
Sepanjang perjalanan Nindi memejamkan matanya yang tidak mengantuk, menghindari pembicaraan dengan Ivar yang sedang membuatnya terbakar cemburu. Beberapa kali Ivar mencoba memanggil nama Nindi namun tidak ada jawaban. Nindi tetap memejamkan matanya tidak menghiraukan.
Sesampainya di rumah Nindi tidak masuk ke kamar mereka yang ada di lantai dua, dia malah membelokkan dirinya ke kamar Hanna. Ivar hanya bisa menatap punggung Nindi yang sudah masuk ke kamar Hanna tanpa sepatah katapun.
“Hai Nin....”
“Tante...” Hanna memeluk Nindi di susul Jason yang ikut-ikutan.
“Bagaimana pemeriksaannya? Sehat-sehat semuanya?” Nindi mengangguk dengan senyum menghiasi wajahnya. Edel tahu betul Nindi sedang badmood. “Jason di sini sebentar yah, Mommy ambil baju Jason sebentar.” Jason mengangguk sambil tersenyum menggemaskan.
Plakkk....
“Kau apakan Nindiku.” Ivar mengusap punggungnya yang terasa panas.
“Dia diam saja, aku bingung. Apa wanita hamil selalu begitu?” Tanya Ivar penasaran.
“Kalau tidak di pancing mana mungkin marah, kau pasti membuat ulah.” Kesal Edel yang tidak dapat jawaban. “Katakan padaku apa yang kalian lakukan?”
“Aku berani bersumpah Kak, dia marah begitu saja. Aku benar-benar tidak tahu sebabnya. Aku kiranya perutnya skit, tapi tidak katanya. Coba Kak Edel tanyakan pelan-pelan. Ivar benar-benar tidak mengerti harus bagaimana menghadapi Nindi.”
“Kau ini, awas saja kalau kau membuat Nindi kesal lagi. Kaka akan buat perhitungan!.” Teriaknya yang sudah masuk ke kamarnya.
“Ada apa Nak?” Tanya Edwin yang baru saja masuk ke dalam rumah. “Bagaimana pemeriksananya? Cucu Opah sehat?”
“Sehat Pah.” Jawabnya datar.
“Ada masalah apalagi? Coba ceritakan, begini-begini Papah sudah banyak pengalaman.” Ivar menatap tidak percaya, tapi apa salahnya di coba.
“Ceritakan bagaimana Papah menghadapi Mamah saat dia hamil.” Wajah serius. Edwin mengerutkan keningnya. “Maksudku bagaimana menghadapi peubahan sifatnya yang sangat sensitif.”
“Apa Nindi mudah marah?” Ivar mengangguk. “Berarti dia mirip denganmu, Mamah saat hamil Ivar sama seperti Nindi, mudah sekali marah dan cemburu.”
“Cemburu?” Edwin mengangguk. “Ya Tuhan, aku benar-benar tamat kali ini.” Ivar tertawa kecil menyadari sebab kemaran Nindi kali ini. “Apa sangat parah kecemburuannya?” Edwin mengangguk getir mengingat bagaimana dirinya hampir setiap saat harus menghadapi sikap Ellie yang kekanakan.
“Jangan menjawab dan turuti saja apa maunya. Supaya aman dan dia tetap merasa kita perduli Var. Mamah dulu bahkan mengira Papah selingkuh Var.” Ivar mengelus dadanya tidak percaya. Ternyata calon anaknya sangat mirip dengan dirinya.
“Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan? Dia bahkan tidak mau bicara denganku.” Ivar mengusap wajahnya frustasi.
“Belikan dia makanan kesukaannya. Biasanya Mamah tidak akan bisa menolak.” Ivar baru ingat Nindi dan dirinya belum makan siang.
“Akan Ivar coba.” Ivar melangkah dengan jantung berdebar-debar.
__ADS_1
“Halo cantik dan gantengnya Paman.” Mencium Hanna dan Jason bergantian.
“Paman liat....Hanna membuat kerajinan tangan di sekolah.” Hanna memamerkan hasil karyanya yang lumayan bagus.
“Sangat bagus sayang, Hanna pintar sekali.” Ivar menghujani wajah Hanna dengan ciuman.
Nindi dengan wajah malasnya keluar dari kamar mandi. Mendudukan dirinya di samping Jason yang sedang bermain mobil-mobilan tanpa menghiraukan kehadiran Ivar.
“Sayang....” Hanna dan Jason menoleh bersamaan. “Tante Nindi maksudnya. Tante Nindi sayang....makan yuk, kasihan Baby belum makan siang sayang.” Nindi masih menunduk.
