
Ponsel Edel terus berdering membuatnya yang sedang meeting tidak bisa berkonsetrasi dengan baik. Edel meminta waktu pada kliennya untuk menerima panggilan telponnya sebentar saja.
Ivar : Hallo Kak
Edel : Iya, ada apa Var?
Ivar : Kau ini, kenapa lama sekali mengangkatnya?
Edel : Aku sedang meeting dan kau menganggunya.
Ivar : Kenapa ponsel Nindi tidak bisa di hubungi? Apa dia masih marah padaku?
Edel : Mana aku tahu! Kau ini ada-ada saja. Dia sedang interview kerja, apa kau lupa?
Ivar : Ahh... benar. Aku berjanji akan mengantarnya. Bagaimana dengan Hanna?
Edel : Bagas akan menjemputnya sebentar lagi.
Ivar : Minta bagas menjemputku dulu di markas. Aku tidak bawa mobil tadi pagi.
Edel : Ok...Var tunggu. Asal kau tahu, Nindi pagi tadi terlihat sangat terkejut melihatmu pergi begitu tergesa-gesa.
Ivar : Benarkah!
Edel : Kau cari tahu sendiri, jangan membuatnya menangis lagi. Aku bahkan mengompres matanya yang bengkak karena ulahmu.
Mendengarnya Ivar begitu menyesal, dirinya masih belum terbiasa dengan kehadiran Nindi dalam hidupnya. Dia selama ini laki-laki yang cuek dan jarang sekali berkomunikasi dengan keluarganya jika akan pergi menyelesaikan tugas pekerjaannya.
Nindi pasti sangat terkejut dengan sikap Ivar. Sepertinya ke depan Ivar harus lebih banyak bicara dengan istrinya. Rasa bersalah Ivar semakin besar jika mengingat bagaimana dirinya mendesak Nindi agar menerima cintanya melalui perhatiannya pada Hanna. Ivar bahkan merasa sudah memaksa Nindi menerima dirinya yang begitu ingin memilikinya. Nindi yang sedang bingung di buat nyaman oleh Ivar sampai menyetujui lamarannya untuk segera menikah.
Gadis-gadis lain diusia Nindi saat ini sedang meniti kakrirnya, tapi Nindi sudah memiliki suami yang bahkan sering sekali membuatnya merasa di abaikan seperti saat ini.
Tidak lama mobil bagas terparkir di halaman markas besar tempat Ivar bekerja. Tanpa membuang waktu Ivar mengambil alih kemudi dan bersiap menjemput Hanna ke sekolah. Hanna juga pasti sangat kecewa karena dirinya melupakan janjinya semalam. Ivar bahkan menjanjikan Hanna ice cream lezat sepulang sekolah.
Hanna saat ini masih menunggu Pak Bagas menjemputnya di kantin sekolah. Hanna biasa menunggu di sana supaya tidak sendirian.
“Hanna?” Hanna menoleh mencari sumber suara. “Kok belum pulang sayang?” Ira yang menuntun Lula duduk di sebelah Hanna. “Masih tunggu jemputan yah?” Hanna mengangguk.
Lula tahu jika Hanna belum di jemput dan mengajak Ibunya ke kantin untuk menemani Hanna sampai ada yang datang menjemput Hanna. Lula sangat perhatian, dia sering sedih saat mendengar Hanna menceritakan kerinduannya pada sang Ibu.
“Tante pulang duluan saja gak papa, Hanna masih tunggu Pak Bagas Tante.” Hanna tidak enak hati merepotkan.
“Gak papa Han, lagian Lula katanya mau minum jus. Iyakan La?” Lula mengangguk. “Tante pesankan dulu yah, Hanna sukanya jus mangga yah?” Hanna mengangguk tidak menolak untuk minuman gratis. Ira tahu betul apa kesukaan anak-anak mereka karena mereka bersahabat cukup lama. Dia bahkan menjalin hubungan baik dengan Aruni semasa hidupnya.
Melihat Hanna saat ini membuat hati Ira terenyuh, Hanna yang periang dan selalu ceria sekarang menjadi gadis yang sangat dewasa sebelum waktunya. Dia sering memperlihatkan sisi kedewasaan di saat seperti ini. Dia tidak merengek atau bahkan mengeluh pada keadaan yang memaksa dirinya tumbuh tanpa kedua orang tuanya.
