
Lampu ruang operasi masih merah, menandakan jika operasi masih berlangsung di dalam sana. Luna memaksakan senyumnya saat Prabu menatap wajahnya sendu. Menepuk pundak putrinya dan menuntunnya duduk di kursi tunggu. Putrinya yang cerewet begitu tenang, seolah dia benar-benar orang lain yang tidak Prabu kenal. Tidak pernah setenang itu, melihatnya membuat Prabu begitu takut jika hal buruk terjadi pada Abi. Bagaimana Putrinya akan bertahan.
"Ayah...." Prabu tersentak, dirinya melamun. "Aku ingin ke toilet sebentar." Wajah Luna terlihat sedikit pucat.
"Kau baik-baik saja? Kenapa berkeringat? Wajahmu juga sangat pucat Nak. Ayo Ayah antar."
"Luna baik-baik saja. Jangan berlebihan. Hehehehehe" Godanya tekekeh pada Prabu yang terlihat sangat tegang.
Baru saja beberapa langkah, kaki Luna lemas. Tubuhnya terhuyung jatuh. Untung saja Prabu sigap menangkap tubuh Luna ke pelukannya.
“Luna.... Tolongggg!!!!! Tologgggg......cepat....cepat!”
Teriakan Prabu memenuhi ruangan, kali ini tidak lagi dia tahan kewibawaannya. Malaikat kecil yang membuatnya begitu kuat sedang berjuang melawan pertahanan dirinya, dia benar-benar ketakutan terjadi hal buruk pada Luna.
Segera para bawahan Prabu membantu Luna membawanya ke UGD. Prabu tidak melepaskan tangan Putri semata wayangnya. Untung saja Dokter kenal baik siapa Prabu. Kalau tidak pasti merepotkan memeriksa pasien dengan Ayahnya yang terus bertanya dan mengganggu konsentrasinya.
"Dok..... bagaimana? Putriku tidak papa kan Dok, dia baik-baik saja kan?" Dokter tersenyum. Pertanyaan yang tidak henti-hentinya dia tanyakan. Dokter sendiri butuh waktu untuk melakukan pemeriksaan dan diagnosa.
"Luna hanya dehidrasi. Sudah saya berikan infus dan vitamin agar tubuhnya segera pulih. Biarkan dia istirahat sebentar." Jawabnya dengan wajah ramah setelah mendiamkan Prabu yang terlihat begitu khawatir.
"Kau tahu kan Dok, jika dia tidak baik-baik saja, aku kehilangan kepercayaan diriku." Dokter mengangguk paham.
“Kita sudah puluhan tahun kerjasama Komandan. Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu dengan baik.” Jawabnya sambil memicingkan senyumnya.
“Tolong berikan perawatan terbaik Dok, kau tahu aku akan hancur tanpa dirinya.” Dokter menarik tangan Prabu. Memijat pelan kedua bahu kekar Prabu memberikan ketenangan.
"Tenang saja, kami paham betul dirimu bagaimana. Aku pastikan dia baik-baik saja, sekarang biarkan dia istirahat dengan tenang." Dokter bersiap pergi.
"Tunggu sebentar" Langkahnya terhenti. "Kau kenal Dokter yang menangani Abi?" Dokter terlihat sedikit mengingat siapa Abi.
"Pasien luka tembak maksudmu kah?" Prabu mengangguk. "Dia Dokter yang hebat, begitu tahu Abi adalah anak buah kesayanganmu. Rumah sakit heboh mencari Dokter terbaik."
"Benarkah? Apa operasinya akan lancar?" Melangkah lebih dekat pada Dokter. “Apa keadannya baik-baik saja? Berapa besar kemungkinan operasinya berhasil?” Tanyanya begitu penasaran, Abi masa depan Putrinya.
"Kita tunggu saja, semoga hasilnya sesuai dengan keinginan kita semua." Prabu sedikit lega Abi ditangani oleh Dokter yang hebat.
Ponsel Prabu berdering, Prabu segera menjawab panggilan yang masuk.
Kedua tangannya terkepal begitu kesal saat dirinya tahu pelaku penembakan tertangkap. Prabu segera berlari, rasanya ingin segera sampai di tempat dimana anak buahnya menyekap pelaku. Prabu kali ini menyalahgunakan jabatannya.
