Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Wajah mentari pagi ini begitu menyejukkan hati, menemani dengan setia tanpa mengeluh harus bersinar sepanjang hari. Udara pagi masih begitu asri belum tercampur dengan asap kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara.


Sesekali memang perlu melakukan perjalanan untuk menyegarkan jiwa agar tetap damai, menyegarkan kembali otot-otot kaku karena bersitegang dengan berbagai aktifitas dan keadaan yang menyulitkan kehidupan setiap harinya.


Edel duduk di depan jendela kaca menikmati secangkir kopi hangat buatannya. Waktunya menikmati dirinya sendiri tanpa kerepotan dua bocah kecil yang sering membuat onar meski Edel tidak keberatan dengan semua prosesnya. Malaikat begitulah Edel memaknai kehadiran dua bocah ini dalah kehidupannya.


Ayman yang melihat Edel begitu menikmati waktunya tidak mendekat, Ayman memilih menemani kedua malaikatnya agar tidak terjaga dan merepotkan Edel yang sedang menyendiri menikmati suasana pagi.


Ayman mendekap kedua malaikat kecilnya. Menciumi wangi rambut Hanna yang membuatnya candu, gadis yang datang membawa banyak kebahagiaan baginya. Bukan darah dagingnya, tapi cinta Ayman melebihi dirinya mencintai dirinya sendiri.


Bayangan Adik laki-laki satu-satunya yang kini entah ada dimana berkelebat. Memenuhi isi kepalanya dengan kenangan-kenangan indah semasa kecilnya yang penuh kebahagiaan dan kejahilan, Edel paling suka menggoda Ivar yang pendiam. Meski berakhir dengan tangisan Ivar, Edel tidak pernah jera karena merasa terhibur jika berhasil membuat Ivar menangis.


Edel memilih tidak terlalu dalam hanyut dengan perasannya, bukan kali pertama Ivar pergi selama ini. Hanya memikirkan Nindi yang membuat Edel begitu khawatir. Nafas Edel tiba-tiba terasa begitu berat, Edel memejamkan mata mencoba berdamai dengan keadaan. Kandungan Nindi mulai membesar, begitu besar harapan Edel agar Ivar bisa segera kembali berkumpul dan menguatkan Nindi yang pasti butuh dukungan Ivar di saat seperti ini.


Berat memang, tapi berlarut-larut dalam kesedihan dan duka tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Ivar pasti memikirkan matang-matang jalan hidupnya, dia tidak akan mengambil resiko jika memang tidak ada sebab dan dorongan yang kuat dari dalam dirinya.


"Memikirkan apa sayang?" Ayman menelusupkan kedua tangannya memeluk Edel dari belakang. "Kenapa? Apa ada yang bisa Mas lakukan?" Edel menggeleng, membalikkan badan dan menenggelamkan tubuhnya kepelukkan Ayman yah nyaman.


Ayman mendekat karena tidak nyaman melihat Edel berdiam diri dengan pandangan mata yang penuh beban. Terlalu berat jika di pikul seorang diri, Ayman ingin menarik sebagian beban agar tidak memenuhi isi kepala Edel yang sudah cukup lelah mengurus Jason dan dirinya.


"Aku mencintaimu Mas." Ayman tersenyum.


Ayman sengaja tidak menjawab pernyataan cinta Edel. Mata Edel melotot mencari jawaban. "Kenapa hanya tersenyum, mas tidak menjawabnya!" Ayman sudah menebak akan seperti ini reaksi Edel.


"Masih seperti anak ABG saja." Balas Ayman mengerjai Edel yang mulai terpancing emosinya. Bibirnya manyun membuat Ayman gemas dan malah semakin ingin menggodanya namun tidak tega.


Cemberut, tentu saja. Wanita mana yang tidak kesal jika ucapan cintanya tidak di balas sang kekasih. Ayman memeluk erat istri tercintanya, membelai lembut rambut Edel yang terurai panjang. Aromanya membuat Ayman betah memeluknya berlama-lama. "Cintaku tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, luasnya melebihi jagat raya dan dalamnya melebihi samudra." Ada senyum di wajah Edel tanpa sepengetahuan Ayman. "Jangan pernah ragu dengan cinta kita."


Edel tersipu malu. "Aku...."


"Paman....." Suara Hanna mengejutkan, reflek Ayman dan Edel saling melepaskan pelukannya, hampir saja Edel terjatuh dari jendela kaca tempatnya duduk.


"Sayang......" Edel berlari menghampiri Hanna segera. Edel menepuk jidatnya saat memeluk Hanna. "Anak manis sudah bangun." Edel menggendong Hanna membawanya ke meja makan. Anak ini sangat berat sekarang. Batin Edel yang sedang menyembunyikan wajahnya yang merah merona.


"Aku ke kamar yah, aku cek Jason." Ayman juga panik karena tidak pernah bermesraan di depan Hanna yang masih kecil. Mereka sangat menjaga karena Hanna anak yang sangat kritis, tidak ingin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jelaskan.


