Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Kesal tapi Suka


__ADS_3

"Kenapa menatapku seperti itu, hmmmm...." Membulatkan matanya gemas pada Nindi.


"Nindi heran kenapa Abang sangat marah, tapi Nindi juga suka Abang sangat sayang Nindi." Memeluk lengan Ivar mesra.


"Tentu saja, kau ini ada-ada saja." Sedikit bangga dengan pujian yang Nindi ucapkan. Dirinya memang laki-laki gentle dalam segala keadaan pikirnya.


"Tapi bagaimana aku mengatakannya. Ehhhmmmm, bagaimana yah." Terlihat berpikir keras. Takut sekali masalah akan semakin rumit dan membuat dirinya sulit bergerak nantinya.


"Apa sih Nin, jangan buat Abang penasaran." Ivar segera parkir saat sampai di rumah makan Padang seperti kemauan Nindi.


"Kita makan dulu saja, Nanti Nindi pikirkan bagaimana agar Abang paham." Ivar hanya menggeleng tidak percaya. Pasti masih ada kaitannya dengan amarahnya yang meledak tadi.


Ivar dan Nindi duduk di meja yang sudah penuh dengan lauk pauk, Ivar tidak paham konsepnya. Mengikuti saja arahan Nindi mengambil beberapa makanan yang menggoda seleranya. Ini kedua kalinya Ivar makan masakan Padang dalam hidupnya.


"Ini benar-benar restoran Padang, dulu aku dan Hanna hanya mampu beli paket serba sepuluh ribu." Kenangnya pada saat dirinya susah dulu.


"Sekarang jangan pikirkan masa lalu yang sedih sayang, Abang akan berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga kita." Tersenyum begitu manis pada Nindi. Ivar memang laki-laki terbaik dalam hidup Nindi setelah Kakaknya.


Nindi bersyukur kehidupan sulitnya hanya sebentar, bagaimana jadinya jika saat ini dirinya dan Hanna tidak bertemu dengan Ivar dan keluarganya. Mungkin rumah kontrakan di gang sempit itu masih setia menjadi tempat Nindi dan Hanna pulang.


Meski kesal Nindi tidak menolak Ivar membawanya makan siang, perutnya mudah sekali kosong padahal makanan yang dia makan saat sarapan lebih banyak sekarang.


"Makan yang banyak ya Nin, setelah itu lanjutkan marah mu tak apa." Ivar meledek Nindi.


"Apa aku sangat jelas terlihat kesal?" Ivar menggeleng sambil memotong-motong makanan Nindi agar lebih mudah. Padahal Nindi bisa memotong daging rendang sendiri tanpa bantuan Ivar.


"Aku malah tidak sadar sama sekali." Ucapnya membuat Nindi tidak bisa menahan senyumnya.


"Abang ini lah, Nindi sungguh kesal." Merajuk tapi memilih menikmati makanannya.


"Makan dulu, nanti lanjutkan lagi ngomelnya." Nindi menurut saja meski hatinya kesal.


Sekarang suasana menjadi lucu, Nindi sudah tidak lagi bisa kesal pada Ivar yang hanya mencoba melindunginya. Meski caranya tidak sesuai dengan jabatan yang dia emban saat ini. Dia harus lebih berwibawa sebagai pemilik perusahaan.


Dari jauh Ivar seperti mengenal suara orang yang sedang asik bercanda gurau di ruangan sebelah. Karena penasaran Ivar mencoba mencari tau. Mengintip takut salah.


"Benar kalian…… sedang apa di sini?" Tanyanya saat melihat Abrar dan Ezra duduk menikmati makanan kesukaan mereka.


“Kami ini sedang merencanakan kejahatan, kau mau bergabung?” Ledek Ezra pada Ivar yang saat ini sudah pensiun dini dari jabatannya sebagai pasukan khusus.


“Tumben kau makan Padang?” Tanya Abrar pada Ivar yang memang selalu menolak jika dirinya ajak makan makanan padang.


