
Perjalanan siang ini terasa begitu lama, udara panas dan kemacetan membuat Jason sedikit tidak nyaman. Dia terus meminta keluar dari dalam mobil, merengek meminta Ivar menghentikan mobilnya.
Nindi mencoba berbagai cara agar Jason mau memeluknya dan tenang, usahanya sia-sia. Jason benar-benar membuat udara panas semakin terasa panas. Tangisnya pecah karena maunya untuk keluar dari mobil belum di penuhi.
“Kita turun dulu saja yah, kasihan anak ku Bang. Nangis terus loh ini.” Ivar juga tidak bisa berbuat apa-apa jika anak-anak sudah salah tingkah seperti ini, mereka pasti sedang mencoba mencari nyaman yang belum di rasakan dan membuatnya rungsing.
Ivar membelokkan stir mobilnya, menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang dikelilingi pepohonan, sejuk pemandangannya di lihat dari luar. Semoga saja Jason merasa lebih nyaman. Dia masih menangis meski suaranya sudah sedikit lirih, tidak sekeras tadi saat masih ada di dalam mobil.
"Di sini dulu saja gak papa Mom?" Nindi mengangguk, kelihatannya nyaman untuk anak-anak. "Ayo aku gendong Jason nya." Tangan Ivar mencoba memindahkan Jason ke gendongannya.
Dia bukan nya lepas dari gendongan Nindi, tangannya malah semakin erat memeluk Nindi, tidak mau di pindahkan. Nindi tersenyum. "Boy, kasihan Mommy. Kamu berat Nak." Jason memindahkan kepalanya agar tidak melihat wajah Paman nya yang tengah bicara. "Jason..." Nindi menggeleng, tidak mau membuat Jason semakin sedih karena di paksa Paman nya.
"Tidak apa Bang, aku bisa jalan pelan-pelan sambil gendong Jason. Dia sedang nyaman peluk aku sepertinya." Ivar menatap Nindi dengan sendu, dia memang selalu menjadi pelindung anak-anak nya.
Hanya kecupan yang Ivar bubuhkan di kening Nindi sebagai ungkapan terimakasih karena selalu sabar dengan tingkah anak-anak yang tidak ada habisnya membuat Nindi kerepotan. Dia selalu saja menjadi wanita paling sabar dan mengerti maunya anak-anak meski tidak bisa di artikan arti tangisan yang keluar dari mereka.
Ivar berjalan di belakang Nindi, memastikan Nindi melangkah dengan aman di sisinya. Mereka memasuki cafe yang lumayan sunyi, hanya ada dua meja terisi di dalamnya. Masih cukup siang untuk orang bermain-main di cafe.
Pemilik cafe yang melihat kedatangan mereka segera menyambut dengan senyum hangat. Mempersilahkan Ivar dan Nindi masuk menuju meja yang mereka inginkan.
Wajahnya mengingatkan mereka pada seseorang, degub jantung Ivar berantakan, sangat terkejut sampai tidak bisa mengontrol perasaannya yang begitu menggebu tiba-tiba.
__ADS_1
Mata Ivar dan Nindi masih menatap takjub wanita cantik yang tengah menyodorkan menu pada keduanya. Dengan malu mencoba menghindari tatapan kedua tamunya, wanita yang tidak tahu kenapa di tatap sebegitunya memalingkan wajahnya, malu. Dia benar-benar salah tingkah melihat tamunya menatap dengan tatapan yang tidak biasa. Dirinya risih dan malu.
"Mih...Mihh...." Ucap Jason yang membuat Nindi mencoba mengalihkan Jason dari wanita yang nampak bingung. "Mihhhh..." Jason lirih memanggilnya lagi. Tatapan mata Jason membuat hati Nindi begitu kalut dan hancur.
“Abang, aku ke toilet sebentar ya Bang.” Nindi membawa Jason bersamanya, tidak rela jika Jason menangis karena mengira wanita yang dilihatnya adalah Mamihnya. Tangannya bergetar, Nindi tengah menahan diri agar tidak menangis di keramaian.
“Maaf Mbak, saya pesan nanti yah.” Wanita yang tertegun dengan apa yang dilihatnya mengerjap saat Ivar membuat lamunanya terhenyak dan kembali sadar. “Nanti aku aku panggil jika sudah tau mau pesan apa.”
“Baik Pak, silahkan.” Dia melangkah menjauhi meja Ivar, kebetulan sekali ada beberapa tamu lagi yang memasuki Cafe.
Mata Ivar benar-benar tidak bisa fokus pada menu makanan yang ada di depannya. Dia sesekali melirik wanita muda yang sangat mirip dengan Kakak nya, dia lebih kurus dan sedikit pendek. Edel tingginya menjulang seperti model.
