
Semua orang berkumpul kecuali Nindi yang masih Ivar biarkan tidur. Ivar tidak tega membangunkan Nindi yang terlihat sangat nyaman di bawan selimut tebalnya.
“Nak, dimana Nindi? Apa dia belum bangun?” Ivar mengangguk.
“Aku ingin membiarkannya istirahat lebih lama hari ini, semalam dia bangun dan baru tidur lagi tadi.” Jelasnya yang sedang memperhatikan Hanna makan sendiri sesuai permintaannya.
“Hanna, sini Tante suapi.” Duduk di sebelah Hanna. Edel melirik Ivar yang menatapnya tajam ke arahnya. “Kenapa?”
“Perhatikan semuanya, Hanna sudah bicara pada Ivar tadi pagi. Hanna ingin lebih mandiri.” Wajah Edel berubah sedikit terlihat emosional. Ivar meraih tangan Kakanya yang pasti tidak siap mendengarnya. “Kita harus memberikan Hanna kesempatan Kak, dia sudah mau kelas 6 sebentar lagi.” Edel memaksakan senyum yang sangat sulit diwajahnya.
“Apa Hanna benar-benar ingin kita lebih memberikan Hanna ruang?” Hanna menatap ragu namun dirinya merasa ingin seperti teman-temannya yang lain. Hanna mengangguk. “Jadi Tante tidak boleh lagi menyuapi anak gadis Tante lagi?” Hanna tidak tega dan memeluk Edel dengan erat.
“Kalau Hanna ingin disuapi, Hanna akan minta pada Tante. Tapi Hanna ingin diperlakukan seperti anak-anak seusia Hanna. Kadang mereka mengatai Hanna bayi, manja, anak mamih.” Wajahnya terlihat kesal.
Akhirnya Ivar tahu kenapa Hanna merasa tidak nyaman dengan perlakuan semua orang. Dia mungkin di bully teman-teman sekelasnya.
“Baiklah, putri kita sudah besar dan tidak mau lagi di suapi. Ok.....selesai sudah tanggung jawab Tante.” Edel masuk ke kamarnya meninggalkan Hanna dengan perasaan sedih, Hanna hanya bisa menatap punggung Edel merasa bersalah.
“Paman akan bicara pada Tante, dia tidak marah Han. Tante pasti bisa mengikuti keinginan Hanna.” Ayman mengecup puncak kepala Hanna. Dia tau perasaan Edel dan Hanna sama-sama terluka.
“Sayang...” Memeluk Edel yang menangis dalam diam. “Kau kenapa sesedih ini?” Edel menggeleng tidak tahu kenapa rasanya Hanna sedang menolak dirinya. “Dia sudah mulai dewasa, aku juga sakit. Tapi kita harus terbiasa dengan prubahan yang Hanna inginkan.” Membelai surai Edel dengan lembut.
“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tiba-tiba ingin menangis.” Tertawa tapi masih menitikan air mata. “Apa sesakit ini Mas? Kenapa rasanya aku tidak siap dengan penolakan ini, aku masih mau mengurusnya dengan kedua tanganku.”
“Kita akan tetap menjaganya, bedanya dia tidak mau kita memanjakannya. Ada bagusnya sayang, Hanna bisa tumbuh dengan mandiri.”
“Tapi aku tidak mau dia terlalu mandiri, aku mau dia sedikit saja bergantung padaku. Sekarang dia mandi sendiri, tidur dia tidak mau di temani. Sekarang dia juga menolak tanganku yang ingin menyuapinya Mas.” Edel kembali terisak, rasanya tidak rela.
“Hahahaha....Mas juga sama belum siap. Tapi kita jangan menolak permintaannya sayang, kita coba ikuti bagaimana Hanna ingin diperlakukan.” Edel memeluk Ayman menenangkan dirinya. Setelah cukup tenang mereka kembali keluar.
Edel melihat Ellie duduk dengan wajah terlihat sedikit kesal. Edel bermain mata dengan Ivar mencoba mencari jawaban. Ivar hanya menggeleng menahan tawanya.
“Lalu Hanna mau makan apa jika bekal yang Omah siapkan tidak mau Hanna bawa.” Nadanya sedikit keras.
“Hanna bisa makan di kantin Omah, teman-teman Hanna juga makan di kantin.” Jawabnya menunduk.