“Tante....gak denger yah, di panggil Paman Tante.” Nindi tidak bisa menahan tawanya, Hanna membelokkan wajah Nindi menghadap Ivar. “Tuh....Paman Ivarnya panggil Tante Nindi.”
“Tante makan dulu ya Han, nanti Mommy Edel ke sini lagi tunggu yah, jangan berantem, jagain adeknya.” Hanna mengangguk dan kembali fokus mewarnai gambar di buku miliknya.
Ivar mengecup puncak kepala Hanna sebagai ungkapan rasa terimakasih, gadis kecilnya berhasil membuat Nindi mau makan siang tanpa susah payah membujuknya.
Seperti biasa Nindi menyiapkan makanan untuk Ivar, meski marah Nindi tidak melupakkan tugasnya. Ivar tidak tahu harus bicara apa, dia membisu. Hanya memperhatikan Nindi yang sepertinya tidak menikmati makanannya.
“Sa...sayang, mau makan di luar saja? Makanannya Baby gak suka yah?” Tanya Ivar lembut. Nindi menggeleng.
“Makan ini saja, Baby suka.” Jawabnya dengan datar. “Aku sudah selesai, Kak Ivar kalau sudah selesai bereskan sendiri yah.” Meninggalkan Ivar sendiri di meja makan.
Dia bahkan memanggilku Kaka, kenapa Ivar. Kau sangat bodoh tidak menyadari perasaan Nindi, dia pasti kesal melihatmu begitu perhatian pada Luna tadi. Ahhhh....tapi tidak ada maksud apapun Nin. Kamu satu-satunya di hati Abang. Teriak Ivar dalam hatinya.
“Aku kekenyangan.” Nindi mengusap perutnya yang terasa begah. “Kak, aku tidur sebentar ya Kak.” Edel mengacungkan jempolnya mengiyakan.
Waktu berlalu begitu saja, Hanna dan Jason sudah bersiap-siap akan tidur, Nindi masih enggan kembali ke kamarnya. Dia masih betah berada di kamar Hanna. Ivar yang tidak tahan akhirnya menghampiri Nindi untuk mengajaknya bicara.
“Nindi....mau biacar di sini atau di kamar atas? Abang tidak mau memaksa Nindi, tapi Abang tidak mau Nindi mendiamkan abang terus seperti ini.” Nindi menunduk, Ivar bicara dengan nada cukup tinggi.
Edel membelalakkan matanya, Ivar sepertinya sedang terbawa emosi. Biasa-bisanya dia bicara begitu pada Ibu Hamil yang sedang sensitif. Edel tahu betul bagaimana rasanya.
“Jangan tinggi begitu nada bicaranya Dek, Hanna...Jason...ayo kita minum susu di kamar Mommy.” Edel menarik tangan kedua anaknya.
“Paman....Jangan marahi Tante Nindi yah.” Pinta Hanna sebelum meninggalkan kamar dengan mata yang berkaca-kaca.
“Paman tidak akan marah, Paman hanya mau bicara saja sayang.” Hanna memeluk Ivar dengan lembut. Bagaimanapun Nindi sangat berarti baginya.
Ivar duduk berhadapan dengan Nindi. Menangkup wajah Nindi dengan kedua tangannya. Ivar benar-benar merasa bersalah meninggikan nada bicaranya tadi.
“Maafkan Abang.” Ivar hanya mampu memeluk Nindi dengan erat. “Katakan apa yang harus Abang lakukan agar Nindi mau memaafkan Abang.” Nindi tidak bisa menahan lagi isak tangisnya.
__ADS_1
“Tenang sayang....maafkan Abang yah. Sekarang Nindi harus istirahat. Sudah malam dan Nindi pasti lelah kan?” Nindi mengangguk. Ivar mengusap sisa air mata yang masih menggenang di sudut mata Nindi.
“Tap...tapi....” Nindi ragu mengungkapkan isi hatinya.
“Katakan, semua akan Abang lakukan asal Nindi tidak marah lagi.” Ivar menatap lekat bola mata Nindi yang indah.
“Aku ingin tidur sendiri.” Ragu tapi Nindi mencoba meminta pengertian Ivar. “Aku tidak marah lagi, tapi aku ingin tidur sendiri malam ini.” Menunduk tidak berani menatap mata Ivar.
“Baiklah sayang.....Abang tidur di kamar tamu. Ayo...sekarang Abang antar Nindi istirahat ke kamar kita.” Ivar menggandeng tangan wanita kesayangannya.
