Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
(Bingkisan)


__ADS_3

Hanna dan Nindi sedang berbaring di kasur lantai menikmati kesejukan kipas angin yang berputar dengan sedikit suaran deritan. Nindi membeli beberapa barang bekas yang masih layak pakai. Di rumahnya dulu hanya ada AC, tidak mungkin Nindi membawa ke kosan kecil yang saat ini dia tempati.


“Kira-kira bingkisan itu isinya apa yah?”


“Kenapa tidak di buka saja?” Jawab Hanna dengan gampangnya.


“Hahahhaa….benar juga.” Nindi duduk lalu kembali rebahan.


“Kenapa? Tidak jadi lagi?”


“Nanti saja.”


“Tante Nin ini aneh sekali. Kenapa harus repot padahal tinggal di buka saja.” Nindi meringis pada Hanna, dia tidak tau jatungnya sedang berdegub kencang seolah sedang lari marathon.


“Nanti saja Han. Tante masih ragu.”


Tring….


Ponsel Nindi bunyi.


“Pasti pengagum rahasia tante.” Karena Nindi tidak mau Hanna melihat isi pesan yang masuk, tidak seperti biasanya.


“Hanna tau saja.” Nindi segera maraih ponselnya.


Ivar : Apa sudah di buka bingkisannya?


Nindi : Belum


Ivar : Kenapa?


Nindi : Takut isinya BOM


Ivar : Benar, isinya BOM yang aku rakit sendiri.


Nindi terkejut membaca isi pesan Ivar. Segera Nindi meraih bingkisan dan meletakkannya di luar.


“Tante kenapa di taro di situ?” Teriak Hanna yang berdiri di belakang Nindi.


“Menjauh Han. Isinya berbahaya.” Hanna mengernyitkan dahinya bingung.


Ivar : Nindi….Kau tidur?


Ivar : Nindiiiiiii


Ivar : Nindiiiiiii


Ponsel Nindi bordering, panggilan masuk karena pesan Ivar tidak kunjung di balas.


“Hallo.” Jawab Hanna dengan nada menggemaskan.


“Sayang, dimana tante Nindi?”


“Dia sedang mengamankan bingkisan berbahaya.” Ivar terbahak di sebrang telpon. Nindi menanggapi leluconnya dengan serius.


“Berikan ponselnya pada tante Nindi ya sayang, Paman Ivar ingin bicara dengannya.” Hanna segera memberikan ponsel pada Nindi yang sibuk sendiri.

__ADS_1


“Siapa Han. Nanti saja, bilang saja aku sedang sibuk.”


“Apa Paman dengar?”


“Katakan telpon dari orang yang memberikan bingkisan Bom.” Hanna menirukan persis apa yang Ivar katakan.


Nindi terduduk lemas, hampir saja dia jantungan karena lelucon Ivar. Nindi menarik nafasnya panjang.


“Tuan….eh Kak Ivar. Jahat sekali. Aku pikir bingkisannya benar-benar BOM.” Siang tadi Ivar meminta Nindi memanggilnya dengan Kakak, Ivar tidak nyaman saat Nindi memanggilnya Tuan.


“Kau pikir aku benar-benar memberikan mu BOM?” Nindi terdiam, dia terlalu was-was semenjak kepergian Cakra dan Aruni.


“Tengah malam begini Kak Ivar tiba-tiba mengirim pesan. Aku benar-benar percaya kalau Kak Ivar berniat jahat.” Mengeluarkan isi hatinya.


“Tidak Nin, buka saja bingkisannya. Isinya bukan hal yang menakutkan.” Ivar menutup panggilannya.


Nindi membawa masuk kembali bingkisan yang sudah dia lempar ke teras depan. Hanna yang tadi juga mengikutinya sudah terlelap di ruang tengah. Wajahnya terlihat sangat cantik saat sedang tidur. Nindi menyelimuti tubuh Hanna dengan selimut bergambar boneka kesukaan Hanna.


Perlahan Nindi membuka isi bingkisan yang membuat dirinya penasaran sejak siang tadi. Melepas solatip perlahan agar tidak rusak. Semuah kotak berukuran sedang muncul dari bingkisan yang sudah berhasil terbuka. Nindi membukanya perlahan.


Dua kalung dengan liontin bertuliskan Hanna dan Nindi. Ivar tidak hanya memperhatikan dirinya, dia juga sangat perduli pada Hanna. Apa sebenarnya maksud dan tujaunnya, jelas-jelas sudah ada gadis yang tergila-gila dengannya.


Nindi memotret kalung yang yang Ivar berikan dan mengirimkannya pada Ivar.


Nindi : Apa ini hadiah? Aku tidak bisa menerimanya.


Ivar : Sudah aku katakan, aku tidak pernah dan tidak suka di tolak.


Nindi : Tapi Kak, aku takut salah paham.


Nindi : Aku tidak mau menyakiti perasaan wanita lain.


Ivar : Besok saja aku datang.


Nindi : Jangan, tolong jangan memberi harapan padaku.


Ivar tidak membalas pesan Nindi, baginya Nindi sudah terpaut dalam jiwanya. Ivar sulit menemukan wanita yang bisa tiba-tiba memalingkan dunianya. Dia benar-benar wanita yang selama ini Ivar cari. Sulit menemukannya, Ivar tidak akan dengan mudah melepaskan Nindi apapun yang terjadi.


Hari ini Nindi mulai bekerja di butik milik pengusaha kaya raya yang sangat cantik. Namanya Edelweis, Tuhan mengirim Nindi pada Edelweis yang tidak lain adalah Kakak dari Ivar. Wajah Nindi yang ramah membuat Edel ingin mencoba mempekerjakannya dan melihat kinerjanya.