Ira tahu betul bagaimana dulu Hanna manja pada Aruni dan Cakra. Tapi saat ini dia sering memilih tidak meminta apapun asalkan Nindi ada di sampingnya. Hilang sudah sikap kekanakan dalam diri Hanna.
__ADS_1
“Kau kan yang mengajak Mamahmu ke sini?” Lula mengangguk tanpa rasa bersalah. Menurutnya tindakanya benar.
“Kenapa memangnya?” Hanna meringis kesal. “Kau tahu kan sekarang banyak penculik, kalau kau di culik bagaimana?”
“Aku bisa jaga diri. Aku akan adukan pada Paman jika ada yang mau menculikku.” Hanna sombong tentang Pamannya yang hebat.
“Kalau Pamanmu tidak ada bagaimana?” Hanna mengangkat bahunya. “Itulah Kau, tidak berpikir dengan benar.”
“Kau seperti Nenek-nenek yang sedang mengomel. Hahahaha.....” Hanna tertawa, sebenarnya dia senang karena Lula dengan senang hati mau menemaninya yang kesepian.
“Jus datang.....!!!!!!” Teriak Ira membawa tiga cup jus yang berbeda-beda.
“Mangga untuk Hanna, Alpukat untuk Lula, dan Jus Jeruk untuk Mamah. Ayo minum.”
“Terimakasih tante.” Ucap Hanna dengan manis membuat Ira terharu.
“Han, bagaimana kalau pulang ke rumah Lula dulu saja? Nanti Tante Ira telpon Tante Nindi jemput Hanna ke rumah Lula!” Hanna terlihat berpikir.
“Tante Edel bilang Pak Bagas yang jemput Hanna.”
“Oh gitu, ya sudah. Kita tunggu saja yah.” Ira tahu Hanna anak yang sangat patuh. Dia pasti merasa tidak nyaman jika di paksa. Begitulah anak-anak, ada yang harus orang dewasa perhitungkan. Jangan memaksakan kehendak sampai membuat anak-anak merasa tidak nyaman dan akhirnya jauh.
“Hanna...” Ivar tersenyum di depan pintu kantin sekolah.
“Paman....” Hanna lari menghampiri Pamannya yang baru saja tiba. Lega karena dirinya tidak di lupakan. Lega karena ada yang datang untuk menjemputnya pulang. Kedatangan Ivar membuat Hanna membuang pikiran buruk jika dirinya tidak lagi dicintai.
“Maaf ya sayang, Paman dan Pak Bagas sangat terlambat. Perjalanan sangat kacau karena macet.” Hanna mengangguk. Sudah meluap rasa kesal sesaatnya.
“Syukur Nak Ivar datang. Kalau begitu saya dan Lula juga pamit pulang yah.” Ira lega akhirnya Hanna dijemput juga.
“Lula tidak ingin ikut Paman makan Ice Cream dulu?” Lula menatap Ibunya. Ira menggeleng, sungkan menerima tawaran.
“Tidak Paman, terimakasih banyak.” Jawab Lula setelah melihat reaksi Ira.
“Jangan dengarkan Mamahmu. Ayo kita makan Ice Cream.” Ivar menggandeng Hanna dan Lula. Dia sangat berterimakasih karena Ira selalu baik pada Hanna.
“Nanti merepotkan Nak.”
“Tidak Tante, Ivar yang sudah merepotkan Tante Ira setiap saat.”
Akhirnya basa basi berlanjut sampai di kedai Ice Cream kesukaan Hanna. Ira banyak menceritakan sosok Aruni semasa hidupnya. Ivar begitu terharu bagaimana perjuangan mereka memutuskan untuk hidup bersama dalam tentangan kedua orang tua Aruni yang tidak ingin putrinya hidup kesusahan.
Bahkan sampai saat kepergiannya Aruni masih tidak bisa menemui kedua orang tua yang sudah tidak lagi mau menerima dirinya setelah menikah dengan Cakra. Begitu menyedihkan kisah hidup mereka. Tapi keduanya tetap berusaha menjadi bahagia demi Nindi kecil yang saat ini menjadi sandaran bagi Hanna.
“Tapi Nindi dan Hanna sangat beruntung. Sekarang sudah ada yang menjaga mereka sekarang.” Ira tersenyum pada Ivar.
