Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Meja siang ini sudah dipenuhi makanan lezat hasil karya Bi Inah dan Mbak Lastri yang berduel di dapur, keduanya sangat cekatan mengolah setiap bahan makanan menjadi hidangan lezat yang menggiurkan.


Nindi sudah duduk di meja makan di sebelah Edel yang saat ini sedang memangku Jason, hari libur seperti ini menjadi momen yang selalu Ellie gunakan untuk memanjakan setiap anggota keluarganya. Jarang sekali mereka semua bisa berada di meja yang sama di jam makan siang seperti ini. Meski libur, semua anggota keluarga sering punya jadwal padat yang tidak bisa di hindari setiap akhir pekan.


Suasana begitu hangat penuh canda tawa antar keluarga yang saling berbagi pengalaman lucu dan menarik di hari-harinya yang padat. Mulai dari teman kerja, klien perusahaan dan keunikan momen-momen di jalanan yang penuh cerita suka dan duka.


Ellie sudah sedikit melunak, dia sering mendapat ceramah dari semua anggota keluarga agar bersikap lebih ramah pada Nindi. Melihat Ivar yang begitu mencintai Nindi membuat Ellie punya rasa takut Ivar akan meninggalkannya demi Nindi. Begitu juga yang semua orang takutkan jika Ellie masih saja bersikap angkuh pada Nindi. Bukan Nindi yang akan membencinya, dia gadis yang cukup baik dan penyabar. Tapi Putranya bisa mengambil tindakan tegas meski itu Ibu kandungnya.


Mengalah saja, toh Nindi tetap tidak bisa menguasai Ivar sepenuhnya. Dia hanya akan mengikuti semua peraturan yang aku buat di rumah ini.


“Sini Kak, Biar Jason aku yang gendong.” Edel merasa tidak enak.


“Kau kan juga harus makan Nin. Nanti saja, aku bisa gentian dengan Mas Ayman.” Melirik suaminya yang melahap makanan dengan santai.


“Abanngggg….” Panggil Hanna pada Ivar yang sedang menyuapinya sambil tersenyum.


“Paman Han, kenapa kau ikut-ikutan Tante Nindi.” Ivar menggeleng tidak percaya sedang di goda Hanna.


“Hehehehe, aku suka saat dengar Tante Nindi memanggil Paman seperti itu.” Tawa Hanna yang membuat semua orang ikut tertawa.


“Apa yang membuat Hanna suka?” Tanya Ivar penasaran.


“Ehhh….apa yah! Suka saja, apa harus ada alasan?”


“Kita sama Han, Paman juga merasa nyaman. Tapi Hanna tidak boleh memanggil Paman seperti itu!” Ivar mencubit hidung Hanna gemas.


“Hahahaha…Iya…iya Aba….Eh…Paman maksudku. Hahahaha….” Ivar yang tahu Hanna sedang menggodanya hanya tersenyum. Gadis kecilnya sudah mulai dewasa. Tawa jenakanya membuat seisi rumah ikut bersuka cita.


“Hanna ada-ada saja, kalau gitu panggil Paman Mas juga!” Kening Hanna mengernyit berbarengan dengan ekpresi Edek yang tidak kalah heran. “Supaya adil Han, Hahahaha….” Ledek Ayman yang selalu jatuh hati pada setiap ucapan dan lelucon Hanna yang menghiburnya.


“Hanna ini….Buat Omah gemas saja.” Ellie menicum pipi Hanna merasa gemas.


Dia selalu bisa membuat suasana rumah menjadi ramai penuh canda tawa.


Ivar meminta Nindi memanggilnya dengan sebutan Abang, rasanya begitu nyaman saat Ivar mendengarnya, persis seperti apa yang Hanna rasakan sekarang. Setelah baikan keduanya semakin romantis dan mesra. Panggilan ini terinpirasi dari film jadul yang dia tonton saat di markas bersama teman-temannya.


“Kenapa tidak Makan sayang?” Sudah dua hari ini Nindi terlihat tidak nafsu makan.


“Nanti saja, perutku terasa penuh sekarang. Sepertinya aku mau menstruasi.” Tolak Nindi yang hanya menyantap buah pisang. Melihat makanan membuatnya merasa mual dan tidak berselera untuk makan.


“Tidak apa, yang penting tidak kosong perutnya.” Bela Edel yang tahu rasanya jika wanita sedang menstruasi atau akan menstruasi.