"Minum susu ya Han. Tante juga buatkan untuk Adek, sebentar lagi pasti Adek bangun." Hanna hanya sibuk mengucek matanya yang masih sulit terbuka. Senyumnya berbinar melihat pemandangan laut yang terhampar luas di depan matanya.


Hanna begitu bersemangat ingin main di pantai hari ini. Kemarin tidak bisa ke pantai karena sudah terlalu malam, Ayman tidak akan membiarkan anak-anaknya bermain malam hari yang terlalu larut karena bisa masuk angin. Ayman sangat berhati-hati menjaga kesehatan anak-anaknya.


“Tante, hari ini kita akan main di pantai kan?” Wajahnya penuh harap. “Kan kemaren Paman sudah janji akan ajak Hanna ke sana.” Hanna menagih janji Ayman dan Edel semalam.


“Iya sayang, nanti kita main setelah sarapan yah.” Edel sibuk mengolesakan selai strawberry yang di bawanya dari Jakarta. Hanna paling suka, dia tidak rewel soal makanan. Tapi Edel dan Ayman selalu menyediakan semua makanan yang Hanna suka.


“Selamat pagi semuanya, Adek sudah bangun.” Ayman muncul menggendong Jason yang begitu tenang meski di tempat baru.


“Adek bangun sayang, tunggu yah. Sini kita minum susu dulu Nak!” Edel ingin mengambil alih Jason karena sudah selesai menghidangkan sarapan untuk Hanna dan Ayman. “Kenapa?” Tangannya di tolak.

__ADS_1


“Kamu sarapan dulu saja sayang. Aku yang beri Jason susu.” Edel dengan senang hati menerima kemurahan hati Ayman. “Tidak apa, aku bisa membuat rotiku nanti.” Mencoba membujuk Ayman tapi percuma. Ayman tidak menjawab dan mengambil botol susu yang ada di atas meja makan.


Edel menikmati potongan roti pertamanya dengan semangat dan cinta, roti yang dia hidangkan untuk Ayman namun dia memakannya karena sang suami menolak sarapan lebih dulu dan lebih memilih menjaga Jason agar dirinya bisa makan dengan nyaman. Selesai menikmati roti Edel membuatkan roti untuk Ayman dan menyuapinya. Ayman tersipu malu karena sudah sangat lama tidak ada keromantisan dalam rumah tangganya, kesibukan kerja membuat keduanya sama-sama luput dan tidak terlalu memperhatikan satu sama lain.


“Tante aku sudah selesai.” Hanna melahap sarapannya dengan sangat cepat. Ada beberapa remah roti tertinggal dibibirnya.


“Iya sayang tunggu yah sebentar.” Balas Edel dengan lembut sambil membersihkan bibir Hanna.


“Kenapa sudah sangat lama kau tidak bertingkah manis seperti ini. Ada yang salah dengan kita sepertinya.” Edel mencubit paha Ayman yang memancing dirinya di depan Hanna. Matanya melotot meski dirinya senang dengan perhatian yang Ayman berikan.


“Jangan di depan anak-anak, kau ini ada-ada saja.” Bisik Edel pada Ayman yang tersenyum tidak jelas.


“Ih....Paman ayo cepat. Kan nanti Paman dan Tante bisa pacaran lagi!” Pinta Hanna yang sudah tidak sabar ingin bermain di pantai.


Ayman dan Edel saling pandang begitu terkejut. Dari mana bocah kecil ini tahu-tahunya orang pacaran. Apa yang dia pelajari Tuhan.


“Siapa yang mengajarkan Hanna kata-kata Pacaran!” Ayman sedikit melotot meski tidak bermaksu menakuti. Dia tidak bermaksud melotot namun entah kenapa tidak bisa mengontrol rasa khawatirnya yang berlebihan.


“Hehehehe, kata Lula orang dewasa kalau sedang suap-suapan berarti mereka sedang pacaran.” Ayman menggeleng tidak percaya. Lega rasanya, ternyata bukan hal yang mengerikan seperti yang Ayman bayangkan.


“Hanna ada-ada saja.” Ayman tersenyum, dirinya harus terima jika Hanna sudah mulai dewasa. Dia akan segera tumbuh menjadi gadis cantik yang cerdas.


“Sekarang ganti baju Hanna yang lebih hangat, kita ke pantai.”


“Kan kita mau bermain airrrr....” Protes Hanna karena malas berganti baju.


“Kan dia hanya bermain di depan sana Mas, di pantai.” Bisik Edel. Giliran Edel yang tertusuk sinar laser dari mata Ayman. “Ok......Han, sini Tante bantu berganti baju ya sayang.” Hanna meski kesal tetap mengikuti Edel untuk berganti.


“Sayang, tolong setelah itu jangan ada lagi baju tipis seperti itu, masuk angin nanti Hanna.” Protes Ayman yang tidak mau melihat Hanna memakai baju terlalu tipis.


