Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Kembali Bekerja


__ADS_3

Rumah pagi ini ramai, Hanna begitu heboh membantu Nindi menyiapkan segala macam keperluan perlengkapan kerja di hari kembalinya Nindi ke kehidupan nyata setelah kesedihan yang cukup membuatnya terpukul. Suara tawa Hanna mewakili kebahagiaan Nindi yang tidak bisa Nindi ekspresikan.


“Aduh…aduh….Hanna pagi-pagi semangat sekali? Cium Paman dong sayang.” Minta Ayman yang tidak tahan melihat kegemasan Hanna.


“Paman, aku hari ini libur. Boleh kan aku antarkan Tanta Nindi ke kantor?” Matanya berbinar-binar merayu Ayman. “Tante Nindi bilang boleh Paman. Yah…boleh yah.” Ayman mengangguk.


“Paman juga hari ini sangat longgar, jadi Paman bisa mengantarkan Tante Nindi ke kantor.” Ayman menurunkan Hanna dari kursi. “Sekarang Paman bantu Hanna siap-siap. Ayo!!!!!” Teriak Ayman mengangkat Hanna ke punggungnya.


“Yeayyyyy…..” Sorak Hanna sangat gmbira.


“Nindi, sarapan dulu yah. Biar Mas bantu Hanna bersiap. Bawa apa yang sekiranya Nindi perlukan.”


“Iya Mas, terimakasih banyak Mas. Maaf aku merepotkan.”


“Ayo Bidadari cantik.” Keduanya melenggang meninggalkan Nindi agar lebih leluasa. Edel juga sebenarnya ingin keluar namun bingung harus bicara apa. Edel hanya mengintip dari balik pintu kamarnya.


“Bagaimana? Apa Nindi tetap ingin ke kantor?” Ayman mengangguk. “Benarkah!” Edel memeluk Hanna yang ada di punggung Ayman. “Aku ingin memeluknya.”


“Kenapa Tante Edel memelukku kalau ingin memeluk Tante Nindi?” Tanya Hanna penasaran.


“Karena Tante juga ingin memelukmu.” Edel menggelitik Hanna sampai tertawa terpingkal pingkal. “Cepat kita mandi.” Edel menyudahi pembicaraan sebelum Hanna semakin penasaran.


Edel membantu Hanna mandi, Ayman yang melihat Hanna sudah semakin besar tidak lagi mebantu Hanna untuk mandi. Dia memilih menjaga Jason dan kembali ke ruang keluarga menemani Nindi.


“Hanna senang deh lihat Tante Nindi sudah sehat, apa seperti itu kalau ada dedek bayi di perut kita? Perempuan jadi mudah sedih?” Tanya Hanna penasaran, karena Nindi bukan tipe orang yang mudah bersedih sebenarnya. Edel mendudukkan Hanna di kursi rias milinya sambil mengenakan pakaian bersiap pergi jalan-jalan.


“Tidak juga, buktinya sekarang Tante Nindi sudah baik. Hanna ada PR?” Tanya Edel mengalihkan pembicaraan.


“Ahhhh….selalu saja mengalihkan pertanyaanku.” Celetuk Hanna yang merasa tidak puas. Edel menahan tawa agar tidak Hanna lihat.


“Apa yang ingin Hanna tahu sayang? Apa Hanna khawatir Tante Nindi akan sering merasa sedih?” Hanna mengangguk, wajahnya terlihat murung. “Apa yang membuat Hanna takut?” Menunduk.


“Hanna tidak mau Tante sedih, kasihan Tante.” Edel memeluk Hanna erat. Dia sangat mencintai Nindi. “Tante baik-baik saja kan?” Edel menciumi gemas pipi Hanna.


“Dengar! Paman Ayman, Omah, Opah, Tante Edel dan Jason akan menjaga Hanna dan Tante Nindi dengan kekuatan super yang kita miliki.” Edel menunjukkan otot-otot nya yang tidak Nampak.


“Bagaimana dengan Jason, kan dia masih bayi.” Ucap Hanna merasa penasaran. “Anak bayi yang harus kita lindungi kan!.”


“Jason melindungi kita dengan do’anya. Hanna tidak tahu kan bagaimana Jason berdo’a?” Hanna mengeleng. “Dia bedo’a di dalam mimpinya saat dia tidur.” Hanna mengernyitkan dahinya. Dia tahu betul Edel sedang bercanda.


