Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Ivar Pasti Kembali


__ADS_3

“Kenapa Nindi belum juga sadar? Apa kau sudah memeriksanya dengan teliti Dok?” Gunar tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ketakukan dengan kondisi kesehatan Nindi menutupi rasa kecewanya mendengar kehamilan Nindi.


“Tenang Nak, sebentar lagi juga Nindi akan bangun. Tenang Nak, duduk supaya kau bisa lebih tenang.” Prabu mencoba menenangkan Gunar yang terlihat sangat gelisah, kerutan di pelipisnya bahkan melebihi kerutan miliknya.


“Apa Paman sudah menghubungi Ivar? Nindi pasti sangat membutuhkan Ivar saat dia sadar.” Prabu sampai tercengang. Masih ada empati yang tinggi ternyata, tidak sepelik yang Prabu bayangkan.


Ternyata dia masih waras, aku kira mereka punya hubungan gelap di belakang Ivar. Untung saja tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Jika tidak anak ini bisa aku lempar dari sini. Prabu menyeka keringatnya yang bercucuran.


“Paman sudah menghubungi Edwin, dia sebentar lagi akan sampai.” Ada baiknya mengikuti saran Paman Prabu. Gunar duduk di samping Nindi karena kakinya terasa kram.


“Kenapa tidak meminta Ivar datang, apa dia tidak bisa meluangkan waktu untuk istrinya?” Gunar terdengar sangat emosional, wajahnya sampai bersemu merah.


“Bukan seperti itu Nak, Ivar sedang bertugas. Dan dia tidak akan bisa datang. Tenang saja, kita jaga Nindi bersama-sama.” Prabu mencoba menjernihkan pikiran Gunar agar tidak melebar.


“Laki-laki yang sangat aneh, dia bahkan tidak punya waktu untuk Nindi.” Gumam Gunar yang tidak digubris Prabu. Biarkan saja, jika di balas akan menjadi panjang masalahnya.


Perlahan Nindi membuka matanya, sinar lampu yang terang menusuk matanya, Nindi mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri. Mencoba mencari sosok laki-laki yang sangat dia rindukan. Matanya berkaca-kaca tapi bibirnya menorah senyum. Nindi tidak ingin membuat orang lain khawatir.


“Nin, kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Katakan Nin, jangan diam saja.” Nindi merasa takut saat Gunar terlalu perhatian padanya. Tapi apalah daya, tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.


“Aku ba…baik-baik saja. Kenapa aku ada di sini?” Nindi mencoba mengingat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Kau pingsan Nin, tapi tenang saja. Kau baik-baik saja Nak.” Prabu yang Nindi kenal sangat hangat mencoba menenagkan pikirannya. “Mulai hari ini kau harus lebih berhati-hati.” Nindi masih mendengarkan apa yang Prabu coba sampaikan, kenapa wajahnya terlihat sangat bahagia. “Karena akan ada cucu Edwin yang tumbuh di dalam rahimmu.” Masih tidak mengerti, Nindi bingung, merasa Prabu sedang bermain kata-kata.


“Maksud Paman.” Nindi menolak pikirannya.


Prabu mengangguk, genggaman tangannya begitu menenangkan. “Kamu sedang hamil Nak, selamat sayang.” Prabu memeluk Nindi yang terlihat kebingungan.


“Benarkah Paman? Apa aku benar-benar sedang mengandung?” Prabu mengangguk berkali-kali meyakinkan. Perasaan Nindi tiba-tiba bercampur aduk, ada perasaan bahagia, ada perasaan takut mengingat ketiadaan Ivar. Nindi bingung, apa dirinya berhak merasa bahagia? Sedangkan dia tidak tahu kesulitan apa yang sedang Ivar hadapi di luar sana.


“Nindi!!!” Ellie dan Edwin akhirnya sampai. Lega saat melihat Nindi baik-baik saja dalam dekapan Prabu.


“Mah…Pah…Nindi hamil.” Meski tersenyum, Nindi tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Air mata berderai, meski Nindi mencoba menyapunya agar tidak ada yang melihat. Tapi siapa pun yang ada di sana bisa dengan mudah menebak bagaimana perasaan Nindi saat ini.


“Selamat sayang.” Ellie mencoba untuk tidak menangis, mencoba berdamai dengan dirinya sendiri agar Nindi merasa nyaman dan tidak merasa sendirian. sepertinya saat ini Nindi sedang memikirkan hal yang sama dengannya.


“Ayah sangat bersyukur.” Nafasnya Edwin terdengar sangat berat. “Aku yang akan memastikan kalian sehat. Selamat sayang.” Edwin berupaya keras terlihat kuat.