“Nindi sedang ingin makan Padang, jadi aku menemani.” Kedua sahabatnya menatap tangan Ivar yang kotor bumbu makanan. “Sekalian saja aku juga makan, masa mau pisah tempat makan.” Ngeles.


“Kau ini lah, bisa saja. Dimana Nindi? Sini saja bergabung dengan kita, makin ramai makin seru kan.” Pinta Abrar.


Akhirnya mereka makan bersama dengan canda tawa, Nindi sangat suka saat Abrar dan Ezra membuat lelucon. Suaminya terlalu kaku dan jarang sekali membuat Nindi tertawa. Keduanya juga menertawakan sikap Ivar yang kenanakan ditempat barunya.

__ADS_1


Ivar yang duduk di mobil tidak lantas melajukan mobilnya. Merasa Nindi ingin menyampaikan isi hatinya yang sedang kesal padanya. Tangannya tidak bisa diam, melihat rambut Nindi yang sedikit menutupi wajah yang selalu ingin Ivar lihat. Menyalipkan di belakang kuping Nindi.


"Ihhhh....." Menurunkan dengan lembut tangan Ivar. "Abang tidak bisa diam." Masih mengalihkan pandangannya. Otaknya sedang mencari alasan posisi dirinya di perusahaan.


"Coba lihat Abang, bicara jika masih ada yang mengganjal dan ingin Nindi bicarakan." Pintanya lembut. Memainkan ujung rambut Nindi yang tergerai.


"Tidak mau, nanti Nindi semakin kesal."


"Lebih baik Nindi utarakan apa mau Nindi sekarang. Toh kalau Nindi diam saja Abang juga tidak bisa menebaknya Nin." Nindi sedikit punya ide nakal.


"Tidak mau, Abang pasti tidak mau dengar. Percuma." Ucapnya pelan. Mencoba merubah mimic wajhanya agar Ivar luluh.


"Kapan Abang tidak dengar permintaan Nindi. Coba katakan dulu, Abang tahu Nindi akan terus begini sampai keinginan Nindi terpenuhi." Hafal sifat istrinya saat merajuk.


"Belum apa-apa sudah punya pikiran jelek. Sudah jangan paksa, Abang tidak akan mau kan kalau Nindi ajak kembali ke kantor." Memunggungi Ivar.


Sesungguhnya Ivar juga mendapat teror dari Tomo yang mencari keberadaanya. Masih banyak tugas yang harus dia selesaikan tapi gengsi jika dirinya yang keras kepala ingin pulang tiba-tiba meminta kembali ke kantor.


"Baiklah, kalau memang ini keinginan Nindi. Apa boleh buat. Abang harus ikuti." Senyum sumringah, tanpa mencari alasan dirinya bisa kembali ke kantor, malu meminta duluan kembali.


Tumben sekali. Batin Nindi. Dia tipe yang tidak suka menarik kembali ucapannya. Tapi Nindi bersyukur, drama yang sudah dia siapkan di kepalanya di tahan. Untuk keadaan genting berikutnya.


Tidak lama Nindi sampai di Lobby, perutnya terasa mulas dan tidak tahan jika harus naik ke ruangannya dulu.


"Abang Nindi tidak tahan."


"Bukan Baby, aku yang tidak tahan." Memegang perutnya.


"Kamu tidak tahan ingin aku Nin." Nindi sontak memukul lengan Ivar yang masih setia menggenggam tangannya. "Tidak tahan apa?" Bingung Ivar.


"Sakit perutku, aku ingin BAB." Tangannya masih di tahan Ivar.


"Aku antar."


"Tidak perlu." Malu sekali rasanya.


"Tidak, jangan menolak. Aku tidak mau kau sendirian."


Nindi yang tidak tahan akhirnya membiarkan saja Ivar mengikuti dirinya. Sulit kalau dia sudah maunya.


"Di sini saja." Ivar mengangguk. Tidak mungkin juga dirinya ikut masuk.


Melihat Ivar bediri di depan toilet, tidak ada satupun karyawan yang masuk, segan. Mereka berputar arah mencari toilet lain. Biasanya toilet sangat ramai karena paling dekat dengan kantin.


