
Mata Nindi tidak bisa terpejam seperti permintaan Ivar, dirinya sibuk memperhatikan gadis kecil yang terus menangis tanpa henti. Ivar berulang kali mencoba membujuk Nindi namun tidak berhasil membuatnya mau mendengarkan permintaan Ivar.
“Abang mohon jangan ikut campur sayang.” Pintanya memelas.
“Apa abang akan diam saja? Kasihan dia terus menangis, mungkin Ibunya belum berpengalaman Bang. Lihat dia sangat kaku.” Ivar mengintip wanita yang terlihat masih sangat muda disana.
“Tapi apa tidak sebaiknya Nindi diam saja? Bukan urusan kita juga sayang.”
“Aku mohon Bang, hanya mencoba menenangkan saja Bang. Nindi juga tidak yakin akan berhasil atau tidak.” Ivar menghebuskan nafasnya dengan kasar, upayanya sia-sia saja.
“Jangan lebih dari 10 menit, jika tidak berhasil menyerah saja.” Nindi bangkit dari duduknya penuh semangat. Ivar kembali memejamkan matanya karena begitu mengantuk.
Jangan tanya dimana Hanna, dia sudah sejak tadi terbuai di alam mimpi. Dia kelelahan setelah semalaman memilih dan memilah kebutuhan yang akan dia bawa jalan-jalan. Ivar merengkuh tubuh Hanna kepelukannya, membiarkan Nindi yang ingin membantu sesama umat manusia yang sedang kesulitan.
“Permisi.....”Ucapnya pada wanita muda yang duduk membelakangi Nindi. Tatapan matanya sangat menakutkan. “Apa boleh saya menggendongnya sebentar?” Melengos tanpa jawaban.
“Mbak....gak ada salahnya dibantu Mbak.” Suara penumpang lain yang juga geram.
“Iya.....kita juga butuh istirahat Mbak. Siapa tahu anaknya mau berhenti nangisnya Mbak.” Yang lain ikut menimpali.
“Sayang...” Suara Ivar yang di balas tatapan tajam mata istrinya.
“Boleh ya Mbak....sepertinya dia mau sama saya.” Nindi memperhatikan tangan perempuan yang terus menerus mencubit paha gadis kecil yang ada di pangkuannya. Nindi semakin tidak tega.
“Iya....” Menyerahkan pada Nindi dengan terpaksa.
“Cup....cup....cup.....sayang.....iya....sayang...” Nindi menimang penuh kasih.
Menyingkap dengan hati-hati rok yang menutupi pahanya yang sangat putih, Nindi kaget karena banyak bekas kebiruan di sekitar pahanya.
Sekitar lima menit dalam gendongan Nindi, gadis kecil berhasil tertidur dengan nyaman. Masih ada sisa sesenggukan meski matanya kini terpejam.
“Kembalikan.....” Suara wanita yang sudah berdiri di belakang Nindi.
“Dia baru tertidur, sebentar lagi ya Mbak. Supaya dia tidak terbangun.” Maksudnya baik.
“Aku bilang kembalikan!!!” Matanya menyala seolah Nindi melakukan kejahatan pada anaknya.
Baru juga menggerakan tangannya sedikit, gadis kecil kembali menangis seolah tidak mau dikembalikan pada Ibunya.
“Aku mohon Mbak, sebentar lagi. Sampai dia tenang, kasihan Mbak.” Pinta Nindi.
“Mbak kenapa sih...... dibantu malah marah-marah!” Wanita yang kesal ikut membela Nindi. Karena tidak mau di perhatikan banyak orang, perempuan itu akhirnya kembali duduk.
Terdengar keributan di gerbong depan, Nindi memperhatikan dengan seksama namun yang terlihat hanya beberapa petugas polisi yang sedang berjalan menyusuri gerbong.
“Duduk....” Nindi melirik pinggangnya yang terasa tertusuk benda tajam.
“Jangan berteriak atau aku akan menusuk perutmu.” Kaki Nindi lemas tidak bertenaga. Dengan segera Nindi duduk mengikuti perintah wanita yang ternyata sangat mengerikan seperti dugaan Nindi.
__ADS_1
“Kenapa kau menodongkan senjata padaku?” Tanya Nindi bingung.
“Jangan banyak tanya, diam saja.” Nindi menahan airmatanya yang menganak sungai di pelupuk matanya. “Jangan menangis.....diam ku bilang.” Ketakutan.
“Kau menyakitiku.....” Nindi memekik karena benda tajam terasa menusuk pingganya.