Oalah....perkara bekal sekolah sekarang. Batin Edel.
“Makanan kantin belum tentu bersih Nak, Hanna tidak Opah ijinkan makan sembarangan.” Timpalnya Edwin yang mencoba membela Ellie. Terlebih Edwin tidak membiasakan keluarganya jajan sembarangan.
Hanna mengusap air matanya yang lolos tidak tertahankan. Ivar yang menyaksikan hanya tertawa tanpa suara, Hanna benar-benar menggemaskan. Semua tidak ada yang mendukung Hanna saat ini. Dia pasti sangat kesal.
“Omah masak pagi-pagi, siapkan semua pagi-pagi. Tapi cucu Omah tidak mau makan makanan Omah.” Omelnya tidak berhenti meski Hanna sudah menitikan air mata. “Banyak di luar sana tidak ada yang memperhatikan, ini Hanna kenapa minta kita semua tidak bersikap manis pada Hanna. Kenapa ini cucu Omah!.” Ivar meng kode Ellie agar menghentikan omelannya, dia sudah tidak tega melihat Hanna menangis.
“Hanna minta ma...af. Huaaaa.....” Akhirnya tangisnya pecah membuat Ivar dengan spontan memeluk Hanna dengan erat. “Maaf Omah.....” Ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
“Omah tidak marah, Omah hanya tidak suka anak-anak Omah dan cucu Omah makan sembarangan. Omah yang persiapkan semuanya, tidak apa Omah capek sedikit asal Omah memastian semua makan makanan yang sehat dan baik. Hanna paham tidak!” Hanna mengangguk turun dari pangkuan Ivar dan memeluk Ellie.
“Maaf Omah.” Isak tangisnya sudah mulai reda.
“Sudah jangan menangis. Anak cantik tidak boleh menangis.” Mengusap air mata yang masih membasahi pipi Hanna. “Masukan bekalnya ke dalam tas.” Hanna menuruti perintah Ellie.
“Sudah siap sayang, ayo Paman antar ke sekolah.” Seperti biasa Hanna mencium tangan dan pipi semua anggota keluarganya sebelum berangkat.
“Paman....” Panggilnya dengan suara lembut. Ayman berjongkok menyamakan tinggi Hanna. “Nanti jangan menciumku di depan teman-temanku ya Paman.”
Uhukkkk....uhukkkk....
Edel yang sedang menenggak air putih tersedak mendengar permintaan Hanna yag tidak kalah menyakitkan untuk Ayman.
Semua pura-pura tidak mendengar percakapan Ayman dan Hanna. Semua fokus dengan kegiatan mereka padahal sedang menahan tawanya. Hanya suara batuk Edel yang masih terdengar memenuhi ruangan.
“Apa Hanna malu?” Hanna mengangguk. “Baiklah, Paman hanya akan mencium Hanna sebelum turun dari mobil, tidak boleh menolak.” Hanna mengangguk setuju.
__ADS_1
“Ok....tapi tidak boleh terlihat teman-teman Hanna.” Ayman menggandeng tangan Hanna menuju mobil meninggalkan semua orang yang sedang keheranan dengan sikap Hanna.
“Ada apa dengan Hanna Var? Atau Edel tau penyebabnya? Kenapa dia tiba-tiba ingin diperlakukan seperti orang dewasa?” Tanya Ellie penasaran.
“Sepertinya kita yang berlebihan pada Hanna. Dia bilang teman-temannya sering mengatainya bayi, anak manja dan masih banyak lagi perkataan yang sepertinya memicu Hanna ingin di perlakukan seperti anak-anak seusianya.” Jelas Ivar yang hanya menebak isi hati Hanna.
“Apa salahnya seorang anak di perlakukan manis oleh orang tuanya. Kenapa anak-anak jaman sekarang mudah sekali mengatakan hal buruk pada temannya.” Kesal Edel yang membuat Hanna kecilnya ingin berubah.
“Kau kesal Kak, aku juga sangat kesal. Tadi pagi dia menolak saat aku ingin menciumnya.” Ivar tersenyum kecut mengingatnya.
“Aku tidak rela Mah, aku masih mau memanjakannya Mah.” Rengek Edel pada Ellie yang hanya menyimak. Hatinya sedikit terluka mendapat penolakan dari Hanna.
