
Pagi ini begitu sibuk, Edel menyiapkan beberapa koper besar yang akan dia bawa dalam perjalananya ke Bali untuk liburan. Edel sudah menyiapkan liburan dari jauh hari, dia butuh liburan untuk menyegarkan otaknya yang sudah dipenuhi dengan berbagai proyek pekerjaan yang menunggu tenggat waktu. Meski sibuk, Edel tidak akan mau di perdaya oleh pekerjaan, dia selalu punya jadwal liburan.
“Tidak apa kan Nin, Hanna kasihan kalau libur sekolah hanya di rumah saja.” Nindi tersenyum menatap wajah Edel yang merasa tidak enak hati padanya.
“Aku yang selalu berterimakasih pada kalian semua, aku sangat beruntung. Aku tidak membesarkan Hanna seorang diri, dia punya kalian semua yang dengan tulus mencintai dia.” Edel memeluk Nindi ikut terharu.
Pasti sulit menjadi Nindi, dia harus jadi Ibu, Ayah dan juga teman bagi Hanna. Tidak ada waktu untuk dirinya sendiri memikirkan kebahagiannya. Dia hanya memikirkan kebahagiaan Hanna yang ditinggal kedua orang tuanya.
“Jangan bicara seperti ini Nin, aku sangat berterimakasih atas kehadiran Hanna. Dia melembutkan hati suamiku yang keras seperti baru koral, hahahaha....” Edel tertawa mengingat bagaimana Ayman dulu yang sangat kaku.
“Apa separah itu Kak?” Edel mendekat di sisi Nindi, menengok kanan kiri memastikan Ayman tidak ada.
“Kau tau Nin....” Nindi menyimak dengan antusias. “Dulu saat dia mendekatiku, dia tidak pernah menyatakan perasannya.” Mata Nindi membulat tidak percaya.
“Benar Nin, tapi dia tidak membiarkan siapa pun mendekati ku dengan alasan aku adalah kekasihnya.”
“Terus Kak... apa yang Kak Edel lakukan?” Edel semakin merapat.
“Kau tau Nin, aku datangi dia. Dia bekerja di gedung sebelah butik milikku.” Nindi mehanan tawanya yang hampir saja meledak. Edel berdiri bertolak pinggang seolah sedang berdiri di depan Ayamn saat itu. “Hey....kau....kenapa mengaku-ngaku sebagai kekasihku, aku bahkan tidak mengenal siapa dirimu. Jangan suka seenaknya bicara.”
“Apa yang Kak Ayman lakukan? Apa dia benar-benar jatuh cinta padamu?” Edel tersenyum sangat lebar, begitu bangga laki-laki setampan Ayman tergila-gila padanya. Wajahnya merona tersipu malu.
“Dia berdiri sambil tersenyum menatap mataku tajam.” Edel menarik nafasnya panjang. “Ayman menggenggam tanganku dan berbisik di telingaku, Aku sudah bertekad akan memilikimu. Tidak akan ada laki-laki yang bisa mendekatimu apapun yang terjadi.” Nindi tidak menyangka mereka sangat dramatis tapi romantis.
“Aku membayangkan Kak Edel gemetar saat itu, hehehehe....” Edel menepuk paha Nindi setuju. Dia memang gemetaran ketakutan.
“Kau pasti tau bagaimana rasanya, aku masih bergidik saat mengingat masa lalu itu Nin. Kau tau Nin, sore harinya sepulang kantor dia datang ke rumah mengikuti ku dari belakang. Tapi aku tidak menyadarinya Nin.” Edel menyenderkan tubuhnya di sofa sambil senyum-senyum sendiri.
“Kalian lucu sekali.” Nindi tertawa geli membayangkan suasana hati keduanya.
“Kak Ayman sangat gentleman. Dia bahkan tidak butuh persetujuanmu untuk melamar. Apa yang membuat Kak Edel menerima pinangannya?”
“Bagaimana aku menolaknya, dia datang dengan gagah berani menujukkan keseriusannya padaku. Selama ini laki-laki yang mendekatiku hanya tertarik pada kecantikanku atau harta orang tuaku yang melimpah, mereka tidak tulus Nin.” Tidak mudah mengidentifikasi mana yang modus dan mana yang tulus, Edel sampai beberapa kali berganti pasangan karena merasa di bodohi.
“Semua sudah berlalu, Kak Ayman dan Kak Edel beruntung bisa saling memiliki.” Edel hanya tersenyum girang.
“Hmmmm....Hmmmmm....” Ayman berdehem cukup kencang. “Sayang, kalau sudah puas bernostalgia tolong temani Jason, aku ingin ke kamar mandi.”
