Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Masa Lalu Meera


__ADS_3

“Baunya tidak asing.” Mengendus rambut Nindi berulang kali.


“Abang hentikan, geli Bang.” Nindi menjauh dari Ivar mencoba menghindar.


Ivar mencoba mencari barang bukti ditempat sampah, benar saja ada bungus mie instan yang terkulai di dalam sana. Ivar menatap tajam wajah Nindi yang sepertinya takut dia marahi. Bukan Ivar kalau tidak menggoda Nindi. Ingin tertawa namun Ivar tahan karena ingin melihat wajah menggemaskan Nindi saat tertangkap basah melakukan kesalahan.


“Sejak kapan Abang ijinkan Nindi makan makanan tidak sehat seperti ini!” Nindi membisu dan hanya tersenyum. “Jawab Nindi, abang tidak sedang bercanda!”


“Ma...maaf Abang.” Menunduk.


Ya Tuhan Abang, melihat matamu saja aku tidak sanggup, kau seram sekali Abang. Kenapa Abang turun di saat tidak tepat seperti ini. Apa yang harus aku katakan padanya. Bicara memaki dirinya sendiri dalam hati karena bingung harus beralasan seperti apa.


“Nindi tidak memikirkan bagaimana Abang menjaga Nindi agar tetap sehat” Ivar duduk di depan Nindi memperhatikan Nindi yang masih menunduk di depannya.


“Maaf Abang.” Lirihnya mencoba menghentikan omelan Ivar.


“Tidak bisa hanya dengan kata maaf, Nindi benar-benar tidak menghargai Abang kalau begini.” Mata Nindi sedikit berkaca-kaca.


“Tidak ada maksud Nindi melakukannya Abang, Nindi janji tidak akan makan sembarangan lagi.” Mencoba tersenyum merayu Ivar.


“Abang kecewa.” Nindi memeluk Ivar dengan erat. Ivar merasa menang. Ivar tidak membalas pelukkan Nindi agar aktingnya meyakinkan.


“Jangan seperti ini Abang, jangan marah hanya karena mie instan. Maafkan Nindi.” Masih tidak melepaskan pelukannya.


“Abang kecewa, Nindi benar-benar tidak menghargai Abang sebagai suami Nindi.” Nindi tidak kehabisan akal, Nindi mengecup bibir Ivar sekilas. Biasanya Ivar akan luluh dengan kelakuan Nindi yang membuatnya tidak lagi bisa marah.


“Abang laki-laki paling Nindi cintai saat ini. Tidak mungkin Nindi tidak menghargai Abang.” Menatap Ivar dengan penuh peyesalan.


“Hahahaha.....Abang bercanda sayang.” Nindi kesal Ivar mengerjainya. Ivar memeluk Nindi dengan erat, masih tertawa karena merasa Nindi mudah sekali dia bohongi. “Kenapa menangis?” Ivar sedikit menyesali ke isengannya. “Abang tidak marah.” Kembali memeluk Nindinya yang sedang menangis.


“Abang jangan bicara sembarangan lain kali, Nindi tidak suka mendengarnya.” Nindi mudah sekali menangis, dia tidak bisa mendengar kata-kata yang menyakitkan akhir-akhir ini.


“Maafkan Abang, Abang hanya ingin menggoda Nindi saja. Sekarang mau kembali ke atas?” Nindi mengangguk.


“Abang....” Ivar berbalik menatap mata istrinya yang malam ini sedikit nakal. “Anakmu minta di gendong.” Ivar kembali tertawa dibuatnya. Tanpa basa basi Ivar menggendong Nindi naik ke atas. Ada-ada saja permintaan Nindi akhir-akhir ini yang membuat Ivar kadang merasa heran.


“Ada lagi yang Nindi inginkan?” Nindi menggeleng, dia memeluk erat Ivar memejamkan matanya. “Ada yang ingin Abang katakan pada Nindi, cerita lebih tepatnya.” Nindi yang sudah merebahkan tubuhnya kini memposisikan dirinya duduk, Ivar ikut duduk karena memang pembicarannya akan menguras banyak emosi.


“Aku takut.”


“Tidak perlu takut sayang, dengarkan baik-baik. Abang tidak pernah melarang Nindi berteman dan bergaul dengan siapa saja. Tapi tidak dengan Meera.” Ivar memijat pelipisnya menatap wajah Nindi penuh pertimbangan.


“Tidak apa Abang, tolong ceritakan saja. Nindi ingin tahu kenapa Abang tidak percaya dengan Kak Meera.” Ivar menarik tubuh Nindi ke pelukkannya. “Nindi tidak selemah itu Abang, Nindi bisa melewati semuanya. Abang lihat sendiri bagaimana kuatnya Nindi menunggu Abang.” Ivar mulai yakin Nindi bisa menerima ceritanya.

__ADS_1


“Dulu sekali saat kami sama-sama dalam masa pelatihan, Meera adalah salah satu anggota satuan terbaik. Kami sangat bangga karena dia bisa berkembang pesat sama seperti kami anggota laki-laki lainnya.”


“Kak Meera sehebat itu?” Ivar mengangguk.


