Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Pergilah, Jangan Lupa untuk Kembali


__ADS_3

Pagi ini Ivar meluangkan waktu untuk mengantar Hanna ke sekolah dan Nindi ke tempat kerja yang menerimanya sebagai karyawan kontrak selama 3 bulan masa percobaan sebelum jadi karyawan tetap.


Ada kekhawatiran karena wajah Ivar tidak secerah biasanya. Meski statusnya adalah seorang istri, Nindi suka bingung memulai dari mana untuk tahu suasana hati Ivar. Padahal apa salahnya bertanya pada suami sendiri.


“Abang.....” Nindi mencoba memberanikan diri meski akhirnya tidak bisa mengeluarkan isi hatinya. Ivar tahu Nindi sedang ragu.


“Apa sayang, tanyakan saja.” Jawab Ivar dengan tenang, meski hatinya sedang kalut.


“Kenapa wajah Abang begitu murung? Apa aku membuat kesalahan?” Jantung Nindi berdegub kencang.


Menjawab dengan senyum yang malah membuat Nindi semakin bingung. “Apa kesalahannya? Kau merasa melakukan kesalahan?” Nindi menggeleng.


Dirinya juga bingung, tapi Ivar biasanya murung saat apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan harapan. “Apa pertanyaanku salah?”


“Iya, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ivar mengenggam tangan Nindi erat. Nafasnya terdengar sangat berat. Nindi khawatir Ivar mengalami kesulitan.


Apa aku bertanya apa yang dia pikirkan? Nanti salah lagi. Aku diam saja juga tidak mungkin. Apa yang biasanya pasangan lakukan dalam suasana seperti ini?


Mencoba mengingat momen-momen pasangan suami istri dalam drama dan film. Tidak ada satupun yang muncul, malah banyak adegan-adegan aneh menggelikan. Nindi akhirnya menyerah, memeluk tangan Ivar menyandarkan kepalanya agar Ivar merasa sedikit tenang.


“Apa Nindi sudah merasaka baikan?” Hari ini Nindi masih belum bisa makan banyak seperti biasanya. “Seharusnya di rumah saja. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan Hanna.” Ivar merasa bersalah.


“Abang ini, kenapa membahasnya lagi. Kan Abang sudah sepakat memberikan aku kesempatan untuk melakukan apa yang aku inginkan.” Bibirnya manyun sedikit kesal.


“Bukan begitu sayang, Abang hanya ingin Nindi bahagia. Apa Nindi bahagia bisa bekerja?” Nindi mengangguk dengan senyum merekah dari bibirnya yang cantik.


“Aku melakukannya karena suka. Aku berjanji akan menjaga diri baik-baik, aku akan mengundurkan diri tanpa ragu jika aku tidak tahan dengan pekerjaanku.” Bicara penuh semangat.


Ivar tiba-tiba memeluk Nindi dengan sangat erat. Nindi mencoba melepaskan diri merasa malu banyak yang memperhatikannya dari luar. “Sebentar saja, biarkan aku memelukmu sebentar saja.”


Benar sepertinya dugaanku, ada yang Ivar sembunyikan. Tapi apa? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Aku harap bukan masalah besar, aku harap Abang baik-baik saja. Aku tidak mau Abang kesulitan, aku hanya ingin melihatnya bahagia.


“Masuklah. Sore nanti aku datang menjemputmu bersama Hanna.” Senyumnya terlihat sangat berbeda, Nindi tidak ingin mencari tahu lebih jauh. Dia takut Ivar akan semakin terluka.


“Hay Mbak Nindi, kita ketemu lagi.” Cindy memeluk Nindi dengan perasaan haru. Mereka berdua bekerja di tempat yang sama seperti harapan mereka.


“Kau juga di sini, aku senang tidak sendirian.” Nindi tidak kalah senang.


Suasana pagi disambut dengan rapat pagi penyambutan karyawan baru dan beberapa informasi tentang rencana-rencana kerja perusahaan satu bulan ke depan. Sepertinya hari-harinya kini akan sangat sibuk dengan berbagai tantangan kerja yang berbeda setiap harinya.


Nindi dan Cindy duduk berdampingan, mereka akan menjadi karyawan desaign grafis di setiap rancangan model pakaian, aksesoris dan berbagai produk lain yang perusahaannya hasilkan. Tentu saja dengan bantuan para senior yang memiliki segudang pengalaman berharga.

__ADS_1


“Hay anak baru, kenalkan.” Seorang wanita muda dengan kacamata menjulurkan tangan pada Nindi. “Mariska.” Nindi menyambut hangat. “Itu Kenzo, dan itu Putra.” Kedua laki-laki yang Mariska perkenalkan melambai dari tempat duduknya.