“Wah, ternyata dia mendengar percakapan kita Nin.” Bisik Edel merasa malu. “Iya Mas, tunggu sebentar.” Edel segera berlari menghampiri Ayman.
Nindi masih tersenyum senyum sendiri karena cerita cinta Kaka Iparnya, Ivar juga sama kakunya. Dan Ivar juga sama-sama gentleman seperti Ayman. Dia tidak memiliki keraguan sedikitpun untuk meminang Nindi dan menjadikannya bagian dari masa depan.
__ADS_1
“Nak....kau sudah bangun?” Sapa Ellie yang baru saja pulang dari pasar bersama Bi Inah. “Mamah siapkan sarapan sebentar yah.” Nindi mengangguk mengiyakan. Ellie sekarang sangat lembut padanya, Nindi sangat bersyukur terlepas bagaimana dia memperlakukannya selama ini.
Edel memasuki kamarnya sambil menahan malu. Dia begitu mengagumi Ayman sampai tidak pernah sekalipun membuka kejenakaan sifat Ayman jika menyangkut orang-orang yang dia sayangi.
"Kenapa wajahmu malu-malu begitu?" Edel menggeleng tersipu. Bisa-bisa nya pertanyaan seperti itu muncul, tentu saja dirinya sedang malu bukan kepalang.
"Cepat mandi Mas, Jason sepertinya masih betah tidur."
"Hmmmmm....." Jawab Ayman masih dengan nada malas. Edel menepuk dadanya lega. Untung saja Ayman tidak marah. Dulu saat ketahuan menceritakan kisahnya pada teman-temannya, mata Ayman melotot penuh kemarahan dan berakhir permintaan maaf yang panjang. Mungkin dia sudah malas marah apda hal-hal remeh seperti ini sekarang.
"Hanna...bangun sayang, ayo Han. Paman dan Tante sudah bersiap-siap, nanti Hanna bisa tertinggal." Gadis kecilnya yang baru membuka mata menguap berulang kali mengumpulkan nyawanya yang masih tersebar di alam mimpi.
"Tante...." Terdiam beberapa saat. Nindi membelai rambut Hanna yang berantakan. "Kalau kita semua pergi Tante kesepian tidak?" Nindi tersenyum.
"Kenapa Hanna berpikir Tante kesepian? Hanna khawatir yah!" Hanna mengangguk sambil memeluk erat perut Nindi.
"Hanna di rumah saja yah sebaiknya?" Tawar Hanna meski liburan sangat mengiurkan.
"Tidak dong sayang, Tante kan di temani Omah dan Opah. Jadi Tante akan baik-baik saja tidak kesepian."
"Jadi Hanna liburan saja tidak papa?" Nindi mengangguk. "Kalau Tante kesepian gak papa kok, Hanna temani saja di rumah." Nindi terharu, Hanna sudah seperti sahabat kecilnya. Sudah bisa di ajak diskusi dengan sangat baik.
Tok......tok.......
Kepala Ayman muncul dengan wajahnya yang ramah. "Putri kecil Paman sudah sadar?" Kening Hanna mengernyit.
"Memangnya Hanna pingsan, Paman aneh.....hehehehe ......" Hanna terbahak dengan lelucon Pamannya.
Keduanya saling berbalas kata sampai membuat siapa saja yang mendengarnya ikut terhibur. Tawa Hanna begitu ringan, dia benar-benar terlihat sangat bahagia. Ayman benar-benar sudah sepenuhnya mencintai Hanna seperti Putrinya sendiri.
Tawa Hanna tentu saja membuat semua ikut senang. Setelah persiapan selesai Ayman, Edel, Jason dan Hanna segera bergegas untuk berangkat. Mereka bergegas karena jadwal penerbangan sudah mepet. Ayman dengan segala kerepotannya menggendong Jason dan Hanna ke dalam mobil. Edel bertugas mengawasi semua barang agar masuk tanpa ada yang tertinggal.
Rumah mendadak sepi seperti tidak ada kehidupan. Duduk dua orang tua yang kini sudah seperti orang tua kandung bagi Nindi. Senyum menyambut saat dirinya masuk setelah mengantar keberangkatan Hanna.
"Ayo Nin, kita sarapan. Kamu pasti lapar." Ajak Ellie yang sudah menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak cucu dan menantunya yang pergi liburan.
Meja makan tidak seramai biasanya. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring bersautan. Kaku dan sangat formal, Nindi merasa asing dengan suasana seperti ini.
"sepi yah tidak ada Hanna.” Ucap Edwin memecahkan keheningan. “Ini seperti keadaan rumah kita dahulu." Edwin dan Ellie saling tersenyum, Hanna memang lentera keluarganya kini.
