
Luna tertunduk malu tertangkap basah. Teman-teman Luna sudah paham jika keduanya ada rasa, namun mereka sama-sama tidak mau mengakui. Padahal mereka sangat jelas tertarik satu sama lain.
Selesai rapat Luna langsung menuju parkiran mobil. Terlihat Abi yang sedang berdiri dengan gagahnya membukakan pintu untuk Luna. Debaran jantung Luna begitu cepat, tidak teratur sampai Luna memegangi dadanya takutnya jantungnya menculat keluar.
Kenapa dia sangat tampan. Batin Luna.
"Non....non..." Panggil Abi beberapa kali karena tidak ada respon dari Luna.
"I...iya Bi. Kenapa?" Tanya Luna tanpa menatap kaca spion depan. Takut tidak kuat melihat wajah Abi.
"Langsung pulang Non?" Luna mengangguk.
Abi menyetel musik menemani perjalanan yang lumayan macet, dan lagunya membuat Luna jadi semakin salah tingkah. Entah kenapa dirinya melihat Abi berbeda akhir-akhir ini.
Abi jadi semakin tampan dan senyumnya begitu indah. Apa benar aku sedang jatuh cinta? Kenapa harus Abi, bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Abi begitu banyak penggemarnya, dia baik, pintar, rajin. Kau ini apa Lun? Luna bermonolog.
"Bi..." Abi berbalik badan menatap Luna, membuat Luna berdebar-debar
semakin tidak beraturan. "Kalau hanya kita berdua panggil aku Luna saja Bi." Pintanya untuk kesekian kalinya.
"Baik Non....eh Lun. Lidahnya belum terbiasa Lun." Ada senyum merekah di kursi belakang. Rasanya suara Abi begitu manis saat memanggil namanya.
"Aku tiba-tiba ingin mampir ke butik Kak Edel." Gumamnya yang terdengar oleh Abi.
Tanpa pikir panjang Abi langsung banting stir menuju butik Edel.
"Gak papa Bi aku mampir? kangen aja. Aku sering kesana dulu." Agak risih takut di anggap masih punya rasa dengan Ivar.
"Tentu saja tidak papa Lun, kan Mbak Edel juga baik. Dia pasti senang kamu datang." Abi sangat akrab dengan keluarga Edwin, hubungan mereka sudah lebih dari saudara.
"Tapi terakhir kali aku di ancam. Jangan dekat-dekat Ivar lagi!." Luna menirukan gaya bicara Edel yang saat itu menyeramkan. Abi hanya terkekeh mendengarnya.
Sesampainya di parkiran Butik, Luna ragu dan rasanya berat untuk melangkah. Terlihat jelas di wajahnya yang menimang-nimang kedatangannya tepat atau tidak.
Membuka pintu perlahan takut Luna terkejut. “Lun....Ayo turun.” Luna menghembuskan nafasnya kasar, tidak ada salahnya mencoba.
Melihat Luna tidak berani melangkah, Abi memutuskan menemani Luna masuk ke dalam butik. Membawa tentengan kue kesukaan Edel dan Ellie yang dia beli saat menuju ke butik. Tentu saja Abi menggandeng tangan Luna agar mengikutinya masuk ke dalam Butik.
"Luna......" Teriakan sambutan Edel yang begitu girang melihat Luna datang. Hancur sudah kesedihan Luna. Dia masih seperti Kakak perempuannya yang dulu. "Kangen sekali.” Memeluk Luna erat. Memeluk Abi juga tidak lupa. “Kalian berdua saja?" Tanyanya sambil menggandeng Luna masuk ke dalam.
"Iya Mbak, aku tiba-tiba kangen pengen lihat-lihat baju, sudah lama gak belanja." Jawabnya sambil matanya kesana kemari kagum. Koleksi Butik Kak Edel tidak pernah tidak membuatnya kagum.
"Banyak loh koleksi baju baru Mbak. Kamu sih jarang sekali ke sini." Edel mendaratkan pantatnya di sofa konsumen yang ada di ruang tengah Butik.
"Sibuk Mbak, kan aku sudah semester 3 sekarang." Jawabnya, tidak enak jika bilang karena Edel pernah begitu terlihat membencinya.
