
Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh Andrea karena Aryo sudah berjanji akan menghabiskan waktu nya seharian bersama nya sebelum besok kembali ke asrama.
Aryo sudah menyerah kan urusan Mami nya pada Bimo dan Dinda. Dia juga sudah berpesan pada Bimo jangan menghubungi nya kecuali urgent dan hari ini dia ingin bersama Andrea saja.
Kemeja flanel warna biru di padu dengan celana jeans warna senada sudah melekat apik di tubuh atletis nya tak lupa parfum yang berbau maskulin sudah di semprotkan ke seluruh tubuh nya.
Setelah sarapan bersama keluarga nya Aryo pamit menuju rumah Andrea.
"Ar, kamu jadi kembali besok ke Mess?" tanya Bunda sambil membereskan piring bekas makan mereka di bantu Myrna.
"Iya Bund, besok pukul 11.00 wib sudah jalan ke bandara."
"Udah pesan tiket pesawat? "tanya Papi
"Sudah Pi, kan Aryo beli tiket sekalian PP kemarin jadi aman! "
Pak Bagus manggut-manggut dia sudah tak perlu kuatir lagi untuk masalah sepele seperti itu karena anak nya itu pasti sudah prepare jauh-jauh hari.
"Papi jalan dulu ya Bun, nanti Bunda diantar Aryo saja karena Papi mau ke pabrik nya Pak Setio"
Bunda mengangguk lalu menanyakan kesediaan Aryo mengantar nya ke tempat dinas nya, anak lelaki nya itu menyanggupi permintaan ibu sambung nya.
Perjalanan menuju kantor Bunda di selingi dengan obrolan ringan antara ibu dan anak, jujur saja Bunda memang lebih akrab dengan Aryo mengingat saat kecil dia yang mengasuh lelaki itu. Manja dan marah nya Aryo dia pun tahu dan bisa mengendalikan.
"Ar kemarin kamu menemui Mami? " tanya Bunda hati-hati. Dia tak bermaksud kepo dengan pertemuan anak sambung dengan ibu kandung itu namun sejak Aryo pulang ke bertemu ibu nya anak lelaki kesayangan nya itu terlihat lebih pendiam.
"Iya Bunda, maaf Aryo gak sempat cerita ke Bunda karena baru ada waktu sekarang jalan berdua dengan Bunda" jawab nya sambil fokus memegang setir mobil nya.
__ADS_1
" Gak papa Nak, Mami sehat? "tanya Bunda santai sambil menanti Aryo bercerita sendiri tanpa memaksa. Biasanya anak itu mudah bercerita apapun masalah nya pada dia karena sejak kecil dia tempat Aryo berkeluh kesah.
Aryo memandang wanita paruh baya di samping nya itu dengan perasaan bercampur aduk. Ada rasa nelangsa yang menghinggapi hati nya ketika melihat nya, wanita yang selalu menyanyangi nya dengan tulus walapun dia bukan darah daging nya sendiri.
"Sehat alhamdulillah, Aryo lagi kesal sama Mami. Selalu saja memaksa Aryo menerima Dona menjadi kekasih Aryo dan kedatangan Mami kesini juga seperti nya ingin mendekat kan Aryo ke keluarga Dona"
Bunda mengelus tangan lelaki itu " Aryo, mungkin Mami masih rindu sama kamu nak, jadi Mami mencari alasan agar dekat dengan kamu dengan cara seperti ini "
Aryo menggeleng kan kepala "Bukan seperti itu Bunda,kalau Mami rindu pasti dia akan mengajak Aryo bertemu dengan Mas Bimo dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kami berdua saja, tapi ini tidak, Mami lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman nya dan butuh Aryo hanya karena ada maksud tertentu"
"Stttt.... gak boleh seperti itu nak. Bunda yakin kok Mami pasti rindu cuma cara Mami mungkin tidak seperti harapan kamu"
Aryo menghembuskan nafas pelan "Tapi Aryo gak suka sikap Mami yang terus memaksa Aryo dengan Dona"
Bunda tersenyum.
