
Ivar masih duduk merebahkan tubuhnya yang kelelahan, lebih tepatnya hatinya yang lelah. Nindi turun dengan hati-hati. Masih mendapati wajah Ivar yang tidak bersahabat.
Ivar bahkan tidak menyadari Nindi turun seorang diri dari kamarnya. Dalam keadaan waras, dia akan teriak dan marah-marah jika Nindi tidak meminta bantuan Ivar saat menuruni tangga.
Nindi duduk di meja makan meski dirinya tidak ikut makan malam, Ivar membawanya makan sebelum pulang.
"Makan yang banyak Han." Ucapnya pada Hanna yang terlihat malas makan. Hanna hanya mengangguk. Tangannya sibuk memainkan ponsel dan matanya focus hanya pada ponsel yang ada di tangannya.
"Nin, kenapa pangeran berkuda mu muram? Kaka tanya pun hanya hmmm...hmmmm saja." Nindi malah tersenyum melihat Edel menirukan Ivar.
"Takut Abang malu jika Nindi ceritakan." Menahan tawanya. Memang sangat memalukan batinnya.
"Apa yang terjadi? Pasti dia bertingkah konyol yah di kantor?" Nindi mengangguk. "Sudah kuduga." Matanya berbinar penasaran.
"Hussshhh....jangan keras-keras, nanti dia marah lagi Kak." Ivar kesal saat Nindi mengulang dan mengingatkan Ivar akan kekonyolannya.
"Apa yang dia lakukan Nin?" Nindi masih menahan diri agar tidak tertawa. Edel bicara sekecil mungkin agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Dia menarik ku keluar dari ruang meeting."
"HAH....." Teriak Edel membuat Ivar menoleh ke arah mereka. Wajahnya datar namun penuh tanda Tanya, apa yang dua wanita itu lakukan.
"Ada apa?" Tanyanya penasaran.
Edel kembali duduk menutup mulutnya tersipu malu. "Tidak Var, kami hanya sedang bergurau saja." Kalau Ivar mendekat Edel akan kehilangan kesempatan mendengarkan cerita adiknya yang menggemaskan.
"Bergurau kok teriak-teriak." Kembali merebahkan tubuhnya dan fokus pada ponselnya.
"Kenapa? Dia cemburu?" Nindi menggeleng. "Lalu kenapa dia sampai berbuat memalukan begitu?" Racaunya yang memang sangat penasaran.
"Karena aku di marahi saat presentasi."
"Dasar anak kecil, bisa-bisa dia berbuat begitu. Terus Nin." Masih penasaran.
"Abang marah, dia tidak mau aku kembali kerja. Membawaku kabur ke luar menenangkan diri. Dia bahkan melotot pada pak Haryanto saat berpapasan dengannya di lift."
"Hahahaha......aku bisa bayangkan wajah Haryanto yang bingung. Dia kenapa berani memarahimu?" Edel heran kenapa ada karyawan yang berani memarahi Nindi terlebih di depan Ivar.
"Sepertinya Pak Haryanto tidak tahu aku istri Abang." Edel semakin terbahak mendengar cerita Nindi.
"Tertawa kau! Puas Kak!" Kesal Ivar yang kini berdiri di belakang Nindi.
"Abang kok di sini?" Kaget.
"Eleh.... eleh.... sampai tidak sadar Abang jalan kesini. Kalian ini suka sekali membicarakan aib orang lain." Ivar dari tadi mendengar, hanya pura-pura tidak perduli.
"Bukan begitu Var, kita hanya bertukar cerita saja." Bela Edel.
"Ayo naik Nin, Abang lelah." Memeluk Hanna yang asik bermain game.
__ADS_1
"Hanna belum selesai makan Bang, tunggu sebentar." Nindi masih menyuapi Hanna yang sedikit manja mala mini. Dia mau Nindi terus ada di sampingnya.
Ivar yang duduk di sebelah Hanna semakin mengeratkan pelukkannya. Benar anak gadisnya memang terlihat sedang ingin dimanja Nindi. Dia yang biasanya mandiri meminta Nindi menyuapinya makan.
"Seru sekali Han." Mencium pipi Hanna gemas.
"Paman mau coba?" Ivar menggeleng. "Payah, pasti Paman tidak pandai kan memainkannya?" Ivar hanya tersenyum hambar. Lagi-lagi dirinya dibully.
"Kalian sangat kompak membully ku, aku laporkan pada Komnas HAM." Mereka hanya tertawa mendengar Ivar kesal.
“Hanna tidak ikut-ikutan.” Celetuknya tanpa menatap Ivar.
"Abang ke atas dulu, bilang Abang kalau Nindi mau naik. Nanti Abang jemput." Nindi mengangguk setuju. Dirinya memang tidak diperbolehkan naik turun sendiri.
Selesai bersih-bersih Ivar membaca beberapa email yang Tomo kirimkan. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, Ivar memutuskan kembali turun, bidadarinya masih belum menampakkan diri.
Ruang makan sepi, Ivar mengetuk kamar Hanna sebelum membukanya. Ivar melangkah perlahan memasuki kamar Hanna.
"Sedang apa kesayangan Paman?" Wajah Hanna terlihat sangat serius. Nindi terlelap di samping Hanna. Kelelahan.
"Paman mau memindahkan Tante?" Ivar menyipitkan matanya.
