
"Han....sudah enakan sayang?" Hanna masih menempel di pelukkan Paman Ivar. Lemas badannya.
"Enak....cuma lemas saja. Hanna sepertinya tadi kelelahan." Menjawab tanpa menoleh, malas sekali menggerakkan tubuhnya.
"Kegiatan apa di sekolah sayang?" Tanya Ayman penasaran.
"Tadi kegiatan olahraga, terus ada temen sekelas Hanna yang ulang tahun."
"Mereka menyalakan musik yang keras kah Han?" Nindi menimpali.
"Tidak kok, sedang saja musiknya. Ada kembang api juga, Hanna lupa namanya. Tapi suaranya mirip sekali dengan suara tembakan." Hanna bergidik. Rupanya ini pemicunya piker Ivar dan yang lain.
"Hanna gemetar kah Nak?" Edwin tidak kalah khawatir.
"Tidak, kan Hanna sudah tidak takut lagi. Cuma sangat keras suaranya, jadi sangat menganggu. Hanna tidak suka"
Ternyata bukan, mereka saling menatap satu sama lain. Mencoba mengorek tanpa membuat Hanna merasa di interogasi. Takut sekali Hanna sakit karena rasa khawatir dan takutnya yang berlebihan.
"Ada kah.....Hanna apa ada yang di rasa, atau yang membuat Hanna sedih, atau hal lain gitu Han?" Malah belepotan pertanyaan Nindi.
"Apa sih Tante, Hanna tidak mengerti." Jawabnya polos merasa bingung. Yang lain mulai menyadari Hanna merasa tidak nyaman.
"Lupakan saja Han, Tante juga bingung. Hahahaha...." Hanna menggelengkan kepalanya. Lucu sekali bertanya tapi bingung sendiri.
"Teman-teman Hanna baik kah dengan Hanna? Paman akan sedih kalau ada yang tidak baik pada Hanna." Hanna menggeleng. “Sungguh? Mereka tidak ada yang ganggu Hanna kan?”
"Baik kok, cuma Hanna bingung dengan ucapan Lula dan teman-teman." Hanna mengangkat kepalanya menatap satu persatu wajah semua orang. "Lupakan lah, tidak penting sekali." Mengurungkan niatnya. Hanna turun dari pangkuan Ivar. Tapi Pamannya menolak melepaskan.
"Paman masih rindu Han, beri waktu sebentar lagi." Ivar sedang mengobati rindu nya beberapa hari ini tidak bertemu Hanna.
"Kalau sakit bilang ya sayang, Paman, Tante dan Opah akan selalu ada untuk Hanna, sakit sekecil apapun sayang." Nindi tahu Hanna menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hmmmmm....saat ini Hanna ok, tidak sakit. Hanna baik saja Tante."
Meyakinkan Nindi agar tidak khawatir. Hanna sadar pertanyaan mereka karena kondisi dirinya yang tiba-tiba saja sakit sepulang sekolah. Hanna senang sekali sedang diperhatikan semua orang.
Belakangan ini perhatian untuk dirinya berkurang, semua orang sibuk dengan pekerjaan dan lupa kalau dirinya menunggu mereka pulang setiap saat.
Ditambah Hanna harus melihat mendung di wajah kesayangannya setiap saat. Rasa khawatirnya semakin bertumpuk menjadikan sakit yang tidak tau sebabnya, tapi merusak pola hidupnya sedikit berantakan.
Hanna bahkan belakangan ini berseteru dengan Lula teman dekat lainnya karena tidak sependapat dengannya. Hanna memilih menyendiri dulu ingin tahu kenapa dirinya menjadi seperti ini. Sepertinya karena perhatiannya berkurang, dan sekarang Hanna sudah yakin dengan sebabnya.
“Jangan terlalu sibuk bisa kah? Hanna butuh di sayangi seperti ini.” Ucap Hanna memecah keheningan. “Hanna juga sedih sekali lihat Tante sendirian belakangan ini, Hanna tidak kuat sekali melihatnya Paman.” Suaranya sedikit berat.
“Apa kita semua sejauh itu Han, Paman bahkan tidak sadar melakukannya Nak, maaf ya Han, Paman janji akan lebih perhatian lagi. Hanna pasti takut yah?”
Mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Takut sekali kalau harus berdua lagi dengan Tante Nindi saja, Hanna sudah sayang kalian semua.” Lucu sekali Putri nya sampai takut, Ivar kesal pada dirinya sendiri yang tidak peka dengan keadaan rumahnya.
“Mana mungkin Hanna berdua saja, Paman akan selalu jaga kalian. Maaf yah akhir-akhir ini sibuk sekali sayang.” Hanna erat sekali seolah meminta Ivar menepati ucapannya.