"Sudah besar kamu ya De Luna, kemaren masih suka nangis. Hehehehe....." Ledek Edel gemas.
__ADS_1
"Kak Ivar ada kabar tidak Kak?" Edel menggeleng dengan wajah sedihnya.
"Semoga Kak Ivar cepat kembali. Tidak ada lagi yang menggangguku."
"Kita pasti berkumpul lagi. Oh iya Mbak, ini ada kue sedikit." Abi menyerahkan tentengan yang dibawanya. Edel mengangguk Lega mendengar ucapan Abi. Dia pasti sedikit banyak tahu bagaimana lapangan tempat Ivar bekerja.
"Hanna....Tante Luna bawa kue sayang." Teriak Edel pada Hanna yang saat ini ada di butiknya sepulang sekolah.
"Asikkk...." Berlari menghampiri Edel. Memilih-milih roti dan menimang mana yang akan jadi pilihannya. "Aku mau 2 boleh tidak?"
"Tentu saja boleh sayang. Semua juga boleh." Jawab Edel sambil memeluk pinggang Hanna yang berdiri di depannya.
"Jangan semua.....kan Omah...Tante Nindi, Paman dan Opah juga pasti mau." Jawabnya polos.
"Baik sekali Putriku ini." Edel semakin erat memeluk Hanna. "Sana lanjut lagi gambarnya. Tante temani Tante Luna dulu ya sayang."
"Tante Luna..... terimakasih kuenya. Hanna suka." Mengecup pipi Luna sebelum kembali ke ruangan kerja Edel. Luna mengacungkan Ibu jarinya.
"Dia manis sekali...." Luna gemas tapi tidak tahu caranya bermain dengan anak kecil. Maklum saja, dia anak tunggal tidak memiliki saudara.
"Kamu dulu juga sangat menggemaskan Lun. Sekarang saja sudah besar." Luna tersipu malu.
Edel dulu sering membela Luna saat Ivar mengganggunya dan mengerjainya. Ivar sering gemas menggoda Luna sampai dia menangis. Usia mereka berda jauh, tidak heran jika Luna sering dijadikan bahan percobaan oleh Ivar.
Hanna yang bosan kembali keluar sambil menikmati roti coklat yang Luna bawa. Mulutnya belepotan coklat membuat Luna, Abi dan Edel tertawa melihatnya.
“Rotinya sangat enak...aku suka.” Jawabnya menggemaskan.
“Tentu saja, roti ini kesukaan Paman Ivar dan Omah Ellie.” Mata Hanna membualat berdrama.
“Benarkah?” Tanyanya sambil tertawa.
“Kau tidak percaya?” Edel menggellitik Hanna sampai dia tertawa terpingal-pingkal.
“Bu Maaf, ada telpon dari Pak Ayman.” Suara karyawan Edel menghentikan tangannya yang sedang menggelitik Hanna.
“Aku terima sebentar yah, Hanna sama Tante Luna dulu yah sebentar.” Edel sedikit berlari keruangannya.
Hanna sibuk sendiri masih menimati roti. Luna bingung harus bagaimana mengajak Hanna bermain. Abi iseng mengambil foto Luna dan Hanna yang duduk canggung, jepretan terakhir mendapat tatapan tajam karena Luna sadar Abi sedang mengambil gambar.
“Hanna....” Abi duduk di tengah-tengah antara Hanna dan Luna. Mau tidak main tebak-tebakan?” Hanna mengangguk meletakkan rotinya di atas meja.
“Jangan yang sulit, yang mudah-mudah ya Paman.” Abi mengangguk.
“Ayo kita suit, yang kalah kasih tebakan terakhir.” Pinta Hanna antusias.
“Kita tentukan dulu hukumannya....” Luna juga akhirnya bisa mengikuti ritme.
__ADS_1
“Apa yah Paman?”
“Hahahaha.....aku bingung.” Jawab Abi sambil tertawa.
“Bagaimana kalau yang kalah gendong Hanna.” Usul Hanna membuat mata Abi dan Luna membulat. “Aku tidak berat kok, gendongnya tidak lama, hanya memutari ruangan ini.