Ivar tersenyum namun hatinya merasa sedih, ternyata wanita punya banyak masa sulit dalam hidupnya. Laki-laki harus menghargai setiap jerih payah yang tidak bisa dilakukannya. Wanita begitu luar biasa, mereka melewati setiap penderitaan tanpa mengeluh. Mereka makhluk yang sangat lembut dengan begitu banyak beban hidup yang harus dilalui.

__ADS_1


“Ya sudah, jangan memaksakan kalau memang perutmu mual.” Nindi mengangguk dengan wajahnya yang sedikit pucat.


“Kapan terakhir kau Mens Nin?” Nindi mencoba menghitung dengan jemarinya.


“Sepertinya 3 minggu yang lalu.” Jawab Nindi yang hafal tanggal-tanggal menstruasinya.


“Oh….” Ada tanda Tanya besar yang sebenarnya Nindi paham dengan tatapan mata Edel saat ini.


“Sepertinya tidak Kak, ini sakit seperti biasa aku mau menstruasi.” Edel tertawa melihat Nindi jadi salah tingkah.


“Kau ini, aku tidak bicara apapun loh Nin.” Edel menutup pembiacaraan yang membuat Nindi terlihat tidak nyaman.


“Aku bawa Jason ke kamarku ya Kak. Aku ingin rebahan, punggungku berat sekali ingin di luruskan.”


“Iya istirahat sana, siapa tahu setelah istirahat sakitnya berkurang.” Jawab Edel.


“Mau ku antar?” Tawar Ivar yang ingin menemani Nindi di saat-saat seperti ini.


“Aku hanya ke kamar Abang, tidak pergi jauh.” Tolak Nindi dengan manis. Dirinya meledek Ivar yang sedari tadi senyum-senyum tidak jelas saat Hanna menggodanya.


“Ok Sayang….Hehehehehe” Jawab Hanna mewakili Ivar.


“Mah, lihat mereka semua meledekku.” Ivar mengadu merasa tersudut. Bergelayut manja di tangan Ellie yang ikut terhibur.


“Ihhhh…Paman suka mengadu seperti Gabby.” Ledek Hanna mengingat temannya yang selalu mengadukan apapun pada Mamahnya.


“Sudah...sudah, aku ke atas ya Bang.” Nindi sudah tidak tahan karena perutnya melilit. Sambil menggendong Jason, Nindi berjalan perlahan menaiki anak tangga.


“Sayang, aku buatkan Jus Alpukat yah.” Tawar Ivar merasa khawatir dengan kondisi Nindi.


“Iya Abang, boleh.” Tidak tega jika harus menolak niat baik Ivar, padahal Nindi benar-benar tidak ingin makan saat ini.


“Han, boleh lanjutkan sendiri!”


“Siap Abang…Hehehehe.” Masih saja berlanjut, Hanna senang melihat Ivar begitu terhibur dengan lawakannya merasa semakin bersemangat.


Bel rumah berbunyi, Bi Inah yang sedang sibuk mencuci piring segera berlari membukakan pintu untuk sang tamu.


“Hati-hati Bi, pelan-pelan saja. Nanti jatuh.” Ivar yang sedari kecil di rawat Bi Inah memang sangat perhatian padanya. Dia sudah seperti keluraga baginya.


“Iya Den.”


“Mbak Las, tolong pilihkan Alpukat yang paling matang dan paling bagus.” Ivar menyiapkan peralatan lain sambil menunggu Lastri memilihkan buah untuknya.

__ADS_1


“Tante….” Suara Luna yang baru saja masuk ke rumah menggema. Bahkan Nindi bisa mendengar suaranya dari lantai atas.


“Loh Luna tumben mampir. Ada apa sayang.” Menatap wajah Luna yang memelas.”Ini kaki Luna apa sudah baikkan?” Tanya Ellie merasa khawatir pada gadis yang sudah seperti anaknya sendiri berjalan sedikit pincang.


“Abi Tante…..” Tunjuk Luna pada Abi yang berdiri tidak jauh. “Aku sudah beli-beli banyak sekali makanan. Dia bilang mau traktir tapi dia mengesalkan!”


“Abi, kamu kenapa mengganggunya?” Abi yang merasa tersudut diam saja tidak membela diri. “Kenapa sayang, coba jelaskan pelan-pelan.”


