Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Gunardi


__ADS_3

Makan siang romantis berhasil mengobati hati Nindi yang sakit saat ini. Ivar berhasil menciptakan suasana yang tidak pernah terbayangkan di benak Nindi. Meja besar, makanan enak, music romantis dan beberapa buket bunga yang Ivar siapkan khusus untuknya.


“Sudah baikan?” Nindi mengangguk. Ivar mengobati hatinya tanpa bertanya sebabnya, biarkan Nindi menceritakan apa yang dia ingin ceritakan dan


memendam apa yang ingin dia rahasiakan.


“Kak Ivar.” Ivar menatap wajah cantik Nindi. “Terimakasih sudah menerimaku dan Hanna. Bagaimanapun aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Kak Ivar.”


“Membalas? Apa ada balas budi antara Suami dan Istri?” Iver menggeleng dan tersenyum sendiri. “Itu sudah kewajibanku. Jangan memendamnya Nin, aku mohon katakan apa pun yang ingin kamu keluhkan.” Nindi mengangguk.


Tidak mungkin Nindi memberitahukan bagaimana sikap Mamah Ellie padanya. Nindi tidak mau membuat Ivar membenci wanita yang sudah melahirkanya. Nindi tidak mau menghancurkan hubungan mereka yang begitu harmonis selama ini tanpa Nindi.


“Nin…” Sapa Gunar yang melihat Nindi. “Kau di sini juga?”


“Iya Kak, Kak Gunar juga sedang ada acara?” Nindi baru ingat ini Restaurant milik Gunar. Gunar tersenyum pada Ivar meski tidak dibalas ramah sapaannya.


“Temanku melamar kekasihnya, dan dia meminta kita datang meramaikan acara. Kau pasti kenal. Sapalah kalau ada waktu.” Ivar semakin panas.


“Dasar kekanakan.” Gumam Ivar pelan.


“Lain kali ya Kak. Aku tidak bi..bisa….” Memohon pada Gunar agar segera pergi dengan tatapan matanya.


“Iya Nin, maaf yah sudah mengganggu. Silahkan lanjutkan.” Gunar meninggalkan Ivar yang sudah siap menerkamnya.


“Dia muncul dimana saja, sudah seperti hantu saja anak itu.” Ivar benar-benar kesal melihat tatapan mata Gunar pada Nindi yang tidak biasa.


“Namanya Gunardi Kak. Kita para adik-adik kelasnya memanggilnya Kak Gunar. Dia cukup popular di kampus.” Kenang Nindi.


“Tidak perlu dijelaskan, aku tidak penasaran juga siapa dia.” Nadanya sudah memancarkan kemarahan.


“Kaka ini, kau cemburu padanya?” Nindi meledek Ivar.


“Cemburu! Hah…..Pantang bagi Ivar cemburu. Apalagi pada anak kecil seperti dia, uang saja masih minta pada kedua orang tuanya.” Nindi tertawa melihat Ivar yang sedang kepanasan. Suaminya benar-benar marah dan cemburu.


“Kau salah besar Kak. Dia Koki sekaligus pemilik Restaurant ini Kak.” Ivar tidak percaya salah menilai Gunar, dia pikir Gunar hanya pria yang belum dewasa.


“Benarkah?” Nindi mengangguk.


“Dia yang jadi role model adik-adik kelasnya karena sukses di dunia Tata Boga. Meski dia terlahir dari keluarga kaya yang selalu siap menyokongnya, dia tidak pernah berpangku tangan dan menjadi hebat berkat kerja kerasnya sendiri.”


“Kau tidak perlu melihat laki-laki lain sebegai contoh, lihat aku seorang.” Ivar mulai ngambek.


“Aku tidak melihatnya sebagai laki-laki yang aku sukai. Aku hanya meneladani kerja kerasnya saja yang patut dijadikan contoh.” Nindi membela diri.


“Tetap saja, aku tidak suka.”

__ADS_1


“Iya iya, mulai sekarang role modelku adalah Ivar Samuel Latif.” Senyum merekah di bibir Ivar yang semula bertekuk tekuk.


