
Jangan di tanya lagi bagaimana perasaanku saat itu tatkala melihat para sepupuku yang hidupnya sudah mapan dan bergelimang harta sedang bercengkrama dan seperti nya berlomba pamer kekayaan mereka pada Eyang kakung dan eyang putri. Seperti Sriany anak Bulik Endang yang baru saja pulang dari Jerman setelah 10 tahun bekerja disana sebagai TKI. Sebenarnya 3 tahun sekali dia pulang kampung namun baru kali ini dia membawa suaminya yang gagah dan terlihat kaya.
Sriany pulang membawa suaminya yang warga negara Jerman dan dulu nya adalah mantan majikan nya yang jatuh cinta pada kecantikan asli wanita Indonesia. Sriany yang dulunya lugu sekarang sepertinya sedang naik daun dan senang pamer.
Tadi dia memamerkan koleksi berlian nya yang delikan oleh Josh suaminya. Tangannya di angkat ke atas seperti menari-nari, cih! dasar kampungan! kesal aku melihat tingkah konyol sepupuku itu. Kalau dari wajah dia tak ada apa-apa nya daripada aku namun dia beruntung mendapatkan suami tajir yang bisa mengangkat derajatnya sekarang. Anak Bulek Endang ada 3 dan Sriany adalah satu-satunya anak perempuan nya.
Bulek Endang adalah adik Romo yang ke 5 dari 6 bersaudara. Sriany melihat aku sedang duduk di samping Ibuku terlihat mendekati ku.
" Han, dari tadi kok ngumpet disitu sih, sini dong kumpul sama kita, Aku kenalin sama Josh yuk! " sapa Sriany dengan manja tangan nya melambai ke arah ku.
Sial! jeli sekali mata mu Any! kesal aku sebenarnya di sapa dia karena terdengar seperti mengejek ku.Entah kenapa sejak menikah dengan Mas Bagus aku jadi minder bertemu dan berkumpul dengan sepupuku.
"Eh gak ngumpet kok, aku lagi bantuin Ibu menyiapkan makan malam aja. " elak ku sengaja menutupi rasa minder ku.
Any begitu aku memanggilnya wanita yang notabene masih sepupuku itu tampak semakin percaya diri dengan kondisi kemapanan nya. Di tangan nya bertengger jam tangan mewah yang ku tahu harganya sudah mencapai jutaan dan jangan lupa kilauan berlian di jari jemarinya membuat mata siapapun yang memandang jadi silau.
Dia mendekati ku sambil menenteng tas mahalnya yang aku tahu itu dari Paris karena suami nya itu sering mengadakan bisnis trip ke luar negeri. Duh Any kamu kok sekarang bisa beruntung banget sih gak kayak aku begini. Batin ku nelangsa.
Diam-diam Any celingukan mencari seseorang. "Han kamu sama siapa kemari? " tanya nya sambil mengambil cemilan di atas meja.
" Hmmm... sama anak dan suami ku An."
__ADS_1
Any meletakkan snack nya di atas piring kecil yang tersedia diatas meja.
"Lhoo... kok gak kamu kenalin ke aku sih Han? jahata de kamu, kan aku belum tahu suami kamu. Bisnis apa suami kamu say? " tanya nya lagi sambil duduk di sebelah ku.
Dan entah ada kekuatan apa tiba-tiba Mas Bagus melintas di depan ku sambil menggandeng Aryo kecil. Dia tersenyum ke arah ku, Aryo pun melepaskan genggaman ayah nya dan berjalan mendekati ku.
" Mami.. adik lapar" rengek anak bungsu ku yang sedari tadi memang belum makan saat berangkat dari rumah karena kami terburu-buru.
Sriany menoleh ke arah Mas Bagus dan Aryo lalu dia berdiri sambil tersenyum ramah.
" Oh Hay anak ganteng, siapa nih namanya kenalan yuk sama tante Any. " Sapa Any ramah dan tangan nya terulur ke arah tangan mungil anakku.
Aryo yang pada dasarnya anak patuh dan pendiam tapi dia bisa menempatkan diri pada kondisi tertentu. Tangan nya menyambut ukuran tangan Any.
