Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Penyamaran


__ADS_3

Edwin menjalankan rencanya yang sudah di buat sedemikian rupa bersama Prabu untuk mengelabuhi lawannya saat ini. Percakapannya dengan Prabu dibuat seolah-olah mereka benar-benar akan melakukan perjalanan ke luar negeri.


Sesaat setelah mereka duduk di pesawat, Prabu memindahkan secara diam-diam semua anggota keluarganya ke pesawat pribadi miliknya. Edwin membawa keluarganya hanya untuk mengelabui keberadaannya. Edwin tidak tega jika harus membuat semua keluarganya hidup di negeri orang yang begitu jauh dari tempat asalnya.


Dalam perjalanan menjemput anak-anak dan istrinya, Edwin membisikkan rencananya pada Prabu yang akhirnya disetujui oleh sahabatnya yang keras kepala itu. Dengan berbagai cara dan memanfaatkan koneksinya di penerbangan, Prabu dan Edwin berhasil menjalankan rencanya dengan lancar tanpa ada mengetahuinya.


Edwin menggunakan mobil sewaan menepi di pinggiran jalan, mengawasi setiap sudut jalan takut ada yang membuntutinya. Setelah di rasa semua aman, Edwin menjalankan rencanaya untuk membawa keluarganya ke rumah lain miliknya yang tidak sering dia datangi. Tempat tinggal yang berada di dekat sekolah Hanna saat ini. Rumah yang cukup besar namun sangat sederhana.


Tidak ada satupun yang bertanya maksud dari perjalanan melelahkan yang entah memiliki tujuan apa sebenarnya. Wajah-wajah kelelahan yang memendam keingintahuaannya sedang duduk menatap Edwin yang tidak kalah kelelahan.


Ribuan pertanyaan yang ingin sekali mereka tanyakan, namun melihat keadaan Edwin semua orang tidak tega mengintrogasinya. Ellie menghampiri sang suami yang masih terlihat murung.


“Papah baik-baik saja?” Ellie menyodorkan teh hangat yang baru saja dia buat. “Minum Pah, biarkan perasaanmu tenang.”


Edwin meneguk teh hangat yang Ellie buat. “Kalian pasti kebingungan, kenapa Papah melakukan perjalanan aneh seperti ini.” Edwin mengusap kasar wajahnya.


“Kami percaya pada Papah.” Edel mengecup pipi Edwin hangat. “Aku sangat lelah. Ayo kita istirahat dan bicarakan ini lagi besok.” Pintanya pada Edwin yang tahu saat ini tidak tepat membicarakan dalam keadaan lelah.


“Benar Pah, kita bicarakan saat suasana kita segar. Aku benar-benar merasa berat membawa perutku.” Nindi mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


“Putri-Putri Papah sudah besar, baiklah. Kita istirahat dan bicarakan lagi besok.” Satu persatu semua anggota keluarga meninggalkan ruang tamu masuk ke kamar masing-masing yang sudah mereka bagi sebelumnya.


Nindi dan Hanna tidur di kamar yang sama, Nindi tidak melepaskan pelukannya pada Hanna yang masih saja belum bangun dari tidurnya. Meski demamnya sudah turun, Hanna tidak juga membuka matanya. Nindi sedikit khawatir karena tidak biasanya Hanna tidur begitu lama.


Malam semakin larut, Nindi bolak balik mencari posisi nyaman untuk tubuhnya yang lelah namun tidak bisa tidur dengan nyaman. Matanya benar-benar menolak terpejam. Nindi akhirnya menyerah, kini Nindi duduk di balkon kamarnya menikmati angin malam yang menyejukkan.


Akhir-akhir ini Nindi sering sulit tidur, entah karena pikirannya yang sedang tidak tenang atau memang bawaan Ibu hamil yang suka aneh-aneh tidak bisa di tebak. Nindi menyandarkan kepalanya di kursi, Nindi memejamkan matanya, membayangkan wajah Ivar yang sangat dia rindukan. Tidak terasa air mata mengalir membasahi wajah cantiknya.