"Lega rasanya." Ucap Nindi yang baru saja keluar dengan wajah berkeringat. Ivar menyeka dengan sapu tangannya.


"Untung Abang temani, sepi sekali tidak ada satupun orang yang ke toilet." Nindi hanya menggeleng. "Bagaimana kalau Nindi kenapa-kenapa di dalam." Cemasnya.

__ADS_1


Sadarlah Abang, semua orang menghindarimu, siapa yang mau masuk dan melewatinya yang berdiri di depan pintu seperti satpam.


"Nindi ingin mengucapkan sesuatu?" Hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Bisa berantakan dunia persilatan. Ucapkan dalam hati saja Nin.


Dasar Haryanto apes, dia sedang menunggu lift dan mau tidak mau harus melihat Ivar dan Nindi.


Loh....loh....loh, kok gandengan. Siapa Nindi ini, adeknya? Setahuku dia tidak punya adik perempuan, hanya Kakak perempuan. Apa dia....Haryanto semakin frustasi.


"Siang Pak Ivar."Ivar melengos. Masih kesal mengingat perlakuan Haryanto pada wanita kesayangannya.


"Siang Pak, Bapak baru selesai makan siang yah." Nindi yang menjawab merasa tidak enak hati Ivar diam saja. Haryanto terlihat berkeringat.


"Iya Nin." Peluh berjatuhan di wajahnya.


Apa ini akhir dari karirku? Aku membangunnya dengan susah payah. Siapa kau Nin, kenapa banyak yang aku tidak tahu? Padahal hanya 2 hari pergi ke proyek. Teriaknya dalam hati.


"Pak, Bapak tidak naik?" Belum juga Haryanto menjawab, Ivar sudah memencet pintu Lift agar tertutup.


"Jangan pedulikan dia." Wajahnya kesal.


Pintu Lift tertutup begitu saja. "Abang inilah, mana boleh bersikap seperti itu. Kan kasihan."


"Daripada Abang mengusirnya! Masih bagus Abang hanya marah."


"Iya...iya, sudah Abang. Nindi minta maaf." Ivar memeluk Nindi erat.


"Tidak ada yang boleh melukai Nindi, Abang saja sesayang ini. Bagaimana bisa melihat langsung dengan mata kepala Abang dan Abang tidak marah." Merajuk panjang.


Pintu lift terbuka, tampak pemandangan indah di mata Mariska dan Cindy yang berdiri di depan pintu lift hendak pergi ke kantin ingin mencari udara segar di jam istirahatnya masih ada sisa beberapa menit lagi.


"Siang Pak." Sapa Mariska yang masih melihat Ivar enggan melepas pelukannya.


Tangan Nindi berusaha keras melepaskan pelukan Ivar, Nindi tidak tahu saja Ivar sedang mengerjainya.


"Di ruangan ada siapa?" Tanya Nindi setelah berhasil lepas dari Ivar. Cindy masih berdiri menahan pintu lift.


"Hanya ada Ken, yang lain tidak tahu ada dimana." Mariska mengedipkan matanya nakal.


Nindi hanya tersipu malu melihat tingkah konyol sahabatnya.


Hanya ada Ken, tidak bisa di biarkan mereka hanya berdua. Ken bisa mencuri kesempatan dekat-dekat dengan Nindi. Tidak bisa.


“Abang….tidak kembali ke ruanganmu? Aku sudah sampai di depan ruanganku.” Masih heran apa yang Ivar tunggu.


“Abang tidak ada kerjaan, mau menemani Nindi dulu sebentar.” Tidak mau berdebat, memilih membiarkan Ivar melakukan appaun yang dia inginkan.


Melarangnya padahal dia pemilik perusahaan sama saja seperti Nindi sedang menggali kubur, Ivar suka menakutkan jika sudah melarang dirinya tidak melakukan ini dan itu. Nindi tidak mau, dia mau bebas seperti sekarang.

__ADS_1


__ADS_2