Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
menemukan korban


__ADS_3

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun !!" teriak Resti. Gadis relawan itu terkejut ketika kaki nya menyentuh sesosok mayat yang tertutup meja makan yang terbalik.


"Ada Mayat !! Ada Mayat !!"pekiknya keras agar rekan yang mendengar nya.


Resti kebetulan satu tim dengan Zul, setelah mendengar teriakan Resti gegas Zul dan 2 orang Anggota Basarnas segera masuk ke dalam rumah yang sudah roboh itu. Atapnya sudah berlubang dan sebagian temboknya sudah runtuh.


"Res, dimana jenazah nya?"tanya Zul sambil membawa senter karena di dalam rumah gelap. Listrik sudah di putus oleh PLN sejak ada gempa dan muntahan lahar dingin.


"Ittuu..itu kak ! Tertutup meja makan !" jawabnya sambil menunjuk ke arah reruntuhan dinding yang menutupi meja makan.


Zul dan kedua orang petugas itu melangkah hati-hati agar tidak tertimpa reruntuhan bata. Salah satu Petugas telah mebawa kantong jenazah.


"Mas tolong nyalakan lampu emergency nya. Saya butuh cahaya disini ! " Perintah Pak Sonar tim Basarnas.


Zul segera menyalakan tombol lampu dan ruangan yang tadi nya gelap gulita itu kenjadi terang. Jangan di kata bagaimana mual nya perut relawan itu karena bau jenazah yang sudah membusuk dan terkubur berhari-hari di situ. Walaupun mereka memakai masker double sesuai standard ISO dan Dinkes tetap saja bau itu bisa menembus lapisan indra penciumannya.


"Hemmm....aku harus tahan mual ini, kasihan si mayat nti dia sedih dan tersinggung karena kita seperti merendahkan nya batin nya sendiri. Para petugas Basarnas seperri sudah kebal dengan bau yang ekstrem itu karena sering nya mereka menolong orang.


"Pak Min, mana kantong jenazah nya tadi? Mari kita segera mengangkat almarhum." Kata Pak Sonar dengan suara bergetar. Sudah sering dia melihat korban seperti ini namun hatinya masih saja terasa pedih karena mengingat keluarga yang menanti nya dengan harapan bisa selamat.


"Siap, Ini kantong nya Ndan !" Pak min mengulurkan kantong jenazah pada komandan nya.


"Mbak Resti tolong panggilkan 2 orang relawan di luar untuk membantu mengevakuasi korban,sekalain bawa linggis untuk mencukit meja ini" pinta Pak Sonar

__ADS_1


Resti segera keluar rumah, dia sudah bisa melihat pintu karena cahaya dari lampu emergency tadi. Zul masih memegang lampu dan menahan mual hingga keringat dingin membasahi kening nya.


Hanya beberapa detik saja Resti sudah kembali dengam 2 orang rekan nya. Keduanya membawa linggis. Lalu Pak Sonar memerintah kan mereka untuk mengungkit meja makan dari kayu yang menjatuhi kepala korban.


Butuh waktu sekitar 15 menit untuk melepaskan meja itu dari tubuh korban akhirnya mereka berhasil mengevakuasi korban yang di identifikasi seorang lelaki berusia 75 tahun.


Resti mengusap air mata nya dia sedih karena mengingat sosok Ayahnya yang sudah tiada karena kecelakaan kerja sejak dia kecil.


Mereka semua keluar dari rumah itu dengan kesedihan yang ada di dalam dada nya masing-masing. Tak sengaja air mata Zul menitik saat dia mendoakan arwah korban bencana alam itu semoga di lapangkan kuburnya dan diampuni semua dosa nya.


Ternyata Tim Satria juga menemukan dua orang korban seorang ibu tua dan anak perempuannya yang sedang berpelukan. Mungkin saat terjadi nya erupsi mereka akan lari menyelamatkan diri namun sang ibu yang sudah tua tak mampu berlari jauh sehingga si anak tak tega meninggal kna ibunya sendiri.


Air mata Satri atak henti-henti nya mengalir saat mengavakuasi korban itu, pikiran nya melayang ke sosok ibu nya yang ada di rumah. Dia bersyukur mengingat Ibu nya sekarang masih sehat dan kuat berjalan, dia akan rela mengorbankan nyawa nya juga jika dalam posisi seperti gadis korban erupsi itu.