Dia begitu geram dan ingin membunuh orang yang berani mengusik anaknya.
"Prabu....." Edwin yang bertemu Prabu di parkiran rumah sakit heran. Kenapa dia lari kesetanan. "Mau kemana? Bagiamana Abi dan Luna?"
"Kebetulan kau datang, tolong jaga Luna, dia ada di UGD, Abi masih di ruang operasi." Jawabnya singkat sebelum meninggalkan Edwin dengan kebingungan.
"Mau kemana kau Prabu....berhenti.....jangan berbuat yang tidak-tidak!!!! Prabu....." Edwin terpaksa mengikuti Prabu, dia tahu bagaimana Prabu saat dirinya kehilangan kendali. Edwin takut Prabu melakukan hal buruk yang bisa menyeret dirinya dalam masalah.
__ADS_1
Dalam perjalanan Edwin menelpon, meminta beberapa anak buah Prabu yang dia kenal untuk menjaga Luna. Abi Sudah di jaga ketat saat ini tentu saja.
Edwin bingung saat mobil Prabu memasuki kawasan gudang kosong yang begitu sepi. Benar dugaannya, Prabu pasti mengincar nyawa orang yang mencelakai Luna. Edwin segera memarkiran mobil dan lari mengikuti kemana langkah Prabu. Beberapa penjaga yang mengenal Edwin tidak berani menghalangi langkahnya.
"Yahhhhhhh!!!!!!" Prabu berjalan menyeret tongkat kayu yang dia temukan di dekat pintu, mengayunkannya dan memukul kepala pelaku dengan keras.
"Prabu......!!!!!" Kepala pelaku bercucuran darah membuat Edwin meringis ngeri.
"Hentikan, kau bisa membunuhnya jika begini." Edwin memegangi tongkat dengan susah payah.
"Apa yang kau katakan, dia memang pantas mati. Akan ku cabik-cabik tubuhnya untuk makanan anjing kelaparan di jalanan!." Ucap Prabu sembarangan. Sontak pelaku yang mendengarnya terkejut.
"Ampun komandan, aku benar-benar hanya mengikuti perintah. Aku mohon ampuni aku Komandan. Aku tidak sengaja melukai Putri Komandan." Edwin berhasil merebut tongkat dari tangan Prabu.
"Apa kau bilang, kau tidak tahu Putri siapa yang kau hampir bunuh!!! Dan sekarang kau bilang tidak sengaja!” Prabu mencengkeram leher pelaku.
Plak....plak....plak
Prabu benar-benar geram.
"Katakan dibawah komando siapa kau bekerja?" Prabu mencengkeram kuat wajah pelaku sampai kukunya sedikit menancap.
Dengan wajah ketakutan Pelaku mencoba memberi tahu siapa yang memberinya perintah. Pelaku membisikkan satu nama yang membuat Prabu terhuyung.
"Tembak kepalanya." Edwin tercengang mendengar ucapan Prabu.
"Apa yang kau lakukan." Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Aku mohon Komandan, lepaskan aku, aku akan pergi jauh jika kau mele.." Kata-kata terakhir pelaku yang berhasil melepaskan sumpalan di mulutnya.
Dorrr......
Edwin yang mengikuti Prabu pergi hanya tidak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi. Prabu benar-benar membunuh pelaku begitu saja. Pasti ada yang Prabu sembunyikan sampai dia benar-benar tega membunuhnya.
***
"Kenapa kau sangat sedih?" Tanya Gunar yang masih menemani Nindi setelah selesai pengobatan. Nindi hanya tertunduk bingung. Dirinya benar-benar merindukan sosok Ivar. "Tolong jangan banyak pikiran Nin, kasihan dia.” Mengusap perut Nindi. “Kau juga bisa sakit." Gunar ingin jadi sandaran bagi kesedihan Nindi, tapi dia tahu betul Nindi tidak akan mau dengannya.
Ponsel Nindi bergetar, panggilan masuk dari Kak Edel. Belum sempat Nindi mengangkat panggilan sudah berhenti. Nindi mencoba menghubungi kembali namun tidak ada jawaban.
