Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Pulau Terpencil


__ADS_3

Ivar dan keenam pasukan khusus yang berangkat di bawah komandonya tidak memiliki pemikiran buruk pada misi yang akan mereka selesaikan. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada kecurigaan.


Canda tawa meski getir karena harus meninggalkan keluarga demi tugas negara mengiringi keberangkatan ketujuh pasukan khusus yang punya prestasi cemerlang selama perjalanan karir mereka.


Penerbangan begitu tenang tanpa gangguan, beberapa memejamkan mata menikmati ketenangan sebelum melaksanakan misi rahasia yang sudah di jabarkan sebelum keberangkatan.


Hal aneh mulai terjadi saat arah pesawat tidak sesuai dengan titik koordit kompas milik Ivar dan keenam rekan lainnya. Awalnya Ivar tidak menganggap aneh, mungkin berubah sedikit karena alasan lain. Namun lama kelamaan semakin jauh dari titik tujuan utama.


Ivar mencoba menyalakan alat komunikasi penghubung antara kabin pesawat dengan ruang pilot.


"Kapten, mohon informasi arah penerbangan. Sepertinya rute tidak sesuai degan tujuan misi kita." Ivar diam sejenak, memandang wajah rekan satu persatu yang sama bingung dengan dirinya.


Ivar mulai curiga dan menganalisis raut wajah Pilot sesaat sebelum penerbangan. Ivar benar-benar tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan. Senyum dan keceriaan masih sama seperti biasanya.


"Kapten, pertanyaan saya ulangi. Rute penerbangan tidak sesuai dengan tujuan misi kita!” Mencoba menunggu jawaban. “Kapten....kau tidak dengar!!!!!" Ivar berteriak sekuat tenaga, masih hening tidak ada jawaban.


"Ma....maaf Komandan." Suara terdengar bergetar seperti orang yang sedang ketakutan.


"Katakan apa yang terjadi! Kenapa diam saja. Jelaskan pada kami kenapa rute berubah?” Ivar sedikit melembutkan nada bicaranya.


"Komandan, sebaiknya tenang. Berbahaya, kita semua bisa celaka." Bujuk salah satu rekan Ivar yang lumayan dekat dengan dirinya.


“Bayu!!!!!” Teriaknya begitu keras.


Dorrr...dorrr....dorrr....


“Komandan, ingat keselamatan kita. Tolong tenang.” Bujuknya sambil menahan tangan Ivar.


"Aku tidak bisa tenang, bagaiman hal seperti ini terjadi." Ivar mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan, dadanya bergemuruh penuh amarah.


Tidak ada percakapan lain. Ivar memilih diam mengikuti kemana mereka akan di bawa. Belum pernah terjadi hal seperti ini, bahkan Pilot yang dia kenal baik tidak pernah membelot kini berkhianat.


Benar saja, tujuan yang semula ke pangkalan militer di Kalimantan berubah. Mereka mendarat di pulau terpencil yang belum sekalipun Ivar dan teman teman nya lihat. Pulau yang sepertinya tidak masuk dalam peta Indonesia. Ivar benar-benar tercengang melihat bagaimana pulau yang sangat indah dan tersembunyi.


Tidak ada sambutan, mereka di giring oleh pasukan bersenjata lengkap memakai seragam serba hitam dengan wajah tertutup masker hanya nampak mata mereka lengkap dengan senjata Laras panjang.


"Kenapa ini, katakan ada apa?" Pilot satu-satunya orang yang Ivar harapkan bisa memberikan informasi hanya menggeleng. Dia sendiri bingung karena hanya mendapat pesan singkat yang berupa ancaman.


Mengusap air mata yang memalukan bagi seorang pria. Tapi emosi tidak dapat dipungkiri, dia menghianati pasukan yang selama ini saling menjaga satu sama lain. Rasa malu mendominasi dalam dirinya, bahkan menatap wajah teman-tamannya saja tidak sanggup.


"Kau menangis!" Ivar menoyor kepala Pilot yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri di depan Ivar. Dia tidak akan pindah sebelum ada perintah dari Ivar.


"Ma..maaf Komandan." Menyodorkan ponselnya pada Ivar. Meski dirinya tahu perbuatannya tidak bisa di maafkan, Bayu berharap alasannya bisa di maklumi dan tidak dianggap penghianat.


Video yang memperlihatkan istri dan anaknya dalam pengawasan penjahat yang kini menyekap mereka. Ada ancaman yang membuat Bayu benar-benar tidak bisa menolak permintaan untuk merubah tujuan mereka pada lokasi yang sudah diberikan.


"Dasar licik." Ivar membanting ponsel Bayu sampai hancur berserakan.


"Saya mendapat ancaman sesaat sebelum kita lepas landas. Maaf karena tidak bisa menolak dan terpaksa mengikuti perintah mereka." Ucapnya sambil terisak.


“Seharusnya kau katakan dan kita bisa batalkan keberangkatan kita Yu.” Jawab Aris yang kesal terjebak.