“Kalau yang di sana siapa Kak?” Nindi harus jadi junior yang menghormati seniornya. “Oh, itu Zein, gadis cantik yang suka marah-marah pada apapun di dunia ini.” Zein yang mendengarnya melengos tidak mau menanggapi. “Yang di sana Aleta, satu geng dengan Zein.” Bisik Mariska agar mereka tidak bisa mendengar percakapannya. Nindi hanya megangguk mencoba memahami setiap karakter orang dalam ruanganya.


Puas berkenalan dengan Nindi, Mariska menghampiri Cindy yang sudah terseyum manis padanya sejak tadi.


“Kalian semoga betah yah, sebentar lagi atasan kita Bu Melly datang. Jangan terlalu banyak bertanya padanya.” Pesan Mariska yang membuat Nindi dan Cindy sedikit khawatir. “Bertanya saja pada Putra atau Ken.” Kedua laki-laki tampan itu tersenyum, mereka tidak keberatan sepertinya membantu Cindy dan Nindi.


“Terimakasih banyak Kak, semoga kami tidak terlalu merepotkan. Mohon bimbingannya.” Ucap Nindi dengan lembut.


“Kalian harus sadar saat bekerja, jangan terlalu merepotkan.” Jawab Zein dengan jutek.


“Kau ini, baru saja mereka masuk kau sudah membuat onar. Kau mau bertanggung jawab kalau mereka kabur lagi karena sikap mu yang bar-bar seperti preman!” Mariska kesal dengan sikap Zein yang tidak sopan.


“Ribut-ribut apa pagi-pagi begini, kalian tidak malu pada junior yang baru masuk.” Melly menggeleng tidak percaya pagi-pagi sudah berisik di ruangannya. “Mana laporan Ibu Zein?” Zein dengan wajahnya yang masih kesal berjalan ke meja Melly menyerahkan laporannya.


“Ini aku buat dua versi bu, supaya Ibu ada bahan pertimbangan.” Melly selalu kagum dengan cara kerja Zein yang kreatif.


“Ibu baca dulu. Mukanya jangan di tekuk begitu, nanti cantiknya hilang.” Zein memaksakan tersenyum di depan Melly.


Seisi ruangan tertawa dalam diam kecuali Nindi dan Cindy yang masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Baik Bu.” Jawab Nindi dan Cindy kompak.


Hari yang melelahkan berakhir, Nindi sedang menunggu Ivar yang sedang dalam perjalanan menjemputnya ditemani Mariska yang menunggu kekasihnya juga.


“Ternyata kau sudah menikah, usia mu masih sangat muda Nin.” Mariska kaget mendengar Nindi sudah punya suami.


“Iya Kak.” Nindi tersenyum bangga, meski dirinya masih muda. Tapi Nindi punya pengalaman hidup yang belum seniornya alami.


“Apa menyenangkan punya suami Nin?” Nindi mengangguk. “Kau tampak sangat bahagia, pasti suamimu sangat baik padamu.” Nindi tersipu malu. Mata Mariska menatap tajam ke arah Zein yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


“Kenapa Kak?” Tanya Nindi penasaran.


“Nenek lampir sedang menunggu kekasih kebanggannya. Dia sangat sombong karena punya kekasih tajir.” Mariskan tampak tidak suka.


Semoga Kak Ivar tidak membawa mobil mewahnya, aku bisa di musuhi Kak Mariska kalau tahu suamiku juga kaya raya.


Do’a Nindi tidak di kabulkan, mobil mewah memasuki lobby utama membuat semua mata tertuju padanya.


“Mobil keren siapa itu? Jangan-jangan pacar Nenek lampir berganti mobil. Dia akan semakin sombong.” Mariska bicara pelan namun Nindi masih bisa mendengarnya dengan jelas. Bagaimana ini. “Dia juga sangat tampan.” Kali ini Mariska mengagumi Ivar yang begitu menawan.

__ADS_1


“Kenapa dia berjalan kesini! Apa dia......” Nindi tersenyum dengan rasa takut pada Mariska. “Dia suamimu?” Nindi mengangguk.


“Sudah lama menunggu sayang?” Ivar meraih tangan Nindi, mencium kening Nindi dengan lembut. “Maaf sedikit macet, ayo kita pulang.”


“Kenalkan Kak, ini Abang Ivar suamiku. Kenalkan Bang, Ini Kak Mariska seniorku.” Mariska tidak berkedip, dia tidak menyangka Nindi orang kaya raya. “Kak...Kak Mariska.”