Tidak lama Gunar datang dengan makanan di tangannya. Dia ingin pamer pada Nindi pasti, aku juga pasti bisa seperti dia. Apa susahnya masak begini saja. Ivar marah dalam hati dan hanya dia pancarkan lewat tatapan matanya yang mematikan


“Ini ucapan selamatku atas pernihakan kalian. Maaf karena undangan tidak datang, aku jadi tidak tahu kalian sudah menikah. Anggap ini ucapan selamatku ya Nin.” Gunar meletakkan masakan special buatannya yang belum di rilis.


“Terimakasih banyak Kak.”


“Tidak perlu repot, aku bisa memasakkan Nindi makanan seperti ini.” Masih saja ketus. Menunjukkan dengan jelas kecemburuannya.


“Aku sudah mundur Tuan. Tenang saja, awalnya aku masih mau berusaha merebutnya. Tapi sekarang aku menyerah, aku melihat Nindi bahagia sudah cukup.” Gunar pergi meninggalkan tanda tanya besar dikepala Ivar.


Ivar meredam emosinya yang memuncak perlahan, dia tidak ingin mempermalukan Nindi dan dirinya sendiri di depan banyak orang. Meski marah dia berusaha menganggap Gunar anak kecil yang tidak perlu dia beri pelajaran.


“Jangan marah Kak. Aku milikmu. Aku juga hanya mencintai Kak Ivar.” Nindi mendekap lengan Ivar agar amarahnya padam.


Nindi memang sempat mendengar rumor tentang Gunar yang jatuh cinta padanya. Tapi Nindi tidak menganggapnya serius. Banyak yang menyukai Kak Gunar karena ketampanan dan kemasyhurannya. Nindi tidak punya harapan bisa mendapatkanya. Akhirnya gossip menghilang seiring berjalannya waktu.


Ditambah lagi Cakra tidak pernah mengijinkan Nindi punya sahabat laki-laki. Boleh hanya sekedar teman belajar, Cakra tidak pernah mengijinkan Nindi pergi kemanapun tanpa dirinya. Nindi memilih pulang daripada pergi tapi diikuti Cakra.


“Dia tidak tau sedang berhadapan dengan siapa.” Ivar benar-benar sedang mencoba mengendalikan emosinya.


“Kita pulang saja, kita cari tempat makan yang lebih sederhana. Bagaimana?” Ivar meraih jaketnya tanpa menunggu lama. Dadanya sesak saat tahu ada laki-laki yang menginginkan Nindi selain dirinya.


Nindi meminta Ivar mampir di taman dekat rumah tempat tinggalnya dulu. Ingin mengenang sedikit masa-masa bahagianya bersama Kak Cakra yang kini sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


“Neng…..” Sapa Tante Ira yang melihatnya.


“Tante Ira apa kabar?” Nindi mencium tangan Tante Ira yang sudah seperti Kakak baginya.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Tante Ira menarik tangan Nindi sedikit menjauh dari Ivar. “Kemaren ada yang datang ke sekolah Hanna Nin. Tapi aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Dia bilang saudara jauh dari Papahnya Hanna.”


“Apa dia bertemu dengan Hanna?”


“Tidak Nin, kelamaan menunggu katanya. Aku tidak lihat wajahnya Nin, dia pakai masker dan topi. Pakai jaket hitam tebal. Mirip penjahat Nin.” Tante Ira bergidik ngeri.


“Saya harus menjaga Hanna lebih ketat sepertinya. Tante terimakasih banyak yah sudah mengawasi Hanna.”


“Iya Nin, cuma aku takut saja dia ada niat jahat pada Hanna. Syukur-syukur dia benar-benar saudaramu Nin.” Ira menyudahi pembicaraannya, tidak enak melihat mata Ivar yang begitu tajam memperhatikan mereka. “Ya sudah, saya pamit ya Nin, Nak Ivar.”


“Ada masalah sayang?” Ivar mendengar samar-samar.


“Ada mencari Hanna di sekolah. Tapi setahuku, Kak Cakra tidak punya lagi saudara. Kami hanya berdua saja.”


“Jangan khawatir, aku akan meminta pengawasan untuk Hanna. Aku takut ini ada sangkut pautnya dengan kasus yang sedang kita selidiki.”

