannya.
"Tidak Bos, coba Bos bicara secara pribadi Bos, ini sepertinya sudah di luar kuasa saya Bos." Bicara dengan lembut.
"Aku tidak berani, bukan..... Maksudnya aku belum bisa. Aku baru saja bergabung beberapa Minggu, tidak mungkin aku mengambil keputusan seperti itu Tom." Kilahnya mencoba mencari aman.
Apa bedanya dengan saya Tuan Ivar yang terhormat, selesai sudah riwayat saya jika menuruti permintaan anda!!!!!! Teriaknya dalam hati.
"Coba Bos fokus pada pekerjaan saja, kan bisa berduaan dengan Nona saat di rumah Bos."
"Aku hanya punya sedikit waktu, aku mau banyak waktu dengan dia Tom, seluruh waktuku jika perlu." Manis sekali, Tomo menggelengkan kepalanya menyadarkan diri. “Aku bekerja di sini agar aku bisa berada di sisinya sepanjang waktu, tapi lihatkan! Pekerjaan yang kau berikan tidak ada habisnya Tomooooooo………….” Mengacak rambutnya kesal.
Selamatkan aku Tuhan. Kenapa cobaan seperti ini yang di taruh di pundak ku. Apa dosaku di masa lalu. Monolog Tomo yang tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Saya akan coba bicarakan, tapi apa tidak bisa jangan meminta Nona Bos?"
"Kau inilah, kan tujuan utama kita adalah membawa Nindi di sisiku, kalau bukan Nindi aku tidak mau." Kesalnya.
"Apa sulitnya Bos minta pada semua direksi menyetujui Nona bekerja sebagai sekertaris Bos."
Braakkkkkk.....
Nindi masuk dengan tatapan matanya yang menusuk. Melipat kedua tangannya mendekati Ivar yang duduk di kursinya. Ivar hanya menunduk menghindari kontak mata dengan Nindi, dia tahu Nindi pasti dengar percakapan dirinya dengan Tomo.
"Pak Tomo, bisa minta waktu sebentar? Makan siang dulu Pak, jangan habiskan semua waktu Bapak untuk pekerjaan." Pintanya dengan sopan.
"Abang, mau makan di sini atau di luar?" Tanyanya setelah melihat Tomo menutup pintu ruangan.
Jika makan di sini Nindi bisa memaki dengan leluasa, tapi dirinya tidak mau ada di posisi itu.
"Di luar saja." Berdiri dan segera menggandeng tangan Nindi keluar.
"Setelah mengisi perutmu kita bicara." Ivar hanya mengangguk dan pasrah. Tersenyum memaksa.
Selesai makan siang Nindi kembali ke ruangan Ivar.
Hmmmm.....hhmmmmm....
Nindi mencoba membersihkan tenggorokannya sebelum memulai.
"Abang...." Ivar menatap mata Nindi. Marah Nin, jangan kalah dengan tingkahnya. "Bisakah Abang mulai dengan serius pekerjaan ini?"
"Apa maksudmu, aku serius." Ucapnya yang hampir tidak terdengar.
"Nindi tahu Abang tidak begitu suka bekerja di sini. Tapi Abang lihat, perusahan yang sudah diperjuangkan banyak orang agar tetap kokoh berdiri ada di bawah tanggung jawab Abang." Ivar menghela nafasnya.
Kenapa Nindi bicara seperti orang tua. Aku tidak menyangka. "Abang sedang berusaha Nin." Masih dengan suaranya yang sangat kecil.
__ADS_1
"Nindi tidak pernah tahu kenapa Nindi bisa ada di sini, tapi sekarang Nindi tahu alasannya, Nindi harus membantu Abang menjaga perusahaan Abang. Banyak orang yang bertumpu mencari nafkah di perusakan Abang. Nindi mohon sedikit saja Abang suka pada pekerjaan Abang."
Kalau di pikir-pikir, tadi kan yang marah aku, dia pegang-pegang pundak Ken di lobby tadi. Kenapa jadi aku yang diserang!