“Sepertinya bukan mereka yang beruntung. Tapi saya.” Ivar menerawang bagaimana dirinya berubah drastis setelah bertemu dengan Hanna dan Nindi.
__ADS_1
“Aku bahkan tidak tahu hidupku akan seperti apa tanpa mereka berdua.”
“Benarkah!” Ira tidak percaya Ivar punya cinta yang begitu besar untuk kedunya.
“Aku sangat membutuhkan mereka berdua. Mereka cintaku. Aku yang membutuhkan mereka berdua, bukan mereka yang membutuhkan aku.” Ivar menghembuskan nafasnya yang terasa sesak di dada. Kata-katanya bahkan diulang-ulang karena terbawa emosi.
“Aku percaya kau bisa menciptakan kehidupan yang Nindi dan Hanna harapkan. Tante Ira bisa mendo’akan yang terbaik untuk kehidupan kalian.”
Percakapan singkat namun sangat bermakna bagi Ivar, lewat Ira dia mengenal sosok Aruni yang begitu hangat. Dia menerima Nindi bahkan membesarkannya seperti anak kandungnya tanpa meminta imbalan apapun.
“Hanna, sudah waktunya kita jemput Tante Nindi.” Teriak Ivar memanggil Hanna yang masih asik bermain di playground bersama Lula.
“Dah Lula, terimakasih banyak Tante Ira.” Hanna memberikan pelukan hangat.
Ivar meminta Bagas pulang menggunakan taksi agar bisa menjemput Edel menggunakan mobil lain. Karena Edel pasti sangat membutuhkan Bagas setelah seharian lelah melakukan pekerjaannya yang cukup menguras tenaga.
Beruntung Ivar sudah berhasil mencari tahu kapan Nindi selesai interview di perusahaan kedua. Dirinya bahkan sudah sampai di depan lobby menunggu karyawan yang sedang interview keluar.
Tiba-tiba saja hujan turun sangat lebat. Wanita yang dia tunggu-tunggu juga tidak kunjung keluar dari dalam gedung.
“Pak...Pak...”Teriak Ivar pada seorang satpam yang berjaga di depan pintu masuk.
“Apa karyawan yang sedang interview masih lama selesainya?”
“Wah Pak, sudah selesai 30 menit yang lalu Pak.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak melihat satu orang pun yang keluar dari sini?” Ivar tiba-tiba saja merasa kesal.
“Mungkin keluar dari lobby samping. Lebih dekat dengan jalan utama.” Jelasnya dengan cukup sopan pada Ivar.
Ivar mengacak rambutnya tidak percaya, lagi-lagi dia tidak bisa mengatur kehendak Tuhan. Dia sudah ada di sana cukup lama namun Nindi keluar tanpa sepengetahuannya.
Nindi yang terjebak hujan memutuskan menunggu di halte bersama teman yang baru saja dia temukan saat interview. Hujan begitu lebat dan akan berbahaya jika nekat pulang melawan derasnya guyuran air hujan.
“Mbak Nindi pulang sama siapa?” Tanya Cindy yang sedang menunggu pacarnya menjemputnya.
“Mungkin naik angkutan umum Cin, tapi tunggu hujan reda. Serem kalau hujan-hujan begini.”
“Iya Mbak, pacarku juga lama karena terjebak hujan.” Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan, namun mendengar Nindi sudah menikah membuat Cindy memanggilnya dengan sebutan yang lebih sopan.
Tin...tin....tin....
Klakson mobil Pacar Cindy yang berhasil sampai setelah melawan derasnya hujan. “Mbak aku duluan gak papa?” Nindi mengangguk. Arah rumah yang berbeda membuat Cindy tidak bisa mengajaknya pulang bersama. “Hati-hati ya Mbak. Sampai bertemu jika kita berjodoh bekerja di tempat yang sama ya Mbak!”
“Iya, kalian juga hati-hati yah.” Sunyi setelah Cindy pergi meninggalkanya.
Apa Kak Ivar benar-benar marah padaku? Kenapa rasanya sangat takut jika harus kehilangan orang yang sudah sangat aku cintai. Apa seperti ini rasanya jika kita di abaikan oleh orang kita sayangi?. Rintikan air hujan menemani Nindi yang begitu bingung dengan keadaan dan perasaan Ivar padanya saat ini. Tidak bisa mengabaikannya begitu saja meski dirinya sudah bersusah payah mencoba.
__ADS_1