__ADS_1


“Apa Hanna bisa dalam bahaya?”


“Tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hanna.”


***


Edel dan Ayman membawa Hanna dan Jason jalan-jalan sore membeli ice cream kesukaan Hanna. Ayman sangat suka pada Hanna yang ceria dan banyak bicara, dia serba ingin tahu apapun yang dia lihat. Semuanya Hanna tanyakan pada Ayman. Untung saja Ayman punya otak yang encer menjawab semua pertanyaan Hanna yang unik.


“Sekarang kita makan dulu yah, Hanna pilih mau makan yang mana?” Edel menyodorkan menu makanan.


“Apa boleh pilih apa saja yang aku mau?”


“Tentu saja sayang. Asalkan Hanna bertanggung jawab menghabiskannya.” Jawab Ayman bijak mengajarkan Hanna rasa tanggung jawab.


“Tapi ini menunya banyak sekali porsinya Paman. Aku tidak akan sanggup menghabiskanya.” Berpikir keras harus makan apa. Hanna teringat saat makanan Hanna tidak habis, Mamah Aruni dengan senang hati menghabiskannya.


“Hanna, tidak harus menghabiskan semua porsinya Nak. Makan sesuai dengan kesanggupan Hanna. Kan kita bisa berbagi makanan, benarkan Paman!” Edel tahu kegundahan hati Hanna.


“Iya tentu saja, kita bisa bekerjasama menghabiskan makanan yang kita pesan.”


Yeaayyyyy……


Hanna bersorak bahagia mendengarnya. Dengan mantap Hanna memesan Chicken Karaage kesukaannya.


“Paman? Apa nanti Tante Nindi akan hamil?”


Uhukkkk…uhukkkk…uhukkkk….


Edel tertawa melihat Ayman tersedak makanan mendengar pertanyaan Hanna. “Kau baik-baik saja?”


“Kau ini malah menertawakanku.” Ayman menenggak air putih menyegarkan tenggorokanya yang panas. “Hanna kenapa punya pertanyaan seperti itu?”


“Hanya ingin Tanya saja. Kata Lula dan Maura, Jika laki-laki dan perempuan menikah, maka wanita akan hamil.” Menjelaskan dengan polos. “Kenapa wanita bisa hamil Paman?”


Ayman menggaruk kepalanya sambil tersenyum menatap wajah Edel yang sama-sama merasa malu harus menjelaskan apa. Deg-degan takut menyampaikan hal yang tidak baik pada anak sekecil Hanna, apalagi menjelaskan hal yang tidak masuk akal.


“Hanna, apa kau mau makan ini?” Edel mencoba mengalihkan Hanna pada hal lain. “Ini enak loh Han.”


“Ternyata Lula dan Maura benar. Orang dewasa menghindari pertanyaan tentang kehamilan.” Edel dan Ayman semakin tercengang. Anak-anak sekecil mereka penasaran soal kehamilan.


“Bukan menghindar Han. Belum saatnya, nanti jika Hanna sedikit lagi dewasa, Paman akan mejelaskannya dengan detail.”


“Paman berjanji?” Ayman mengangguk. “Aku akan katakan pada Lula dan Maura.” Edel menggeleng tidak percaya.


“Hanna? Apa di sekolah kau paling pandai?” Hanna mengangguk. “yang benar?” Mengangguk lebih semangat karena mulutnya penuh makanan. “Pantas saja kau bisa membuat Paman bingung mengimbangimu.” Hanna nyengir tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Gadis kecil yang bisa melepaskan kepenatan pikiran orang dewasa yang rumit. Pertanyaa-pertanyaan sederhananya mampu membuat otak orang dewasa berpikir keras agar bisa menyampaikan hal yang bisa dimengerti dan masuk akal bagi anak seusianya.


Ayman yang biasanya cuek sangat berbeda saat menghadapi Hanna. Dia seolah merubah jati dirinya menjadi seorang Paman yang baik bagi Hanna. Edel sampai terpesona dengan cara Ayman membuat Hanna nyaman berada di sisinya. Dia baru sadar suaminya punya sisi lain yang sangat menyenangkan jika menyangkut anak-anak.


__ADS_2