Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Ulang Tahun Luna


__ADS_3

Nindi memandang layar ponselnya setelah selesai menghubungi Edel. Ada foto dirinya berbalut gaun pengantin cantik di peluk laki-laki yang sangat dia cintai. Laki-laki yang sangat dia rindukan setengah mati. Berharap dia baik-baik saja di luar sana, dan kembali dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


Nindi menghela nasafanya dalam, dia tidak sadar ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Perasaan Nindi sampai meski tidak diucapkan dengan kata-kata. Wajah dan matanya menjelaskan bagaimana perasaanya saat ini.


Ellie membawa nampan berisi bubur kacang hijau hangat yang dia buat khusus untuk Nindi. Sarapan sehat diperlukan agar Ibu dan sang calon jabang bayi sehat dan tetap terjaga kondisinya meski begitu banyak masalah yang menimpa mereka.


“Mikirin apa Nin.” Suara Ellie membuyarkan lamunan Nindi. “Sudah jangan banyak pikiran, sekarang makan dulu Mamah buatkan sarapan bubur kacang hijau.” Nindi membetulkan duduknya.


“Padahal semalam Nindi baru saja ngidam bubur kacang hijau, ini seperti kita punya ikatan batin ya Mah.” Ellie tersenyum, padahal semalam dia tidak sengaja dengar suara Nindi yang mendambakan bubur kacang hijau, dan memang sehat. Jadi Ellie dengan senang hati membuatnya.


Nindi terlihat sangat menikmatinya. Ellie senang melihat Nindi berusaha sekeras ini agar terlihat baik-baik saja.


“Wah-wah, kenapa kalian makan tanpa mengajak Ayah.” Nindi tersenyum melihat Edwin yang muncul dan bergelayut di pundak istrinya.


“Tolong Ayah cuci tanganmu dulu, setelah itu aku siapkan bubur kacang terenak di seluruh jagat raya.” Balas Ellie menggoda Edwin.


“Percaya Mah, lihat Nindi sampai lahap begitu makan semangkuk penuh.” Nindi hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tua yang kini menjaganya.


“Libur mau kemana Nin?” Nindi berpikir keras, tidak ada ada bayangan. “Mau ikut Ayah tidak? Ayah mau mengunjungi Prabu, Luna ulang tahun.


“Apa aku bisa datang? Aku merasa tidak terlalu dekat dengan Luna.” Edwin tidak menanggapi. Masih mencari kalimat yang pas. “Apa Luna tidak marah jika aku datang? Aku takut malah merusak suasana.


“Luna bukan gadis yang pemarah dan pendendam, dia baik hati. Sama seperti kamun Nin, dia pasti tidak akan keberatan dengan kehadiran kita bertiga.” Ellie menjawab dengan bijak, dia mengenal luna dengan sangat baik.


“Benar apa yang Mamah katakan, Luna gadis yang cukup baik.”


Percakapan terhenti saat bel rumah berbunyi, tidak lama Bi Inah datang menginformasikan siapa yang datang. Edwin menemui tamu tak di undang yang datang sepagi ini. Wajahnya yang ramah berubah terlihat tidak bersahabat.


“Keluar! Jangn menunjukkan wajahmu di depan Putiku.” Edwin keluar dan Antoni mengikutinya dari belakang. “Kenapa? Apapun yang terjadi tidak akan merubah keputusanku menjebloskanmu ke penjara.” Edwin berkacak pinggang memandang sinis wajah Antoni yang memelas.


“Tuan, saya mohon. Berikan saya belas kasihan Tuan.” Antoni bersimpuh di depan Edwin.


“Tidak, jangan mengharapkan apapun, dan lekaslah pergi dari hadapanku.” Edwin meminta penjaga rumah membawa Antoni keluar dari halaman rumahnya.


Edwin sudah lama mencari keberadaan Antoni yang hilang begitu saja, dengan bantuan berbagai pihak dengan cepat keberadaan Antoni segera ditemukan. Edwin mengunci semua relasi bisnis sampai Antoni bangkrut dan tidak bisa menjalankan bisnisnya. Dia tidak bisa bergerak kemanapun.


Edwin berjanji tidak akan melibatkan Nindi dalam masalah ini. Dia sudah terlalu banyak beban, tidak baik untuk dirinya dan kandungannya. Dia sudah meminta Abrar dan Ezra agar tidak lagi membahas kecelakaan Kakak Nindi yang memang dilakukan oleh Antoni. Kasusnya kini ada dalam pengawasan Edwin agar Antoni mendapatkan ganjaran yang setimpal.