“Tante mengodaku yah!!!!” Hanna tertawa dengan sangat imut.


“Hanna pintar, kau tahu Tante sedang bercanda. Apa kau senang sekarang?” Hanna mengangguk penuh semangat. “Sekarang kita antar Tante Nindi sama-sama. Setelah itu Tante dan paman Ayman akan ajak Hanna dan Jason jalan-jalan, bagaimana?”


“Benarkah! Horeeee….” Teriaknya sambil lari keluar kamar. Hanna langsung memeluk Nindi yang sudah menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


“Hati-hati Han, kau kenapa senang sekali, ada apa sayang?” Tanya Nindi sambil membelai kepala Hanna dengan penuh kasih.


“Hanna dan Jason mau jalan-jalan, pasti seru.”


“Wah enak dong.” Hanna mengangguk, matanya berbinar-binar penuh bahagia. “Ingat yah jangan nakal, Hanna harus menjaga adik Jason supaya tidak ada yang mengganggunya.”


Muaccchhh…


Hanna mengecup perut Nindi tiba-tiba.


“Anak bayi, tolong jaga Tante Nindi yah. Aku tidak mau lagi melihatnya menangis.” Nindi sangat terkejut, dia bahkan berusaha keras terlihat baik-baik saja di depan Hanna. “Ayo kita berangkat, nanti Tante dimarahi Bos Tante kalau telat.”


Ayman sudah lebih dulu berada di dalam mobil. Edel yang melihat Hanna dan Nindi jadi terharu, anak perempuan begitu hangat. Mungkin ini yang membuat Edwin juga sangat mencintainya. Kedua orang tuanya sudah pergi pagi-pagi sekali untuk menghadiri acara pembukaan pusat perbelanjaan yang mereka dirikan bersama Prabu. Andai mereka di sini, Edel pasti sudah lari kepelukannya.


Perjalanan menuju kantor Nindi ditemani nyanyian Hanna yang sedang menggandrungi group Boy Band Korea. Dia hafal setiap lirik dan gerakan membuat Ayman sangat suka memutar lagu dan melihat aksi Hanna yang sangat menggemaskan.


“Yah….kita udah sampai. Tante….” Hanna menatap Nindi sedih.


“Kenapa? Bersenang-senang ya Han, Tante baik-baik saja. Banyak yang menjaga Tante di sini. Kapan-kapan Tante kenalkan Hanna dengan teman-teman Tante.” Mendengarnya Hanna lega.


“Bye Nin, pulang nanti kita jemput yah. Kalau merasa tidak sehat telpon aku atau Mas Ayman. Kita langsung meluncur ke sini.” Pesan Edel saat melepas Nindi.


“Baik Kak, maaf yah.” Edel tidak nyaman sebenarnya mendengar Nindi yang terus meminta maaf. Biarkan saja, dia sedang belajar menata hati.


“Huh…aku sangat khawatir, syukur kalau kau sudah sehat. Ayo kita masuk.” Mariska menggandeng tangan Nindi.


“Bagaimana pekerjaanku yang ku tinggalkan? Aku pasti banyak menyusahkan kamu ya Kak?” Tanya Nindi merasa tidak enak hati.


“Tenang saja, semua sudah aku bereskan. Jangan memikirkannya.” Mariska tertawa agar Nindi merasa nyaman.


“Nin….Kak Mar….” Teriak Cindy yang melihat mereka dari kejauhan.


“Si berisik sudah datang juga.” Nindi tertawa dengan Nama panggilan baru Cindy. “Jangan lari-lari Cin, kalau kau cedera aku yang akan repot.” Omel Mariska yang menunjukkan kepeduliannya.


“Iya..iya…Kak.” Cindy langsung memeluk Nindi. “Aku kangen banget Nin. Untung saja kau sudah masuk, aku setiap hari mengurus baaaannnnyak pekerjaan.”


“Dengar kan! Tidak salah kan nama panggilanku barusan, hehehehe…” Mariska terkekeh membuat Nindi juga ikut tertawa.


“Kenapa kalian tertawa. Nama apa yang kalian maksud.” Mariska menggandeng Nindi bergegas memasuki lift yang baru saja terbuka. “Kak, kenapa kalian membicarakan teman sendiri di belakang. Buat penasaran saja!.” Nindi dan Mariska hanya tertawa melihat Cindy sangat penasaran.


Brukkkk….


Seseorang menahan lift yang sudah hampir tertutup rapat dengan tangannya. Semua menunggu siapa orang yang nekat melakukan hal berbahaya.