“Ok...ok...ok...” Jawab Luna dan Abi kompak.
Mereka bermain seperti anak kecil, beberapa kali Abi kalah dan harus mengelilingi Butik menggendong Hanna. Sejauh ini Hanna tidak pernah kalah, otaknya lebih pintar jika menyangkut permainan.
“Yah Tante Luna kalah.....” Tawa Hanna yang senang. “Ayo cepat!!!” Hanna merentangkan tangannya.
“Aduhhhh...Hanna tidak seringan itu Han.” Hanna hanya tertawa menikmati kesulitan Luna mengangkat tubuhnya.
Abi berdiri di belakang Luna takut Luna tidak kuat menggendong Hanna. Senyum Abi yang merekah hilang saat dirinya melihat bayangan seseorang yang menodongkan pistol ke arah Luna di pantulan kaca yang ada di depannya.
Abi memeluk erat Luna yang sedang menggedong Hanna. Luna tercekat saat dirinya tiba-tiba di peluk oleh Abi. Luna mematung.
Dorrrr......
Suara tembakan membuat tubuh Luna bergetar, dia tahu Abi pasti terluka, tubuhnya di tahan oleh Abi saat akan berbalik. Luna menatap mata Abi dari kaca yang ada di depannya. Wajahnya masih tersenyum menatapnya.
Luna beberapa kali menelan salivannya membasahi tenggorokannya yang kering. Menatap Abi sambil menahan air matanya. Pelukkan Abi begitu erat, Luna bisa meraskaan tubuh Abi yang bergetar menahan rasa sakit.
“Luna, aku baik-baik saja, cepat bawa Hanna ke dalam. Jangan biarkan Hanna juga ketakutan.” Bisik Abi di telinga Luna.
“Tapi..Bi...” Rasanya dirinya sangat ingin memeluk Abi menolongnya. Seperti apa yang Abi selalu lakukan selama ini padanya.
Dengan susah payah Luna menggendong Hanna masuk ke dalam. Kakinya lemas dan pikirannya kacau. Semua orang yang mendengar suara tembakan berhamburan ke ruang depan. Butik memang sudah mau tutup, jadi keadaan sepi tidak ada konsumen. Pegawai Edel tinggal 2 orang yang sedang merapihkan gudang.
Edel sontak melempar telpon dan hendak berlari ke luar saat mendengar suara tembakan yang sangat keras. Kabel telpon tersangkut peralatan kerjanya membuat kegaduhan, tidak sempat mematikan sambungan telpon karena Edel begitu panik.
“Luna....ada apa?” Edel yang melihat Luna masuk menggendong Hanna sambil menangis. Luna menangis memeluk Edel tanpa melepaskan Hanna. Hanna ikut menangis ketakutan. Suara tembakan yang begitu keras masih terngiang di kepala Hanna.
Dari sebrang telpon Ayman begitu khawatir mendengar teriakan Luna dan suara tangis Hanna. Ayman buru-buru kelur dari kantor menuju Butik yang tidak jauh dari kantornya.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatan dirinya, Ayman beberapa kali nyaris menabrak mobil yang melaju di depannya. Suara klakson bersautan karnea ulah Ayman yang mengebut di jalanan. Ayman sudah tidak memikirkan apapun, dirinya begitu takut terjadi hal buruk pada Edel dan Hanna.
“Biarkan saya masuk....saya Suami pemilik Butik Pak.” Masih mencoba menahan emosinya yang sudah memuncak karena Polisi menghentikan langkahnya.
“Sebentar Tuan, tenang dulu Tuan, biarkan kami menyelesaikan pekerjaan kami dengan tenang. Demi keselamatan kita semua.”
“Kau menyuruhku tenang! Sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan anak dan istri saya di dalam! Minggir..!!!!!!” Teriak Ayman membuat Polisi menahannya lebih kuat.
“Pak....tolong amankan.” Perintah Polisi yang menahan Ayman pada bawahannya yang tidak jauh dari tempatnya.
“Kau akan menyesal!!!!!!!” Ayman berteriak histeris saat dirinya tidak bisa masuk ke dalam.
__ADS_1