"Apa Aryo udah jelaskan status hubungan Aryo dengan Andrea? "
"Kenapa? "
Aryo menoleh menatap wajah Ibu sabung nya itu bingung. "Aryo gak mau merusak rencana kamu Bun, karena Aryo trauma juga dengan kejadian waktu Mami menyuruh Andrea meninggal kan Aryo! "
Sekarang Bunda jadi tahu duduk permasalahan anak nya. Dia juga kasihan melihat Aryo tertekan dengan situasi ini tapi Aryo harus segera mengambil keputusan tepat untuk menceritakan kebenaran status nya dengan Andrea agar Mami nya tidak terus terusan memaksakan kehendak nya.
"Boleh bunda kasih saran nak? " ijin Bunda agar dia tidak dianggap terlalu masuk ikut campur dengam masalah anak dan ibu kandung nya.
"Iya bun, boleh banget dan memang Aryo mau minta pendapat Bunda" jawabnya tegas.
__ADS_1
"Baik lah, saran Bunda Aryo harus jujur dengan Mami. Bawa Andrea ke hadapan Mami. Perkenalkan secara personal pada Mami agar beliau lebih mengenal dan memberi restu pada kalian." Aryo menghentikan laju kendaraan nya tiba-tiba.
"Tapi Bun, Mami sudah menolak Andrea sebelum nya"
"Mungkin Mami belum mengenal baik Andrea sehingga Mami tidak tahu sifat dan karakter Andrea. Maka kewajiban kamu untuk mengenalkan dan menyakin kan Mami bahwa Andrea adalah wanita terbaik yang bisa mendampingi kamu kelak. "
Aryo termenung sesaat, dia tau sifat keras kepala Ibu kandung nya itu jika mengingin kan sesuatu harus terwujud. dia tak bisa menerima pendapat orang lain.
"Bismillah yakin lah nak, kalau niat baik itu pasti akan di ijabah oleh Allah SWT. Dan kamu harus lebih sabar menghadapi Mami"
Aryo mengangguk kemudian dia melajukan Mobilnya lagi. Dia mulai lega setelah mendengar nasehat Ibu sambung nya. Dia mencium punggung tangan wanita yang berprofesi sebagai bidan itu dengan perasaan sayang yang teramat dalam seperti pada ibu kandung nya sendiri.
5 menit kemudian mobil sedan berwarna silver itu sudah sampai di depan puskesmas. Aryo membuka pintu samping tempat ibu sambung nya duduk. Lalu wanita itu keluar dengan senyum terkembang.Setelah mencium punggung tangan Ibu nya lagi dia segera pamit untuk melanjutkan perjakanya ke rumah Andrea.
----
Aryo menelpon Andrea sebelum menyalakan mesin Mobilnya. Dia akan mengajak Andrea ke rumah Mas Bimo selepas mereka berjalan-jalan ke Mall nanti. Dia akan bertekad mempertemukan Andrea dengan Mami nya sesuai saran Bunda.
Andrea terkejut mendengar ajakan Aryo karena dia juga tak siap mental menghadapi calon mertua kandung nya. Ingin rasa nya dia menolak ajakan Aryo namun dia takut Aryo marah dan akan mendiam kan nya seperti waktu lalu.
Dia tak tahu nanti akan berbicara apa lagi pada Bu Hana karena dia sudah berjanji akan menjauhi Aryo sendiri.Tiba-tiba saja perut nya terasa mual dan kepala nya pening.
Andrea berlari ke wastafel di kamar mandi dan memuntah kan makanan yang ada di perutnya. Axell yang sedang rebahan di kursi goyang di ruang keluarga seketika berjalan mendekati kamar mandi melihat kakak nya yang sedang kesakitan.
"Kenapa Kak? " tanya nya dengan nada kuatir lalu dia mencium bau muntahan yang membuat nya mual juga. Namun rasa mual itu di tahan nya dan dia segera memijat tengkuk kakak kandung nya itu dengan penuh perasaan kasihan.
"Salah makan? "tanya nya setelah selesai melihat Andrea berdiri mengguyur sisa muntahan nya di closet.
__ADS_1
"Engga Cel, bantu kakak ke kamar dulu, kakak lemas"
Axell memapah tubuh mungil Andrea dan mulai membuka pintu kamar kakak nya.