
Mariska menghela nafas melihat Nindi tidak berhenti sebentar saja untuk bernafas. Dia tidak sedang baik-baik saja, dia tidak bisa menipu semua orang dengan senyum palsunya. Menyibukkan diri tidak akan menghapus kesedihannya.
“Astaga Cindy….” Mariska terjingkat melihat Cindy muncul tiba-tiba di depan mukanya. Cindy hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. “Untung saja aku tidak jantungan.”
“Apa hanya aku yang melihat Nindi sedikit aneh?”
“Maksudmu! Aneh bagaimana Cin?” Mendekat agar percakapan tidak didengar orang lain.
“Lihat dia!” Kompak keduanya menatap Nindi dengan penuh rasa iba. “Aku takut bayinya kelelahan. Apa tidak apa-apa Nindi sesibuk itu?”
“Dia hanya sedang mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan.” Cindy dan Mariska berpegangan tangan ingin rasanya memeluk Nindi dengan Erat.
“Nindi!” Gunar menyodorkan segelas the hangat.
“Tidak Pak, aku tidak haus. Terimakasih.” Nindi kembali memotong bahan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
“Minum sedikit saja, kau bisa dehidrasi.” Nindi berpindah tempat. Gunar tersenyum getir menatap punggung Nindi.
“Pak Gunar tidak berhasil membujuknya untuk berhenti sebentar saja.” Ucap Mariska semakin sedih.
“Nindi! Ikut denganku sebentar.” Minta Gunar dengan suara lembut.
“Aku sedang banyak sekali pekerjaan Pak, tidak bisa aku tinggal. Apa mau aku panggilkan Cindy untuk membantu Bapak?” Cindy perlahan berjalan kembali ke tempatnya agar tidak ketahuan sedang bergosip dengan Mariska.
Hanya terdengar helaan nafasnya yang sangat panjang. Nindi sedikit takut karena merasa sudah sangat lancang kali ini. Nindi segera menunduk saat pandangan matanya bertemu dengan Gunar. Jantungnya tiba-tiba saja terpacu sangat cepat. Perutnya mengeras, janinnya seolah tau perasaan Ibunya saat ini. Reflek Nindi memegangi perutnya membuat Gunar menjadi khawatir.
“Kau baik-baik saja?” Semua menoleh ke arah Nindi. Anggukan kepala Nindi membuat Gunar lega. “Duduk Nin, kenapa kau bekerja begitu keras. Kita bisa menyelesekannya pelan-pelan Nin.” Nindi menenggak habis teh hangat yang Gunar buatkan untuknya.
“Maaf Pak, apa aku terlihat sangat bekerja keras?” Gunar mengangguk dengan senyum. “Tapi aku baik-baik saja.” Ucapannya malah memperjelas perasaannya saat ini.
“Kalau kau hancur sekalipun, jangan menutupinya. Itu hanya akan membuatmu rapuh. Tunjukkan saja Nin, kami tidak keberatan mendengar keluh kesahmu.” Nindi masih menunduk enggan melihat Gunar ataupun teman-temannya yang lain.
“Apa semua akan baik-baik saja Kak! Aku sangat takut.” Nindi memainkan jemarinya untuk menutupi ketegangannya. Begitu ingin rasanya berteriak keras, agar dunia tau dirinya tidak baik-baik saja.
“Tidak akan ada yang tau hari esok akan seperti apa. Tapi kamu harus yakin Nin, jangan pantang menyerah. Tidak selamanya semua yang kita miliki saat ini ada di sisi kita.” Nindi mulai tidak bisa menahan air matanya. Menyeka dengan kasar agar tidak sampai membasahi wajahnya.
“Aku takut Kak. Aku bingung!” Nindi menutup wajahnya karena isak tangisnya tidak bisa dia tahan.
“Menangislah Nin, keluarkan semua kesedihanmu.” Gunar menepuk pundak Nindi menenangkannya. Semua terbawa suasana, Nindi begitu tangguh. Dia bahkan bisa memperlihatkan kesedihannya di depan semua orang. Tidak mudah, butuh keberanian melakukannya.
Melly yang biasanya sangat keras pun melunak, tidak tega melihat Nindi yang diterpa kegundahan ditengah kehamilannya yang baru memasuki beberapa minggu. Wanita mana yang kuat, dia salah satu contohnya.