Gunar perlahan mundur meninggalkan ruangan perawatan. Nindi bukan hanya milik Ivar, semua keluarganya sangat mencintai Nindi. Sudah cukup baginya, melihat Nindi begitu dicintai membuat Gunar yakin Nindi saat ini bahagia.

__ADS_1


“Bagaimana caraku memberikan kabar bahagia ini pada Abang? Apa ada yang bisa aku lakukan? Dia pasti akan segera pulang jika tau aku hamil.” Nindi bicara namun pandangan matanya kosong.


“Ivar akan segera pulang, meski dia bilang pergi untuk beberapa bulan. Mamah yakin Ivar akan segera datang.” Ellie memeluk erat tubuh Nindi, dia pasti sangat khawatir.


“Abang pasti baik-baik saja kan Mah. Dia pasti pulang kan Mah!” Suara isak tangis Nindi memenuhi ruangan, kesedihannya tidak lagi bisa dia tahan.


“Tenang Nak, kamu tidak boleh punya pikiran yang tidak-tidak. Tugas kita menjaga kesehatanmu dan bayi yang ada dalam kandunganmu. Papah dan Mamah akan menjaga kalian.” Edwin sangat takut Nindi tidak bisa mengatasi kecemasannya.


“Tolong Pah, tolong minta Abang supaya segera pulang. Dia harus menjagaku sendiri.” Nindi berteriak histeris. Sudah tidak bisa lagi menahan ketakutan yang mengisi jiwanya, dadanya sampai terasa sesak.


“Tenang Nak, kita pasti bisa melewati ini bersama.” Nindi menangis histeris di pelukkan Edwin, Ellie tidak bisa menenangkan Nindi karena hatinya juga hancur.


Edwin membiarkan Nindi menangis sepuasnya, barangkali dengan begitu kesedihannya bisa tercurahkan. Nindi tidak pernah memperlihatkan kegelisahannya, baru kali ini Edwin melihat Nindi menangis. Dia pasti sudah tidak bisa lagi menahan diri.


“Apa sudah lebih baik?” Nindi mengangguk, sudah tidak sanggup lagi menangis. Perutnya terasa mual dan kepalanya pening.


“Maaf Ayah, Mah. Nindi sudah merepotkan kalian.” Edwin menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah cantik menantunya.


“Kau juga Putri Ayah, memang sudah sepantasnya seperti ini jika Nindi merasa sedih. Ayah yang akan menjaga kalian selama Ivar bertugas. Nindi harus semangat dan yakin Ivar baik-baik saja.”


Prabu memutuskan mengantrakan Edwin, Ellie dan Nindi kembali ke rumah. Tidak tega jika membiarkan Edwin yang pasti pikirannya kalut harus menenangkan dua wanita sendirian. Kehadiran supir tidak akan membantu, akan lebih baik jika dirinya sendiri yang memastikan mereka sampai dengan selamat.


“Tenang saja, kau harus yakin dengan kemampuanku.” Prabu melenggang dengan gagah. “Kau lupa aku mantan pembalap dulu.” Edwin menggeleng tidak percaya.


***


Jari-jari Melly tidak berhenti mengetuk meja, pikirannya kacau saat melihat orang-orang penting muncul seperti malaikat saat Nindi pingsan. Pikiranya kacau karena tidak mendapatkan jawaban aka semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


“Siapa gadis ini, kenapa dia Nampak biasa saja kalau punya begitu banyak pengaruh besar yang mengelilinginya.” Bicara sendiri membuat yang lain berbisik.


“Kak, Bu Melly kenapa?” Tanya Cindy merasa takut melihat wajah Melly yang sangat serius.


“Tenang saja, dia hanya galau.” Jawab Mariska sambil menahan tawanya.


“Mariska!” Panggilan Melly membuat Mariska terkejut, hampir saja tubuhnya terjungkal karena duduk tidak beraturan memiringkan kursinya. Mariska segera mendatangi meja Melly.


“Iya Bu.” Mariska menunduk menyembuyikan wajahnya. Melly paling tidak suka ada yang membicarakannya.


“Kau bukannya sangat dekat dengan Nindi!” Mariska mengangguk. “Apa kau tidak tau dia berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh.” Mariska mengelus dadanya merasa lega, ternyata Melly memanggilnya bukan untuk memarahinya.

__ADS_1


“Ibu tidak tahu, suaminya saja saat menjemput Nindi bawa mobil yang hanya segelintir orang yang mampu membelinya.” Mariska sengaja mengeraskan suaranya, melirik meja Zein yang ternyata juga sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


“Benarkah?” Melly sedikit tidak yakin karena Mariska suka membesar-besarkan masalah. “Jangan mengada-ngada kau ini.”