“Kami berlomba menjadi anggota terbaik agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Tapi setiap saat ada saja anggota pelatihan yang mengalami cidera dan bahkan ada beberapa sampai cidera parah dan tidak bisa melanjutkan pelatihan.” Nindi mencoba mencerna cerita dengan baik.


“Nindi bisa Abang, Abang boleh lanjutkan.” Mencoba meyakinkan Ivar yang berhenti bicara.


“Kau tahu apa yang terjadi pada kami?” Nindi menggeleng. “Aku tahu siapa pelakunya saat diriku menjadi targetnya.” Ivar membuka kaos yang membalut tubuhnya menunjukkan bekas luka di siku tangan kirinya yang cukup panjang.


“Ini....jangan bilang Kak Meera yang melakukannya!” Ivar mengangguk. Ada senyum getir di wajahnya.


“Abang dan Ariel tidak akan percaya apa yang teman-teman Abang katakan tentang Meera kalau Abang tidak mengalaminya sendiri.” Nindi menelan salivanya berulang kali.


“Tapi Kak Meera terlihat sangat hangat dan baik Bang.” Nindi merasakan ketakutan.


“Tidak sampai di sini sayang, Meera benar-benar nekat melakukan bom bunuh diri saat semua ulahnya tertangkap basah oleh atasan. Semua orang tidak percaya dengan apa yang terjadi, dia gadis berprestasi yang kami semua sayangi. Dia paling muda diantara kami semua, dia sangat manis.” Ivar sangat kesal tidak bisa membimbing Meera sampai akhir.


“Abang merasa bersalah.” Ivar mengangguk.


“Aku dan Ariel sama-sama suka padanya dulu. Aku mengalah karena Ariel mengatakan isi hatinya sebelum aku menyampaikannya.” Nindi tersenyum namun ada rasa cemburu.


“Jangan menceritakan isi hati Abang. Kalau itu Nindi tidak akan kuat mendengarnya.” Ivar mengacak rambut Nindi gemas.


“Apa Kak Meera sakit?” Ivar mengangguk.


“Dia memalsukan hasil pemeriksaan kejiwaan yang dia lakukan sebelum melakukan pelatihan agar diterima di kesatuan. Dia tidak melakukannya seorang diri, Ayahnya yang paling punya peran di sini. Dia yang menyebabkan Meera menjadi gadis menakutkan.” Ivar benar-benar emosi dibuatnya.


“Kasihan Kak Meera.” Matanya berkaca-kaca.


“Ayahnya mendidik Meera sangat keras sejak kecil. Dia tidak boleh menjadi pecundang, di manapun dia harus mendapatkan nilai dan peran terbaik demi kepuasan Ayahnya yang gila penghargaan. Dia tidak menyadari semua itu membuat luka yang begitu dalam bagi Meera.”


“Kenapa Ayahnya tega melakukan itu pada Kak Meera.” Ivar tersenyum kecut, dirinya juga tidak paham jalan pikiran Ayah Meera yang keterlaluan.


“Setelah bebas, Ariel mencoba meyakinkan Meera akan cintanya. Dia ingin memiliki Meera seutuhnya dan menikahinya. Meera mencoba memperbaiki semua yang sudah dia lakukan. Tapi Abang masih tidak bisa percaya begitu saja padanya. Abang memang terlihat egois, tapi percayalah. Abang punya ketakutan yang begitu besar kalau dia bisa saja menyakiti kamu Nin.”


“Apa tidak bisa kita memberinya kesempatan? Aku rasa semua orang bisa saja berubah jika dia berada di tangan orang yang tepat.” Ivar lega Nindi tidak sedikitpun merasa terbebani.


“Apa Nindi bisa menjaga diri baik-baik jika sedang bersama Meera. Dia bisa saja sewaktu-waktu kembali menjadi Meera yang kejam, yang saat ini Nindi lihat adalah yang kami lihat saat itu Nin. Dia wanita yang semanis itu Nin, tapi kami semua tertipu Nin.”


“Nindi akan mencoba menjaga jarak, tapi Nindi ingin memberinya kesempatan juga Kak. Mungkin dengan kita terbuka dan menerima kehadirannya, Kak Meera akan terbiasa dan dia bisa menjadi wanita baik seutuhnya.”


“Abang percaya pada keputusan Nindi, tapi jangan meminta Abang membiarkan Nindi dan Meera pergi atau melakukan aktifitas tanpa Abang Atau Ariel. Dia harus tetap di awasi.”

__ADS_1


“Siap Abang.”


“Sekarang tidurlah Nin. Sudah hampir pagi.” Nindi menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Masih merinding mendengar masa lalu Meera yang begitu menakutkan.


“Ariel juga cerita kalau Nindi tadi hampir saja terpeleset.” Nindi membuka matanya kembali. “Kenapa tidak cerita? Apa takut Abang marah?” Nindi mengangguk.


“Meera menceritakan semuanya, dia merasa menyesal dan tidak mau memendamnya sendiri. Dia menceritakan semuanya pada Ariel karena dihantui rasa bersalah.”