"Kenapa? Hanna mau tidur sama Tante Nindi?" Hanna mengangguk, dirinya rindu tidur sambil memeluk Nindi seperti dulu.
"Bolehkah?" Ivar memeluk Hanna dengan lembut. Mencium puncak kepala Hanna berulang kali. Menepuk punggung tangan Hanna yang halus. Gadis cantik kecintaan Paman-Pamannya.
"Tentu saja Sayang, kenapa juga tidak boleh." Hanna lega. Dia pikir Ivar ke bawah untuk menjemput Nindi naik.
"Paman akan tidur di kamar Paman." Mencium kening Hanna sebelum keluar. Menyelimuti tubuh Hanna dengan penuh kasih sayang. Tidak lupa mendaratkan ciuman di pipi Nindi yang masih terlelap.
"Hanna sudah tidur?" Tanya Ayman yang melihat Ivar keluar dari kamar.
"Dia masih terjaga, mau tidur sama Nindi malam ini." Semua paham terkadang Hanna bersikap seperti ini.
"Anak kita sudah besar Var, bersiaplah saat dia tiba-tiba mengenalkan pacarnya pada kita." Goda Ayman yang tidak mau khawatir seorang diri dengan perubahan sikap Hanna yang suka membuatnya kesal.
"Yeah!!!!!" Teriaknya tidak terima. "Mana boleh, dia....masih kecil." Kesal Ivar.
"Kau ini, dia bahkan menolak pelukan ku pagi ini Var. Dia menjaga image nya di depan teman-temannya." Kesal Ayman sekarang.
"Benarkah, aku akan memaksa memeluknya di depan umum besok." Ancam Ivar yang tidak mau Hanna berubah secepat ini.
"Paman aku dengar, aku bukan anak kecil yah." Hanna ternyata mendengar percakapan keduanya.
Ivar dan Ayman saling menatap.
"Ingat perjanjian kita." Ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya kembali. Ivar lupa menutupnya saat keluar tadi.
"Kau dengar, itu putri kecil kita Var." Wajah Ayman dan Ivar sedih, Hanna seperti wanita dewasa sungguhan.
__ADS_1
Malam semakin larut, hanya terdengar dentingan jarum jam yang terus berputar. Ivar tidak bisa memejamkan matanya. Tapi meminta Nindi pindah pun tidak mungkin, kasihan Hanna. Memaksakan matanya untuk terpejam.
Setelah lama mencoba.
Kreekkkkkk.....
Ivar lega melihat Nindi masuk, akhirnya dia bisa tidur yenyak malam ini. Merentangankan kedua tangannya menyambut Nindi ke pelukkannya.
"Hanna tidak marah Nindi tinggal?"
"Dia susah bangun kalau sudah tidur." Nindi memeluk Ivar erat, dirinya ingin sekali meminta maaf akan kejadian hari ini.
"Terimakasih......" Ivar tersenyum.
"Untuk apa?"
"Semua yang Abang lakukan untuk Nindi."
“Memang apa yang sudah Abang lakukan? Jelaskan, Abang tidak paham.” Menggoda istrinya.
“Karena sudah menepati janji Abang selalu ada untuk Nindi dan Hanna. Mencintai Nindi dan Hanna dengan tulus, memberikan kami kabahagiaan yang tidak bisa Nindi balas.” Ucapnya yang sebenarnya masih begitu banyak yang ingin Nindi sampaikan.
“Nindi bisa membalas semuanya.” Mengeratkan pelukkanya.
“Bagaimana caranya?”
"Jangan terluka, jangan sakit dan jangan sedih. Jangan menyimpan duka Nindi seorang diri, berbagilah dengan Abang, percaya pada Abang Nin.” Pintanya tulus. Tidak ada yang bisa melukai Nindi selama masih ada Abang.
"Nindi percaya, Abang terbaik. Tapi ku mohon..." Mencoba mencari kata paling bijak. Suasana sedang mendukung Nindi mengungkapkan isi hatinya.
"Lanjutkan."
"Ku mohon bersikaplah normal Abang, aku ini karyawan mu seperti yang lain saat di kantor." Ivar membuka matanya, kenapa jadi bahas kantor pikirnya, suasana sedang syahdu tapi Nindi membawanya kembali pada kenyataan.
"Abang usahakan, tapi tidak janji." Kembali memejamkan mata dan memeluk Nindi erat.
Perdebatan tidak Nindi lanjutkan, matanya mengantuk dan tidak bisa lagi berpikir jernih, daripada salah bicara dan urusan semakin panjang, Nindi memilih memeluk laki-laki nya yang sedang tidak waras karena merasa tidak berdaya.
***
"Nin, sudah siapkan bahan presentasi kan?" Tanya Melly yang masih fokus mengemas dokumen ke dalam map hijau andalannya.
"Sudah Bu, seperti yang sudah saya jelaskan singkat kemarin kurang lebih isinya Bu."
"Good, sekarang Nindi, Mariska, Zein dan Ken ikut aku. Putra bawa yang lainya ke ruang meeting Direksi bersama Pak Ivar."
Nindi lega, Ivar tidak meeting bersamanya pagi ini. Malu sekali jika kejadian memalukan kemarin terulang.
Meeting berjalan lancar, Gunar sedang menjelaskan keputusan meeting pada semua bawahanya saat Ivar tiba-tiba menerobos masuk.
__ADS_1
Braakkkkkk