“Huhhhh…untung saja kau tidak terjepit.” Sorak Mariska yang kesal saat melihat sosok Kenzo yang muncul.

__ADS_1


“Kau ini bukannya menahan, aku teriak-teriak sampai tenggorokanku sakit, tapi kalian tidak mendengarku!.” Keluh Kenzo dengan nafas tersenggal-senggal.


“Tunggu….” Lift kembali ditahan karena ada orang lain yang juga terdengar sangat buru-buru. Ternyata Aleta dan Zein. Setelah kekacauan yang terjadi lift pun meluncur ke lantai 10 tepat dimana ruangan mereka berada.


Pagi ini ada rapat yang harus divisi design hadiri. Ada beberapa tender besar yang siap mereka hadapi , Nindi sendiri sudah tahu apa tugasnya hari ini. Semua sudah menyiapkan segala instruksi yang Melly sampaikan. Meski hari pertama, Nindi bisa mengikuti dengan baik arahan yang Melly berikan via telpon.


Kesibukan yang paling tidak bisa mengurangi kesedahan Nindi agar tidak selalu memikirkan Ivar yang masih belum ada kabar tentang keberadaannya saat ini.


Semua sudah siap di posisi masing-masing. Jajaran para petinggi yang hadir sudah memasuki ruangan satu persatu dan kursi terisi penuh. Moderator rapat dengan sopan menyapa satu persatu peserta rapat yang sudah hadir.


Ada sedikit kejutan, Gunar ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek yang akan dia pimpin, Gunar memilih bekerjasama bersama divisi design. Nindi merasa pasti akan canggung, namun tidak ada yang bisa dia lakukan, pasrah saja. Lihat saja bagaimana kedepannya.


“Bu, kita sangat beruntung di pilih oleh Pak Gunar sebagai partner ya Bu.” Ucap Zein yang berdiri di depan Nindi.


“Iya, pasti karena kinerja kita dan proyeknya memang berkesinambungan.” Melly terdengat sangat penuh semangat. “Kita harus bekerja keras.”


“Iya Bu, aku akan bekerja sepenuh hati.” Balas Zein tidak kalah semangat.


“Nin, apa kau baik-baik saja?” Mariska melihat wajah Nindi sedikit berkeringat, Mariska takut Nindi akan pingsan lagi.


“Aku baik-baik saja Kak, hanya merasa panas saja.” Nindi mengusap keringat yang mengucur di dahinya.


“Bilang saja kalau kau merasa tidak enak badan. Jangan menahannya.”


“Ok Kak.” Balas Nindi dengan senyum sumringah.


Setelah rapat selesai, Melly mengajak semua bawahannya rapat di ruangannya sebentar. Membicarakan bagaimana pembagian tugas yang harus Mellye lakukan secara terbuka.


“Kita semua sudah terbiasa bekerja keras, cuma aku masih bingung dengan pembagian tugas bagi Nindi. Dia pasti akan sangat kelelahan, apa Nindi akan baik-baik saja?” Tanya Melly mersa kasihan.


“Tidak apa bu, tolong perlakukan saya sama seperti biasanya, Ibu boleh memarahi saya dan boleh menyuruh saya apa saja yang Ibu mau.” Pinta Nindi.


“Boleh begitu?” Nindi mengangguk. “Jadi jangan adukan aku pada Pak Prabu jika aku memakimu yah Nin.” Nindi tersenyum.


“Tentu saja tidak, aku yang akan memarahi Pak Prabu jika berani macam-macam dengan Ibu. Hehehehe.”


Tok..tok…tok…


“Apa saya bisa bergabung?” Gunar muncul setelah ketukan pintu.


“Masuk Pak, silahkan bergabung bersama kami.” Melly memeprsilahkan Gunar masuk.


“Tidak perlu canggung. Bersikap seperti biasa saja.” Matanya jelas-jelas menatap Nindi. Mungkin dia memahami kegundahan hati Nindi.


Gunar ikut mendengarkan rancangan kerja yang sudah Melly susun, mencoba mendalami dan ikut memberikan masukan jika sekiranya dia pikir diperlukan. Semua sangat puas kecuali Nindi yang masih canggung, Gunar benar-benar terbuka dan bisa di ajak kerja sama dengan baik. Dia mau mendengarkan meski jabatan mereka jauh dibawahnya.

__ADS_1


__ADS_2