Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Bukan Kecelakaan


__ADS_3

Nindi duduk di teras menunggu Hanna dan yang lainnya pulang. Rumah terasa sangat sepi tanpa suara teriakkan anak-anak. Ivar sendiri sedang sibuk berdiskusi dengan Edwin tentang perusahaan yang saat ini mulai membuka cabang di luar Negeri.


Nindi melihat-lihat bunga-bunga cantik yang bermekaran menghiasi taman. Semua tertata rapi membuat mata yang memandangnya terasa sejuk.


Nindi berjalan-jalan kecil melihat satu persatu bunda yang menarik hatinya. Tangannya tergerak ingin menyentuh Mawar Putih yang begitu indah.


Plak….


“Maaf Non Nindi.” Lastri menunduk, tangannya gemetar karena dengan tidak sopan menepak tangan Nindi. “Maafkan saya Nona.” Bingung ingin menjelaskan apa.


Nindi yang sudah tau kenapa Lastri berani seperti ini malah tersenyum. “Maaf yah Mbak Lastri, aku tau. Kamu tidak perlu menjelaskannya padaku.”


“Maaf ya Non. Terimakasih tidak marah padaku.” Lastri benar-benar menyesal tapi tidak bisa menolak permintaan Nyonya besarnya. “Sebenarnya Ibu tidak menyuruhku menepak tangan Nona. Tapi saya lihat Nona hampir menyentuh bunga Ibu.” Lastri sampai berkaca-kaca tidak enak hati pada Nindi.


“Iya Mbak gak apa. Sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku juga salah karena menyentuh yang bukan milikku.” Nindi benar-benar tidak tega melihat Lastri.


“Ada apa Nin?” Teriak Ivar dari balik jendela kaca yang terhubung dengan halaman depan.


“Tidak Kak, Lastri hanya sedang menawarkan menu makan malam saja.” Ivar melihat ada yang aneh, tapi mendengar Nindi baik-baik saja dia percaya. “Sudah Mbak kamu balik lagi ke dalam yah. Nanti Kak Ivar malah curiga.” Terduyung-duyung Lastri berjalan masih dengan ketakutan dan rasa bersalah yang besar.


Tidak lama mobil Range Rover milik Ayman memasuki halaman, teriak gadis kecil yang Nindi rindukan terdengar begitu pintu mobil terbuka.


“Tante Nin……Aku beli permen besar. Lihat Tante….!!!!” Teriak Hanna sambil menenteng paper bag di tangan mungilnya.


“Hati-hati Han nanti jatuh.” Teriak Ivar dari depan pintu masuk. Senyum merekah melihat Hanna begitu girang. “Bawa apa Han, Paman juga mau.” Ivar lari juga menhampiri Nindi seperti Hanna.


“Hati-hati sayang.” Hanna menjatuhkan dirinya di pelukkan Nindi. “Banyak sekali Han, apa tidak merepotkan Paman dan Tante Han.” Hannya masih mengatur nafasnya dengan senyum sumringah di wajahnya.


“Tidak Nin, Hanna tidak minta. Kita yang belikan.” Jelas Edel melihat Hanna diinterogasi Nindi begitu sampai.


“Iya, sekali-kali jajan banyak tidak masalah sayang.” Ivar mengunyel-uyel pipi Hanna. “Paman dapat apa Han?” Hanna membuka paper bagnya.


“Paman mau permen ini?” Ivar menggeleng. “Kalau ini Paman mau?” Menawarkan permen jenis lainnya. Ivar masih saja menggeleng. “Ih….Paman buat Hanna pusing saja. Paman pilih sendiri saja.” Hanna kesal Ivar mengerjainnya.


“Kau lucu sekali anak kecil.” Ivar semakin gemas melihat Hanna kesal.


“Anak-anak, masuk. Sudah mau hujan sebentar lagi.” Edwin meneriaki anak-anaknya yang tidak kunjung masuk juga.


“Opah….” Hanna lari ingin menunjukkan makanan yang dia beli.


“Aduhhh…cucu Opah berat sekali.” Hanna sudah ada di pelukkan Edwin, menyusul di belakangnya anak dan cucu menantunya memasuki rumah satu persatu.


Makan malam sudah tertata rapi dengan berbagai menu makanan enak dan special malam ini. Bertemakan makanan Khas Sunda lengkap dengan sambal dan lalapan hijau dedauan, meja terasa segar di pandang mata.