__ADS_1
Nindi kembali menyibukkan diri setelah cukup tenang. Gunar membujuknya untuk pulang namun tidak berhasil. Nindi bersikeras baik-baik saja dan ingin tetap melanjutkan pekerjaannya.
Semua orang sibuk karena proyek besar sampai tidak terasa hari sudah gelap. Gunar tersenyum melihat kesibukkan yang selama ini ingin dia rasakan. Ide cemerlang pun muncul, ada keinginan membayar kelelahan yang sudah teamnya kerjakan.
Tok…tok…tok…
Semua menghentikan pekerjaannya, memperhatikan Gunar yang berdiri tegak memegang spidol yang dia gunakan untuk mengetuk mejanya.
“Ada yang bisa kami bantu Pak Gunar?” Tanya Melly merasa penasaran.
“Ahhh…tidak ada Bu Mel. Aku hanya ingin menyudahi pekerjaan hari ini.” Melly melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya mereka semua pulang. “Tapi sebelum itu, aku ingi mengajak kalian semua makan malam.”
Yeayyyyyy……
Teriak semua orang menyambut ajakan Gunar yang menyenangkan. Melly yang tadinya enggan ikut pun tidak bisa menolak melihat antusias anak buahnya yang haus traktiran.
“Aku sudah janji pada Hanna akan pulang cepat Kak.” Bisik Nindi pada Mariska.
“Udah ikut saja, bilang saja kita lembur malam ini.” Mariska melihat wajah Nindi yang kebingungan. “Hanna pasti mengerti Nin, coba kau hubungi dulu.” Nindi mengeluarkan ponselnya.
“Han…” Suara Nindi terpotong celotehan Hanna yang terdengar sangat gembira.
“Tante, aku sedang jalan-jalan sama Paman dan Tante Edel dan adek Jason. Tante mau makan malam dengan tamen-teman Tante yah? Hanna ingin ikut, tapi kata Paman urusan pekerjaan, jadi tidak boleh di ganggu.” Suara Hanna antara sedih tapi juga terdengar sangat gembira.
“Iya, Tante selamat bersenang-senang yah, aku juga mau main sama adek Jason yah.” Teriak Hanna menyudahi percakapan mereka.
“Hati-hati ya sayang, sampai jumpa di rumah yah.” Belum juga selesai ponsel sudah tidak tersambung.
Yang membuat Nindi heran, dari mana Hanna tahu makan malam teamnya. Nindi menatap Gunar yang sedang enak bercakap dengan Ken dan Putra. Hanya dia yang punya kontak kelurganya. Gunar memang sahabatnya, Nindi hanya tidak nyaman karena Ivar tidak suka dirinya berteman dengan laki-laki atau dekat dengan laki-laki lain.
Gunar menyewa satu ruangan VVIP di Restaurant Jepang yang sedang kekinian. Jiwa-jiwa miskin menggerogoti batin Cindy, berhitung berapa banyak yang akan Gunar keluarkan hanya untuk sekedar jamuan makan malam.
“Hey…menghitung apa kau ini.” Tegur Ken yang baru saja mendarat tepat di sebelah Cindy. “Apa kau akan membayar sendiri?” Cindy menggeleng dengan mantap, melihatnya saja sudah membuat bergidik. “Hehehehe...”
“Apa Pak Gunar punya pabrik uang? Apa dia tidak sayang membuang uang untuk makanan yang sangat mahal ini?” Ken hanya menggeleng melihat Cindy yang belum terbiasa dengan suasana kantor yang akan sering mengadakan makan malam team seperti ini, maklum dia masih baru saja bergabung.
“Nanti kau akan lihat Restauran yang lebih mewah dari ini.” Mata Cindy membelalak, ini saja sudah membuatnya syok.
“Sudah-sudah, cepat makan. Nanti makanannya dingin.” Tegur Gunar agar semua segera menikmati makanan yang sudah di sajikan.
Nindi menahan perutnya yang bergejolak, entah apa yang membuatnya ingin sekali muntah. Padahal sebelum hamil, Ivar sering membawanya makan ke Restauran Jepang. Keringat dingin mulai meleleh, dia benar-benar sudah tidak tahan.
__ADS_1
“Aku harus ke toilet.” Nindi berjalan dengan sangat cepat, tanpa menghiraukan yang lain.