“Tapi Hanna sepertinya memang mau kita merubah sikap kita lebih bersikap dewasa padanya. Tidak ada salahnya, kita coba saja. Mamah juga belum tau bisa mengikuti keinginan Hanna atau tidak.”
“Kalian tidak lihat muka Mas Ayman tadi? Dia pasti sangat kesal Hanna tidak mau di cium di depan teman-temannya. Hahahaha......” Edel tertawa membayangan wajah suaminya yang kesal.
Ayman mencium kening dan pipi Hanna sebelum turun dari mobil. Hanna mematung tidak melanjutkan langkahnya. Ayman yang penasaran berjongkok melihat selaras arah mata Hanna memandang.
"Siapa Han?" Tanya Ayman yang padahal sudah tahu mereka teman sekelas Hanna.
"Paman, mulai saat ini Hanna tidak mau di antar sampai ke kelas. Sampai sini saja." Ayman kembali lemas. Putrinya benar-benar membuatnya frustasi.
"Baiklah Putriku yang cantik." Hanna melambaikan tangan layaknya gadis dewasa.
"Hay Han, tumben sekali tidak sampai depan sini." Celetuk teman Hanna yang suka mengganggu Hanna.
"Aku kan sudah besar." Jawabnya sedikit ketus memasuki kelas.
"Palingan juga besok di antar sampai kelas lagi, kau kan masih bayi. Hahhahaa.....” Tawanya bersama taman-teman satu geng yang suka sekali mengganggu Hanna.
Hanna tidak menghiraukan dan melanjutkan langkahnya memasuki kelas.
"Pasti Biru ledekin kamu ya Han?" Tanya Lula yang melihat wajah kesal Hanna.
"Sudah jangan di hiraukan. Kamu berhasil bujuk Paman dan Tante kamu Han? Benar mereka tidak marah kamu minta macam-macam seperti yang kemaren kamu bilang?" Tanya Lula penasaran.
"Iya, tapi aku sedih. Aku suka bermanja-manja."
"Tentu saja, aku saja iri dengan kamu Han."
"Tapi aku bisa terus di ledekin Biru kalau tidak berubah " Kesal Hanna yang tidak mau terus-terusan di olok-olok teman-temannya.
Bel sekolah menyudahi obrolan Hanna dan....
Sementara itu di rumah bagian lain, Nindi memaki dirinya yang bangun kesiangan padahal hari ini ada meeting penting membahas soal desain mana yang akan perusahaan pilih untuk pembuatan iklan promosi produk baru yang menggunakan jasa mereka. Dia terlambat, sangat terlambat. Nindi menuruni tangga dengan sangat cepat.
“NINDI....tidak bisa jalan lebih pelan sedikit?” Teriak Ivar yang marah Nindi tidak berhati-hati.
“Aku terlambat Bang, aku buru-buru.” Ucapnya tidak menghiraukan Ivar.
“Keluar saja tidak usah lagi bekerja.” Nindi menghentikan langkahnya. Berbalik berjalan ke arah Ivar duduk.
“Maaf Abang......Bisakan marahnya Abang tunda dulu? Nindi tidak ada waktu.”
“Pergilah...Nindi memang tidak mau mendengarkan Abang.” Ivar yang kesal meninggalkan Nindi berlalu naik ke kamarnya.
“Ivar hanya kesal Nin, dia akan kembali membaik. Berangkatlah sayang, Bagas sudah sedari tadi menunggu Nindi.” Ucap Ellie menenangkan.
“Maaf ya Mah, Kak, Pah. Nindi pergi yah.” Pamitnya meski tidak tenang pergi tanpa ijin dari Ivar. Dia hanya merasa punya tanggung jawab pada pekerjaannya.
Sepanjang perjalanan Nindi mencoba menghubungi Ivar namun tidak di angkat. Ivar mendiamkannya. Tidak lama Nindi sampai di kantor dan langsung menuju ruang meeting karena dirinya benar-benar terlambat.
“Maaf Bu....aku kesiangan.”
__ADS_1
“Duduk Nin, aku sebenarnya sudah menyiapkan cadangan karena kamu tidak ada kabar.” Nindi tidak enak hati karena Meely selalu menghandle semua dengan baik jika bawahanya teledor.
Meeting berjalan dengan hikmat, hasil meeting memuaskan karena desain yang di tawarkan bagus dan memiliki nilai yang tinggi. Nindi sangat lega tugas desain pertamanya sukses besar.