Ivar yang mendengar suara Nindi segera berjalan menghampiri meski matanya baru saja terbuka. “Nin....” Ivar melotot melihat Nindi menggeleng ke arahnya. Kini air mata lolos dengan deras.
Ivar melotot ke arah wanita yang menodongkan senjata tajam pada Nindi, mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan agar telihat tenang. Ivar harus berhati-hati. Ivar mencoba mempelajari lawannya, dia trlihat amatir dan gegabah, salah-salah dia bisa melukai Nindi dengan pisau yang ada di tangannya.
Tidak lama polisi dari gerbong depan terlihat memasuki gerbong kereta yang Nindi naiki. Ivar meminta mereka mundur setelah memperlihatkan lencana miliknya. Ivar melihat ada ketakutan di mata wanita yang sedang menyandera Nindi. Ivar tidak mau polisi lain ikut campur dan membuatnya sulit mengambil langkah.
Melihat lencana yang Ivar tunjukkan, Polisi segera paham dan segera melakukan evakuasi perlahan agar tidak menyebabkan keributan. Tidak lama gerbong aman dan hanya menyisakan Nindi yang masih menggendong gadis kecil, wanita yang ternyata penculik dan Ivar.
“Apa yang kau inginkan?” Suara parau Ivar.
“Biarkan aku turun dengan selamat dari kereta ini di stasiun berikutnya.” Pintanya dengan suara gemetar melihat siapa Ivar, bahkan Polisi saja mematuhi perintahnya.
“Baiklah, sekarang turunkan senjatamu dari pinggang Istri saya.” Menatap Ivar tajam dan menarik Nindi lebih dekat padanya. “Tolong jangan gegabah Mbak....kau bisa menyakiti istri saya!.” Ivar kesal melihat Nindi ditarik dengan kasar.
“Aku akan melepaskannya setelah aku turun dengan aman.” Pintanya lagi yang tahu posisinya tidak baik-baik saja saat ini.
“Hyacckkkk......” Teriak Ivar yang membuat wanita itu mundur. “Aku masih berbaik hati, aku bilang lepaskan. Aku akan pastikan mereka tidak menyentuhmu sedikitpun. Sekarang lepaskan pisaunya.” Pinta Ivar dengan lembut namun penuh penekanan.
Wanita yang ketakutan hanya menggeleng dan enggan mengikuti perintah Ivar. Nindi semakin ketakutan karena mengingat kandungannya yang dalam bahaya.
“Tenang sayang, jangan menangis.” Ivar tidak kuasa melihat Nindi berderai air mata. Dia pasti sangat ketakutan. “Nindi lihat Abang!” Nindi menatap wajah suaminya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. “Tarik nafas sayang, dan percaya pada Abang. Semuanya akan baik-baik saja.” Nindi mengangguk dan mencoba mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan.
“Jangan macam-macam atau istri dan anakmu akan mati bersamaku.” Mendengarnya Nindi dan Ivar sangat khawatir ancamannya tidak main-main.
“Pergi dari sini.” Perlahan wanita itu membawa Nindi berjalan menuju pintu keluar, karena memang sebentar lagi akan sampai pemberhentian stasiun berikutnya.
Ivar dengan matanya berusaha memberikan kode pergerakan yang harus Nindi lakukan. Nindi menggeleng merasa tidak yakin dirinya mampu bergerak dengan cepat. Ivar tersenyum, dia berusaha memberikan kekuatan pada Nindi. Ivar menghitung dengan jari-jarinya tanpa sepengetahuan wanita yang sibuk menyeret Nindi menuju pintu keluar.
Suara yang menandakan kereta akan segera berhenti mulai terdengar bersautan. Kereta berhenti Ivar sangat takut rencananya tidak berjalan dengan lancar. Keselamatan Nindi jadi taruhannya.
Brukkkkkk.......
Wanita dengan tubuh kurus berhasil Ivar dorong keluar dari gerbong saat pintu terbuka setelah Nindi berjongkok mengikuti instruksi Ivar. Tubuhnya terkulai di lantai karena benturan yang cukup keras saat Ivar mendorongnya dengan sangat kuat.
Ivar meraih tubuh Nindi dalam pelukannya, Nindi menangis sejadi jadinya dalam pelukkan Ivar. Dirinya sangat lega tidak terluka sedikitpun dan kini bisa kembali pada Ivar.
Suara tangis Nindi bersautan dengan suara tangis gadis kecil yang terbangun karena suara tangis Nindi. Dia pasti sangat terkejut. “Maaf sayang....kau pasti sangat ketakutan ya Nak.” Hiburnya pada gadis kecil yang ternyata korban penculikan.
