Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Mereka Masa Depanku


__ADS_3

Hanna dengan setia memijat kaki Nindi yang sudah dua hari ini terlihat sangat lesu. Hanna dengan ceria menceritakan kegiatannya di sekolah. Kadang Nindi menanggapi dengan senyuman, namun kadang juga Nindi hanya melihat Hanna dengan pandangan mata kosong yang membuat Hanna juga merasa sedih.


Meski tidak ada tanggapan, Hanna tetap melanjutkan ceritanya agar Nindi terhibur. Menurut Paman Ayman, Tante Nindi pasti akan tertawa jika Hanna terus bicara. Hanna yang seperti burung Beo mendesah, ternyata tidak mudah menghibur orang dewasa. Hanna menyerah kali ini. Butuh energi yang besar menghadapi Tante Nindi.


“Kenapa wajahmu seperti itu Han?” Tanya Edel yang melihat Hanna turun membawa gelas bekas Jus ke dapur.


“Apa Tante Nindi bisa sembuh?” Mata Edel membulat seketika. “Maksudku, apa Tante Nindi punya kesedihan yang besar? Kenapa dia tidak mendengarkan aku bicara? Dia hanya tersenyum, melamun, dan melamun tidak ada habisnya.” Edel mengelus dadanya. Takut sekali jika Hanna tahu Nindi sedang depresi.


“Biasanya itu hormon Han, kan Tante Nindi baruuuuu sekali hamil Han. Jadi sepertinya perasaannya belum stabil.” Aduh kenapa aku pakai bahasa yang sulit dimengerti.


“Apa itu hormon? Apa itu seperti virus? Apa berbahaya!” Hanna seolah melotot membuat Edel kebingungan. Edel menggeleng. Ayman yang memperhatikan dari jauh tersenyum saat melihat reaksi Hanna dengan penjelasan Edel.


“Han, kenapa tidak makan dulu. Setelah itu Hanna bisa tanyakan semua rasa penasaran Hanna pada Paman Ayman.” Tunjuk Edel melemparkan bola yang memanas. Hanna menggeleng tidak percaya.


“Baiklah, aku terlalu banyak bicara. Sekarang aku merasa sangat lapar.” Hanna duduk di kursi karena Edel sudah menyiapkan semuanya di meja makan.


“Mas, ayo makan. Hanna juga mau makan sekarang.” Ayman menghampiri Hanna dan Edel sambil menggendong Jason. “Aku ajak Ayah dan Mamah makan sebentar.” Edel bergegas menyusul kedua orang tuanya yang sedang bersantai di teras rumah.


Edel mempercepat langkahnya saat melihat Ellie menangis di pelukkan Edwin. Tidak ada orang tua yang baik-baik saja saat anaknya jauh dari jangkauannya.


“Hey...kenapa sedih-sedih seperti ini!” Edel memeluk erat kedua orang hebat yang sangat dia sayangi. “Edel tidak pernah membayangkan bagaimana perasaan Edel jika ada di posisi Mamah. Tapi jangan terus menangis, aku sangat sedih melihat kalian menderita.”


“Kau ini paling pintar memutar kata. Edel benar, sudah cukup air mata kita. Rumah kita sedang mendapat anugerah yang sangat besar. Kita harus berbahagia, kita tidak boleh lemah dan harus yakin, Ivar pasti kecewa jika kita tidak percaya padanya.”


“Papah juga sedih kan, jangan menahannya Pah. Tidak perlu terlihat kuat di hadapan Edel. Tapi Edel mohon jangan berlarut. Kita kuat sama-sama yah! Kita hadapin semua sama-sama.” Edwin tersenyum Edel sekarang sudah mampu membaca hatinya.


Anak perempuan memang lebih peka terhadap situasi. Edel seperti malaikat bagi Edwin, dia mampu meredam emosi dalam dirinya. Edel seperti obat yang harus terus dia minum agar tidak merasakan sakit. Putri cantik yang selalu menjadi semangat hidup Edwin terlepas dia sudah menikah, Edel tetap putri kecil baginya.


“Jangan menatapnya seperti itu, kau bisa jatuh cinta padanya.” Ledek Ellie yang melihat Edwin menatap putrinya dengan begitu emosional.


“Aku sudah berikan semua cintaku padanya. Tidak lagi tersisa.” Obrolan yang membuat Edel terharu, hampir saja menangis namun Edel menahannya.


“Sudah, kenapa kalian malah membuatku malu. Sekarang cepat masuk karena Hanna dan Jason sudah menunggu Omah dan Opahnya makan siang.” Edel menarik tangan kedua orangtuanya.


