Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Aku Bisa


__ADS_3

Rumah sudah kembali sepi, teman-teman Nindi sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Sebelum insiden Nindi marah karena Ivar makan makanan yang di siapkan Bi Inah. Bukan dirinya, Nindi meradang. Ivar bahkan bingung dengan sikap Nindi yang begitu diluar nalar.


Marah nya dengan alasan yang tidak masuk akal membuat Ivar justru merasa khawatir, takut Nindi merasa tertekan namun tidak bisa mengungkapkan perasan yang sebenarnya.


Ivar mengenal Nindi adalah wanita yang lembut, dia jarang sekali marah dan menunjukkan kesalnya di depan dirinya. Ivar mengenal betul karakter wanita yang sudah menjadi tambatan hatinya.


Marah seperti ini bukanlah kebiasaan Nindi, dia cenderung selalu bersikap lemah lembut dan tidak pernah mempermasalahkan hal sepele menjadi pertengkaran seperti saat ini.


Sudah cukup lama Ivar menatap punggung Nindi yang ada di hadapannya. Dia menolak bicara dan membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Menolak menceritakan isi hatinya pada Ivar yang sejak tadi menunggu nya bicara dengan sabar.


“Susah bisa bicara sayang? Abang tidak akan bisa tidur jika Nindi masih menaruh marah pada Abang.” Ucap Ivar yang bicara dengan punggung Nindi. Dia tidur membelakangi Ivar. Dia tengah merajuk atas sikap Ivar yang dirinya anggap tidak menghargai istrinya.


“Tidur saja, Nindi sedang malas bicara Bang.” Jawabnya lirih. Ivar mendekat, memeluk Nindi dan membelai surai Nindi dengan lembut. Akhirnya bersuara setelah cukup menyiksa Ivar dengan diam nya. “Jangan merayu, aku sedang kesal.”


“Marah sayang, omeli Abang sesukamu sayang. Jangan diami Abang, sakit sekali dada ku Nin.” Ivar menciumi tengkuk Nindi yang harum sekali di penciumannya.


"Aku tidak marah, sekarang cepat tidur." Pinta Nindi lagi, dia merasa kasihan karena Ivar pasti lelah, dia butuh istirahat.


"Belum bisa, Abang masih merasa kan kemarahan Nindi. Abang tidak akan tenang sayang. Katakan apa salah Abang? Kenapa marah sekali Nindi pada Abang? Katakan kesalahan Abang sayang."


“Abang bisa kan, jangan minta siapapun melayanimu. Aku bisa Bang, aku bisa mengurus kalian semua. Aku bisa kok siapkan makanan kalian dengan tangan ku sendiri.” Suaranya sedikit bergetar.


“Ya Tuhan sayang, Bi Inah cuma ingin pekerjaan mu ringan, dia hanya mau bantu kamu sayang. Dia menawariku makan karena tadi Mommy kan sibuk dengan teman-temannya di belakang. Kenapa kesal sekali sayang? Bi Inah kan sudah lama sekali ikut dengan keluarga kita Mom.” Ivar mencoba menghapus kesal yang tidak berdasar dalam diri Nindi.


Ihhhh.....Abang kenapa sih panggil aku Mommy...aku kan jadi salah tingkah ini dengarnya. Mana manis sekali lagi suaranya. Gak aman ini jantungku.

__ADS_1


“Tetap saja, Abang bisa menunggu ku kalau merasa tidak mau mengganggu aku Bang. Kenapa harus Bi Inah yang siapkan! Aku bisa! Aku tidak mau kalian diperhatikan orang lain, aku tidak mau kalian terlalu dekat dengan orang lain.” Masih dengan pendiriannya yang tidak berdasar.


“Lain kali Abang akan tunggu kamu sayang, Abang akan ikuti maunya cintaku." Kali ini Ivar sudah melihat senyum di wajah cantik Nindi yang mengangguk padanya lewat cermin. "Apa sudah hilang kesalnya? Sudah bisa kah Abang melihat wajah cantik istriku?” Nindi berbalik, matanya mengerjap beberapa kali membuat Ivar gemas melihatnya.


“Maaf ya Bang, aku harap kalian mengerti. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang kalian andalkan di rumah ini. Aku mau jadi satu-satunya, jangan ada lagi makan tanpa aku yang siapkan ya Bang.” Ivar mengangguk, dia mengerti sekali perubahan sikap Nindi yang begitu posesif.


Dia hanya ingin selalu melindungi orang-orang yang di sayanginya. Kehilangan beberapa kali membuatnya trauma, membuat dirinya tidak percaya dengan orang lain meski mereka sudah sangat dekat dengan keluarganya. Jangan salahkan Nindi atas khawatirnya yang berlebihan, dia menerima rasa sakit yang sulit sekali disembuhkan.


