Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Benarkah Dia Sudah Berubah?


__ADS_3

Meera membawa Nidi duduk di tepi kasur, menggenggam erat tangan Nindi yang seketika menjadi dingin. “Kau tidak apa-apa Nin? Aku sangat takut. Tanganmu juga santa dingin Nin.” Nindi merasa bersalah membuat Meera ketakutan.


“Aku tidak apa-apa Kak, hanya ada air di lantai dan aku tidak melihatnya. Aku tidak apa-apa, tenang saja.” Meera mengangguk dengan wajahnya yang sendu.


“Tolong jangan katakan apapun pada Kak Ivar ya Kak, dia akan marah jika tahu aku hampir jatuh.” Merra kembali mengangguk setuju.


Setelah cukup bisa menguasai emosinya. Nindi memasuki kamar mandi mengganti pakaiannya dengan piyama yang nyaman dan segera turun ke bawah. Perutnya masih keras dan belum terasa nyaman sampai saat ini, Nindi mencoba menyembunyikan ketidaknyamanannya namun Ivar masih bisa merasakan.


"Ada apa sayang? Hmmm....apa perutmu sakit?" Nindi sontak terkejut Ivar begitu peka pada keadaan dirinya.


"Abang ini lah, Nindi baik Bang. Memang apa yang Abang rasa?" Tersenyum namun terlihat memaksakan diri.


"Nindi berkeringat, duduknya juga nampak tidak nyaman." Ivar meraih tangan Nindi yang dingin. "Coba samakan dengan suhu tangan Abang." Nindi memalingkan wajahnya yang semakin merasa tidak nyaman dengan perutnya.


"Nin, apa tidak sebaiknya ke dokter saja, biar kita antar Nin." Ajak Ariel yang juga sadar Nindi seperti menahan sakit.


"Sepertinya Nindi hanya butuh istirahat saja Kak, Nindi Naik ya Kak. Maaf yah tidak bisa menemani." Ivar ikut berdiri.


"Ayo." Ivar menggenggam tangan Nindi dengan erat.


"Abang, Nindi gak papa Bang. Disini saja temani Kak Ariel dan Kak Meera." Ivar melotot kesal.


"Tidak Nin, kami juga mau pamit. Cepat Naik, istirahat ya Nin, kabari aku jika terjadi sesuatu ya Var." Ivar hanya mengangguk.


Ivar sangat curiga ada yang terjadi, Meera membisu setelah turun dari kamar tadi, dia benar-benar bukan Meera yang Ivar kenal.


Dengan telaten Ivar mengoleskan minyak gosok di perut Nindi, Membiarkan Nindi memejamkan matanya tanpa bertanya apapun meski dirinya sangat penasaran. Melihat wajah Nindi yang sedikit pucat Ivar sebenarnya sangat khawatir, namun Nindi meyakinkan dirinya bahwa Nindi baik-baik saja. Ivar tidak bisa memaksa meski rasanya ingin membawa Nindi ke rumah sakit dan memastikan istrinya baik-baik saja.


"Nin....kau tidur sayang" Ivar merapihkan rambut Nindi yang menutup wajahnya, mengecup kening Nindi dengan lembut penuh kasih.


"Tan....." Ivar yang sudah ada di depan pintu segera membawa Hanna keluar kamarnya sebelum membuat keributan dan membangunkan Nindi yang baru saja tertidur.


"Tante bobo Han, jangan dulu ganggu ya sayang. Tante nya capek kasihan sayang." Hanna mengangguk.


"Tante sakit?" Ivar menggeleng. "Ok, nanti Hanna tunjukkan kalau sudah bangun tantenya."


"Apa yang Hanna ingin tunjukkan, coba Paman juga mau lihat." Ivar menurunkan Hanna di sofa ruang keluarga.


"Lihat.....Hanna juara kelas." Ivar tersenyum bangga.


Ivar memeluk Hanna dan menghujani wajah Hanna dengan ciuman. Rasanya baru kemaren Ivar melihat Hanna seperti anak kecil, sekarang dia berhasil menjadi juara kelas.


"Hanna membuat Paman bangga. Liburan nanti Paman akan ajak Hanna dan Tante Nindi jalan-jalan."


Yeayyyy.......


Sorakan Hanna menggema di ruangan, Edel yang baru saja masuk membawa barang belanjaan ikut bersorak meramaikan suasana. Jadilah suara Hanna bersautan dengan suara Edel.


"Kak, dimana Jason?" Edel menunjuk dimana Jason dengan matanya. "Di gendong Bagas dia, hahahaha." Ivar melihatnya seolah aneh, Bagas cukup kaku jika berurusan dengan anak-anak, Ivar masih bisa sedikit manis di depan anak-anak.