“Selamat ya Nin, aku dulu gagal di project pertama karena gambarku tidak menarik. Aku bahkan masih ingat bagaimana Ibu Melly mengomentari gambarku yang dia bilang seperti anak TK.”
“Benarkah? Aku bahkan tidak bisa meniru sedikitpun gambar-gambarmu yang luar biasa itu Kak Mar. Semuanya keren.” Puji Nindi yang menganggumi karya-karya Mariska.
“Itu hasil kerja kerasku karena merasa terhina, itu cara Ibu Melly mendidik kita Nin. Kau beruntung karena sudah punya bakat yang sangat baik sejak bergabung, kalau tidak.....paling tidak sehari sekali kau menangis mendengar ejekan atasanmu.” Mariska bergidik ngeri mengingat momen sedih dulu.
Sampai di ruangan Nindi memeriksa ponselnya, tidak ada satu pesan atau panggilan masuk pun dari Ivar. Sepertinya dia benar-benar kesal dan marah.
“Nin....” Ken menyodorkan ice cream coklat kesukaan Nindi. “Makanlah, supaya suasana hatimu sejuk.” Ken sangat perhatian padanya.
“Terimakasih Ken, aku sebenarnya tidak boleh terlalu banyak makan yang manis-manis Ken, tapi berhubung Ken yang belikan aku akan makan.” Kilah Nindi yang sudah melahap ice cream.
“Nin.....” Sapa Gunar yang baru saja masuk. Nindi kaget tiba-tiba Gunar datang, dia sudah sangat lama absen dan tidak muncul di kantor.
“Siang Pak....” Sapa Nindi dan Mariska spontan.
“Cuma Nindi yang di sapa, padahal aku juga ada di sini Pak.” Bisik Mariska yang membuat Nindi tersenyum.
“Sudah sana balik ke meja Kak, gak enak diliatin Pak Gunar.”
“Iya.....selamat bekerja Nindi cantik.” Nindi mulai menatap layar komputernya, mulai mengotak atik pekerjaan yang tidak ada habisnya.
***
Pulang sekolah Ivar sudah berdiri di depan kelas Hanna. Ivar menyadari sikap Hanna yang menatap nya tajam penuh kemarahan. Tapi Ivar bingung salah apalagi dirinya kali ini.
"Hay anak cantik.....kenapa cemberut?" Tidak menjawab pertanyaan Ivar. Hanna menatap keluar jendela setelah masuk mobil duduk di samping Ivar seperti biasa.
Hening tidak ada pembicaraan, Ivar menyalakan lagu kesukaan Hanna.
"Bagus ya Han lagunya." Masih diam. Ivar ingin berteriak namun akhirnya hanya bisa menahan diri.
Sesampainya di rumah Hanna langsung masuk kamar tanpa menatap Ivar sedikitpun. Ivar gemas namun tidak bisa berbuat apa-apa karena takut membuat Hanna semakin marah.
"Mana Hanna Var?" Ivar lemas. Ellie mengernyitkan dahinya heran.
"Hanna tiba-tiba saja cuekin Ivar Mah, Ivar tidak tahu salah ku apa." Bergelayut di punggung Ellie yang nyaman.
"Coba tanya Ayman, pagi tadi apa dia kesal?"
Ivar merogoh saku celana nya.
Ivar : Mas, apa Hanna kesal padamu pagi tadi?
Ayman : Tidak Var, dia baik-baik saja.
Ivar : Berarti dia marah padaku.
Ayman : Kenapa memangnya Var?
Ivar : Ah... tidak ada Mas, Hanna cuma cemberut saja sejak keluar dari kelasnya.
Ayman : Ya Tuhan Var, maafkan Mas yah. Hanna pagi tadi minta Mas tidak mengantarnya sampai ke kelas. Cukup sampai parkiran saja kata dia. Sepertinya berlaku juga saat menjemputnya.
Ivar : Hahahha.....jadi karena itu matanya melotot tadi. Ivar dan Ayman sama-sama tertawa merasa lucu.
Selesai menghubungi Ayman, Ivar kembali ke dapur menghampiri Ellie.
"Kenapa kau senyum-senyum? Apa kata Ayman?" Ivar menceritakan semua percakapannya. Ellie hanya geleng-geleng kepala merasa lucu.
__ADS_1