Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Trauma


__ADS_3

Hanna meringkuk di pelukkan Luna. Matanya terpejam namun kesadarannya tidak sepenuhnya hilang. Racauan dari mulutnya tidak terdengar jelas. Seperti orang yang sedang merintih namun sangat pelan.


Ayman yang baru saja masuk lari saat mendengar teriakkan dari kamar Baby. Mendapati Luna yang memeluk Hanna dengan wajah ketakutan. Tangannya gemetar, wajahnya tidak kalah pucat dari wajah Hanna yang tidak sadarkan diri di pelukkannya.


"Kenapa Lun, Hanna kenapa?" Tanyanya sambil mengambil Hanna ke pelukkannya. Membaringkan segera tubuh Hanna di kasur yang nyaman. Melepas beberapa bagian kancing baju agar Hanna merasa lebih nyaman.


Tangan Luna gemetar hebat, rasa takut membuatnya tidak bisa menjawab pertanyaan Ayman, hanya menatapnya dengan penuh pilu. Kacau sekali isi kepalanya, tidak mau melihat siapa pun lagi sakit dan menderita. Perasaan was-wasnya membuat jantungnya berdegub cukup kencang dan tidak beraturan.


"It's ok Lun, duduk." Menepuk sisi kasur di sebelah Hanna. Ayman dengan lembut membawa Luna duduk di sisi Hanna. “Hanna sedang dalam proses penyembuhan, maaf membuatmu terkejut Na.”


"Ada apa ini Mas, apa Mas sudah tau Hanna......Sakit apa sebenarnya? Aku sangat takut, matanya menatapku penuh kesakitan tadi." Bingung memilih bahasa yang tepat dengan prasangkanya. Air matanya kembali menetes membanjiri wajah cantiknya.


“Dia kuat sekali Na, dia sudah berjuang sejauh ini dan Mas yakin akan berhasil. Sedikit lagi.” Ayman seolah sedang menyemangati dirinya sendiri.


“Apa sakitnya! Kenapa bisa seperti ini.” Tanyanya lagi yang masih belum paham.


“Trauma Na, dia ketakutan dengan suara keras, keributan dan keramaian. Tapi sejauh ini terapinya berjalan lancar. Sudah lama Hanna tidak lagi ketakutan, dia bahkan sudah tidak lagi mengkonsumsi obat yang dokter berikan. Sudah sehat anakku ini Na.” suara Ayman menyiratkan penyesalan.


“Apa kalian semua tahu? Kenapa tidak satupun yang mengatakannya padaku. Sungguh aku tidak tau Hanna punya sakit seperti ini. Dia sangat ceria, anak yang sangat manis.” Membelai surai Hanna.


"Kami semua tau, tapi yang tau keadaan Hanna seburuk ini hanya aku dan Mbak Mu." Luna lemas seketika. "Tidak apa, ini sudah sangat jarang terjadi. Gadis ini juga bekerja keras mengobati luka nya." Ayman menatap wajah teduh Hanna. Sudah terlihat lebih nyaman.


"Apa ada hubungannya dengan kejadian di butik dulu?" Ayman mengangguk. Memang benar, di situ awal mula kesakitan Hanna yang belum sembuh semua sampai saat ini.


"Tapi Mas mohon Lun, aku mohon rahasiakan dari Ivar dan Nindi. Mereka sudah cukup terluka." Luna kesal karena selalu saja ada yang menanggung beban berat demi kebahagiaan semua orang.


Luna memeluk Ayman, laki-laki yang sudah seperti Kakak kandungnya ini sedang dirundung duka. Sorot matanya tidak bisa lagi menyembuyikan lukanya, sakit sekali pasti.


“Luna ambilkan minum yah. Mas tunggu sini sebentar.”


Luna menutup wajahnya, terisak mendengar derita gadis kecilnya. Abi yang sejak tadi mendengar kan dari kejauhan tidak tega membiarkan Luna menangis seperti itu dibalik pintu yang baru saja dia tutup rapat.


Mendekat dan menyentuh Luna dengan lembut agar Luna tidak terkejut.


"Tenang Na, semua akan baik-baik saja. Tenang yah." Abi memeluk Luna, mencoba memberikan rasa nyaman. Luna juga banyak menyimpan luka, rasa bersalahnya sangat besar. Dia merasa gagal menjaga keluarganya dengan baik.


"Dia gadis yang kuat, aku saja tidak akan sanggup jika harus berdiri di kaki nya." Abi mengusap air matanya yang lolos. Airmata di ujung matanya tidak di ijinkan dilihat oleh Luna. Abi harus menjadi kuat agar Luna bisa bersandar padanya dengan percaya diri.