__ADS_1


“Mamah masak enak hari ini. kalian harus makan banyak yah.” Ellie begitu bersemangat melayani semua anggota keluarganya.


“Hanna mau Omah suapin tidak?” Hanna melirik Nindi, melihat Nindi tersenyum padanya Hanna paham harus menjawab apa.


“Apa tidak merepotkan Omah?” Persis dengan yang biasa Nindi ucapkan.


“Tidak dong sayang, sekali-kali Omah manjain Cucu Omah sendiri apa salahnya.” Ellie menarik kursinya mendekati tempat duduk Hanna.


“Terimakasih Omah.” Ucap Hanna setelah Ellie selesai menyuapinya.


“Tuan Ivar, di depan ada Mas Abrar dan Mas Ezra. Katanya ingin bicara dengan Mas Ivar dan Mbak Nindi.”


“Ok Bi, terimakasih banyak. Tunggu di sini sayang, aku temui mereka dulu.” Ivar segera keluar menemui keduanya.


“Malam Var, kami segan mau masuk kalian kelihatannya sangat sibuk.”


“Tidak Brar, kita hanya sedang makan malam. Sebelum kalian sampaikan berita apa yang kalian bawa pada Nindi, aku harus tau dulu perkembangannya.” Ivar hanya ingin menjaga Nindi agar tidak terlalu syok.


“Ternyata dugaan kita benar, kecelakaan yang di alami Cakra sabotase. Kita sedang memeriksa dan mencari bukti tambahan agar Antoni tidak bisa mengelak lagi. Beberapa kali dia beralibi dan kita kalah karena tidak punya bukti yang kuat.” Jelas Abrar.


“Apa Antoni tahu kita mencurigainya?”


“Sepertinya dia tahu, apa ada yang membuatmu cemas?” Wajah Ivar terlihat begitu tegang.


“Ada yang datang ke sekolah Hanna beberapa hari lalu. Aku takut Hanna dalam bahaya. Apa kalian bisa mengawasi Hanna? Atau minta siapa saja mengawasinya. Aku juga akan meminta Pak Bagas atau supir lain mengawasi Hanna.”


“Kau harus pastikan Antoni tidak bisa menyentuh Hanna dan Nindi.”


“Iya tenang saja Var, sekarang bantu aku bicara pada Nindi. Dia terekam CCTV saat Antoni berkunjung ke rumah Cakra sebelum kecelakaan. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan di sana.”


“Tapi jangan bicara yang tidak-tidak, aku tidak tega saat melihat Nindi menangis.”


“Iya tenang saja. Kita hanya Tanya beberapa hal yang mungkin bisa membantu penyelidikan kasus ini.”


“Paman…” Hanna memeluk dua Paman yang akhir-akhir ini mengisi kehidupannya. “Hanna punya banyak makanan. Apa Paman mau?”


“Hanna sayang. Pama kangen sekali sama Hanna.” Ezra memeluk Hanna yang selalu membuatnya tersenyum. “Apa Hanna kangen Paman?” Mengangguk dengan senyum imutnya.


“Malam Kak Ezra, Kak Abrar.” Sapa Nindi.


“Masuk saja, kita bicara di ruang kerjaku. Kasian mereka kedinginan.” Ivar mengangkat Hanna ke pundaknya.


“Kau ini, kita dari tadi di luar juga kedinginan Var. Dasar Ivar.” Ledek Abrar yang senang Ivar punya sisi romantis pada pasangannya.

__ADS_1


Nindi menyeduhkan kopi hangat untuk tiga pria yang saat ini sedang berdiskusi di ruang kerja Ivar, sebagai ganti makan malam yang mereka tolak dengan alasan sudah makan sebelum datang.


Nindi sudah mengantar Hanna ke kamar Kak Edel agar tidak menganggu dan tidak mendengar apa pun kenyatana pahityang akan Ezra dan Abrar sampaikan.


“Nin, kita menemukan rekaman video CCTV rumah kosong dekat tempat tinggalPak Cakra yang ternyata ditemukan tidak jauh dari lokasi. Kita harus memulihkan video karena beberapa ada yang tidak terekam CCTV, atau memang sengaja di hapus.” Jelas Abrar. Nindi menyimak isi rekaman video.