“A..i..iya kenalkan Mariska.” Ivar menjabat tangan teman kerja Nindi. “Kau membuatku terkejut. Silahkan duluan, aku menunggu calon suamiku.” Bisik Mariska dengan wajah penuh bahagia. Nindi mengira Mariska akan membencinya saat melihat Ivar dengan mobil mewahnya. Tapi senyumnya mencurigakan.


“Aku pulang ya Kak, sampai besok Kak.” Ivar merasa ada yang aneh, tapi mungkin hanya perasannya saja.


“Masih ada langit di atas langit. Jangan pernah sombong, hahahahha....” Mariska berteriak sendiri menyindir Zein yang suka sekali membanggakan pacarnya yang kaya raya. Melihat Nindi dia pasti minder. Orang kaya sesungguhnya memang tidak banyak bicara. Zein tidak menggubris dan melangkah pergi meninggalkan Mariska yang masih tertawa tidak jelas.


Makan malam bersama dengan suasana yang tidak seperti biasanya, semua seolah sedang memikul beban berat kecuali Nindi yang belum tahu Ivar akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Untuk pertama kalinya Ivar menyesal memiliki pekerjaan yang harus meninggalkan keluarganya cukup lama.


“Sebenarnya ada apa? Kenapa semuanya tampak sedih?” Nindi memberanikan diri karena sangat takut.


“Apa kami terlalu kentara, kau bahkan menyadarinya dengan sangat cepat.” Edel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Begini sayang, aku ada misi penting yang harus aku selesaikan.” Ivar menghela nafas panjang.


“Lalu kenapa? Apa ini hal yang tidak baik?” Mencoba menguatkan diri. “Bukankan itu memang pekerjaan Abang selama ini?”


“Aku akan pergi cukup lama, mungkin akan kembali dalam 2 atau 3 bulan. Aku tidak bisa memastikannya.” Wajah Ivar terlihat sangat sedih.


“Tidak apa, aku akan menunggu Abang kembali.” Nindi sedih tapi mencoba menyembunyikannya. Ketakutan terbesarnya jika Ivar tidak kembali lagi. Nindi bahkan tidak bisa menatap mata Ivar.


“Apa kau bisa berjanji untuk tidak terluka selama aku pergi?” Nindi mengangguk, airmatanya tumpah tidak terbendung. Ivar memeluk Nindi dengan sedih, semua orang merasakan kesedihan Nindi. Dia pasti sangat terpukul.


Tidak ada yang tahu Ivar pergi ke tempat seperti apa, berapa lama dan semenakutkan apa misi yang harus dia selesaikan. Semuanya bersifat rahasia, dia orang penting yang tidak diperbolehkan diketahui keberadaannya.


Nindi menangis sesenggukan di pelukkan Ivar, untung saja Hanna sudah Ayman amankan agar tidak melihat Tante Nindi menangis lagi. Semua orang takut Hanna akan trauma.


“Pergilah, Jangan Lupa untuk Kembali.” Ucap Nindi membuat hati Ivar tercabik-cabik.


“Aku berjanji akan kembali dengan selamat, kau harus percaya kata-kataku.” Nindi mengangguk. Dirinya harus melepas Ivar dengan kebahagiaan, jika seperti ini Nindi takut malah akan menjadi beban bagi Ivar.


“Abang tenang saja, banyak yang menjagaku di sini. Ada Papah dan Mamah, ada Kak Edel dan Kak Ayman yang selalu membantuku menjaga Hanna. Aku tidak sendirian, selesaikan semuanya dengan cepat dan cepat kembali.”


“Kau benar sayang, aku mengandalkan kalian semua. Aku mohon jaga Nindi dan Hanna untukku.” Ellie memeluk putranya dengan penuh rasa haru. Ivar biasanya tidak pernah mengucapkan selamat tinggal saat akan memulai pekerjaannya yang beresiko berat. Ini seperti salam perpisahan.


“Kembalilah dengan selamat Nak, kami semua percaya kau akan di lindungi. Pekerjaanmu mulia. Kau pasti akan baik-baik saja.” Ivar begitu senang keluarganya selalu memberikan dukungan dalam setiap langkah besar hidupnya. Ellie salah satu kekuatan terbesarnya bertahan, wanita yag selalu mendukung dan memberikan alasan untuk dirinya menjadi laki-laki yang punya kualitas tinggi agar bisa menjunjung keluarganya terpandang di masyarakat.

__ADS_1


__ADS_2