Pemandangan yang membuat jantung Edel kembali berdebar. Suaminya dengan telaten mengurus Hanna dan Jason makan siang. Tangannya sibuk menyuapi dua malaikat kecil yang kini menjadi masa depan mereka. Rasanya tidak pantas lagi mengeluh, terlalu banyak kebahagiaan yang Tuhan hadirkan.


“Bagaiman dengan Nindi? Apa dia masih tidak mau turun?” Edel menggeleng, Nindi masih sangat terpukul. “Nanti biar Mamah yang naik membawakan makanan. Sekarang kita semua makan dulu yah.” Ellie tidak mau membuat suasana hangat menjadi penuh kesedihan. Ada Hanna, gadis kecil yang sudah mulai paham dan ingin selalu tahu urusan orang dewasa karena penasaran.


Ellie bergegas makan, dia tidak tahan dengan perasaan khawatirnya memikirkan Nindi yang bersedih seorang diri. “Mamah naik yah, sepertinya Nindi juga lapar.”


“Omah, Hanna ikut.” Ellie bingung, takut jika Nindi meluapkan emosinya dan membuat Hanna khawatir.

__ADS_1


“Han, bukannya tadi sudah janji mau ikut Paman beli ice cream!” Hanna menepuk jidatnya. “Janji harus di tepati loh Han.”


“Iya benar, Hanna lupa. Hehehehe.......Omah, Hanna tidak jadi ikut.” Hanna fokus lagi pada makanan yang masih mengisi piringnya.


Syukurlah Ayman membaca suasana, sebaiknya saat-saat seperti ini Hanna tidak terlalu dekat dengan Nini. Ada atmosfir yang bisa membuat Hanna trauma karena Nindi begitu terguncang. Semua orang harus aman dan merasa dilindungi. Hanna pasti punya trauma besar kehilangan orang-orang yang dia sayangi.


Baru saja Ayman akan melangkah pergi, terlihat Abrar dan Ezra memasuki halaman rumah dengan mobilnya yang berwarna biru. Senyum merekah menyapa sang pemilik rumah.


“Apa kabar Mas.” Sapa Abrar mewakili.


“Kabar baik, kalian tumben sekali mampir. Apa ada berita baik kali ini?” Abrar tersenyum. Ezra sudah sibuk berbincang dengan Hanna yang langsung memeluknya saat melihat Ezra.


“Aku harus bicara dengan Nindi, aku tidak tahu harus menyebut ini kabar bahagia atau kabar buruk bagi Nindi.” Seketika mata Ayman begitu tajam. Dahinya berkerut memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


“Apa maksudmu Brar, apa ada hubungannya dengan Ivar?” Abrar menggeleng.


“Syukurlah, selama tidak ada kabar buruk datang dari Ivar aku lega. Tapi sepertinya Nindi tidak dalam kondisi yang baik.” Ayman mengajak Abrar duduk di kursi untuk melanjutkan perbincangan, mumpung Hanna juga sedang asik bercengkerama dengan Ezra.


“Apa Nindi terpukul atas keberangkatan Ivar?” Abrar merasa khawatir.


“Nindi hamil.” Ucapan Ayman sontak membuat Abrar tersenyum.


“Nindi sangat bahagia sekaligus sedih, mungkin bisa jadi karena hormon kehamilan yang memicu kesedihan dalam diri Nindi. Dia sudah beberapa hari ini tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak memikirkan Ivar. Yah.....sekarang semua khawatir dengan Nindi dan kandungannya. Aku harap Abrar tidak menyampaikan kabar buruk sekarang, Nindi bisa saja tidak akan kuat.” Ayman mencoba menahan Abrar dengan cara halus.


“Aku tidak akan berani jika seperti itu keadannya. Saya akan datang lagi setelah suasana adem Mas, kalau begitu saya pamit ya Mas. Untung saja saya bertemu Mas Ayman.”


“Kan Tuhan memang maha penyayang Brar. Ya sudah, saya mau ajak anak-anak jalan-jalan. Kalian masuk saja, sapa Ayah dan Edel. Mereka ada di dalam.” Ayman berdiri mencari keberadaan Hanna. “Sayang, jadi tidak kita beli Ice Cream?”


“Jadi....” Hanna bergegas lari meninggalkan Ezra. “Paman kapan-kapan datang lagi yah, dan berjanjilah membuat Tante Nindi tersenyum, aku sampai kehabisan ide.” Teriaknya sambil berlari. Ezra hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Daahhhh......sampai jumpa.”


“Aku sudah dengar dari Hanna, sepertinya kita pulang saja untuk saat ini.” Ajak Ezra yang mendengar Nindi sakit. Dari cerita Hanna Ezra bisa menyimpulkan jika Nindi mengalami kecemasan yang membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.


“Kita sapa Pak Edwin sebentar, tidak enak kalau langsung pulang.” Abrar menarik tangan Ezra agar mengikutinya.