"Jangan takut sayang, Opah juga akan jaga Hanna." Ayman hanya tersenyum, anak nya sudah besar. Dia sudah bisa marah dan menyampaikan kegundahannya.
__ADS_1
"Sekarang Hanna, Adek Jason ke kamar yah. Main sebentar, Paman ingin bicara dengan yang lain." Hannya menggandeng Jason di ikuti dua pengasuhnya.
"Ivar sebelumnya sudah bicara dengan Nindi Pah, Mas." Berhenti sejenak. "Ivar akan kembali ke kesatuan." Edwin membola. Ayman hanya menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
"Ivar tidak bisa jika hanya berdiam diri Pah, Ivar mohon ijinkan Ivar kembali. Nindi lama-lama akan terbiasa." Keras kepala nya tidak mau mendengarkan penolakan.
"Tak kau pikirkan kondisi Nindi yang baru saja melahirkan, dia butuh sosok mu Var." Edwin menghela panjang nafasnya. Putra nya keras sekali jika sudah punya keinginan.
"Ivar sudah bulat, tidak ada yang bisa merubah tekad Ivar. Termasuk Nindi." Perih sekali, tapi Ivar ingin Nindi berkorban sedikit lagi.
“Papah tidak tahu harus bicara apa lagi, Papah hanya tidak bisa jika Nindi tidak memberikan ijin. Papah tahu Nindi tahu yang terbaik untuk kalian. Papah berharap Ivar tidak melanjutkan yang ini Nak, Papah juga berat.”
“Kalau Mas terserah Ivar, hanya saja lebih baik dipikirkan dengan matang. Jaga mereka selagi Ivar juga masih bisa, jangan menyesal seperti Mas sekarang Var.” Imbuhnya mengingatkan.
Nindi yang menyimak dengan hati nya yang sangat hancur sudah tidak bisa berkata-kata. Air matanya sudah kering, entah apalagi setelah ini. Hatinya sudah seperti terbiasa. Dia hanya takut akan hal mengerikan lain yang bisa saja terjadi.
Tapi suaminya memang sudah seperti ini sebelum bertemu dirinya, mungkin sekali lagi mengalah tidak akan menjadikan beban ini semakin berat.
"Maaf Sayang." Ivar tahu dirinya bersalah, tapi Ivar tidak mau langkahnya melambat dan kehilangan kesempatan menangkap pelaku yang sudah membuat keluarganya sehancur ini.
"Berikan Baby Nin, Mas yang temani Baby sebentar." Nindi yang memang sudah lemas melepaskan tangannya dan menyerahkannya pada Ayman. Edwin juga pergi memberikan ruang untuk mereka bicara lebih jauh.
Diskusi nya memang sudah selesai, meski percuma karena Ivar membuat keputusannya sendiri tanpa memikirkan suara dari orang lain. Matanya menatap lekat bola mata suaminya. Ivar mengindari, tidak kuat menatap sorot mata kesayangannya yang penuh kesakitan.
"Abang, apa seyakin itu harus kembali?" Ivar tidak menjawab. Dadanya sakit. "Jika seyakin itu sampai harus meninggalkan kemauanku, Papah dan Mas Ayman. Pergilah, kembali ketempat yang Abang inginkan." Lembut sekali membuat hati Ivar semakin tersayat.
"Nindi tidak akan sulit kan langkah Abang.
"Cerewet sekali." Ivar memeluk nya erat, surat ijinnya sudah ada. Tapi tidak di tanda tangani dengan lengkap, dia masih belum sepenuhnya menyetujui. "Jangan pikirkan apapun selain kebahagiaan kita. Abang akan janji tetap baik." Nindi menyerah berkeras hati.
Keadaan memintanya tetap menjadi sandaran untuk Ivar, menjadi kekuatan nya agar tetap percaya diri dengan keyakinannya.
Flass Back
Nindi terlihat sedang menyusui Baby , wajahnya sesekali meringis menahan perih.
"Sakit sayang?" Nindi menggeleng, dia sedang menikmati peran barunya.
"Abang kenapa, gelisah sekali wajahnya. Abang ok kan?" Tanya Nindi khawatir.
"Abang gak papa Kok Nin, jangan pikirkan." Ivar pura-pura sibuk dengan laptopnya.
"Katakan saja Abang, Nindi tahu betul Abang sedang punya pikiran. Jangan takut bicara Bang. Nindi kan selama ini pendengar yang baik."
Ivar duduk sedikit mendekat dari tempatnya. "Tapi Abang tidak akan goyah apapun yang akan Nindi ucapkan." Mengernyit, kenapa kata-kata awalnya sudah sangat menyakitkan.
"Kalau begitu tidak usah bicara, Nindi juga tidak ingin tahu." Kesal sekali, tapi nada nya masih penuh kelembutan.