Ivar mengambil alih anak kecil yang masih berada di gendongan Nindi. Mmebawanya turun menemui Polisi yang sedang menjalankan tugasnya meringkus wanita jahat penculik anak kecil.
“Jangan menempel pada istriku, gara-gara kau dia dalam bahaya.” Ocehnya pada anak bayi yang tidak akan bisa menjawab, dia malah tersenyum seolah sedang berterimakasih.
“Abang....dia tersenyum.” Ucap Nindi heran. “Kamu sayang sama Om ya Nak. Om nya baik ya Nak.” Dia semakin tertawa menggemaskan.
__ADS_1
“Jangan tersenyum seperti itu! Aku tidak mempan dengan rayuan.” Kesalnya yang padahal senang melihat Nindi berhasil selamat dan berhasil menyelamatkan anak yang tidak berdosa.
“Sini biar Nindi gendong Bang, aku tidak apa. Dia akan segera bertemu orang tuanya.” Ivar menuntun Nindi duduk di kursi tunggu di ruangan kepala keamanan.
“Siapa yang bertanggung jawa menjaga keamanan?” Seorang petugas yang berdiri di depan Ivar menundukkan kepalanya.
“Kau tidak memeriksa isi tas semua penumpang? Kau membiarkan wanita gila naik kereta dan hampir saja mencelakai istriku!” Teriaknya yang membuat Nindi merasa bersalah.
“Maaf Komandan!” Suara lantang mengakui kesalahannya.
Plakkkkk.....
Ivar memukul pipinya cukup keras. Hal seperti ini sudah lumrah terjadi dikalangan mereka, namun tidak dengan Nindi. Dia sangat menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpanya hari ini. Andai saja dia tidak berkeras kepala meminta Ivar membawanya naik kereta api, pasti semua tidak akan terjadi.
“Abang....” Lirih namun masih bisa di dengar oleh Ivar.
“Kalian selamat karena aku sibuk, setelah ini kerja dengan benar!”
“Siap Komandan.” Ivar mendekati Nindi duduk.
Ivar meninggalkan ruangan setelah menyerahkan gadis bayi pada salah seorang petugas keamanan yang bertanggung jawab atas kasus penculikan yang dia tangani.
Setelah laporan panjang lebar selesai dan Ivar melampiaskan kemarahannya pada semua petugas yang dia anggap tidak becus melaksanakan pekerjaannya, kini Nindi dan Ivar kembali ke gerbong kereta yang sudah ada Hanna yang menunggunya dengan setia.
“Apa yang terjadi?” Tanya Hanna bingung. Dirinya saat tidur di pindahkan begitu saja ke gerbong depan dan melihat dari kejauhan saat Ivar dan Nindi melawan seorang wanita.
“Tidak ada sayang, Hanna mau makan?” Tanya Nindi mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ahhh....selalu saja tidak boleh tahu urusan orang dewasa.” Nindi menatap punggung Hanna yang kini menatap keluar jendela. “Hanna masih kenyang Tante, nanti saja.”
“Baiklah.”
“Apa benar wanita tadi adalah penculik? Apa dia melukai tangan Paman?” Tanyanya yang melihat tangan Ivar tergores.
“Abang....tangan Abang terluka.” Nindi meraih tangan Ivar.
“Lukanya tidak sakit, nanti juga sembuh Nin.” Ivar mencium Hanna yang terlihat mengkhawatirkannya.
“Sini aku obati.....” Menarik tangan Ivar ke pangkuannya. “Maafkan aku ya Bang. Gara-gara bersikeras ingin naik kereta kita jadi mengalami hal buruk.”
“Hmmmmm....” Gumam Ivar merasa senang akhirnya Nindi mengakui keegoisannya tidak baik. “Jangan di ulangi.”
“Aku janji akan mendengarkan semua perintah Abang mulai saat ini.” Mengusap air matanya dengan kasar.
“Kau menangis?” Ivar mengangkat dagu Nindi menatap matanya. “Nindi inilah, paling tahu Abang tidak bisa melihat Nindi bersedih. Sudah...sudah....Abang tidak menyalahkan Nindi. Wanita itu saja yang sudah tidak waras.” Memeluk Nindi agar tidak berlanjut drama kesedihannya.
“Bisakah kaliah jangan bermesraan di depan umum.” Tegurnya yang saat ini merasa risih dengan kedua orang di sebelahnya.
“Baik Nona Hanna Gayatri.” Jawab Ivar padahal masih memeluk Nindi dengan erat.
__ADS_1
Hanna hanya menggeleng enggan memperhatikan keduanya yang malah semakin lengket.