Terdengar begitu keras suara tangis Nindi dari lantai atas. Edwin terlihat mondar mandir dengan wajah yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Edel dan Ellie tidak tampak, mungkin mereka ada di lantai dua menemani Nindi.


“Paman...” Abrar menyapa dengan suara pelan agar tidak mengejutkan Edwin. “Apa yang terjadi Paman, tenang Paman. Mari kita duduk.” Abrar menuntun Edwin ke sofa ruang tamu. Wajahnya pucat dan terlihat sangat tegang.


“Nindi sakit Brar, Za. Aku bahkan tidak bisa menanggungnya. Bagaimana dengan gadis selembut Nindi. Dia pasti sangat kesakitan.” Tampak butiran air mata yang Edwin tahan mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


“Apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit Paman? Mungkin banyak yang bisa membantu jika di rumah sakit.” Edwin menggeleng.


“Bukan....Bukan tubuhnya yang sakit. Bukk....bukkk...bukkkk....” Edwin memukul dadanya. “Tidak bisa dengan pertolongan Dokter.” Ezra dan Abrar mengangguk paham.


“Sabar Paman, pasti berat. Tapi Nindi wanita yang sangat hebat, perlahan pasti Nindi bisa menerimanya.” Abrar mencoba menenangkan Edwin meski dirinya tidak pandai.


“Paman sangat tidak tega melihat air mata Nindi. Apa dia akan bisa melewati ini semua?” Abrar dan Ezra kompak mengangguk.


“Paman harus yakin, supaya Nindi bisa lebih kuat.” Edwin tersenyum merasa dapat kekuatan. Tidak lama Ellie turun dengan wajahnya yang semakin murung.


“Eh, ada Abrar dan Ezra.” Sapanya meski suasana hatinya sedang tidak baik. “Kapan datang?" Ellie turun setelah Nindi tenang.


Ezra meraih mangkuk dari tangan Ellie, membantunya menaruhkannya di tempat cuci piring. “Biar saya bantu Tante.” Ellie tersenyum, melihat kehadiran mereka seolah Ivar datang bersama.


“Bagaimana Mah? Apa Nindi sudah lebih tenang.” Ellie memejamkan mata setelah mendaratkan tubuhnya di sofa di sebelah Edwin.


“Dia menangis saat melihat Jason. Aku tahu bagaimana rasanya.” Tersenyum meski tidak sama dengan apa yang dia rasakan. “Dia butuh waktu menerima semua ini. Dia seolah yakin Ivar tidak akan datang.” Ada rasa kecewa, karena Nindi membesarkan masalah yang tidak perlu. Tapi Ellie juga merasa kasihan.


“Nindi sudah terlalu banyak kehilangan, kita mungkin tidak akan sanggup Mah. Bayangkan perasannya sampai dia bisa setakut ini.” Mendengar kata-kata Edwin, Ellie menyesal dengan kata-katanya.


Mengusap wajahnya dengan frustasi. “Andai saja aku tidak pernah mengijinkan Ivar dulu, dia pasti akan jadi Putraku yang sangat sukses dan terkenal di dunia bisnis.”


“Dia bisa menjadi model terkenal tante. Hehehehe....” Goda Ezra agar suasana sedikit adem.


“Tentu saja, Tante minta maaf rumah dalam keadaan kacau.”


“Tidak Tante, kami yang minta maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa.” Ellie mendapat pelukan dari Ezra dan Abrar, dia sudah seperti Ibu bagi dua perantau yang jauh dari keluarganya.


“Nin...hati-hati Nin, Nindi....jalan pelan-pelan.” Edwin sontak berlari ke arah tangga, Nindi terlihat sedikit tersenyum.


“Hati-hati Nak, Nindi mau kemana?” Tanya Edwin pelan.


“Nindi mau makan, aku harus sehat. Abang pasti marah kalau aku tidak menjaga kesehatanku.” Edwin menuntun menantunya ke meja makan.


Edel hanya menggeleng tidak tahu harus menjawab apa kode dari semua orang. Nindi tiba-tiba saja turun dari tempat tidurnya setelah puas menangis. Entah apa yang ada di kepalanya, perubahan sikapnya membuat semua orang merasa takut.


“Makan perlahan Nak, kamu bisa tersedak.” Nindi menurunkan ritme makannya, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan Edwin. “Makanlah, supaya cucu Ayah tidak kelaparan.” Nindi tersenyum seolah dirinya baik-baik saja.


“Ayah, aku ingin kembali bekerja. Tolong bantu aku bicara dengan Paman Prabu ya Yah!.” Pinta Nindi di sela-sela makan.


“Kau yakin?” Nindi mengangguk. “Ayah akan bicarakan.” Edwin menganggap Nindi sudah pulih, mungkin ini caranya keluar dari kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2