"Maaf yah, dia memang sangat berisik." Balas Nindi merasa tidak enak dengan sikap Hanna yang sangat periang dan berisik.
__ADS_1
"Bukan minta maaf Nak, kami malah berterimakasih. Kalau tidak ada Hanna, rumah kami tidak bersuara. Kami jadi tau kenapa Ayman dan Ivar begitu jatuh hati pada Hanna, terutama Ayman, dia jadi banyak bicara." Ellie tertawa tidak percaya dengan perubahan Ayman yang drastis. Kehadiran Nindi dan Hanna membawa banyak perubahan.
"Nin....apapun yang terjadi. Jangan cemas ya Nak, kita akan selalu ada, kita akan bahagia bersama." Berulang kali Edwin menegaskannya pada Nindi.
"Nindi tidak akan banyak khawatir sekarang, Nindi sudah berserah diri Mah, Pah." Ellie yang duduk di tengah menggenggam kedua tangan orang yang sangat dia sayangi.
"Papah ada meeting di Kantor Nindi hari ini. Kita berangkat bersama yah. Papah siap-siap dulu." Nindi mengangguk mengiyakan. Kebetulan Nindi memang sudah selesai bersiap diri.
"Kau tau Nin.... Papah bukan tipe orang yang mudah bicara banyak dan manis seperti yang kau kenal selama ini. Tapi akhir-akhir ini dia banyak berubah. Dia begitu sering mengungkapkan perasannya pada kita semua. Dulu Papah tidak banyak bicara."
"Nindi juga merasakannya Mah. Nindi senang Papah lebih terbuka sekarang." Awal-awal kedatangan Nindi, Edwin memang tidak begitu banyak ikut campur, dia lebih banyak diam, Ellie juga setuju dengan pendapat Nindi.
"Dahulu dia diam meski merasa tidak setuju degan pendapatku, sekarang dia akan ungkapan apapun yang menjadi pendapatnya. Mamah sangat bersyukur, yah...meski kadang dia bikin Mamah kesal sih." Nindi menyimak dengan penuh haru.
“Apa Mamah dan Papah begitu saling menyayangi? Sampai detik ini?” Tanya Nindi yang melihat mereka selalu romantis meski sudah tidak lagi muda.
“Tentu saja, meski kelihatannya cuek, Papah orang yang cukup rmantis. Ivar dan Ayman kalah kalau soal menghargai wanita Nin.” Jawab Ellie bangga.
“Aku bisa melihatnya, kalian sangat romantis.” Balas Nindi tidak kalah bangga punya orang tua yang harmonis. “Bagaimana Papah dan Mamah bertemu? Nindi semakin penasaran.”
“Jangan menceritakannya, memalukan.” Ellie tersipu malu.
“Ak benar-benar penasaran.” Pinta Nindi memelas.
“Apa ini keinginan bayimu?” Nindi mengangguk saja agar Ellie mau menceritakan kisahnya.
“Dulu Papah dan Mamah bergabung di organisasi yang sama saat kuliah. Papah orang yang sangat tampan dan digandrungi banyak gadis-gadis remaja.” Nindi melihat potret Edwin yang terpampang jelas di dinding. “Papah sangat baik pada kami semua teman-teman wanitanya, kami semua GR dan merasa dia menyukai kami tanpa tau kepastian Papah menyukai siapa.” Mata Nindi berbinar membayangkan.
“Apa Papah benar-benar idola?” Ellie mengangguk.
“Kami gadis-gadis saling berebut ingin menjadi pacarnya. Karena tidak ada kepastian siapa yang Papah suka, Mamah merasa penasaran. Mamah datangi Papah yang sedang bermain basket.” Wajah Ellie memerah, sepertinya dia benar-benar merasa malu. “Mamah teriak di tengah-tengah keramaian menyatakan perasaan Mamah.” Mata Nindi terbelalak.
“Benarkah!” Nindi tidak percaya Ellie dengan berani menyatakan perasaannya.
“Iya, bahkan ada beberapa Dosen yang melihat kelaukan aneh Mamah.” Nindi menahan diri agar tidak tertawa.
“Apa yang Papah katakan setelah mendengar perasaan Mamah?”
“Nin, Mamah di panggil ke ruang Dosen sebelum bisa menemui Papah karena melakukan perbuatan tidak pantas di lingkungan kampus, dulu jaman Mamah tidak sedemokratis sekarang.” Nindi mengangguk paham dengan situasinya.
“Setelah itu Papah yang mendatangi Mamah saat sedang perayaan ulang tahun kampus, menyanyikan lagu kesukaanya dan menerima Mamah sebagai wanita yang berhasil menarik hati Papah sampai jatuh cinta.” Ellie tersipu malu mendengar ucapan Edwin yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.
__ADS_1