“Nin, Nin....kau baik-baik saja!” Gurat wajah Gunar begitu jelas, dia sangat khawatir. “Siapa saja, apa boleh cek keadaan Nindi? Aku tidak mungkin masuk ke toilet wanita.”
“Biar saya saja Pak.” Cindy mengambil sikpa, dia juga takut Nindi kenapa-napa.
Semua terdiam, tidak ada yang bersuara melihat Gunar yang begitu gusar. Dia mondar-mandir membuat semua orang merasa tidak nyaman. Tidak lama Cindy dan Nindi kembali.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Gunar dengan nada ketakutan. Nindi hanya mengulas senyum merasa tidak enak hati. “Kenapa tidak bilang kalau kau tidak suka makanan Jepang!” Semua menatap Nindi membuatnya semakin merasa bersalah.
“Aku sangat suka sebenarnya, tapi....” Nindi membuang muka karene merasa mual. “Aku sebaiknya tidak makan ini, sepertinya perutku tidak nyaman.” Nindi mengelus lembut perutnya yang masih rata.
“Sepertinya calon anakmu pemilih Nin.” Kini Gunar paham, Nindi tidak sakit. Dia hanya mual karena ada makhluk yang sedang berjuang hidup di perutnya. “Kau duduk di sini saja.” Gunar memisahkan meja kecil agar Nindi bisa duduk seorang diri. “Aku pesankan makanan khas Indonesia.” Gunar memesan Nasi Goreng Seafood khusus untuk Nindi, padahal tidak ada di daftar menu.
Semua kembali menikmati makanan tanpa gangguan lagi, Nindi tidak merasa mual dengan baunya. Dia malah menikmati karena sebenarnya ingin sekali makan makanan yang membuatnya enek saat melihatnya. Sedikit aneh, tapi Nindi menganggap itu hal yang wajar terjadi pada Ibu hamil.
Nindi menyendok malu-malu suapan pertama nasi gorengnya, enak...Nindi kembali menyuapkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya. Tidak terasa Nindi sudah menghabiskan setengah piring Nasi Goreng Seafood sampai perutnya terasa penuh. Sudah tidak sanggup lagi perutnya menampung makanan.
Nindi tidak sadar dari sebrang meja ada yang memperhatikannya dengan penuh rasa bahagia. Semua orang menyadari kecuali Nindi yang sibuk makan.
Tok....tok...tok....
“Silahkan masuk.” Jawab Gunar mendengar ketukan pintu ruangan makannya.
“Selamat malam.” Muncul kepala Edel pertama kali, menyusul kepala Hanna di bawahnya dengan wajahnya yang sedikit mengantuk.
“Kalian sudah datang!” Hanna berlari ke pelukkan Nindi yang masih terkejut.
“Hai Gun, kalian sudah selesai?” Gunar mengangguk menyalami Ayman. Mereka memang saling mengenal sebagai relasi bisnis. Hanya Ivar yang tidak mengenal Gunar.
“Kami baru saja selesai.”
“Apa kami sudah bisa membawa Nindi pulang?”
“Tentu saja.” Jawab Gunar.
“Anak-anakku sudah sangat lelah.” Gunar tersenyum. Hanna menatap dirinya dengan intens, dia pasti ingat dulu Gunar sering main ke rumahnya dan membawakan Hanna makanan ringan.
“Kau mengingatku?” Hanna mengangguk. “Apa aku boleh dapat pelukkan?” Hanna mengangguk dan segera memeluk Gunar. “Kau masih pintar seperti dulu.” Gunar membelai rambut Hanna yang terurai panjang.
“Hanna, kenalkan. Ini teman-teman Tante di kantor.” Hanna menyalami semua orang satu persatu dengan sopan. Ada yang menarik perhatiannya. Ken, wajahnya tampan membuat Hanna salah tingkah saat Ken mengedipkan mata padanya.
__ADS_1
Semua orang dibuat tertawa oleh tingkah Hanna dan Ken yang menggemaskan. Hanna memang sangat bisa membuat semua orang merasa nyaman dan tertawa. Tingkahnya membuat semua orang merindukannya. Pantas saja Ayman begitu mencintai Hanna. Dia tidak bisa jauh dari Hanna meski hanya sebentar saja. Nindi sangat bersyukur Hanna di kelilingi banyak orang-orang baik yang sangat mencintainya. Dia tidak kekurangan cinta dan kasih sayang.