Antoni masih bebas bergerak karena bukti langsung belum ditemukan oleh pihak penyidik. Dia masih berkelit jika yang melakukan bukanlah dirinya. Dia sering datang karena dia dan Cakra adalah rekan bisnis. Hubungan mereka sangat dekat, sulit bagi Edwin membuktikan jika Antoni bersalah dan dalang dalam kasus perusakan mobil yang menyebabkan Cakra kecelakaan.


Edwin kembali ke dalam rumah setelah berhasil meredakan emosinya. Tidak mau terlihat emosional di depan orang-orang yang dia sayangi.


***

__ADS_1


Siang hari Edwin, Ellie dan Nindi berangkat ke rumah Prabu. Ada pesta kecil-kecilan yang Prabu gelar untuk menyambut hari kelahiran Putri semata wayangnya.


Perjalanan cukup jauh membuat Nindi terlelap dengan nyaman. Kehamilan membuatnya mudah sekali tidur dan mmebuatnya mudah merasa lelah. Ellie perlahan menepuk tangan Nindi karena sudah sampai.


“Maaf....aku ketiduran.” Nindi merapihkan rambutnya yang pasti acak-acakan. Ellie membantu membenahi gaun yang Nindi kenakan.


“Tidak apa, pelan-pelan Nak.” Edwin mengulurkan tangannya setelah Ellie selesai membantu Nindi bersiap-siap. Membantu Nindi agar turun dengan aman dan nyaman tanpa terluka. “Tetap cantik meski baru bangun tidur.” Bibir Nindi mengalun senyum saat mendengar ucapan Edwin. Hilang semua rasa khawatir akan penampilannya.


Luna lari dari dalam saat melihat kedatangan Edwin dan keluarganya. “Ayah....!!!!!” Teriak Luna begitu hangat menyambut kedatangan mereka.


“Kenapa lama sekali, macet ya Yah?” Tanya Luna cerewet seperti biasa. “Mamah sehat?” Memeluk Ellie. “Kak Nindi cantik sekali.”


Edwin memeluk Luna yang sudah seperti Putrinya sendiri. “Sudah berapa tahun usia Putri Ayah sekarang? Kapan kau tumbuh Nak, Ayah ingat saat kau sering menangis dulu.” Luna tersipu malu, dirinya memang sangat manja dan kekanakan.


“Jangan bahas itu Ayah, aku malu.” Bisik Luna membuat Edwin tertawa. “Ayo kita masuk, Ayah Prabu sudah menunggu kita. Mamah juga masak makanan kesukaan kita.”


Ada perasaan cemburu yang Nindi rasakan melihat kedekatan kedua orang tua Ivar dengan Luna. Gadis yang di jodohkan dengan Ivar namun malah berakhir menikah dengan dirinya.


Edwin menggenggam erat tangan Nindi, spertinya dia paham bagaimana perasaan Nindi. Luna sudah berlalu sambil menggandeng Ellie, Ibu kesayangannya. Mereka memang sangat dekat.


Ternyata banyak teman-teman Luna yang sudah datang, suasana ramai. Ada beberapa relasi bisnis yang juga di undang untuk meramaikan pesta kecil-kecilan yang Prabu gelar. Pesta yang di idamkan Luna tidak di wujudkna karena beberapa waktu lalu Luna berulah dan membuat Prabu tidak bisa memaafkannya dengan mudah.


Luna bersyukur meski kecil, Prabu masih perduli dengan dirinya. Luna malah berpikir jika tidak akan ada pesta ulang tahun untuk dirinya.


Sosok laki-laki yang sangat Nindi kenal tersenyum padanya. Meski sering bertemu di kantor, rasanya canggung saat bertemu di pesta ulang tahun Luna seperti ini. Edwin tidak melepaskan genggaman tangannya. Dia tidak suka melihat senyum Gunar yang begitu tulus pada Nindi.


“Hai Nin, apa kabar?” Gunar mengulurkan tangannya. Edwin menahan tangan Nindi, dan malah dia yang menyambut tangan Gunar.


“Kalau tidak salah, kau Gunar kan yah.” Gunar megangguk, dia merasa sikap Edwin sama saja dengan sikap Putranya pada dirinya. Dingin.


“Benar Paman. Saya Gunar, saya satu kantor dengan Nindi.” Gunar membalas sopan.


“Kau anak muda yang hebat. Prabu sering menceritakannya padaku. Sepertinya dia tertarik padamu, tidak ada salahnya berhubungan baik. Siapa tahu kamu berjodoh dengan Luna. Dia gadis yang baik.” Percakapan yang membuat suasana semakin canggung.