“Apa ada yang janggal?” Nindi masih berusaha mengingat. “Apa waktu kedatangan dan pulangnya Antoni tepat dengan saat dia ada di rumah Cakra?”


“Apa Kak Abrar merasa durasinya berbeda dengan rekaman CCTV di rumah kita?” Abrar menjentikkan jemarinya.


“Kau pintar Nin, bahkan Ezra tidak secepat ini mengerti ada yang janggal dengan rekaman CCTV yang aku temukan. Kau benar Nin, ada perbedaan waktu sekitar 15 menit yang hilang. Apa mungkin tidak terekam?”


“Kalau hilang mungkin akan menghapus bagian akhir. Tapi ini yang hilang bukan bagian rekaman awal atau pun akhir, melainkan rekaman di pertengahan.” Ivar juga menganalisis.


“Aku dan Ezra hanya ingin memastikan saja. Sisanya serahkan pada kami, tenang saja Nin. Kami akan menangkap orang yang sudah merenggut nyawa Cakra.” Ezra menutup dan mengemasi barang-barang yang dia keluarkan dari dalam tasnya.


“Ivar kau tau?” Mata Ivar membulat penasaran. “Kemaren aku dan Abrar dikejutkan kehadiran Luna. Dia mencarimu karena ingin mengembalikan barang-barang milikmu yang tertinggal di tempatnya kata Luna.”


“Aku tidak merasa meninggalkan apapun.”


“Kau salah, dia dibantu asistennya membawa kardus besar yang sebagian besar isinya adalah mainan anak-anak.” Ivar tersenyum.


Apa mungkin itu hadiah-hadiah yang pernah Ivar berikan? Luna sungguk kekanakan. Dia benar-benar ingin menghapus jejak dirinya agar tidak tertinggal dalam kehidupannya.


“Ada di mana barang-barang itu?”


“Aku suruh Luna menaruhnya di ruang kerja Abrar. Dia marah padaku karena tidak memintanya diletakkan di ruanganku.” Ezra senang saat sahabatnya kesulitan.


“Kau memang menyebalkan. Bisa-bisanya menumbalkanku.” Ezra tertawa melihat sahabatnya kesal.


“Besok aku bereskan. Sudah habis masa cuti ku. Nindi juga ada interview kerja besok pagi.” Ivar menatap wajah istrinya.


Nindi hanya tersenyum mendengar mereka membicarakan Luna di hadapannya. Luna dan Ivar saling mengenal sejak kecil. Wajar saja jika begitu banyak kenangan di antara mereka. Nindi harus membuka hati dan tidak boleh membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan cemburu. Toh bagaimanapun Ivar sudah memilih dirinya sebagai seorang istri.


“Tante Nin.....” Teriak Hanna membahana memenuhi ruangan. Dia berlari ke arah Nindi sambil memegang buku tugas di tangannya. “Aku lupa kalau besok harus menyerahkan tugas menggambar menggunakan cat air.” Hanna terlihat sangat menyesal melupakan tugas sekolahnya.


“Tenang sayang, setelah ini kita cari yah.” Nindi memeluk Hanna untuk mengurangi rasa bersalahnya.


“Paman akan carikan cat air yang Hanna butuhkan, tenang yah.” Ivar membelai kepala Hanna dengan penuh kelembutan.


“Tuan Putri lupa kalau ada tugas penting seperti ini?” Ledek Ezra menirukan suara anak kecil agar Hanna tertawa. Hanna mengangguk mengakui perbuatannya. “Tenang Putri. Pangeran akan menyelamatkan Putri!!!!” Ezra menggeliti Hanna sampai tertawa terbahak-bahak.


Ivar memang tidak sepintar Ezra saat sedang bersama Hanna, tapi kasih sayangnya lebih ditunjukkan lewat perbuatan Ivar selama ini pada Hanna. Gadis kecil yang bisa mengerti banyak hal tentang orang dewasa yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


“Ok Var, kita pamit yah. Kita janji akan seleaikan semua masalah secepatnya.” Abrar dan Ezra pamit meninggalkan kediaman Ivar.


Nindi mengajak Hanna berganti pakaian hangat, mengingat ini adalah hari libur. Pasti banyak toko-toko yang libur atau buka setengah hari. Setelah siap Nindi membawa Hanna turun menemui Ivar yang sudah menunggunya di bawah.


__ADS_2