“Ibu ini, aku bicara apa adanya. Zein juga melihatnya, benarkan Zein!.” Zein mengangguk dengan terpaksa.


“Lalu bagaimana kita harus bersikap? Tidak mungkin aku bersikap sama setelah tahu siapa dia. Apa aku perlu memindahkanya ke Divisi lain?” Melly tidak mau keberadaan Nindi mengganggu kinerjanya.


“Kenapa tidak memberinya kesempatan? Toh keberadaan Nindi tidak mengganggu, dia malah banyak membantu kita satu minggu ini.” Bela Putra yang tidak mau kehilangan Nindi, Putra malas jika harus mengajarkan lagi jika berganti personil lain. Nindi cukup cepat belajar, tidak merepotkan seperti anak-anak baru pada umumnya.


“Kita akan repot karena dia punya begitu besar pengaruh, pasti dia yang akan di lirik atasan. Kita bisa tidak punya kesempatan untuk unjuk diri.” Zein lantang menyuarakan pikirannya.


“Kata siapa? Nindi pasti akan bekerja professional. Kita tidak boleh punya pikiran seperti itu Zein. Kau ini suka sekali berburuk sangka.” Mariska tidak suka cara Zein berpikir selama ini.


“Kau belum tau saja seperti apa pengaruh orang-orang seperti Nindi yang bisa menendang orang-orang seperti kita yang hanya butiran debu.” Ucap Aleta membenarkan Zein.


“Kalian berdua memang sangat cocok, tidak ada hal baik di dalam otak kalian berdua.” Mariska tidak habis pikir. “Jangan membesarkan masalah yang kita sendiri masih bingung harus bagaimana, kenapa Ibu mendadak ingin sekali mengeluarkan Nindi. Dia benar-benar tidak bersalah Bu.” Melly hanya terlihat berpikir tanpa menghiraukan keributan yang terjadi.


“Kalian juga jangan bertengkar, tidak ada untungnya bagi kita semua.” Putra mencoba menengahi.


“Benar apa yang Putra bilang, kenapa kita malah rebut.” Ken juga merasa tidak tepat jika harus rebut. Hanya Cindy yang diam saja menyimak. Dia masih belum terbiasa dan masih menyesuaikan diri.


“Kita undi saja, siapa yang setuju Nindi di sini dan siapa yang setuju Nindi kita keluarkan.” Zein berdiri bertolak pinggang. Putra tersenyum mengejek, melihatnya saja sudah jelas kalau Zein akan kalah.


“Kenapa kau sangat ingin Nindi keluar dari sini? Apa kau ada masalah dengannya? Nindi sepertinya ramah-ramah saja. Ohhhh….aku tahu, kau takut kalah saing dengan Nindi!” Mariska sudah sangat geram. “Mengaku saja….jangan diam saja kau.” Zein tidak menggubris.


“Aduh..duhhh…duh…duh…Kalian bukannya mencari solusi malah ribut.” Suara Melly menghentikan pertikaian. “Bagaimana kalau kita coba Vote seperti yang Zein sarankan. Tidak asa salahnya.” Melly mencoba cara yang paling masuk akal dia lakukan. Alasannya akan dia cari belakangan jika memang semua setuju Nindi keluar dari Divisi yang dia pimpin saat ini.


Putra berdiri menarik Mariska agar mundur dari tempatnya. “Saya setuju untuk melakukannya.” Mariska menarik-narik baju Putra tidak percaya. “Diam! kau ini.” Matanya melotot tajam agar Mariska berhenti mengganggunya.


“Ok…apa ada yang keberatan?” Tanya Melly pada yang lain. Semua diam, jika Putra sudah setuju, tidak ada yang bisa mereka lakukan.


Jantung Cindy berdegub kencang, bagaimana jika Nindi benar-benar keluar dari sini. Siapa yang akan mendengarkanku. Cindy sangat sedih.


“Tapi ada syarat yang ingin aku sampaikan.” Melly mengangguk setuju. “Apapaun hasilnya jangan ada perubahan. Kalau memang Nindi tetap bertahan di sini, jangan pernah mencoba mengeluarkannya lagi dari sini. Kita harus sama-sama menjaga Nindi agar bertahan di sini dalam waktu lama.”


“Ok, toh dia tidak akan menang.” Ucap Melly dengan percaya diri. “Cepat tulis apa keinginan kalian dan masukkan ke dalam kotak ini. jangan saling menyontek. Tulis di meja masing-masing dan berikan padaku.”


Mata Melly melotot tajam, ternyata hanya dua orang yang setuju Nindi keluar dari Divisi. Senyum kemenangan menghiasi wajah Mariska. Dia sangat senang saat tahu semua orang mendukung Nindi bertahan.

__ADS_1


__ADS_2