
Sudah satu minggu ini Maysarah menginap di rumah Edwin, berharap kehadirannya bisa diterima oleh Hanna cucu kesayanganya. Meski tidak begitu dekat, Hanna sudah terbiasa memanggilnya Eyang. Hanna mengenalnya sebagai Nenek dan Ibu dari Bunda tersayangnya yang saat ini sudah meninggal dunia.
Tidak ada protes dari gadis kecil yang memang selalu menerima semua hal degan positif. Nindi berhasil mendidiknya menjadi pribadi yang mau mengerti dan bersahabat dengan keadaan.
Meski begitu membingungkan, Hanna berusaha membiasakan diri dan tidak protes permintaan orang-orang dewasa yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka.
“Eyang ingin pulang sekarang?” Maysarah mengangguk. Senyumnya menyiratkan kebahagiaan meski dirinya harus berpisah. “Kenapa tidak di sini saja? Kan suka kalau ramai rumahnya.” Hanna terdengar kecewa. May hanya tersenyum menatap wajah Hanna yang menduhkan hatinya.
“Meamangnya Hanna sayang sama Eyang?” Memeluk Maysarah dengan erat tiba-tiba. “Loh….kenapa sayang?” Hanna menatap Ratih yang sedang melipat baju ke dalam koper. Dia masih sangat kecil saat kehilangan Ibunya, pasti banyak sekali rasa rindu yang dia tahan.
“Hanna suka Eyang dan Bibi Ratih di sini.” Ucapnya lirih sambil membalas pelukkan Hanna.
“Hanna suka yah dekat dengan Bibi?” Tanya May lagi memastikan perasaan cucunya. Hanna Mengangguk.
Sikap dan perilaku Ratih sangat mirip dengan Agni. Hanna merasa bisa melepas rindu selama Ratih ada di sisinya.
“Hanna bisa telpon Bibi Nak, Bibi juga nanti sering telpon Tante Nindi ya Han.” Ucapnya menghibur.
Ratih bisa merasakan selama ini Hanna sangat menempel padanya, menceritakan bagaimana Bunda tersayangnya mencintainya dan merawatnya. Raut wajah, gaya bicara dan sentuhannya sama dengan Bunda, begitu yang sering Hanna ucapkan.
Hanna sangat suka tidur sambil dimainkan rambutnya oleh Ratih, atau sekedar menepuk punggungnya sampai Hanna tertidur. Meski Nindi, Edel, Ayman dan Ivar sering melakukannya, Hanna merasakan sentuhan yang berbeda.
“Tidak ada jawaban nih, ceritanya Hanna lagi gak mood bicara ya Han. Heheheh….” Ratih meledek Hanna yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung Eyangnya.
“Sini coba Eyang lihat wajah cantiknya.” Hanna beringsut ke pelukkan Maysarah. “Cantik loh Bi, meskipun cemberut tetep ayu cucunya Eyang ini.”
Hahahaha….
Mereka tertawa bersama merasakan kelucuan atas sikap Hanna yang ngambek seperti orang deawasa. Hanna ikut tertawa merasa malu.
“Eyang sudah rapih?” Nindi masuk memegangi perutnya yang pagi ini terasa sedikit menegang.
“Duduk Nin, aduh jangan kebanyakan naik turun loh Nin.” Ratih membantu Nindi duduk dengan nyaman di sofa kamar Hanna. Eyang yang khawatir banyak menegur Nindi agar lebih hati-hati.
“Hanna kok sedih sayang?” Nindi tersenyum, gadisnya sudah besar. Dia tahu artinya perpisahan. “Mau ikut Eyang Han? Kan masih libur 1 minggu lagi Han.” Tawarnya pada Hanna yang terlihat sedih. Hanna menggeleng.
“Hanna di sini saja. Nantikan kita bisa telponan sama Eyang dan Bibi.” Jawabnya mencoba mencerna situasi meski tidak paham. Sedikit banyak Hanna sudah paham bagaimana caranya menyenangkan hati Nindi.
“Yakin sayang? Boleh loh Han, tidak apa kalau hanya satu minggu sayang.” Tawarnya meyakinkan.
“Tidak!” Jawabnya kali ini tegas. “Mau di sini saja, nanti Eyang dan Bibi bisa main ke sini.” Suaranya terdengar getir meski tidak Hanna tampakkan.
“Iya sayang, nanti Eyang ke sini lagi yah.” Hanna memeluk Nindi yang duduk tersenyum padanya. “Pelan-pelan Nak, Tante Nindinya sedang gak enak perutnya.”