Tringgg......
Pesan masuk
"Nindi, Bagas sedang kesana yah, tolong pulang lebih cepat hari ini."
Isi pesan yang membuat dada Nindi sesak. Gunar yang melihat raut wajah Nindi berubah mengambil ponsel Nindi. Membaca isi pesan yang membuat Nindi berubah seketika.
__ADS_1
"Aku antar." Ucapnya sambil berjongkok. Gunar membantu Nindi mengenakan sepatunya.
"Aku takut Kak, ada apa yah. Kenapa Kak Edel seperti sedang ketakutan." Gunar juga bingung harus bicara apa. Dia tidak menjawab malah membawa Nindi segera pergi dari ruang kesehatan.
"Kita akan tahu jika sudah di rumah." Jawabnya yang dia timang timang agar tidak membuat Nindi semakin khawatir.
"Iya Kak, maaf aku terus merepotkan Kak Gunar."
"Jangan bicara seperti itu, aku senang bisa membantu dan ada sisi mu Nin." Gunar tersenyum getir mendengar ucapan Nindi, padahal kebahagiaan untuknya bisa dekat dengan Nindi meski dalam keadaan yang sungguh menyakitkan baginya.
Andai saja......Gunar menyudahi kegalauannya. Dia tidak mau berlarut larut memikirkan perasannya pada Nindi yang sudah tidak bisa dia paksakan.
"Kak Gunar apa akan tetap di sini?" Gunar memicingkan matanya.
"Maksudku.....apa Kak Gunar tidak lagi menyibukkan diri di restoran Kak Gunar?" Nindi tahu betul kerja keras Gunar membangun perusahaannya, dia menjadi sebesar ini karena restorang yang dia bangun dari nol.
"Oh....tentu saja tidak, setelah aku memastikan kau aman dan bahagia, aku akan mencari kebahagiaanku." Nindi merasa semakin bersalah pada Gunar. Menatap wajah Gunar yang masih sibuk menyetir.
"Jangan seperti itu Kak. Tolong...." Gunar menggenggam tangan Nindi yang ada di sebelahnya.
"Jangan minta aku menjauh sekarang, aku benar-benar tidak akan memaafkan diriku Nin. Biarkan aku menjaga mu sampai Ivar kembali." Pintanya.
"Tapi Kak...."
"Aku sudah tidak lagi mengharapkan hubungan kita, aku benar-benar tulus ingin menjaga dan mengawasi mu Nin. Tidak lebih, jadi anggap saja aku ini adalah Kakakmu." Tidak terasa air mata Nindi menetes. Gunar begitu baik padanya selama ini. Bahkan setelah dirinya menikah, Gunar tidak lantas membencinya.
"Aku sangat beruntung punya kalian semua." Ucapnya sambil mengusap air mata.
"Karena itu Nin, tolong bahagia lah Nin. Demi kita semua yang sayang padamu dan perduli." Nindi mengangguk.
Rumah tertutup rapat saat Nindi sampai, banyak sekali penjaga yang berdiri di beberapa titik rumah membuat Nindi penasaran dan takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi!"
"Kita masuk saja Nin, jangan berspekulasi."
Sebelum masuk mobil diperiksa, melaporkan siapa yang datang lewat sambungan telepon setelah memeriksa identitas Gunar yang tidak ada dalam daftar keluarga Edwin.
“Pak, ada apa ini?” Tanya Nindi membuka jendela.
“Tolong segera masuk Nona.” Tidak menjawab apapun, penjaga yang ada di sana tidak satupun yang Nindi kenal. Kemana semua orang yang biasa menjaga rumah? Nindi benar-benar penasaran.
"Nindi, cepat berkemas. Kita akan sementara waktu meninggalkan rumah ini." Nindi tertegun. "Baju-baju sudah Kak Edel kemas, Nindi cek lagi saja apa yang perlu Nindi bawa."
"Tolong jelaskan, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak bisa di jelaskan kata Papah, kita hanya diminta mengemasi barang-barang kita dan pergi sementara waktu ke tempat yang aman." Edel menjawab pertanyaan Nindi sambil mondar mandir mengemasi barang-barang nya.
__ADS_1