"Abang....Nindi bicara panjang lebar tapi tidak di dengarkan!!!" Sedikit berteriak.
"Dengar, Abang dengar." Menarik Nindi kepelukannya. Tidak mau Nindi semakin larut dan kesal, perut Nindi mudah kram jika moodnya tidak baik.
"Nindi benar-benar ingin berkarir, agar anak-anak ku bangga nanti." Suaranya mulai memelas membuat Ivar tidak tega.
"Iya, Abang akan berusaha keras menjadi pemimpin yang bertanggung jawab."
"Janji Abang!" Ivar mengangguk. "Aku masih cemburu." Menangkup pipi Nindi.
"Cemburu kenapa?" Nindi penasaran, tapi benar-benar tidak ingat.
"Kau sangat dekat dengan Ken, kau bahkan memegang bahunya di bawah tadi." Bibirnya manyun.
"Ya Tuhan Abang, tadi ada batu di sepatu Nindi, Ken tidak tega melihat Ibu Hamil ini harus berjongkok dan membersihkan sepatunya sendiri. Kau harus banyak-banyak berterimakasih Abang." Wajah Ivar melunak. Ivar padahal tahu Nindi tidak mungkin menghianatinya.
"Aku akan traktir Ken kapan-kapan." Nindi sangat suka, Ivar sangat lucu jika sedang cemburu.
“Abang tahu kan bagaimana perasaan Nindi selama ini?” Ivar mengangguk. “Jangan pernah ragu, Nindi benar-benar mencintai apa yang sudah Tuhan berikan saat ini. Nindi sangat bersyukur ada kalian di hidup Nindi.” Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Iya, Abang tidak lagi cemburu. Sudah, Abang mohon jangan sedih.” Nindi memeluk erat, lega. Suaminya sudah kembali sadar akan kesalahannya.
"Sekarang aku mau kembali bekerja, Abang juga belajar dengan baik. Jangan menyulitkan Tomo." Nindi menahan Ivar yang hendak berdiri. "Aku bisa sendiri, tidak naik tangga, hanya turun menggunakan lift." Kali ini Ivar mengalah, menatap punggung Nindi yang menghilang dibalik pintu. Nindi sedang tidak bisa diajak berkompromi.
"Silahkan lanjutkan pekerjaanmu Tom." Melihat Tomo berdiri di depan pintu masuk karena tahu masih ada Nindi di ruangan Bosnya.
"Mau saya antar ke bawah Non?" Nindi menggeleng, sama saja dengan Ivar. Berlebihan.
Tomo melihat wajah masam Ivar, apa yang terjadi.
"Apa jadi Bos permintaan Bos yang tadi?" Ivar melotot padahal Tomo tidak tahu apa-apa.
"Nindi bisa memenggalku Tom, cari cara lain saja. Dia tidak akan mau." Sedih sekali wajah Ivar. Tomo malah girang.
"Ayo Bos, aku ajarkan sedikit trik tawar menawar degan klien." Pinta Tomo menepuk sofa di sebelahnya.
"Tom....." Wajahnya mencurigakan. "Jangan belajar itu dulu, ajari aku mencintai pekerjaan ini." Jantung Tomo, untung saja tidak melompat.
"Mengalir sa....ja Bos." Jawabnya terbata. Ivar menggeleng.
"Aku tidak bisa, aku cenderung harus melihat prosesnya agar aku mencintai apa yang aku kerjakan." Duduk dengan tegak menatap Tomo.
"Nanti aku pelajari Bos, sekarang Bos dengarkan saja." Tomo juga bingung bagaimana caranya.
"Janji ya Tom." Tomo mengangguk, "Nindi bilang akan berhasil jika kita cinta dengan apa yang kita kerjakan." Tomo setuju degan Nindi.
__ADS_1
"Nona benar, nanti Tomo akan pikirkan caranya." Lega, akhirnya dia bisa bekerja dengan normal. Meski Bosnya belum tentu bisa berubah dengan cepat. Ivar tidak terlatih, meski dia cerdas dipekerjaannya dulu, belum tentu dia bisa belajar dengan cepat di perusahaan miliknya.