__ADS_1
“Gak papa Yang, Nindi siapakan sarapan dulu yah. Abang hari ini ada pekerjaan jadi harus pergi pagi-pagi.” Nindi segera keluar dari kamar Hanna, Hanna mengekor di belakang Nindi.
“Bi….senyum-senyum saja dari tadi.” Ledek Ratih yang memperhatikan Bibinya.
“Suka kalau denger Hanna panggil Eyang Tih, hahahaha….” Tertawa merasa lucu sendiri. “Aku seneng sekali Tih, seperti lihat Agni kecil.” Matanya berkaca-kaca namun hatinya sangat merasa bahagia.
“Ratih juga seneng Bi, akhirnya kita bisa kembali menjalin kasih bersama seperti dulu. Ratih sangat sayang Mbak Agni Bi.” Mereka bukan saudara sekandung, namun hubungan mereka lebih dari saudara kandung.
“Bibi yang salah memisahkan kalian.” Memeluk Ratih dengan erat.
“Tidak akan mengembalikan apapun Bi, sekarang kita focus pada kebahagiaan kita ya Bi. Sudah cukup kesedihan yang kita tahan selama ini. Sudah waktunya kita lepaskan beban di dalam diri kita ya Bi.” Memeluk dan saling terisak merasa lega.
“Kau cerewet Tih, Bibi jadi seperti sedang di marahi Agni.” Ingatnya pada Putri tercinta yang dulu sering kali menasehatinya. Tersenyum bangga pada Ratih yang mulai percaya diri menyuarakan isi hatinya.
Nindi sudah satu minggu absen tidak ke kantor, tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi dan Nindi butuh istirahat cukup. Pihak perusahaan tidak mempermasalahkan karena ada keistimewaan bagi karyawan wanita yang tengah hamil.
“Ivar, Papah dan Mamah akan antar Bu May dan Ratih ke stasiun. Nindi sebaiknya tidak usah ikut ya Nak. Dia masih sangat rentan jika terus jalan kesana kemari.” Ucap Edwin dengan tegas merasa khawatir.
“Iya Pah, Ivar sudah minta Nindi di rumah saja. Hanna pasti ingin ikut Pah.” Jawab Ivar yang masih memainkan ponselnya.
“Iya, Hanna memang sudah wanti-wanti ingin lihat kereta katanya.” Ingatnya pada ancaman cucunya.
Ivar segera membantu Ratih membawa koper besar yang dia seret keluar dari kamar. Kini mereka sudah seperti keluarga. Tidak lagi ada saling egois ingin memiliki Hanna. Mereka semua sama-sama ingin membahagiakan Hanna dengan caranya masing-masing.
“Eyang akan sering main ke sini Var, tengok cucu Eyang.” Tangannya terbuka pada Jason yang lari ke arahnya. “Cucu Eyang sudah mandi…wangi sekali.” Meracau membuat Jason tertawa.
Maysarah memang sangat hangat pada semua orang. Dia berhasil membuat Hanna menerima dirinya tanpa keraguan. Nindi yang semula ragu kini sudah menerima, Maysarah sudah membuktikan diri.
Setelah mengantar Maysarah dan Ratih, Ivar membawa Nindi ke dalam. Istrinya sedang tidak berdaya menahan sakit di perutnya sejak pagi tadi. Nindi menolak ke rumah sakit karena sudah berkonsultasi via telpon dengan Dokter yang biasa merawatnya.
“Sayang benar tidak apa-apa? Kita tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?” Pinta Ivar berulang kali.
“Abang…” Menarik tangan Ivar menempelkan pada perutnya. “Coba ajak Baby bicara. Mungkin dia ingin diperhatikan Daddynya.” Ucapnya lucu membuat Ivar gemas.
Ivar menurut dan bicara pada perut Nindi, tidak signifikan namun rasa sakit yang Nindi rasakan berkurang. Ivar memutar tangannya berulang kali saat merasakan tendangan pertama di perut Nindi.
“Baby jangan keras-keras Nak, Mommy kasihan.” Ivar ngilu.
“Dia mau pintar buat tendangan Abang, pantas saja sejak pagi perutku sakit.” Ivar mengusap wajah Nindi yang berkeringat.
“Apa tidak sakit?” Nindi menggeleng. Rasanya tidak bisa di gambarkan. “Jangan terlalu keras Baby, kasihan Mommy Nak.”
