Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Maaf


__ADS_3

Nindi sedang duduk bersama Bi Inah yang malam kemaren melihat Nindi dengan tidak sukanya membuang makanan yang sudah di hidangkan. Kasar sekali, Nindi menyadari perbuatannya sudah di luar akal sehatnya.


“Kenapa Non, bicara sama Bibi, apa yang Bibi bisa bantu?” Tanya Bi Inah yang hanya melihat wajah lesu Nindi dengan helaan nafasnya yang terdengar sangat berat sejak duduk bersamanya di ruang keluarga. “Jangan ragu Non, minta tolong saja jangan sungkan Non.” Nindi menatap Bi Inah dengan perasaan menyesalnya.


“Bibi tidak marah?” Bi Inah malah tersenyum, dia tahu yang Nonna nya akan bahas adalah sikap kasarnya yang baru semalam Bi Inah lihat setelah bekerja dengannya cukup lama. Bi Inah meraih tangan Nindi.


“Bibi tidak marah, Nonna berhak marah pada Bibi kalau memang Bibi melakukan kesalahan.” Nindi menggeleng, rasa bersalahnya semakin besar melihat hati Bi Inah yang begitu baik. Bisa-bisanya marah pada Bi Inah yang sudah seperti orang tuanya sendiri.


“Maaf Bi.....Maaf kan Nindi, Bibi tidak salah. Aku yang kekanakan marah tanpa sebab pada Bibi, seperti anak kecil aku semalam. Maaf Bi.” Nindi memeluk Bi Inah cukup erat, dadanya sesak menyesali perbuatannya yang tidak bisa dimaafkan oleh dirinya sendiri.


“Jangan minta maaf Non, Bibi loh tidak apa-apa. Sudah jangan sedih, Bibi sudah lupakan kejadian semalam. Bibi tidak akan ingat-ingat lagi, Bibi janji.” Nindi menangis di pelukkan Bi Inah, meluapkan semua rasa menyesal yang begitu menyesakkan dadanya.


Bi Inah bukan hanya bekerja, dia sudah menjadi bagian keluarganya karena memang Bi Inah sudah begitu lama mengabdi pada keluarga Ivar. Dia sangat tulus, tidak pernah sekalipun Nindi melihat Bi Inah bertingkah yang tidak baik. Dia selalu mengajarkan banyak hal agar Nindi bisa menyesuaikan diri. Bi Inah yang sudah dengan sabar selalu ada di sisi Nindi saat dirinya terpuruk.


Bisa-bisanya Nindi bersikap begitu arogan pada wanita yang sudah begitu baik pada dirrinya. Tidak pantas Nindi mendapat maaf atas perlakuan kasar yang sudah Nindi lakukan, menyakitkan sekali meski tidak secara langsung di perlihatkan secara terang-terangan. Nindi menyesal, dia sungguh merutuki sikap kekanakan yang pasti menorehkan luka pada Bi Inah.


Semakin menyesal saat Nindi tidak melihat sedikit pun marah pada wajah Bi Inah, dia bahkan dengan sabar menenangkan Nindi yang menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Tanganya tetap hangat memeluk Nindi yang memang tengah membutuhkan sentuhan seorang Ibu, dia tetap tenang meski seharusnya memaki Nindi atas sikap kurang ajarnya semalam.


“Sudah, jangan menangis Non. Bibi lebih baik lihat Nonna marah dari pada menangis seperti ini. Bibi tidak marah Non, Bibi lega kalau Nonna baik-baik saja. Sudah yah.”


Nindi mengangkat wajahnya, belum lega karena perasaan bersalah masih begitu besar membuat dirinya sangat menyesal. Tangan Bi Inah mengusap air mata Nindi yang membasahi pipi putihnya yang saat ini terlihat merah.

__ADS_1


“Selama Nonna dan seisi rumah baik-baik saja, Bibi akan baik-baik saja. Marah sesekali tidak apa Nonna, Bibi lega. Tidak baik menahan diri dengan perasaan kesal, Bibi baik-baik saja.” Nindi kali ini mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar Bi Inah yang cukup menangkan hatinya.


“Tolong jangan sakit hati ya Bi, Nindi sayang Bibi sekali. Jangan tinggalkan Nindi karena sikap Nindi kemarin ya Bi.” Bi Inah mengangguk dengan wajah hangatnya, sebentar saja dia sudah menyesal. Bagaimana Bi Inah bisa marah dengan Nonna yang sebaik ini.


“Bibi sudah menganggap mu seperti Putri Bibi Non, bagimana bisa Bibi bisa marah hanya karena melihat Putrinya kesal sedikit seperti semalam.” Lagi-lagi ucapan Bi Inah begitu menyejukkan hati Nindi yang tengah begitu terluka.


“Sudah sayang, Bibi sudah maaf kan kesalahan Putri nya. Sudah jangan menangis lagi.” Ivar meraih tubuh Nindi dalam dekapannya, sedari tadi memperhatikan dari jauh dan membuat hatinya terenyuh dengan penyesalan Nindi yang begitu mendalam.