Nindi sudah terlelap di dalam pelukkan Ivar, nyaman sekali wajah kesayangannya yang masih meninggalkan khawatir di diri Ivar. Dia butuh bicara dengan orang lain. Ivar meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Ivar : Mas....Ivar ingin bicara sebentar bisa?


Pesan Ivar pada Ayman yang masih duduk di ruang kerjanya. Ayman juga kebetulan masih belum tidur.


Ayman : Mas di ruang kerja, mau bicara dimana?


Ivar melepaskan pelukkannya perlahan, tidak mau menganggu Nindi yang sedang menikmati waktu istirahatnya.


Tidak lama pintu ruang kerja Ayman terbuka, nampak Ivar dengan wajah yang sedikit sayu masuk dengan senyum yang di paksakan. Wajahnya kusut sekali, dia pasti sedang mencari teman untuk berbagi cerita. Biasanya Edel yang selalu ada untuk Ivar di saat-saat seperti ini.


“Kenapa Var?” Ayman menghampiri Ivar yang sudah duduk di sofa ruang kerja Ayman. “Mau bicara apa malam-malam begini? Nindi sudah tidur?” Ivar mengangguk. Matanya nampak bingung. "Bicaralah, jangan sungkan."


“Nindi marah sekali aku makan tanpa ijinya tadi." Ayman tersenyum, dia melihat sendiri bagaimana Nindi menumpahkan makanan ke dalam tong sampah. "Aku takut sekali melihat sikap Nindi yang tidak biasa itu Mas. Harus bagaimana aku ini?" Tanya Ivar yang tengah merasa bingung.


"Aku juga sempat heran, tumben sekali marah padahal kecil seperti itu."

__ADS_1


"Apa dia baik-baik saja Mas? Bingung sekali aku ini." Ivar menunduk, tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku sudah tanyakan pada Dokter yang merawat Nindi, beliau bilang sepertinya Nindi tengah mengalami Baby blues. Dia butuh perhatian lebih dari kita Var."


"Apa aku sebaiknya temani dia dulu Mas? Takut sekali aku ini Mas, Nindi paling pandai menyembunyikan perasannya." Ivar terlihat menghela nafasnya cukup panjang.


"Kita hanya perlu bersikap manis, ikuti semua maunya dan banyak bertanya pada Nindi, minta pendapatnya. Kita harus menjadi laki-laki manis agar mood nya tetap terjaga Var. Selama dia merasa di perhatikan, Nindi akan baik-baik saja. Akan hilang dengan sendirinya.'" Ayman pernah ada di posisi Ivar.


"Apa semua Ibu seperti itu Mas? Apa tidak papa tidak mengobatinya? Apa bisa cari solusi lain selain perhatian saja Mas? Aku tidak mau salah mengambil sikap, aku tidak mau mengorbankan Nindi Mas."


Ayman menepuk punggung tangan Ivar, adik nya tengah gundah, dia benar-benar dilanda kebingungan. Wanita yang biasanya bersikap lembut padanya saat ini menjadi wanita yang mudah sekali marah.


Ivar hanya tidak mau Nindi menanggung sakitnya sendirian. Tidak mau ada perasaan yang disembunyikan yang akan membuatnya semakin terpuruk.


"Percaya pada Mas Dek, kita kembalikan Nindi kita yang dulu sama-sama, jangan berkecil hati. Dia benar-benar hanya butuh diperhatikan dengan baik, tidak ada hal lain yang bisa menyembuhkan lukanya saat ini." Ivar cukup lega mendengar nasehat dari Kakak laki-laki nya.


"Mas kenapa belum tidur?" Ayman berdiri, senyumnya nampak begitu penuh semangat, meraih map coklat yang ada di atas meja kerjanya.


"Hasil pemeriksaan Hanna, dia sudah ok sekarang. Sudah tidak lagi takut dengan suara keras." Ivar tersenyum bangga.


"Memang anak perempuan kita hebat Mas, dia cepat sekali pulih dari traumanya." Ayman mengangguk setuju.


"Mas bangga sekali dengan Hanna, dia bisa melawan rasa sakitnya begitu hebat." Keduanya merasa bangga pada Hanna.


"Terimaksih banyak sudah dampingi Hanna selama ini Mas, aku sangat butuh bantuan Mas menjaga keluarga kita."

__ADS_1


"Mas yang berterimaksih karena kau sudah bawa Nindi dan Hanna, mereka berdua membuat kita bisa bertahan sejauh ini Var." Saling menatap sendu.


__ADS_2