Hanna di titipkan pada Ibu Surtini, meski Hanna merasa bisa menjaga dirinya sendiri selama Nindi bekerja.


“Sore Ibu.” Sapa Nindi pada Edel yang sibuk mengambar sketsa baju pengantin.


“Oh Nindi sudah datang. Ini tugas pertama kamu.” Edel menyerahkan bahan untuk Nindi potong.


“Baik Ibu.” Nindi sudah biaa praktek di kampus, tidak sulit baginya.


Diam-diam Edel memperhatikan cara kerja Nindi yang sangat rapih dan tertata. Dalam waktu singkat pekerjaannya sudah selesai. Edel seperti melihat dirinya dalam diri Nindi. Bakatnya harus di asah.


“Ada permintaan design gaun pesta untuk customer VIP butik kita, saya minta kalian buat satu orang satu yah, boleh kalau mau lebih juga.” Edel memang terbiasa melihat bakat para karyawannya, jika ada yang bisa dia asah, Edel akan dengan sungguh-sunggu melatihnya sampai bisa menjadi designer.


“Baik Ibu.” Jawab semua karyawan serempak.


Hari pertama Nindi masih tidak bisa fokus, dia memikirkan Hanna yang seorang diri di rumah. Memang ada Ibu Surtini yang dengan senang hati mau menjaga Hanna, tapi tetap saja hati Nindi tidak begitu nyaman.

__ADS_1


“Nindi, Nin…” Edel melihat Nindi melamun. Salah satu teman menyenggol lengan Nindi menyadarkannya.


“Ma..maaf Mbak. Saya tidak bermaksud.”


“Tidak apa, kamu bisa kan menemani saya sampai jam 11 malam? Ada clien yang malam ini datang.” Nindi mengangguk menyetujui permintaan Edel, menolak juga tidak enak hati. Ini hari pertamanya masuk kerja.


Edel merasakan kegelisahan Nindi yang tampak jelas di wajahnya. “Nindi, ada yang menunggu kamu pulang?”


“Ti…tidak ada Bu. Saya hanya khawatir saja. Tapi tidak apa-apa Bu.” Nindi mencoba menutupi dengan senyuman.


“Apa kau sudah menikah?” Iseng saja, padahal Edel sudah lihat CV milik Nindi dan statusnya masih Belum Menikah.


“Belum Bu.” Nindi tersenyum. “Tapi ada adik saya yang menunggu di rumah Bu.” Nindi jujur karena dia benar-benar khawatir.


“Berapa usia adik Nindi?”


“Dia 10 tahun bu, sebentar lagi 11 tahun.”


“Tidak ada orang yang menjaganya selain Nindi?”


“Kami hanya berdua Bu. Tapi saya sudah titipkan sama tetangga saya Bu.”


“Kasihan sekali dia Nin, ya sudah kita pulang saja. Kita lanjutkan lagi besok.”


“Tapi Bu…” Nindi tidak enak hati.


“Tidak apa, masih ada banyak waktu besok.” Edel membereskan bahan-bahan yang masih berserakan di bantu Nindi. “Kau boleh membawanya ke sini Nin. Asal dia tidak mengganggu pekerjaan mu.” Bicara sambil tersenyum.


“Benar Bu?” Nindi senang punya Bos yang sangat baik hati. Edel mengangguk meng iyakan.


“Rumah mu dimana? Ayo sekalian aku antar.”


“Jangan Bu, nanti merepotkan.” Lagi-lagi Nindi menerima kebaikan dari Edel.


“Tidak usah sungkan. Ayo cepat, Pak Bagas sudah menunggu kita di depan.”


Tidak lama mereka sudah sampai di depan gang sempit tempat tinggal Nindi. Lampu jalanan kembang kempis sepertinya akan segera mati.


“Hati-hati yah, kamu yakin gak mau di antar sampai ke dalam?” Tawar Adel yang melihat suasana sudah sepi.


“Tidak Bu terimakasih, di dalam sana ramai. Terimakasih banyak ya Bu.” Bagas segera menancap gas. Samar-samar Edel melihat mobil yang sama dengan milik Ivar. Bisa saja hanya kebetulan mirip.


Nindi lari dengan kecepatan penuh. Menarik nafasnya panjang saat sampai di depan rumah Ibu Surtini. Rumah kosannya masih gelap, rumah Bu surtini juga gelap. Nindi mencoba mengetuk pintunya beberapa kali namun belum ada jawaban. Cukup lama Nindi menunggu, lampu ruang tamu menyala. Sepertinya Bu Surtini sudah bangun.


“Siapa?” Ternyata Pak Kadin yang bangun.


“Nindi Pak. Mau jemput Hanna.” Teriak Nindi dari teras.


Suara deritan pintu terdengar sebelum Pak Kadin muncul. “Hanna sudah pulang katanya tadi sore.” Nindi melihat rumahnya yang gelap.


“Jadi Hanna sejak sore tidak di sini Pak?”


“Iya, kata Ibunya begitu.” Bu surtini dengan baju yang berarakan dan rambut berantakan keluar dari dalam rumah.


“Lagi tanggung loh kita Nin, maaf yah lama jadinya.” Tersenyum aneh. Nindi tidak paham dan memilih tidak bertanya lebih jauh.“Hanna ditemani pacarnya Mbak Nindi, dia datang sore-sore tadi. Anak-anak sini di traktir makan burger semua.” Cerita dengan penuh semangat. Nindi segera pulang memastikan Hanna baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2