“Iya....iya.” Hanna cemberut. “Hanna kesal yah!” Hanna mengangguk. “Paman Cuma ingin menjaga kita sayang, terutama Hanna karena anak perempuan. Paman tidak bermaksud kok melarang-larang Hanna.” Jelas Edel pada Hanna yang masih terlihat kesal.


“Ok...” Jawab Hanna lirih.


“Ayo kita bersenang-senang. Mana senyumnya.....” Hanna tersenyum manis penuh semangat.


“Paman....ayo cepat kita ke pantai.” Edel tersenyum melihat Hanna cepat sekali pulih dari rasa kesalnya. Andai saja orang dewasa bisa seperti Hanna.


“Nah....begini kan cantik.” Ayman berjongkok di depan Hanna. “Sini, Paman gendong.” Hanna berlari ke depan Ayman, menggeleng dan menggandeng tangan Ayman.


“Paman gandeng tangan Hanna saja, kan Hanna bisa jalan sendiri.”


“Ok anak pintar, cepat kita berjalan menyusuri pantai yang indah.....”


Horeeennnn.....


Sorak Hanna dan Edel bersemangat.

__ADS_1


Pantai masih sangat sejuk, terik matahari belum menyentuh permukaan bumi. Suasana yang sangat pas mengajak anak-anak berjalan-jalan menikmati kesejukan udara pagi di pinggir pantai.


Beberapa orang yang menginap di Hotel yang sama juga sedang menikmati udara pagi yang sejuk duduk-duduk di pinggir pantai. Ada yang menyapa Edel karena kenal saat sedang cek in kemarin. Mereka cepat akrab karena punya anak kecil yang seumuran, tinggallah Ayman dan Hanna yang berduaan menikmati ombak pantai yang berdeburan.


Tidak akan ada yang tau jika Hanna bukan Putri Ayman, mereka begitu dekat tidak terpisahkan. Siapa saja yang melihat sangat kagum dengan kedekatan keduanya. Tawa Hanna membuat siapa saja ingin ikut bersenang-senang.


Drtttt....drtttt.....


Edel meraih ponsel dari saku celannya. Tersenyum saat melihat nama Nindi di layar ponselnya.


Nindi : Halo Kak, kalian sudah bangun?


Edel : Sudah Nin, kita sedang ada di pantai (Edel mengalihkan ponselnya ke kamera belakang)


Nindi : Hanna senang sekali, aku sangat ingin kesana.


Edel : Lain kali kita liburan bersama yah, kau harus ikut Nin.


Nindi : Iya Kak, selamat bersenang-senang.


Edel : Mau bicara dengan Hanna? (Tanya Edel mendekat ke arah Hanna dan Ayman)


Nindi : Boleh Kak, rumah sangat sepi tidak ada Hanna yang suka berteriak-teriak.


“Hanna...sebentar Nak, Tante Nindi ingin bicara dengan Hanna.” Hanna segera berlari mengeringkan tangannya yang basah.


Hanna : Tante... lihat, Hanna sedang bermain di pantai. (Teriak Hanna begitu girang)


Nindi : Iya, seru sekali Hanna bermain. Hanna nakal tidak?


Hanna : Tidak tante, Hanna baik. Hanna bantu Tante Edel jaga Adek.


Nindi : Benarkah? (Terlihat Hanna mengangguk), Hanna sibuk apa saja di sana?


Hanna : Hanya baru bermain ke pantai. Kemarin Paman marah kita tidak boleh bermain-main karena sudah malam.


Ayman di belakang menyesal, ternyata kemarahannya yang tidak seberapa itu membekas di hati Hanna.


Nindi : Betul apa kata Paman Han, jangan sampai sakit. Nanti malah tidak bisa bermain- main dan jalan-jalan Han.


Hanna : Iya, Hanna menurut kok Tante.


Nindi : Bagus Han, jangan lama-lama ya Han. Tante Nindi kangen. (Hanna mengangguk dengan manis, baru kali ini mereka terpisahkan lama). Ya sudah, Hanna makan yang banyak yah.


Panggilan telpon berakhir, wajah Hanna tampak sedih. Ayman mendekat dan memeluk Hanna. “Kenapa sayang?” Hanna memeluk Ayman. “Kenapa Hanna sedih?” Hanna mengeleng, dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa sedih. “Kita bermain lagi, mau?”


Anak-anak akan sangat mudah lupa dengan kemelut hatinya jika di ajak bermain. Dalam sekejap Hanna sudah ceria lagi tanpa beban. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh air laut, Ayman dengan setia menemani Hanna bermain dengan ombak lautan.

__ADS_1


Melihat pemandangan indah seperti ini membuat hati Edel begitu sejuk. Suasana yang begitu didambakan oleh setiap orang memiliki keluarga yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Tawa anak-anak yang sehat dan ceria menggema menghibur kedua orang tuanya yang letih dengan segala macam pekerjaan yang menguras tenaga.


__ADS_2