
“Tuan maafkan saya, saya benar-benar lupa.” Bagas sangat menyesali perbuatanya yang tidak menghubungi Ivar karena lalai.
“Kau ini benar-benar membuatku kesal.” Ivar berusaha menghubungi Nindi namun ponselnya mati.
“Jangan marah pada Bagas. Aku yang membuatnya lupa karena aku panik.” Edel berusaha membela Bagas yang tidak bersalah.
“Jangan membelanya. Dia seharusnya menghubungiku jika memang tidak bisa menjemput Hanna dan Nindi. Ada Hanna Kak.” Ivar sangat khawatir karena Nindi perempuan, membawa Hanna pula.
Edel memilih diam daripada membuat Ivar semakin marah dengan pembelaannya. Bagas sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dirinya melakukan kesalahan fatal.
“Sekarang kalian ikut aku.” Ivar masih berusaha menghubungi ponsel Nindi yang tidak aktif.
“Luna.” Luna berusah berdiri melihat Edel di sana. Ivar membantu Luna agar bisa berdiri. “Kau pulang bersama Bagas yah, aku harus menjemput Nindi.”
“Iya Kak, atau aku hubungi Abi saja?” Merasa tidak enak hati. Kak Ivar pasti marah, seharusnya kan Pak Bagas menjemput Nindi. Tapi dia ada di sini bersama Edel.
“Tidak...tidak, Bagas bisa mengantarmu. Kak Edel bisa pulang bersamaku.”
“Baik Kak, maaf merepotkan Pak Bagas.” Luna tersenyum pada Edel. “Luna pamit yah Kak. Terimakasih atas bantuan Kak Ivar.”
Ivar menggendong Jason agar bisa berjalan lebih cepat. Dirinya tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada Bagas maupun Edel, mereka juga sedang kesulitan karena Jason demam dan harus segera ditangani.
“Ivar, bisa pelan sedikit bawa mobilnya! Amu takut, ingat ada Jason di sini.” Ivar menurunkan kecepatan mobil yang dia kendarai, otaknya sudah tidak bisa berfikir.
“Aku tidak bisa berfikir. Sebaiknya kau diam Kak.” Edel menutup mulutnya yang tidak bisa diam karena ketakutan. “Kau yakin Nindi sudah pulang?” Edel mengangguk.
“Sekarang sudah jam berapa? Tentu saja Mall sudah tutup dan Nindi akan pulang karena Bagas tidak datang.” Edel mencoba membuka pikiran Ivar yang tertutup rasa khawatir.
“Kenapa ponselnya tidak atif? Apa hilang?” Ivar semakin khawatir karena Nindi tidak bia dihubungi.
“Mungkin kehabisan baterai.” Tidak ada yang mustahil.
“Aku akan sangat marah pada Bagas jika Nindi dan Hanna mengalami kesulitan. Dan kau juga, kenapa tidak tanya tugas Bagas dan malah memintanya mengantarmu.”
“Aku panik Var, Jason....” Memasang wajah memelas agar Ivar tidak lagi kesal padanya. Jason tameng yang ampuh agar Ivar tidak memarahinya.
“Nin, Hanna tertidur. Sepertinya dia sangat lelah.” Gunar tersenyum melihat Hanna begitu nyaman di dalam mobilnya.
“Iya, dia seharian jalan-jalan jadi kecapean Kak.” Nindi tidak berani melihat spion depan, takut-takut mata Gunar sedang mengawasinya. “Di depan belok Kanan ya Kak.”
“Aku tau di mana rumah Ivar Nin. Tidak ada yang tidak mengenal siapa keluarga Ivar di sini.” Ternyata rumah Gunar satu komplek dengan rumah Kak Ivar.
Aduh Hanna tidur lagi, badannya sangat berat. Aku tidak kuat jika harus menggendongnya ke dalam. Semoga saja ada yang membantuku agar tidak meminta bantuan Kak Gunar. Nindi sudah sampai di depan rumah.
Gunar dengan sigap membuka pintu untuk Nindi dan kemudian membuka pintu depan di mana Hanna duduk. “Biar aku saja yang menggendongnya.” Gunar dengan senang hati membantu Nindi.
__ADS_1
“Tidak usah Kak, biar aku saja.” Nindi mencoba sekuat tenaga mengangkat tubuh Hanna namun tidak berhasil.
“Kau ini keras kepala sekali. Biar aku saja.” Gunar dengan mudah mengangkat Hanna dalam gendongannya. “Cepat minta orang rumah membuka pintu. Kau mau tetap di sini?” Gunar menyenggol Nindi yang malah melamun.