Ivar kembali duduk sedikit menjauh, mengurungkan niatnya bicara karena Nindi sepertinya dalam keadaan tidak baik mood nya.
"Sini Abang yang gendong supaya angin di perutnya keluar." Nindi dengan senang hati menyerahkannya. Ivar memang sudah sekolah menjadi orang tua baru sebelum kelahiran Putra nya. Dirinya sudah mahir menggendong saat ini.
__ADS_1
Nindi merebahkan tuduhnya yang sangat lelah, menatapi keduanya penuh haru. Baby kuat sekali bertahan sejauh ini dengan berbagai macam masalah yang menimpanya. Kuat sekali dia. Nindi tenggelam dengan pikirannya sampai terlelap.
Wajahnya damai sekali.
Dua jam setelahnya Nindi terbangun, mendapati Ivar masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Abang...."Nindi menyandarkan dirinya di punggung Ivar. "Tadi ingin bicara apa?" Bersalah sekali malah tidur dengan nyaman tanpa rasa bersalah.
“Kenapa bangun? Kalau masih capek Nindi istirahat saja Nin.” Yang di ajak bicara sibuk menciumi aroma kesuakaanya. Ivar tersenyum, hatinya sedang tidak baik karena apa yang akan dia utarakan masih mengganjal.
“Maaf yah Bang, Nindi ketiduran padahal tadi ingin bicara hal penting kan yah. Maaf yah.” Masih tidak mau melepas pelukkanya.
“Tidak masalah, Abang bisa bicara sekarang.” Nindi sedikit penasaran tapi juga takut.
“Ya sudah, bicaralah Abang. Semoga yang Nindi takutkan tidak akan terjadi.”
"Sudah boleh bicara kah? Nindi siap mendengarnya?" Nindi mengangguk dengan yakin.
Dengan nafas bertanya Ivar mantap bicara. "Abang akan kembali ke kesatuan." Seolah bumi nya berputar di atas kepala Nindi. Pusing sekali seketika.
"Apa sih....bercanda yah?" Nindi mencoba menetralkan keterkejutannya. Nindi menahan tubuh Ivar yang hendak berbalik ke arahnya. Matanya sudah basah dengan cepat, respon kesedihannya sangat mudah akhir-akhir ini.
"Abang serius Nin, Abang harus tahu siapa dan kenapa. Kenapa Meraka sejahat itu melukai Mamah dan Kak Edel." Nindi terisak di belakang Ivar.
"Nindi tidak mau." Jawabnya serak.
“Abang Mohon.”
“Jangan bercanda Abang…..” Nindi menolak pelukkan Ivar. “Kenapa Abang sangat keras kepala. Tidak bisakah berhenti saja kali ini. Aku kehilangan sangat banyak. Aku tidak mau lagi. “ Nindi kesal.
"Abang sudah katakan tidak ada penolakan. Abang sudah bertekad dan Nindi tidak bisa menghalangi Abang." Meski Ivar tidak kuat melihat kesedihan Nindi, dirinya sudah bertekad tidak akan goyah. Nindi akan bisa menerima jika sudah terjadi.
"Jahat...Abang jahat sekali. Nindi tidak akan beri ijin." Nindi mengusap air matanya, Putra nya menangis. Nindi berdiri dari tempatnya dan segera keluar dari kamar.
Nindi bergabung dengan yang lain yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Baby.....Hay...." Hanna sibuk menggoda Baby yang tertidur kembali di gendongan Nindi.
"Nindi menangis kah?" Bisik Ayman yang melihat ujung mata Nindi basah. Dan pasti jawabnya tidak, Ayman sudah bisa menebak mereka sedang berdebat. Karena tidak lama Ivar juga keluar dengan wajah tidak kalah kusut.
"Tidak Mas, hanya sedikit kelilipan tadi." Menyeka tanpa sisa.
Ivar yang mendapati ruang tamu penuh mengurungkan bicaranya, memilih memeluk Hanna yang sudah beberapa hari ini tidak dirinya perhatikan.
Nindi mencoba menjaga hatinya agar tidak menangis di depan anak-anak.
Mereka harus selalu melihat dirinya bahagia, terutama Hanna yang sudah mengerti betul suasana hatinya. Sekarang bahkan Jason bisa ikut menangis jika dirinya menangis.
Mereka akan bahagia jika Nindi juga bahagia, mereka harus tumbuh dengan bahagia. Meski tidak lengkap, bahagia mereka tidak boleh berkurang. Mereka harus bahagia dengan sempurna, seperti matahari yang tidak pernah lupa bersinar di porosnya. Bercahaya dengan percaya diri tanpa keraguan. Nindi ingin menjaga mereka tetap utuh seperti itu.
Hatinya sakit, ingin berteriak tapi tidak bisa karena anak-anak menatapnya penuh kasih. Nindi mencoba meredam amarahnya.
__ADS_1