Tidak lama Nindi memutuskan kembali kekamar karena tubuhnya sudah merasa dingin. Menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut hangat dan kembali memeluk Hanna yang masih terlihat nyaman dalam tidurnya. Tidak terusik meski beberapa kali Nindi mengecup kening dan pipinya gemas.


Tidak terasa jam berputar begitu cepat. Sinar matahari masuk dari sela-sela gorden yang menutup jendela kaca. Nindi menggeliat menyegarkan tubuhnya yang terganggu cahaya mentari yang menyilaukan. Nindi tidak melihat keberadaan Hanna. Nindi segera turun dari kasurnya mencari keberadaan Hanna.


Nampak Hanna yang sudah menggunakan seragam sekolah lengkap sedang makan roti di meja makan bersama Ayman. Hanna terlihat baik-baik saja dengan senyum yang sudah kembali seperti Hanna biasanya. Nindi duduk di sebelah Hanna sambil memeluknya.


“Tante sudah bangun? Aku goyang-goyangkan tangan Tante tidak bangun juga tadi pagi.” Hanna bicara sambil memanyunkan bibirnya gemas, mulutnya yang penuh dengan roti tidak menghalanginya bicara.


“Ahhh....Tante masih mengantuk.” Nindi menciumi pipi Hanna yang semakin gembul.


Prannnkkkkk.....

__ADS_1


“Sayang!” Ayman segera lari ke dapur menghampiri Edel. “Kenapa?” Edel hanya tersenyum malu.


“Tanganku licin, Heheeh.” Edel mengangkat tangannya yang penuh sabun.


Edel dan Ellie berbagi tugas karena mereka tidak ada satupun yang membantu, beberapa waktu kedepan mereka harus membiasakan diri mengerjakan semuanya seorang diri tanpa bantuan Asisten Rumah Tangga.


Dengan segera Ayman membersihkan serpihan gelas agar tidak melukai kaki istri tercintanya. Edel mematung memperhatikan tingkah menggemaskan Ayman yang begitu mengkhawatirkan dirinya.


Ayman melepaskan celemek yang menempel di tubuh Edel. “Serahkan padaku.” Ayman mengambil alih pekerjaan Edel.


Edel memeluk Ayman. “Ini pekerjaan Perempuan.” Ledeknya sambil menahan celemek yang sudah Ayman lepaskan talinya.


“Kata siapa! Laki-laki juga handal mengerjakan apapun pekerjaan Perempuan.” Ucapnya dengan bangga setelah berhasil menarik celemek dari tangan Edel.


“Pasangan suami istri ini selalu saja membuat ku iri, aku padamu Mas.” Goda Nindi yang selalu menginginkan kebersamaan yang hangat.


“Kenapa orang dewasa selalu aneh.”


“Hanna.....” Ucap Nindi, Edel dan Ayman serentak. Mereka akhirnya tertawa bersama karena Hanna terjingkat kaget mendengar namanya di panggil serempak.


Dua orang asing yang masuk bersama Edwin sedang duduk di ruang tamu. Mereka nampak membawa banyak peralatan salon. Entah apa yang akan Edwin lakukan.


“Memangnya mau di apakan Opah? Kan rambut Hanna sudah cantik.” Ucap Hanna sambil mengibaskan rambutnya centil.


“Bagaimana kalau modelnya seperti ini?” Tawar Edwin sambil memperlihatkan foto model rambut pada Hanna.


Hanna mengambil foto yang Edwin tunjukkan dan membawanya pada Ayman yang ada di dapur.


“Paman.....” Lari menghampiri Ayman. “Apa Hanna boleh potong rambut model seperti ini?” Hanna ingat saat dirinya menggunting rambut bersama Edel dan Ayman tidak menyukainya. Ayman memicingkan matanya.


“Yang ini saja, lebih cocok dengan wajah dan umur Hanna.” Tunjuk Ayman pada gambar lain.


“Opah....” Hanna mengatur nafasnya karena lari kesana kemari. Edel dan Nindi yang sedang menikmati sarapan hanya tersenyum melihat tingkah Hanna yang jenaka. “Yang ini saja, lebih cantik.” Edwin dan Hanna melakukan tos saling setuju.