“Aku rasa Kak Meera berusaha keras menjadi orang baik Kak. Aku menyesal juga tidak hati-hati saat berjalan tadi. Nindi semakin yakin kalau Kak Meera ingin benar-benar berubah Kak.”


“Lain kali ceritakan apapun yang Nindi alami, Abang mohon. Abang tidak mau Nindi menyimpan apapun hanya karena takut Abang marah atau Abang khawatir.”


“Maaf kan Nindi Abang, lain kali Nindi tidak akan menutupinya. Nindi hanya takut Abang marah dan jadi lebih membatasi kegiatan Nindi, aku tidak suka. Tolong Abang bersikap seperti biasa saja Abang.” Pintanya memelas, Nindi sedikit kesal karena Ivar sangat over protektif.


“Abang paham Nindi pasti tidak nyaman, tapi Abang akan lebih marah lagi kalau Nindi kenapa-napa dan Abang tidak tahu kalau Nindi mengalami hal buruk.


Abang mau selalu ada untuk Nindi sayang. Percayalah pada Abang, semua yang Abang lakukan karena Abang tidak mau Nindi terluka dan sakit. Abang tidak mau ada penyesalan karena tidak bisa menjaga Nindi dengan baik.” Nindi memeluk erat tubuh laki-laki yang sangat mencintainya dengan tulus.


“Nindi sangat sayang Abang, maaf kalau Nindi menganggap sikap Abang berlebihan.” Terharu dengan laki-laki keras kepalanya yang selalu mengkhawatirkan dirinya.


Ivar membalas pelukkan Nindi dengan hangat, rasanya lega menceritakan semua kekhawatirannya dan mendapat tanggapan baik yang tidak mengganggu Nindi sedikitpun. Dia malah punya simpati yang sangat tinggi pada Meera. Ivar semakin percaya Nindi nya kini sudah dewasa. Dia selalu berfikir dengan bijaksana.


Tidak lama Nindi tertidur pulas, Ivar yang tidak bisa memejamkan matanya lagi memutuskan untuk turun ke bawah mengunjungi kamar Hanna. Gadis kecilnya masih tertidur pulas, Ivar menciumi wajah Hanna sampai Hanna terganggu dan membuka matanya dengan lebar.


“Paman kenapa sangat nakal, Hanna masih mengantuk Paman.” Menarik kembali selimutnya. Ivar malah ikut tidur dan memeluk Hanna. “Paman Hanna tidak bisa bernafas.” Kesalnya menyingkirkan tangan kekar Ivar dari atas perutnya.


“Paman tidak akan bangun sampai Hanna bangun.” Menggelitiki Hanna yang yang masih terlihat kesal karena ulahnya.


“Baiklah Paman, Hanna akan bangun. Padahal Hanna masih bisa tidur beberapa menit lagi.” Ivar gemas dan kembali menciumi wajah Hanna.


“Kenapa Hanna lucu sekali, Paman jadi ingin makan pipi gembul Hanna.” Hanna pasrah karena menolak ciuman Pamannya hanya akan membuatnya digelitiki sampai lemas.


“Paman berhenti memperlakukan Hanna seperti balita, Hanna sudah besar.” Ivar seperti dihujam batu besar di jantungnya. Ivar menatap tajam wajah Hanna yang menatapnya dengan serius. “Hanna memperhatikan semua teman-teman Hanna lebih dewasa dari Hanna, mereka terbiasa mandiri dan tidak lagi diperlakukan seperti balita seperti Hanna.” Ivar memijat pelipisnya bingung harus menjawab apa.


“Kenapa Hanna berfikir diperlakukan seperti Balita?” Mencoba mengorek apa yang Hanna risaukan.


“Tante Edel dan Tante Nindi bahkan Omah masih sering menyuapi Hanna dan Hanna tidak bisa menolak. Hanna selalu dilayani seperti tuan putri padahal Hanna bisa melakukannya sendiri. Apa Hanna seperti anak kecil dimata kalian semua? Hanna ingin seperti teman-teman Hanna.” Ivar menarik lembut tangan putri kecilnya.


Dia sangat pandai bicara seperti orang dewasa, Ivar tidak menyadari sikapnya dan semua keluarganya membuat Hanna merasa tidak nyaman. Padahal tidak ada maksud membuat Hanna merasa berkecil hati dan membuatnya iri dengan teman-temannya.


“Anak cantik tidak suka diperlakukan seperti itu? Apa yang harus kami semua rubah agar Hanna merasa diperlakukan seperti orang dewasa? Katakan, Paman akan minta semua orang melakukannya.” Hanna mengangguk.


“Tolong biarkan Hanna makan sendiri, menyiapkan semua peralatan sekolah sendiri dan menyelesaikan PR sekolah Hanna sendiri. Tidak perlu di dampingi, jika Hanna kesulitan, Hanna akan bertanya langsung tanpa kalian harus mengawasi Hanna.”

__ADS_1


Ya Tuhan, Ivar tidak rela Hanna dewasa secepat ini. Ingin sekali berteriak dan protes dengan permintaan Hanna yang seperti memintanya tidak lagi terlalu memanjakan gadis kecilnya. Ivar benar-benar tidak tahu harus menyikapinya bagaimana.


__ADS_2