" Wow so sweet sekali anak kamu Han. Pinter dan sopan lagi. Terus mana Papi nya?
Mas Bagus tersenyum dan Any pun mengulurkan tangan nya lagi.
"Saya Papi nya Aryo mbak Any. "
" Oh Hay.. ini to suami kamu Han, cakep ! kok dri tadi di sembunyikan sih?! " canda Any lugas ceplas ceplos.
__ADS_1
Setidaknya Any memang ramah walaupun sedikit ada rasa pamer juga sih pada keluarga nya. Hana tersenyum kecut dia memang jarang mengenalkan Bagus pada sepupu jauh nya karena dia sudah paham watak para kerabatnya itu suka mengomentari hal-hal yang membuat telinga kita sakit jika mendengar pembicaraan mereka yang terkadang meremehkan.
Josh berjalan mendekati Any sambil membawa segelas minuman bersoda berwarna merah. Dia dan Any memang pasangan yang terlihat cocok karena sama-sama cuek.
"Hunny please come here, aku kenalin sama sepupuku dan suaminya noh. "
Josh mengulurkan tangan nya ke Bagus dan Hana namun saat menyentuh tangan Hana dia sedikit menekan agak lama namun Any dan Bagus tidak melihatnya.
"Shitt! apa- apaan ini bikin jantung ku berdebar aja" batin Hana namun dia menampilkan wajah pura-pura lugu tidak merespon jadi Sriany dan Bagus tak tahu.
Setelah berbasa-basi sebentar Any dan Josh meninggalkan mereka bertiga dan kembali ke ruang tamu aku mengajak Aryo dan Bimo masuk ke kamar tamu rumah eyang agar mereka bisa istirahat sebelum melakukan acara.
Dan logo tatkala senja mulai merambat malam kami semua sudah sibuk mempersiapkan diri untuk acara keluarga besar kami yang diadakan satu tahun sekali di rumah induk eyang. Rumah Eyang yang besar dan memiliki banyak kamar itu mendadak ramai dan penuh.
Suasana pertemuan keluarga besar eyang terkesan meriah karena anak cucu nya saling bertukar hadiah mewah kecuali aku yang hanya bisa memberikan hadiah sederhana berupa sarung dan mukenah untuk Eyang. itu pun aku beli ketika Mas Bagus mendapatkan bonus tahunan dari kantornya sebagai pegawai terbaik.
Eyang memang tak pernah membedakan pemberian cucu-cucu nya namun para sepupuku terlihat seperti senyum mengasihani aku sungguh tertekan dan malu. Andaikan saja Mas Bagus mau menerima permintaan Romo unutk mengolah perkebunannya pasti hidup kami tidak akan seperti ini.
Mas Bagus sangat idealis dengan prinsip hidupnya tak mau tergantung dengan mertuanya yang kaya. Dia percaya suatu hari nanti akan bisa membuatku bahagia dan hidup enak, tapi kapan itu terjadi?
Setelah pertemuan itu, aku semakin minder dengan kehidupan ku bersamaas Bagus, ternyata cinta saja tak cukup mmbuatku bahagia saat ini, hingga suatu hari Aku mendapat SMS dari Josh suami Sriany mengajakku bertemu dia mengatakan ingin memberiku pekerjaan. Dia mengatakan sedang membuka usaha kerja sama dengan temannya orang WNI di bidang kontraktor.
__ADS_1
Dia mengatakan membutuhkan sekertaris yang handal dan berpengalaman. Dan dia mendapatkan info dari para sepupuku kalau aku pernah bekerja sebagai sekertaris sebelum menikah dengan Mas Bagus. Aku pikir itu itu penawaran menarik dan bisa membantu perekonomian keluarga ku.
Tapi aku harus ijin Mas Bagus dulu agar aku bisa bekerja disana. Dan awalnya Mas Bagus melarang aku bekerja karena dia masih sanggup memeberikan ku nafakah katanya, namun aku tetap berusaha merayu nya dengan mengatakan akan tetap memperhatiakan kedua anak kami walaupun aku bekerja dan dengan berat hati suamiku memberiku ijin.