Janin yang berkembang sehat di dalam perut Nindi membuat Ivar begitu berterimakasih. Menjaga Nindi dengan segala cara agar selalu aman dan bahagia di sisinya.
__ADS_1
Bagi Ivar, melihat Nindi tersenyum menjadi penyemangat hidupnya. Jika Nindi redup, Ivar akan lebih gelap dan tidak bisa menjalani harinya dengan tenang.
***
Senin pagi di perusahaan tempat Nindi bekerja.
Rapat Dewan segera di mulai, semua karyawan seperti biasa berjejer menyambut para anggota dewan perusahaan yang akan datang. Berdiri sesuai Divisi masing-masing dengan teratur.
Semua divisi sudah mempersiapkan presentasi dengan matang menyampaikan pencapaian yang sudah dicapai, menyampakan juga ide-ide dan gagasan yang perlu di perbaiki untuk mengembangkan kinerja agar lebih baik.
Ellie dengan pecaya diri memimpin para anggota divisinya yang terlatih dan mempunya kemampuan di atas rata-rata dari divisi lain. Dadanya sedikit membusung. Anggota divisinya ikut sedikit sombong dengan pencapaian mereka selama ini.
Mobil-mobil mewah satu persatu memasuki lobby perusahaan dengan teratur. Para anggota dewan berdiri berjajar sesuai dengan pangkat dan kepemilikan saham yang mereka miliki. Para petinggi berjalan di depan sesuai dengan urutan.
“Nin….coba angkat kepalamu. Aku salah lihat atau tidak?” Ucap Putra yang berdiri di sebelah Nindi. Mata Nindi sontak membulat.
Nindi berulang kali mengerjapkan mata mencoba memahami situasi yang sedang dia hadapi. Putra yang melihat Nindi berdiri goyah memegang tangannya erat. Menguatkan sahabatnya yang tengah terkejut.
“Tenang Nin, tarik nafas dalam dan hembuskan.” Nindi mengikuti saran dari Putra. Cindy dan Marisak yang melihat Nindi tidak baik-baik saja ikut memegangi tubuh Nindi.
"Kenapa Kak?" Tanya Cindy polos.
"Lihat laki-laki yang berjalan di barisan depan." Ucap Putra lirih. Cindy sangat mengenal wajah itu.
“Mariska cepat bawa Nindi ke ruang kesehatan.” Pinta Melly yang tidak mau Nindi membahayakan dirinya. Apalagi saat tahu siapa Nindi sebenarnya.
“Tidak Bu, saya kuat. Saya hanya terkejut saja Bu.” Nindi kembali berdiri dengan percaya diri. Kini dia tersenyum bahagia melihat laki-laki yang dia sayangi berdiri dengan gagah berani di barisan depan.
Berjalan melewati Nindi tanpa menoleh. Nindi mengintip dan melihat Ivar yang tersenyum dengan tulus pada semua orang yang menyambutnya.
Akhirnya semua anggota dewan sudah memasuki ruangan, semua karyawan sesuai urutan berbaris ikut memasuki ruangan.
“Ckkkk……Siap kau sebenarnya.” Zein berdecak kesal dengan kejutan pagi ini. Nindi bersanding dengan laki-laki yang tidak setara dengan dirinya menurut Zein. Bisa-bisanya Ivar berjalan paling depan memimpin barisan.
“Jangan macam-macam kau, atau kau bisa kapan saja di pecat.” Ucap Mariska kesal. Puas melihat Zein kesal.
“Kalian tidak bisa diam!” Melly melotot. “Tunjukkan kalau kita kompak.” Mengepalkan tangannya penuh semangat ke udara.
Mata Nindi tidak lepas dari wajah suaminya yang tampak sedang menyimak setiap presentasi dari para karyawan nya. Ivar seperti tidak melihat dirinya, padahal jaraknya berdiri tidak begitu jauh.
Nindi mencoba memahami posisi Ivar, dia tidak mungkin memberikan keistimewaan pada dirinya. Dia sama seperti karyawan lainnya.
Tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan raut wajah Nindi yang tampak cemberut. Gunar hanya bisa menghela nafasnya, keadaan kedepan tidak akan mudah baginya. Dirinyansudha terlanjur membeli saham dan harus bertanggung jawab dengan kelangsungan perusahaan.
__ADS_1
Selesai presentasi, semua karyawan kembali ke ruangan mereka masing-masing. Hari yang melelahkan bagi karyawan setiap pertemuan dewan, semua harus bekerja dengan sempurna jika tidak mau di kenapa surat teguran.