Cukup lama Ivar menunggu Nindi yang tidak kunjung keluar dari toilet, dia tidak berhasil menenangkan Jason yang terus memanggil Mamih nya. Mencoba segala cara yang malah membuat Jason semakin meronta ingin keluar dari dalam toilet.
Nindi yang tidak tahan melihat kesedihan Jason jadi ikut menitikan air mata diam-diam, dia tidak akan tahu jika wanita yang di lihatnya bukan Edel, Mamih yang sangat di rindukannya. Jason hanya melihat kemiripan dan ingin mendekat padanya.
“Sakit Bang, aku tidak bisa buat anak ku ini diam. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Ivar juga kebingungan, bisa apa dirinya saat Nindi saja tidak berhasil membuat Jason tenang. “Dia pasti rindu sekali Bang.” Ivar memeluk Nindi yang masih mendekap Jason dengan erat.
“Amih...Mih....Mih..” Hanya itu yang terdengar di telinga Nindi. Mengiris hatinya karena tidak bisa berbuat apa-apa. Nindi berpikir cukup keras, apa yang dirinya bisa lakukan agar Jason bisa sedikit lega.
Nindi berjalan mendekati tempat wanita yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Masih menggendong Jason yang suara tangisnya sesenggukan begitu menyakitkan. Mata mereka bertemu, wanita yang begitu ramah dan murah senyum.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu Bu?” Nindi mengangguk. Dia segera keluar dari tempatnya menghampiri Nindi yang masih menatapnya dengan sendu. Membersihkan tangan basahnya dengan celemek putih yang saat ini dirinya kenakan.
“Bisakan peluk sebentar saja anak saya? Dia terus melihat mu sejak tadi.” Jason sudah mengulurkan tangannya, dia memang hanya tahu wanita yang ada di depannya adalah Mamih. Wanita yang sangat Jason rindukan.
Dia tidak langsung setuju, bingung sekali dengan permintaan yang menurutnya tidak masuk akal. “Aku bahkan belum menikah dan tidak punya anak, bagaimana bisa aku menenangkannya?” Bicara sambil tersenyum. Ragu karena Jason masih terisak menatap dirinya.
“Sebentar saja Mbak, dia hanya butuh di peluk dan di belai oleh tangan mu Mbak.” Pinta Nindi dengan haru. Dengan ragu dia meraih tubuh Jason, Ivar yang berdiri di belakang Nindi hanya memperhatikan percakapan mereka.
Suara tangis Jason hilang, dia langsung tenang saat wanita yang benar-benar mirip dengan Mamihnya mendekap tubuhnya. “Mih.....Mih.....” Hanya itu suara yang terus Jason ucapkan. Lembut sekali tangan wanita yang ramah itu membelai Jason.
Nindi memeluk Ivar, tidak kuat sekali melihat Jason yang begitu nyaman dengan wanita yang baru mereka temui. Sakit sekali dada Nindi, andai saja Jason bisa bicara, dia pasti sudah berteriak karena rasa sakit yang begitu menyiksanya.
Dia dengan lembut menimang Jason, menyanyikan lagu dengan suara lirih yang sangat indah. Mata Jason yang semula terbuka lebar perlahan mengerjap lembut, kantuknya melanda karena nyaman yang dia dapatkan.
Nindi membawa Jason yang sudah berhasil tertidur pulas dalam dekapannya. Jason pasti lega bisa memeluk wanita yang sangat dia rindukan. “Terimakasih banyak sudah mau membantuku menenangkan Putra ku.” Dia mengangguk, entah perasaan apa yang dia rasakan. Dia sudah sayang pada Jason secepat ini.
“Bolehkan ceritakan ada apa sebenarnya? Kenapa dia memeluk ku begitu erat.” Tanya nya penuh rasa penasaran.
“Wajah mu mirip sekali dengan Mamih nya.” Dia menatap Nindi. Ivar mengeleng. “Dia Kakak ku, belum lama ini dia meninggal karena kecelakaan bersama Ibu ku.” Ucap Ivar lagi mencoba menjelaskan.
Karena tidak mau mendengarkan cerita yang begitu menyakitkan lebih banyak, dia membelai lembut kepala Jason. “Datang kapan saja kalian butuh bantuanku.” Dia menyodorkan kartu namanya. “Hubungi aku jika butuh bantuan ku untuk datang ke tempat kalian. Tidak perlu sungkan.”
__ADS_1
“Bolehkan aku memeluk mu?” Nindi merentangkan tangan Kanan nya dengan susah payah. Dengan cepat dia memeluk Nindi, ada perasaan lega karena Jason menemukan sosok wanita yang begitu hangat. Meski baru saling mengenal, dia dengan tulus mau membantu Jason yang tengah tantrum.
Wajahnya menggambarkan bagaimana kebaikannya, dia punya senyum yang sangat indah. Menambah kecantikan yang sempurna menghiasi wajahnya yang cantik jelita.