__ADS_1


“Maka istri dan anakku akan pulang dalam keadaan tidak benyawa. Aku benar-benar tidak bisa menolak.” Bayu semakin terisak karena emosi.


"Sudah tenang! Semua ini sudah terjadi, apa yang mereka inginkan?" Bayu menggeleng tidak tahu apa tujuan mereka.


"Komandan, apa ini berhubungan dengan misi yang seharusnya kita selesaikan?" Ivar terlihat berpikir keras.


Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak Berhati-hati, kini dia harus menunggu dalam diam demi keselamatan dirinya dan rekan yang bekerja di bawah kepemimpinan nya. Semakin dipikirkan Ivar semakin tidak mengerti alasan dirinya dan team kebangaannya di kurung di lokasi terpencil seperti saat ini.


Tubuh Ivar dan keenam anggotanya sangat lemas, mereka kehilangan berat badan karena satu minggu bertahan penuh kepedihan.


Satu Minggu berlalu, mereka hanya di kurung tanpa tahu tujuan yang ingin di dapatkan. Ivar tidak dapat mencari informasi karena lokasi tempat mereka di kurung sangat jauh terisolasi. Tidak ada listrik, mereka bahkan tidak merawat diri selama satu Minggu berlalu.


Tiba-tiba dalam keheningan satu pasukan Ivar menggigil hebat, bibirnya pucat dan matanya naik ke atas. Bayu, dia memang menyendiri merenungkan perbuatannya.


"Yah.....sadarlah, sadar Bayu!!!!." Ivar menepuk keras pipi Bayu agar tetap sadar. "Cepat minta bantuan!!!!"


Semua mencoba berteriak meminta bantuan pada siapa saja yang mungkin akan mendengar teriakan mereka. Namun tidak ada respon, Ivar meminta Ariel menjaga Bayu yang masih menggigil hebat. Dengan cepat Ariel duduk memposisikan dirinya memangku kepala Bayu menggantikan Ivar.


Ivar menatap tajam CCTV yang ada di ruangannya.


"Jika kalian membahayakan nyawa anggotaku. Aku akan benturkan kepalaku sampai tidak berbentuk dan kalian akan kehilangan tujuan kalian." Ivar dengan lantang mengancam orang yang menyekapnya.


Ivar yakin jika dirinya dan keenam pasukannya sedang di uji agar mental mereka lemah dan mudah menerima misi apapun yang akan mereka berikan pada Ivar dan anggotanya.


Tidak lama pintu terbuka. Pasukan dengan seragam tidak asing menodongkan pistol dan segera membawa Bayu keluar.


"Jika terjadi sesuatu padanya, kalian tidak akan aku lepaskan!!!." Ancam Ivar dengan suara gemetar penuh amarah.


"Bayu...." Ivar lega melihat Bayu baik-baik saja, dia duduk dengan wajah sendu penuh penyesalan. Wajah nya sudah tidak sepucat tadi. "Kau baik-baik saja?" Bayu mengangguk. Perasaan bersalah menyelubung, meski sakitnya bukan kesengajaan, dirinya merasa malu karena menjadi kaki tangan penjahat yang memanfaatkannya.


Kreekkkkkk....krekkkkk....Kreeekkkkk


Terdengar suara troli besi yang di dorong masuk ke ruangan mereka. Ivar dan kawan-kawannya yang satu Minggu hanya bertahan dengan air putih menelan ludah melihat makanan yang disajikan di atas meja. Aroma makanan membuat semua fokus memandang satu persatu sajian makanan yang di tata rapih.


Ivar menahan keenam anak buahnya agar tidak menyentuh makanan sebelum ada aba-aba.


"Ivar....!!!!" Suara laki-laki paruh baya yang tidak asing di telinga Ivar. "Makan lah, aku siapkan khusus untuk kalian. Pasti kalian sangat lapar buka!" Duduk di depan meja makan.


"Apa maksud dari semua ini Jenderal. Kenapa kami di sekap! Kenapa kami di perlakukan seperti binatang."


"Duduklah dulu, kita bicara sambil makan." Ivar takut makanan mengandung racun.


"Aman Ivar, tidak perlu khawatir. Kalian orang-orang berharga, aku tidak mungkin melukai kalian." Ivar maju mencicipi satu persatu hidangan.


Ivar menuruti perintan agar tidak mempersulit keadaan, padahal dirinya ingin sekali merobek wajah laki-laki tua yang duduk dengan wajah tidak bersalahnya sambil tersenyum padanya.


Setelah satu menit tidak ada reaksi dalam tubuhnya, Ivar mengijinkan anak buahnya untuk menyantap makanan tersebut. Mereka makan dengan lahap, ada senyum getir di wajah Ivar. Perih melihat keadaan pasukannya yang tidak berdaya namun masih tetap setia pada perintahnya. Meski lapar, mereka tidak kehilangan kendali.


"Setelah ini kalian akan bekerja keras." Ucap Kapten Permadi yang menduduki jabatan tinggi sebagai Jenderal di Angkatan Darat.