Padahal Nindi tidak menyakitnya secara langsung. Bi Inah hanya melihatnya dari kejauhan, marahnya juga pada Ivar bukan pada orang lain. Tapi Nindi sadar perbuatannya sangat menyakitkan bagi Bi Inah yang menyiapkan makanan dengan suka rela dan tulus. Tidak seharusnya kemarahan Nindi luapkan atas bantuan yang sudah dirinya terima. Dia menyesal sampai menyalahkan dirinya sendiri dengan begitu pedih.


“Sudah sarapan belum istriku Bi?” Bi Inah menggeleng. “Menangis juga butuh tenaga sayang, ayo sarapan dulu.” Ivar memang hari ini libur, dia bangun sedikit siang karena semalam sulit tidur sampai larut malam.


“Bibi sudah masak makanan kesukaan Nonna, subuh-subuh bibi sudah masak agar Nonna sarapan masakan bibi yang lezat Tuan Muda.” Ivar tersenyum, Nindi masih malu menunjukkan wajahnya. “Bibi ke atas ya Tuan, silahkan sarapan.”


“Apa Bibi juga akan meninggalkan ku? Apa sikap ku bisa Bibi maafkan Bang? Aku sudah sangat keterlaluan.” Ivar membelai lembut surai Nindi.


“Bibi sudah menganggap keluarga kita adalah keluarganya, begitu juga keluarga kita sayang. Bibi tidak akan pergi hanya karena masalah seperti itu sayang, Bibi sayang kita semua.” Nindi merasa sedikit terhibur.


"Ahhhh....aku menyesal sekali, Bibi pasti sedih." Ivar mencium pipi Nindi yang menggemaskan. "Abang di rumah seharian kan?" Tanya Nindi memastikan, Ivar mengangguk.


“Hari ini Abang yang akan jaga kalian, Mas Ayman sudah berangkat pagi-pagi sekali karena harus meeting di Bandung sayang.” Nindi mengangguk, dia sudah dipamiti juga.

__ADS_1


“Hanna pulang jam satu siang Bang, nanti jangan lupa kita jemput Hanna.” Ivar mengangguk.


Nindi pagi tadi sudah mengantarnya di temani Bagas, dia tidak di ajak ke Bandung karena Ayman tidak mau Nindi dan Hanna pergi sendiri tanpa Bagas mengingat Ivar masih kelelahan. Ivar masih tidur karena kelelahan tidak bisa tidur semalaman karena khawatir.


“Maaf tidak mengantar kalian pagi tadi.” Nindi mengangguk paham. “Sekarang apa sudah bisa kita sarapan? Abang lapar sekali sayang.” Ajaknya agar Nindi mau bergegas sarapan.


“Iya Nindi juga lapar.” Mereka berdua menikmati waktu sarapan yang begitu tenang. Hanna sekolah, Jason bermain di taman belakang bersama Baby, berjemur. “Papah tadi minta aku mampir ke kantor sebentar kalau Abang bisa antar ke sana.” Ivar yang sedang mengunyah makanannya mengangguk.


“Sebelum ke sekolah Hanna kita mampir sebentar ya sayang.” Nindi mengangguk setuju. “Tiba-tiba tangan ku malas bergerak Mom, bisakan suapi aku?” Panggilan yang masih terdengar asing di telinga Nindi membuat wajahnya bersemu merah.


“Abang kan tangannya dua, sehat. Kenapa harus di suapi.” Ucapnya lirih dengan wajah malu-malu. Ivar menarik kursinya lebih dekat pada Nindi. Mencium pipinya yang merona.


"I love you Mommy."


“Abang....malu, nanti ada yang lihat loh!” Omel nya yang padahal dadanya berdebar cukup kencang. “Sana geser, sempit Abang.” Pinta Nindi masih dengan wajah malu-malunya.


“Abang loh sedang rindu sayang.” Ivar memeluk Nindi dengan erat. Menciumi tengkuk Nindi dengan lembut membuat Nindi merinding dibuatnya. Benar yang Ayman katakan, Nindi butuh perhatian yang lebih besar dari suaminya, dari orang-orang yang dia sayangi agar tetap merasa dicintai.


Setelah selesai dengan sarapan yang mendekati makan siang, Ivar bersiap bersih-bersih karena ingin segera mengantar Nindi ke kantor sebelum menjemput Hanna. Nindi sedang menyusui Baby sebelum dirinya tinggal, beruntung Baby sangat anteng setiap ditinggal Mommy nya. Membuat Nindi merasa tenang.


“Mih....Mih....” Ucap Jason menunjuk foto Edel yang ada di atas nakas. “Mih...” Nindi mencium sayang pipi Jason yang tengah bersandar di dekat nakas.

__ADS_1


“Jason kangen Mamih sayang?” Jason hanya tersenyum menanggapi petanyaan Nindi, dia pasti tidak paham. “Ada Mommy ya Nak, Jason sayang Mommy kan sayang?” Jason mengangguk. Wajahnya menggemaskan dengan gigi yang sudah mulai tumbuh merata di gusinya. Dia tampan seperti Papih Ayman, tapi bentuk wajahnya sangat mirip dengan Edel.


“Ca...yang....Muuuu....ah....” Ucapnya yang masih belum terlalu jelas sambil menciumi foto Edel, terharu sekali Nindi melihatnya. Dia harus tumbuh tanpa Ibunya.


__ADS_2