“I...iya Kak.” Apa Kak Ivar di rumah. Dia bisa marah kalau tahu aku pulang bersama Kak Gunar.
“NINDI!!!!” Suara teriakan Ivar melengking membuat Nindi yang sudah ketakutan terkejut setengah mati. Ivar berjalan sangat cepat menghanpiri Nindi dan Gunar yang sedang menggendong Hanna. “Lepaskan tanganmu.” Ivar menyalakan sinyal perang lewat sorot matanya.
“Kak...ak..aku bisa.” Nindi tergagap melihat amarah Ivar.
“Diam.” Hanna terbangun karena suara Ivar begitu kuat. “Masuk Nindi.”
“Aku bisa jelaskan Var, ini tidak seperti...” Gunar mencoba memberi penjelasan namun percuma.
“Tidak ada yang perlu di jelaskan. Aku sudah katakan jangan berani bermain api denganku.” Ivar membuat Hanna ketakutan. “Nindi aku bilang masuk, apa kau tidak dengar?”
Ivar menutup dengan keras gerbang rumah dan meninggalkan mobilnya di luar pagar. Emosinya sudah memuncak meluap sampai ubun-ubunnya terasa panas.
Edel tersenyum melihat pemuda yang jadi sasaran kemarahan Ivar. “Kau baik-baik saja?” Gunar mengangguk. “Maafkan Ivar, dia hanya khawatir karena ada komunikasi yang tidak selesai sampai Nindi harus menunggu lama di Mall.”
“Aku tidak apa, tapi tolong jaga Nindi. Ivar sepertinya sangat marah padanya. Ini bukan salah Nindi, aku kebetulan saja dari Mall yang sama dan Nindi sedang berdiri di depan Loby bersama Hanna. Aku hanya berniat membantu saja, aku tidak tega meninggalkan Nindi dan Hanna, karena sudah sangat malam.” Gunar mencoba menjelaskan.
“Iya. Nanti aku sampaikan jika Ivar sudah tenang. Terimakasih banyak atas bantuannya yah. Semoga Ivar tidak menyinggung perasaanmu.” Gunar meninggalkan halaman rumah Ivar dengan hati yang sedikit terkejut melihat kemarahan Ivar.
Perdebatan masih berlanjut bahkan sampai Hanna menangis ketakutan. Edwin dan Ellie yang sudah terlelap bahkan ikut bangun mendengar suara Ivar yang begitu keras.
“Kau datang bersama laki-laki yang kau tau aku tidak suka dengannya. Apalagi yang perlu dijelaskan.”
“Kak Ivar yang salah, kenapa tidak menjemputku. Aku menunggu lama.”
“Apa tidak bisa pulang dengan taksi? Kenapa harus dengan laki-laki itu!” Suara Ivar semakin kuat.
“Gunar namanya. Untung saja ada dia, kalau tidak!” Nindi yang sudah lelah dan terus di salahkan ahirnya juga tersulut amarahnya.
“Kau!!! Aku tidak mau kau menyebut lagi namanya.”
“Berikan Hanna padaku. Kau membuatnya takut.” Hanna masih menangis meski suaranya sangat pelan. Nindi sedih melihat Hanna ketakutan.
“Tidak, kau kira hanya kau yang perduli pada Hanna.”
“Hanna harus istirahat Kak.” Nindi menurunkan intonasi suaranya agar Ivar juga melembut.
“Kau tau Hanna harus istirahat, kenapa kau malah pulang selarut ini ditemani laki-laki sialan itu.” Kata-kata yang tidak pantas membuat hati Nindi sakit.
Ayman menggelengkan tidak percaya mereka berdebat di depan Hanana. “Ivar berikan Hanna. Kalian selesaikan urusan kalian.” Kini Hanna sudah berpindah di pelukkan Ayman yang hangat.
__ADS_1
Nindi memilih naik ke kamarnya menghindari perdebatan yang semakin tidak terarah. Baru kali ini Nindi melihat Ivar semarah itu padanya. Tentu saja air mata tidak bisa Nindi bendung. Menangis dalam diam tanpa tahu harus berbuat apa. Dirinya bahkan mengalah karena seorang wanita yang ada di masa lalu Ivar.
“Nak...” Ellie mendekati Ivar yang duduk di sofa dengan pandangan kosong. “Ada apa? Kenapa kau begitu marah?”
“Tidak Mah, maaf membuat keributan.”
“Tidak baik membentak seorang wanita seperti tadi. Papah tidak pernah mengajarkanmu memperlakukan seorang istri dengan kasar. Apa kesalahan Nindi fatal?” Ivar menggeleng. “Lalu kenapa kau sangat marah?” Edwin tau ternyata Ivar tidak marah pada Nindi. Dia merasa bersalah pada dirinya sendiri. "Lain kali kau harus tanya sebabnya. Jangan hanya menyalahkan Nindi seorang Var."