Luna masih terisak, dia sangat tahu Jiwa raga Ayman hancur setiap kali melihat Hanna kambuh, meski mungkin Ayman sudah terbiasa, dia pasti merasa seolah gagal menjaga anak gadisnya.

__ADS_1


Sayapnya hilang. Luka yang coba Ayman dan Edel sembuhkan kini mungkin berakar lebih dalam. Hanna mungkin kini semakin rapuh dan bisa saja berakibat fatal dengan traumanya. Luna takut membayangkan bagaimana Hanna bertahan, dirinya saja sudah sesakit ini. Sakitnya tidak bisa di ungkapkan dan sepertinya akan sangat sulit disembuhkan.


"Aku janji Bi, aku akan berusaha membuat Hanna selalu bahagia. Luna janji Bi." Tekad nya kuat, luka nya tidak boleh tinggal berlama-lama, harus hilang.


Sepertinya dirinya memang harus banyak membantu agar mereka semua cepat pulih dari lukanya.


Setelah lebih tenang Luna kembali masuk ke kamar Baby. Mendapati Ayman yang masih duduk menatap wajah damai Putrinya.


“Hanna masih nyaman dengan tidurnya. Wajahnya lama-lama mirip sekali dengan Nindi.” Bicara sekenanya agar suasana tidak canggung.


“Mas benar, dia mungkin versi Kak Nindi kecil dulu. Wajah mereka sama cantiknya. Pasti orang tua Hanna juga tidak kalah mengagumkan.”


"Kamar Baby seindah ini kau buat?" Ayman mengalihkan pembicaraan. Tidak mau lagi menyakiti dirinya sendiri dengan kesedihan hatinya.


"Hmmmmm......" Abi yang berdiri di samping Luna mengusap sisa air mata yang masih tersisa di pelupuk mata Luna. "Aku yang pilih sendiri aksesoris nya Mas. Lucu-lucu kan?" Bangga mendapat pujian.


"Untung saja Mbak Edel tidak merebutnya dari mu, kalau ada dia sudah pasti kau tidak akan di ijinkan masuk ke sini." Senyumnya menggoda Luna.


"Enak saja, tentu saja aku akan memaksa." Bertolak pinggang tidak mau kalah.


Mereka melupakan sejenak kesedihan, ingin hidup normal penuh bahagia seperti sedia kala.


Hanna menutup diri, Ayman mengikuti saran Dokter untuk memperlakukan Hanna senyaman mungkin. Dengan begitu sakitnya akan berangsur membaik. Selama tidak berbahaya dan Hanna tetap sehat, dokter menyarankan Ayman tidak perlu khawatir.


Ayman tidak pernah menekan dan memaksa Hanna menceritakan semua masalahnya, mencoba menggali dengan perlahan agar Hanna sendiri yang mencarinya saat dirinya tidak baik-baik saja. Anaknya sangat dewasa, Hanna tidak biasa menggantungkan masalahnya dan memperlihatkan lukanya. Dia akan menutup rapat sampai dirinya benar-benar tidak sanggup menanganinya.


Ayman perlahan belajar, Hanna saja mampu menyampaikan dengan apik isi hatinya jika memang perlu. Namun menutup rapat kesedihannya karena takut orang lain terluka. Ayman tidak menyalahkan, dirinya justru banyak belajar bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana melalui Hanna.


Tidak lama saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga, Ivar dan Nindi pulang. Bayi mungil menggemaskan berada di gendongan Ivar. Edwin yang menjemput mereka membantu Nindi membawa tas milik Nindi di tangan kiri dan kanannya. Tangannya penuh. Tapi tidak ada sedikitpun gurat kesal, wajahnya dipenuhi kebahagiaan.


"Baby pulang ......" Luna memeluk satu persatu kesayangannya. "Kenapa lebih cepat? Luna ingin jemput padahal." Merengek namun wajahnya sibuk menggoda baby mungil yang terlelap.


"Tampan yah....mirip denganku kan Dek?" Luna memanyunkan bibirnya.


"Tidak mirip sedikitpun. Dia jauh lebih tampan."


"Kau kira ketampanannya turun begitu saja, dari sini Dek." Menunjuk wajahnya sendiri dengan bangga. Ivar sudah tahu dan sadar kalau anaknya laki-laki.


“Hanya sedikit, lebih banyak wajah Kak Nindi yang menempel pada Baby.” Tidak mau kalah.