__ADS_1


"Gak tau kenapa Var, akhir-akhir ini Jason sangat suka bermain dengan Bagas. Turun dari mobil saja maunya di gendong Bagas, Mas Ayman sampai kesal." Edel tertawa mengingat bagaimana kesalnya Ayman.


"Selamat sore Tuan." Sapa Bagas yang sudah menurunkan Jason dari gendongannya.


"Kau sudah pantas punya anak Gas, kapan menikah?" Ledek Ivar, Bagas sedikit canggung menangapi karena Ivar baru kali ini mengajaknya bercanda.


"Segera Tuan, sekitar akhir tahun ini."


Bruggg....


Edel yang kaget mendengar jawaban Bagas tidak sengaja menjatuhkan barang belanjaannya.


"Yang benar Gas, kok gak bilang-bilang Gas." Bagas hanya menunduk malu.


"Kaka ini, masa Bagas bilang masalah pribadinya, malu lah Kak. Semoga lancar ya Gas." Ucapnya menyelamatkan Bagas dari amukan Edel.


"Saya permisi Tuan, Nona." Bagas segera pergi sebelum pertanyaan semakin melebar.


"Diam-diam dia punya kekasih. Aku tidak pernah sekalipun melihat dia telpon, atau bicara atau apalah, dia seperti jomblo Var. Kapanpun dan di manapun dia selalu sama kita kan. Coba kapan dia pacaran." Ivar malas menanggapi Kaka nya yang kepo.


"Jason beli apa sayang." Menunjukkan mobil-mobil an kecil yang ada di tangannya, Jason belum terlalu mahir dalam bicara. Hanya beberapa kata yang bisa dia katakan dengan jelas.


Ivar membawa Jason ke kamar Hanna, terlihat Hanna sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan mandiri.


Ivar sangat terharu melihat Hanna kecil yang dia kenal sudah menjadi gadis mandiri dan pintar. Ivar melewati banyak momen selama dia tidak ada di sisinya.


"Paman sedih Hanna sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri." Duduk di depan Hanna yang sedang menyisir rambutnya. “Sini Paman bantu sayang.” Hanna menyerahkan sisirnya pada Ivar.


"Cepat sekali Hanna besar." Jason ikut memeluk Hanna dan menepuk punggung tangan Hanna. Ivar tertawa melihat dua anak kesayangannya.


"Jason sayang Kaka Hanna?"


"Ayang..." Ucapnya tidak jelas dengan senyum manis.


“Var, dimana Nindi?” Tanya Edel yang baru saja masuk ke kamar anak-anaknya.


“Nindi di atas Kak, tidur. Tadi badannya dingin semua tapi gak mau Ivar bawa ke rumah sakit, katanya dia gak papa.” Edel menyipitkan matanya.


“Benar tidak apa-apa?” Ivar mengangguk.


“Suhu badannya sudah normal tadi Kak, Ivar kasih minyak urut andalan Mamah. Aku ke atas ya Kak, kasihan kalau Nindi ditinggal sendirian terlalu lama.” Edel mengiyakan.


***


Sepanjang perjalanan Ariel memperhatikan Meera yang menatap keluar menghindari tatapan matanya. Biasanya Meera merasa dalam keadaan tidak tenang dan gelisah jika seperti ini. Ariel menepikan mobilya ditempat yang cukup aman.


Menarik lembut tangan Meera agar mau menatap suami yang duduk di sebelahnya. Ariel tidak langsung bertanya, dia mencoba memberikan sentuhan lembut pada kepala Meera agar dia merasa nyaman dan aman.


“Mas.....” Ariel hanya tersenyum. “Aku tidak mencelakai Nindi, aku benar-benar tulus ingin bersahabat dengannya.” Seperti dihujam batu dada Ariel, mencoba percaya pada apa yang akan Meera katakan.

__ADS_1


“Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Mas tahu kalau Nindi tidak baik-baik saja saat turun dari kamarnya tadi.” Bicara setenang mungkin.


“Nindi terpeleset dan hampir saja jatuh, dia berhasil menahan tubunya. Tapi aku tahu Nindi terpeleset karena saat aku keluar dari kamar mandi, aku tidak tahu banyak sekali air menetes dilantai.” Ariel mencoba mencerna cerita Meera yang masih tidak masuk akal baginya.


“Apa yang Meera lakukan sampai begitu banyak air yang menetes?”