“Ivar....” Panggil Edwin yang melihat keduanya keluar dari kamar Hanna. “Jangan lupa buatkan susu, Nindi harus sehat Var.” Ivar mengangguk.
“Ivar antar dulu Nindi ke atas.” Nindi tersenyum merasa bersalah, semua orang repot karena ulanhya hari ini. Tapi Nindi juga tidak bisa mengendalikan perasannya.
Ivar menyiapkan baju tidur sambil menunggu Nindi membersihkan diri di kamar mandi. Ivar sangat perhatian dan sosok laki-laki yang memperlakukan Nindi dengan hangat. Sayup-sayup Ivar mendengar suara tangisan Nindi yang tidak jelas karena suara air mengalir. Ivar sakit mendengarnya, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Ivar bingung bagaimana menghadapinya. Tidak ada ide apapun yang muncul saat ini hanya perasaan bersalah.
Wajah Ivar terlihat lemas, Edel memeluk adik kesayangannya dari belakang, menyenderkan kepalanya pada punggung Ivar yang lebar. Ivar masih sibuk menyiapkan susu coklat untuk Nindi dan tidak menghiraukan Edel.
“Kamu kesulitan?” Ivar tidak merespon, masih mengaduk susu dengan lemas. “Memang ada saatnya kami menyebalkan dan susah ditebak. Kami banyak mau dan tidak bisa mengungkapkanya membuat kalian pusing. Tapi ketahuilah sayang, hati kami sangat lembut. Suasana seperti ini tidak akan lama, jadi Kaka mohon jangan terlalu menjadikannya beban ya sayang. Nikmati saja.”
“Aku tidak pernah keberatan, aku hanya tidak bisa melihat Nindi menangis. Aku seolah tidak berdaya menjaga dirinya.”
“Kau tahu, selama kau tidak ada di rumah ini, Nindi sangat mandiri dan tidak pernah mengeluh. Kami sampai khawatir kalau-kalau Nindi kesulitan seorang diri.” Ivar mendudukan dirinya di meja makan mendengarkan Edel.
“Apa dia baik-baik saja?” Edel mengangguk.
“Sejauh yang kami perhatikan, Nindi baik-baik saja dan bertahan demi kesehatan calon anak kalian dengan sangat baik.” Edel meraih tangan Ivar. “Kaka rasa calon anakmu sedang membalas dendam. Kau nikmati saja bagaimana rasanya ya sayang....” Edel lari ke kamarnya. Edel menggoda Ivar yang sangat serius mendengarkannya.
“Kak!!!....kau seharusnya membantuku, kenapa malah menertawakanku.” Ivar ikut tertawa merasa sedikit terhibur. Ivar segera naik ke kamarnya.
“Sudah selesai sayang, sudah mau tidur saja nih Baby?” Nindi mendudukan tubuhnya yang sudah berbaring. “Minumlah......pelan-pelan.” Ivar melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Aku sudah siapkan baju tidur Abang, selimut dan bantal juga sudah aku siapkan.” Ivar melirik Nindi yang bicara tanpa menatap wajahnya. Tentu saja Nindi tidak benar-benar mengusirnya, dia hanya kesal saja saat ini.
“Abang mau bersih-bersih dulu sebentar.” Nindi mengangguk dan meneruskan meminum susunya.
Nindi menatap Ivar yang keluar dengan rambut basahnya, menelan ludahnya merasa Ivar sangat sexy malam ini.
“Nindi benar-benar tidak mau Abang temani malam ini?” Nindi sedikit tersentak mendengar suara Ivar.
“Ti...Tidak Abang, Nindi ingin tidur sendiri. Maafkan Nindi Abang.” Nindi menenggelamkan wajahnya di balik selimut, tidak tega melihat wajah Ivar yang sangat dia sayangi bersedih.
__ADS_1
“Iya...oke....abang tidur di kamar tamu.” Ivar terdengar bersemangat, biarkan saja Nindi mungkin butuh waktu sendiri saat ini. Ivar mencium kepala Nindi dari balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. “Tidur yang nyenyak ya sayang, pintu kamar tidak Abang kunci. Kalau Nindi rindu, masuk saja ya sayang.” Nindi tersenyum bahagia dari balik selimut.
Laki yang sangat menyayanginya sedang Nindi hukum karena memperlakukan perempuan lain dengan sangat manis, Nindi tidak rela membaginya dengan orang lain. Padahal itu bukan kebiasaan dirinya, sifatnya muncul saat dirinya tengah mengandung buah cintanya.