Tidak terasa Ivar dan keenam anggotanya kini bekerja dibawah ancaman sudah lebih dari 3 bulan lamanya. Ivar dan keenam anggotanya yang bekerja terpisah mulai mencuri-curi waktu saling berbagi informasinya untuk merencanakan pemberontakan.

__ADS_1


Ivar melakukan pekerjaan Ilegal, dari mulai mengawasi penjualan obat-obatan terlarang, jual beli munuman keras ke luar negeri dan penyelundupan senjata yang dibeli secara rahasia oleh Kapten Permadi. Tentu Ivar tidak bodoh, dirinya bekerja sambil mengumpulkan informasi yang akan dia gunakan untuk menyeret Permadi dan beberapa oknum lain yang juga terlibat.


Sungguh Ivar tercengang dengan apa yang kini dia hadapi, Permadi yang dikenal lemah lembut dan berdedikasi tinggi ternyata begitu menakutkan di belakang layar. Ivar beruntung karena ada satu pasukan yang bekerja di bawah Permadi ingin membelot. Dirinya muak dimanfaat Permadi untuk pekerjaan kotor seperti ini.


Ivar dan ketujuh orang di bawahnya kini sering melakukan pertukaran informasi tanpa sepengetahuan Permadi. Namun bagaimanapun bangkai disimpan, tetap akan tercium baunya.


Permadi sadar dirinya sedang dipermainkan oleh Ivar, Permadi diam-diam menugaskan seseorang mengawasi pergerakan Ivar dan keenam anggota di bawahnya. Permadi masih belum tahu ada bawahannya yang membantu Ivar.


Tengah malam seperti biasa Ivar dan keenam anggotanya berkumpul satu minggu sekali secara diam-diam. Ivar tidak sadar pergerakannya di awasi oleh Permadi.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Ivar pada Cakra yang kebetulan sudah datang lebih dulu dari dirinya. Cakra hanya mengangguk.


Brukkkk....


Ariel datang dan langsung memeluk Ivar. “Aroma tubuh yang selalu aku rindukan.”


“Kau! Menyingkir kau Ril, hanya Nindi yang boleh memelukku seperti ini.” Mendorong tubuh Ariel dengan sedikit terkekeh.


Tidak lama semua anggota datang, ada Bayu, Ariel, Cakra, Zoel, Malik dan Aris. Sedangkan tidak muncul.


“Dimana Natan?” Tanya Ivar heran.


“Apa ada kemungkinan dia tertangkap?” Bisik Zoel sedikit khawatir.


“Tidak biasanya dia mangkir dari pertemuan seperti ini.” Ucap Ivar yang juga tidak kalah khawatir.


Ctreeekkkkk.....


Lampu tiba-tiba menyala, ruangan yang semula gelap kini terang, menampakkan Permadi yang duduk di ujung ruangan dengan banyak pasukan di belakangnya.


Prokkk....prokkkk.....prokkkkk.....


Permadi bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak. Ivar dan keenam anggotanya sedikit mundur karena terkejut. Ivar takut Permadi akan menyakiti keenam anggotanya.


Natan tidak menonjolkan dirinya, dia bersembunyi di barisan paling belakang agar Ivar tidak dapat melihat dirinya. Natan terlambat tahu jika Permadi sudah mengetahui Ivar akan melakukan pemberontakan, beruntung Natan masih belum tercium bekerjasama dengan Ivar dan pasukannya.


Monitor besar memutarkan Film, Ivar melihat Nindi tengah berjalan bersama teman-temannya sambil tertawa bahagia. Rasanya Ivar ingin masuk ke dalam layar dan memeluk Nindi melepaskan rindunya.


Setelahnya, Ivar melihat bagaimana Nindi nyaris saja tertabrak motor yang melaju begitu kencang ke arahnya.


“Yaahhhh!!!! Permadi! Kau GILA!” Teriak Ivar karena tidak bisa menahan amarahnya. “Jangan menyakiti Nindi. Atau kau akan mati di tanganku!” Ivar sudah berdiri di depan Permadi penuh kemarahan. Dirinya dikepung pasukan Permadi yang menodongkan senjata ke arahnya.


“Hahahahha......sebelum tanganmu sampai ke leherku. Kepalamu sudah pecah Var kena peluru.” Jawabnya dengan enteng.


“Kurung mereka.” Perintah Permadi yang segera dieksekusi oleh pasukannya.


“Kenapa kau diam saja Var. Kau pasti sangat khawatir pada istrimu.” Tanya Ariel yang tahu betul bagaimana cintanya Ivar pada Nindi.


“Bukan itu yang aku pikirkan, Nindi nampak sedikit gemuk. Apa dia bahagia tanpa diriku?” Ivar takut Nindi menikmati waktunya tanpa kehadirannya.


“Jangan ketularan Permadi Komandan, kau ini ada-ada saja. Mana ada istri yang bahagia hidup tanpa suaminya.” Jawab Ariel sambil terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2