__ADS_1


“Aku yang buat Dek, mana mungkin hanya sedikit. Banyak. Setengah-setengah.” Nindi memukul pelan lengan Ivar.


"Jangan bicara sembarangan. Baby pasti merasa pusing dengar kalian setiap bertemu selalu berdebat. Hentikan, atau Baby akan ngamuk karena tidur nya tidak nyaman." Mengomel degan lembut. Suaranya seperti orang sedang bicara pada anak-anak.


"Bagaimana bisa suara Kak Nindi tetap lembut meski sedang kesal." Berbisik di telinga Ivar.


"Makanya aku jatuh cinta." Luna memukul pelan lengan Ivar.


“Kalian para wanita hobi sekali memukul mukul.” Nindi dan Luna hanya tertawa. Mereka suka kelepasan saat sedang bercanda.


"Ayo aku tunjukkan kamar Baby." Menuntun tangan Nindi membawanya. “Aku harap kalian semua suka dengan hasil kerja kerasku.”


Pintu perlahan terbuka, tentu saja Nindi sangat antuas melihat keindahan dekorasi buatan Luna.


"Taraaaaa......silahkan masuk di kamar Baby." Mata Nindi berbinar, berkaca-kaca penuh haru.


"Cantik sekali sayang." Nindi mengecup pipi Luna sebagai tanda terimakasih. "Secantik yang buat. Terimakasih sayang." Luna hadir mengobati sedikit rasa sepinya.


"Lun, Hanna bobo di sini?" Ivar menangkap sirat sedih di mata Luna, dia paling tidak bisa berbohong. "Kenapa anakku Lun, dia sakit kah?" Ivar segera menaruh anaknya di Baby box. Jantungnya berdegub cukup kencang. Ivar merasa mengabaikan Hanna beberapa hari ini karena harus mengurus Nindi dan Baby.


"Eh......hm....Hanna tadi pulang sekolah sedikit demam. Sudah di kasih obat sama Mas tadi." Luna menyembunyikan tangganya di belakang. Takut Ivar akan sadar.


"Benarkah." Nindi segera menempelkan telapak tangannya di kening Hanna. "Masih sedikit demam. Tapi tubuhnya sudah berkeringat Bang." Menatap Ivar yang masih tegang. Dia paling tidak bisa melihat anak-anaknya sakit.


"Perlu ke rumah sakit tidak? Takut bahaya." Nindi menggeleng.


"Anak seusia Hanna wajar kalau demam Bang. Tidak perlu berlebih an. Mungkin dia ha….."


"Berlebihan bagaimana Nin, sakit. Bukan hal sepele Nin, kalau Hanna masih demam malam nanti kita ke rumah sakit. Abang tidak mau lama-lama biarkan demamnya." Ivar mengecup kening Hanna. Memeluk Putri kecilnya yang sudah mulai dewasa.


"Iya Abang." Nindi hanya tersenyum, suaminya sedang tidak bisa di ajak santai. Menyangkut ketiga ankanya akan sulit di ajak berpikir normal. Tidak ada yang boleh membantah keinginanya.


Sebelum hari berganti malam, Hanna sudah bangun. Sudah mandi air hangat dan berganti pakaian tidurnya. Panas nya sudah turun dan senyumnya sudah kembali. Sekarang sedang sibuk menggoda Baby kecil dengan Luna. Nindi sedang menyuapi Jason yang akhir-akhir ini susah makan.


Nindi berusaha dengan telaten membuat makanan yang enak untuk anak seumuran Jason. Dia sudah mulai mengenal rasa dan memilih milih makanan . Meski hanya sedikit, Nindi sedikit lega. Jason sudah mau makan dan meminum habis Jus Apel buatannya.


"Ayo Kaka Jason mandi yah. Nanti main sama Adek. Ok ...ok nak?" Jason mengangguk anggukan kepalanya. Sudah jarang menangis, sepertinya Jason sudah mulai terbiasa.


Meski sering kali mencari Mamih nya saat malam menjelang, Jason bisa dengan cepat lupa. Nindi diliputi kekhawatiran tidak bisa menjadi seperti Edel untuk anak-anaknya. Tapi ternyata perannya tidak kalah penting. Anak-anaknya tetap sayang dirinya dengan versi yang berbeda.

__ADS_1


“Jangan bercanda Abang…..” Nindi menolak pelukkan Ivar. “Kenapa Abang sangat keras kepala. Tidak bisakan berhenti saja kali ini. Aku kehilangan sangat banyak. Akau tidak mau lagi.” Nindi kesal.


__ADS_2