“Aku mencuci mukaku Mas, tapi entah kenapa banyak sekali tetesan air di lantai. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya.” Meera tidak bisa lagi menahan air matanya. Meera menangis dalam dekapan Ariel yang tidak tega melihat rasa bersalah Meera yang begitu besar.


“Apa sungguh semua yang Meera katakan adalah kebenaran?” Meera mengangguk masih dalam pelukkan Ariel. “Terimakasih sudah mau jujur ya sayang, Nanti coba Mas akan ceritakan apa yang terjadi pada Nindi yah. Sekarang tenang yah, kamu tidak boleh terlalu memikirkanya.”


“Nindi memintaku tidak menceritakannya pada Ivar, tapi aku takut kalau Ivar tahu dan menyalahkanku. Aku mohon percayalah Mas, aku benar-benar ingin berubah. Aku mohon.” Pintanya memelas pada Ariel.


“Aku akan mencoba menghubungi Ivar, aku akan tanyakan kondisi Nindi.” Meera mengangguk.


Ariel : Var, bagaimana keadaan Nindi? Apa dia baik-baik saja?


Ivar : Sudah lebih baik, Nindi tertidur. Apa Meera mengatakan sesuatu?


Ariel : Tidak Var, kau ini. Apa kau yakin Nindi baik-baik saja?


Ivar : Yah....kau ini benar-benar tidak punya telinga, apa kau tuli? Kau khawatir karena Meera mengatakan sesuatu? Coba jelaskan Ril.


Ariel : Meera tidak melakukan apapun, dia hanya memintaku menanyakan keadaan Nindi karena dia juga sangat khawair.


Ivar : Tapi aku masih tidak bisa percaya begitu saja Ril, coba kau cari tau.


Ariel : Berhenti mencurigainya.


Ariel menutup telponnya sepihak, mereka bersahabat cukup akrab sampai begitu banyak cerita menyakitkan yang mereka lalui bersama. Cukup membuat mereka mengenal satu sama lain dan tidak bisa saling menyakiti meski terlihat tidak harmonis hubungan mereka.


“Bagaimana? Apa Nindi baik-baik saja?” Ariel mencium kening Meera yang masih terlihat sedih. “Mas, tolong katakan Nindi baik-baik saja.”


“Iya...Nindi baik-baik saja. Mungkin dia hanya syok saja tadi. Sekarang bisa kita pulang dengan damai?” Meera sudah bisa tersenyum kembali. Ariel segera melajukan mobil menuju rumahnya.


Dasar dia ini, bisa-bisanya mematikan telponku begitu saja. Padahal aku masih belum bisa percaya begitu saja pada Meera, apa benar dia sudah berubah? Dia sangat mengerikan kalau benar-benar hanya sembunyi di balik kebaikan Ariel. Gumam Ivar dalam hati.


Nindi terbangun di tengah malam, ada tangan besar melinggar di pinggulnya. Nindi membalikkan badan dan melihat wajah Ivar yang tertidur lelap sangat damai. Nindi mengusap pipi Ivar, suaminya terlihat sangat tampan jika tertidur begini.


Perutnya tidak bisa di ajak kompromi, Nindi benar-benar harus bangun dan segera mengisi perutnya yang keroncongan. Melangkah dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ivar yang tertidur pulas.


Nindi membuka satu-persatu lemari dapur, mencari mie instan yang sudah sangat lama tidak pernah dia makan semenjak hamil. Padahal banyak sekali cemilan dan kue di dalam kulkas, namun Nindi menginginkan makanan cepat saji yang satu ini.


Meski ragu-ragu, Nindi mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, Nindi hanya akan memakan beberapa suap saja menghilangkan rasa inginnya.


Suapan demi suapan sangat Nindi nikmati sampai mie habis tidak tersisa sampai kuahnya pun ikut tandas tidak tersisa. Nindi menertawakan dirinya sendiri yang lupa akan janjinya sebelum memakan mie tadi.


“Tidak ada yang tahu, tidak papa kalau cuma sekali ini saja. Kamu baik-baik ya Nak, jangan membuat Mommy dimarahi yah.”


“Nin...” Kedatangan Ivar membuat Nindi segera menyingkirkan mangkuk ke dalam watafel. Mengguyur nya dengan air agar tidak lagi tercium aroma mie instan.

__ADS_1


“Abang...kenap bangun?” Ivar memeluk Nindi tanpa menghiraukan pertanyaannya. Matanya sedikit membulat mencium aroma tubuh Nindi yang tidak asing. Menatapnya tajam membuat Nindi memundurkan tubuhnya menghindari amukan Ivar.


__ADS_2