Selesai dengan rambut Hanna, satu persatu semua orang melakukan perubahan model rambut agar tidak mencolok keberadaannya. Meskipun Prabu melakukan penjagaan ketat, Edwin tetap ingin melakukan upaya yang maksimal agar keluarganya aman.


Kali ini Edwin mengantarkan sendiri Hanna ke sekolah dan Nindi sampai ke kantor. Sedangkan Ayman dan Edel hanya diperbolehkan bekerja dari rumah. Itupun hanya diperbolehkan menggunakan ponsel dengan nomor lain yang bukan milik mereka.


Nindi tampak begitu cantik dengan potongan rambut baru yang sedikit dibuat keriting untuk menyamarkan penampilannya. Setelah yakin Nindi akan baik-baik saja, Edwin baru melangkah pergi dari ruangan Nindi yang ada di lantai 5.

__ADS_1


“Kau sangat cantik Nin. Apa ini model yang sedang tren saat ini?” Cindy yang sedari tadi memperhatikan dari jauh sudah mendekat menempel di samping Nindi.


“Apa aku cantik?” Cindy mengangguk dengan mata berbinar-binar.


“Kau terlihat seperti dari kasta yang berbeda denganku.” Nindi terkekeh mendengar ucapan Cindy.


Brukkkkk.....


Gunar menjatuhkan dokumen yang dipegangnya. Kesedihan yang menyelimutinya semalaman punah melihat Nindi pagi ini yang sudah duduk di meja kerjanya. Gunar tidak perduli dengan dokumen yang berserakan, langkahnya cepat menghampiri Nindi membuat Cindy mundur menjauh.


Gunar menangkup pipi Nindi dengan kedua tangannya. “Ya Tuhan syukurlah ini nyata. Aku sangat takut kau benar-benar pergi ketempat yang aku tidak tahu Nin.” Ucapnya yang membuat dada Nindi berdegup cukup kencang.


“Pak, tolong jangan seperti ini. Orang lain bisa salah paham Pak.” Gunar melepaskan tangannya.


“Kau benar, maaf Nin. Aku hanya sangat bahagia.” Gunar melangkah kembali menghampiri dokumennya yang berserakan. Cindy yang kebetulan ada di sana dengan sigap membantu atasannya.


Satu persatu teman-teman satu divisi Nindi sudah datang. Kini ruangan ramai dengan suara Mariska yang mendominasi, dia sedang mengagumi kecantikan Nindi yang baru saja mengganti model rambutnya.


Ken yang mulai menunjukkan ketertarikannya pada Mariska mulai intens mendekati Mariska semenjak dia tahu hubungan percintaan Mariska kandas.


“Hay...” Sapa Ken begitu canggung pada Mariska.


“Tumben nyapa pagi-pagi pake muka ganteng lagi. Kenapa Ken? Kesmabet yah!” Jwabnya merasa aneh.


“Masa orang mau berbuat baik tunggu kesambet dulu.” Ken masih tidak terpancing, mencoba menahan diri agar tidak mengomel.


“Lagian aneh, pagi-pagi sok hay...hay, gak kaya biasanya kan.” Meminta pembelaan pada Nindi yang berada di dekatnya.


“Ken lagi jatuh cinta yah?” Tanya Nindi penasaran. Ken tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Nindi.


“Iya Nin, tapi orangnya gak peka Nin. Hehehe....” Mariska menahan senyumnya.


Cieeee.....


Sorak teman-teman lain yang juga mendengarnya.


“Nih Mar, aku beli sekalian lewat tadi.”


“Cie...cie....ternyata jautuh cinta sama tetangga sebelah nie.....Udah Mar terima aja, sama-sama jomblo juga.” Ledek Putra yang tidak tahan melihat Ken sangat manis pagi ini.

__ADS_1


Pagi ini Ken membawakan roti coklat kesukaan Mariska yang membuat wajah Mariska berbinar-binar. Teman-temang lain juga saling meledek dan menjodohkan mereka berdua karena sama-sama jomblo. Suasana kantor begitu meriah karena ulah dua sejoli yang baru saja menebar bunga-bunga asmara.


__ADS_2