Nindi tersenyum melihat Ellie yang begitu menyayangi Luna, mereka seolah punya tali penghubung yang tidak bisa di rusak oleh apapun atau siapapun meski saat ini dirinyalah yang berdiri di samping Ivar sebagai seorang istri.


“Tante tahu! Abi membuatku sangat malu. Aku sudah menenteng banyak sekali makanan, semua boleh aku beli kata Abi.” Jelasnya menggebu-gebu.


“Iya….terus kenapa Nak?” Ellie dengan sabar mendengarkan curahan hati Luna.


“Semua orang menatapku dan mengejek!” Luna seolah akan menangis. “Abi lupa membawa dompenya Tante…..dia menyebalkan sekali!!!!” Ellie ingin tertawa namun tidak tega melihat wajah Luna yang sudah terlihat sangat sedih.


“Kau ini, kenapa menyusahkan Abiiiiii….. saja pekerjaanmu.” Ivar muncul dan malah memarahinya. “Apa lukanya sudah sembuh?” Kaki Luna terlihat lebih dari sebelumnya. Luna mengangguk, memundurkan tubuhnya yang duduk terlalu dekat dengan Ivar. Luna masih canggung dengan status Ivar saat ini.


“Luna kenapa tidak membayarnya sendiri? Apa ini hari ulang tahun Abi?” Tanya Edel penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak Kak, kartu saktiku di sita Ayah.” Suaranya terdengar memelas.


“Kenapa? Apa kau melanggar peraturan lagi?” Ivar menggeleng heran. “Kau ini anak perempuan, lebih normal sedikit Lun.” Ivar sering mendapati Prabu kesal namun biasanya tidak bertindak sejauh ini. “Apa kesalahnmu fatal?” Luna menggeleng.


Dia tidak menyadari hukumanku karena kesalahannya yang tidak memberikan info pada Ayah. Dia bisa-bisanya marah seperti itu padaku! Bicara dalam hati karena tidak mau Ivar menyalahkan dirinya.


“Hahahaha.....apa kau kesulitan tidak punya kartu sakti?” Tawa Ayman seolah senang Luna tidak bisa bersenang-senang.


“Tentu saja, aku tidak juga di ijinkan mencari pekerjaan. Ayah memang sulit sekali di ajak kerja sama.”


“Tentu saja tidak di ijinkan Nak. Kau ini pewaris kerajaannya. Kau pasti bisa merasakannya.” Bela Edwin yang tahu betul bagaimana perasaan Prabu yang sebenarnya.


“Kau pantas dapat hukuman, jangan lagi mengulangi kesalahan seperti kemarin. Kau bisa membuat kita semua jantungan.”


“Ivar…sudah…sudah. Kalian tidak memberikan Luna waktu untuk bernafas sedikitpun.” Ellie merasa kasihan melihat Ivar dan yang lainnya memberondong Luna dengan banyak pertanyaan.


“Iya Mah, kau sangat mirip dengannya. Jangan-jangan kau memang adik kandungku.” Ellie melotot tidak percaya dengan apa yang Ivar ucapkan. “Apa saat kecil Mamah menyerahkannya pada Paman Prabu?”


“Ivar….sudah Nak, kau ini bicara yang tidak-tidak.”


“Ivar naik yah, minum Jusnya. Habiskan!” Luna hanya mengangguk, dirinya senang Ivar masih memperhatikanya meski dengan kata-kata kasarnya dan sikapnya yang acuh seperti biasa.


“Kalau Nindi ingin istirahat bawa Jason turun ya Var. Kasihan Nindi.” Ivar menjawab dengan acungan jempolnya tanpa menoleh.

__ADS_1


Langkah kakinya perlahan sampai di depan kamar yang kini jadi tempat dirinya dan Nindi menghabiskan waktu bersama di waktu malam. Saling menceritakan apapun yang terjadi hari ini. Menyelami lebih jauh agar hubungan bisa menjadi semakin harmonis penuh dengan kebahagiaan.


Ivar tersenyum sendiri memikirkan sudah begitu banyak momen indah yang mereka lalui. Meski berat, Nindi dan dirinya mampu mengatasi. Kini Ivar ingin menjadi laki-laki yang semakin baik agar bisa menjadi suami yang bisa Nindi banggakan.


__ADS_2