"Ivar sangat marah melihat Nindi pulang bersama laki-laki lain."
“Laki-laki itu Gunar namanya Pah. Dia melihat Nindi dan Hanna di loby Mall menunggu Bagas yang Ivar minta untuk menjemput Nindi dan Hanna.” Edel keluar setelah menyeka tubuh Hanna dan mengganti pakaiannya yang sudah kotor. “Dia tidak tega membiarkan Nindi yang membawa Hanna pulang sendiri.
Jadi Gunar menawarkan tumpanagan. Kebetulan rumahnya juga di komplek yang sama dengan rumah kita.”
Ivar diam saja mendengarkan penjelasan Edel. Dirinya benar-benar merasa tidak berguna saat ini. Ivar sangat malu terbawa emosi dan amarah yang tidak berdasar. Nindi tentu saja tidak akan pernah menghianatinya.
“Kamu kemana memangnya Nak? Kenapa meninggalkan Hanna dan Nindi?” Tanya Ellie penasaran.
“Ivar tidak sengaja melihat Luna terluka di Mall. Kakinya tertabrak troli dan berdarah cukup banyak. Ivar membawanya ke rumah sakit karena takut lukanya berbahaya dan Ivar meninggalkan Nindi di Mall.”
“Apa Luna baik-baik saja?”
“Iya, dia tidak apa-apa. Hanya luka sedikit tapi tidak berbahaya.”
“Syukurlah kalau Luna baik-baik saja. Sekarang kau temui Nindi, minta maaf karena kau sudah membuatnya menunggu dan marah melihatnya pulang bersama orang baik yang mau membantunya. Cepat....laki-laki harus bertanggung jawab dan tidak boleh pantang menyerah.” Ellie tidak mau Ivar dan Nindi bertengkar terlalu lama. Tidak tega meski dirinya belum sepenuhnya menerima Nindi. Apalagi Nindi sudah mengorbankan dirinya demi Luna, dia memang gadis yang baik.
Ayman membawa Hanna ke dapur untuk minum susu sebelum tidur. Ivar yang melihat Hanna menyadari betapa kasar dirinya. Sampai-sampai Hanna menangis ketakutan.
“Paman ambilkan susu dulu. Hanna duduk di sini ya sayang.” Ayman menuju dapur meninggalkan Hanna di meja makan.
“Aku harus bicara pada Hanna sebentar, dia pasti sangat takut saat Ivar marah tadi.”
Dengan wajah yang bersahabat penuh penyesalan Ivar duduk di depan Hanna yang tidak mau menatap wajahnya. Jelas sekali Hanna ketakutan. “Hanna...sayang...Apa Paman membuat Hanna takut?” Hanna diam saja menundukkan kepalanya.
Ayman mengawasi dan mencoba memberikan waktu agar Ivar bia menebus kesalahannya. Ivar memang jarang sekali marah, dia lebih banyak diam. Tapi kali ini Ivar marah sampai berteriak membuat semua orang ketakutan termasuk Hanna yang biasanya diperlakukan sangat lembut oleh Ivar.
“Apa Paman boleh dapat maaf dari Hanna? Paman berjanji tidak akan marah seperti tadi lagi.” Ivar menjulurkan jari kelingkingnya pada Hanna. “Apa Hanna mau memaafkan Paman?” Hanna mengangguk. Meski masih ragu dia mencoba memaafkan kesalahan Pamannya. “Paman boleh memeluk Hanna?” Hanna kembali mengangguk tanpa suara.
Ivar meneteskan air matanya, dia benar-benar menyesal melakukan kebodohan sebesar ini. Entah apa yang merasuki jiwanya. “Paman menyesal sayang, maafkan Paman.”
“Hanna istirahat ya Paman. Selamat malam.” Ayman membawa Hanna kembali ke kamar setelah selesai meminum susunya.
“Aku juga istirahat yah, sekarang aku punya seorang Putri dan seorang Putra.” Tawa Edel sambil berlari menghampiri Ayman yang menggendong Hanna.
“Aku juga mau ke atas. Maaf membuat kalian terbangun karena suaraku yang sangat keras.” Ivar menyadari perbuatannya sangat tercela.
__ADS_1
“Tidak apa, cepat bujuk Nindi agar dia tidak salah paham. Dia pasti mau memaafkanmu Nak, Nindi gadis yang sangat baik.” Ellie mencoba membuat Putranya percaya diri. Ivar berjalan gontai, mengingat kesalahannya yang begitu besar membuat nyalinya ciut untuk bicara pada Nindi.