Satria segera mengusap kedua netra nya yang berembun, dia jadi melow sendiri. Akhirnya dia segera membuka kantong jenazah itu dan bersama 4 orang relawan mulai mengangkat kantong jenazah untuk di keluarkan dari rumah.


Hari sudah siang proses evakuasi masih berlangsung dengan lambat karena beberapa halangan dari material vulkanik yang masih melekat di reruntuhan. Mereka harus menyingkir kan bebatuan, kayu dan abu yang telah tebal dan menutup jalan.


Pak Sonar memerintahkan tim nya dan para relawan untuk istirahat ketika melihat arloji di tangan kirinya menunjuk kan pukul 12.00 wib.


"Teman-teman waktu nya ISHOMA selama 30 menit, lalu kita lanjutkan pencarian sampai pukul 15.30 wib. Kita berkumpul di lapangan pada pukul 16.00 wib karena kabut akan turun di atas nya. Jangan sampai kita terjebak kabut disini" perintah nya pada semua relawan dan anggotanya.


Kantong jenazah sudah berjajar di lapangan dan ada 4 korban yang sudah di temukan. Pak Sonar menghubungi pamong desa untuk meminta pihak rumah sakit mengirim kan ambulance untui mengangkut jenazah korban.

__ADS_1


👣👣


Aryo menyusuri desa yang berada tepat di lereng gunung Merapi. Hawa dingin menerpa tubuhnya yang kekar. Bau belerang seperti telur busuk masih membuaf mual perut nya.


Para taruna sudah berhasil mengevakuasi korban meninggal berjumlah 4 orang. Dan menurut data dari Pak Kades masih ada 15 orang yang hilang. Itu yang sudah di laporkan, belum lagi yang tak terlapor pasti lebih banyak.


Hari menjelang senja, cuaca yang tadi nya terang bersahabat tiba-tiba berubah menjadi gerimis dan gelap. Para relawan baik itu mahasiswa, Taruna maupun Tim Basarnas segera berkumpul di lapangan karena mereka tak boleh mengambil resiko terkena lahar dingin yang sewaktu-waktu bisa membanjiri area desa.


Mobil ambulan berjumalah 4 buah telah berjajar di lapangan. Para relawan bersatu padu mengangkat dan memasuk kan jenazah di dalam mobil ambulance. Selisih beberapa meter Tim Satria berdiri ada tim Aryo yang sudah bersiap untuk pulang.


Pak Sonar mengabsen paraa relawan ketika semua orang yang di panggil menjawab maka dia menyatakan anggota telah lengkap dan dapat kembali ke bus untuk pulang menuju posko.


Saat sedang berbaris tadi Aryo merasa kaki nya ada yang menarik. Bahkan dia nyaris terjungkal jika tak berpegangan pada Tofan. Sahabat nya itu mengira Aryo sakit sehingga dia memegang tangan kanan Aryo.


"Its okay, aku tak apa-apa. Terimakasih telah memegang ku jika tidak aku sudah tersungkur disini." kata Aryo dengan raut wajah berwarna warni karena malu.


Tofan mengangguk, lalu tiba-tiba dia membaca ayat suci alquran surat Al ikhlas, Al falaq dan An nas. Bulu kuduk Aryo berdiri mendengar lantunan ayat suci Tofan yang bersuara lirih itu.


"Kenapa Fan? Kenap membaca Ayat Alquran?" bisik nya di samping Tofan. Dia mengedarkan kedua audut netra nya melihat rekan nya. Semua rekan nya dalam posisi tegap dan siap.


"Ada yang mau kenalan sama kamu tuh. Boleh gak?" canda Tofan dengan mode siaga.


"Gak! Jangan bercanda kamu !" sentak nya kesal. Dia tahu Tofan memiliki kelebihan terlahir sebagai anak indigo yang bisa melihat dunia lain.

__ADS_1


"Okay, aku suruh pergi aja dia." Lalu mulut Tofan komat kamit entah bicara apa Aryo tak tahu dan tak mau ambil pusing.


__ADS_2