“Paman bisa saja, baik Paman. Saya ijin ke luar sebentar.” Gunar tidak nyaman.


“Oh iya, Nindi juga pasti lapar. Ayo nak, cucuku pasti ingin mencicipi makanan yang ada di sini.” Nindi berlalu meninggalkan Gunar yang masih tersenyum padanya.


Melihat perlakuan Edwin mengingatkannya pada Ivar, mereka sangat sama. Nindi merasa sedang di awasi Ivar saat bersama Edwin.


Nindi duduk dengan manis menunggu makanan datang, Edwin tidak membiarkan Nindi berkeliling, takut kelelahan.


“Nak coba ini. Ini sangat enak.” Ellie muncul entah dari mana membawa siomay khas Bandung.

__ADS_1


“Kau mengambilkan siomay juga?” Edwin menatap kedua tangannya.


“Ini sangat enak, sepertinya aku akan menghabiskan dua porsi. Ini sangat lezat.” Nindi memang banyak makan semenjak hamil.


“Memang boleh makan banyak-banyak siomay?” Pertanyaan Edwin meski senang melihat Nindi sangat nafsu makan.


“Boleh Tuan. Asal jangan makan satu panci penuh, bahaya!” Celetuk Dr. Brasko yang juga di undang oleh Prabu.


“Dokter, lama sekali kita tidak berjumpa.” Edwin menyambut Brasko, edwin memberondong Brasko dengan berbagai macam pertanyaan yang berkaitan dengan kehamilan.


“Mah, aku ke toliet sebentar yah. Aku tidak tahan.”


“Mau di temani tidak?” Tawar Ellie.


Nindi menggeleng sambil berlalu, dia sering bolak balik kamar mandi tidak bisa menahan buang air kecil. Nindi berlari kecil karena sudah tidak tahan. Dia sampai tidak memperhatikan ada tumpahan air di lantai.


Slleeerrrttt.....aaahhhh......


Gunar menahan menangkap tubuh Nindi yang hampir saja terjungkal terpeleset. Nindi masih memejamkan matanya.


“Nin, kau tidak apa? Apa ada yang sakit?” Suara Gunar membuatnya tersadar. Reflek Nindi memeluk Gunar karena sangat berterimakasih. Gunar menepuk pundak Nindi menenangkan.


“Terimakasih Kak, aku benar-benar takut tadi.” Nindi memegangi perutnya yang sudah sedikit terlihat. Gunar sadar, ada yang Nindi lindungi saat ini.


“Tidak apa Nin, kamu aman.” Nindi melepaskan dirinya dari pelukkan Gunar. “Kau mau ke toliet?” Nindi mengangguk. “Aku akan menunggu di sini. Masuklah.”


Jantung Nindi masih berdebar tidak karuan, menyesal karena tidak berhati-hati dan hampir saja celaka. Nindi menahan air matanya, perasannya bercampur aduk tidak karuan. Perasaan bersalah membuat dirinya emosional.


Nindi keluar menundukkan kepalanya. “Kenapa Nin? Kamu baik-baik saja?” Nindi mengangguk namun matanya berkaca-kaca.


Gunar bingung, dia hanya menuntun Nindi kembali ke meja makan tempat Edwin dan Ellie berada.


Melihat wajah Nindi yang sendu, Edwin bertanya-tanya sambil menatap Gunar. “Dia menyakitimu?” Tunjuk Edwin pada Gunar yang berdiri di hadapannya. Nindi menggeleng.


“Kak Gunar membantuku.” Jawab Nindi lirih namun masih terdengar.


“Kau terluka?” Edwin dan Ellie memeriksa tubuh Nindi. “Ada apa Nak? Kenapa?” Tanya Ellie begitu penasaran.


Ellie memilih memeluk Nindi yang tidak kunjung menjawabnya. Hanya ada kesedihan di wajah Nindi. “Tenang Nak, ada Mamah di sini.” Nindi meneguk teh hangat yang Edwin bawakan. Kini perasaannya berangsur tenang.


Luna datang membawakan kue ulang tahun yang begitu menggiurkan. Dengan sopan Luna menyuapkannya pada Nindi, Edwin dan juga Ellie.


“Kita harus jadi sahabat ya Kak, aku sudah seperti Putri mereka, mari kita lupakan perasaan tidak menyenangkan yang sudah berlalu.” Nindi mengangguk lega, ternyata Luna lebih dewasa dari kelihatannya. Dia sangat bijaksana dan begitu menghargai orang lain, tidak seperti prasangkanya dulu saat dirinya belum mengenalnya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2