
Sudah lima hari Andrea di rawat di Rumah sakit dan pagi ini dokter telah memeriksa kondisi tubuh nya lagi dan sudah di nyatakan membaik dan bisa di rawat jalan nanti sore di perbolehkan pulang.
Senyum tak henti nya merekah dari bibir mungil nya dia sudah rindu dengan ranjang empuknya di rumah. Rindu bau ilernya yang ada di bantal nya. Rindu dengan bau bunga Mawar merah yang ada di depan kamarnya. Rindu semua yang ada di rumah termasuk Mbak Tini asisten Rumah tangga nya yang setia.
Selama di rumah sakit Ratna dan Mitha rajin sekali menjenguk nya. Begitupun dengan Satria dan Zul yang datang sesekali menemani Ratna.
Semilir angin senja berbaur dengan asap kenalpot motor dan mobil menguar ke udara, warna jingga lembayung senja mulai menggantikan warna langit biru yang tadi tampak bersih menandakan pergantian waktu pada alam.
Ratna sudha standby di Rumah sakit untuk membantu keluarga Andrea untuk check out hari ini. Infus telah di lepas lengannya nya. Baju pasien sudah di tinggalkan dan berganti dengan blouse warna putih berenda hitam. Simple namun elegan.
Di halaman rumah sakit Zul sedang menunggu di dalam mobilnya, ingin sekali dia turun membantu namun dia masih tak enak dengan kedua orang tua Andrea dan dia juga tak mau membuat Andrea marah.
Ratna tak tahu jika dia sedang di ikuti oleh Zul sejak dari kampus tadi sampai tiba di rumah sakit. Sengaja Ratna mengendarai taxi online agar tidak bolak balik kembali mengambil kendaraan ke kampus.
Satria memang mengatakan jika hari ini Andrea sudah di perbolehkan pulang ke rumah pada Zul sehingga dia ingin sekali menjemput gadis itu tapi dia tak ingin membuat Andrea kesal padanya. Jalan satu-satu nya adalah menguntit Ratna dan jika benar-bemar gadis itu butuh bantuannya dia dengan senang hati akan membantunya. Atau nanti pura-pura berpapasan saat di jalan.
Mobil Papa Sudah standby di parkiran rumah sakit, beberapa saat yang lalu Papa telah menyelesaikan urusan administrasi di kasir Rumah sakit. Semua telah di cover oleh perusahaan sehingga proses perpulangannya tidak lama.
Axel tidak ikut menjemput karena dia bertugas membersihkan rumah membamtu Bi Tini untuk merapikan rumah dan kamar kakak nya agar kakaknya merasa nyaman dan cepat pulih kembali.
Ratna dan Andrea duduk di kursi belakang, Mama ada di sebelah Papa yang sedang serius mengemudikan mobil SUV nya.
"Hmmm... Rat expedisi nya anak-anak Mapala jadi kapan berangkatnya? " tanya Andrea berbisik di telinga sahabatnya.
Ratna menoleh geli tangan kirinya mengusap-usap telinganya, " Ehmmm... kamu mau nanya apa mau gigit telingaku sih?" Ratna pura-pura memberengut.
__ADS_1
"Ih dasar kuping gajah Wkwkwkkwkw... "
Ratna menggelitiki pinggang temannya yang wajahnya mulai terlihat segar lagi.
"Kenapa nanya? kuatir sama abang Zul ya?" canda nya
Andrea ganti menggelitiki pinggang Ratna dan meledak lah tawa kedua gadis belia itu. Papa hanya menggeleng kan kepala melihat kedua gadis itu. sudah biasa keduanya akan saling ledek jika sudah bertemu.
"Alhamdulillah kamu sudah sehat nak" kata Papa menyeletuk. Kedua gadis itu terdiam malu karena membuat keributan kecil di dalam mobil.
" Maaf Om, jadi berisik ya? " Kata Ratna Sungkan. Mama tersenyum sambil menggelengkan kepala pun dengan Papa mereka berdua tidak keberatan dengan keributan kecil anak gadisnya.
"Rat kamu belum jawab pertanyaan ku lho. Curang! "
Ratna mengerling kan matanya, "Kenapa sih tanya-tanya kan kamu gak ikut ekspedisi, yang berangkat kan Satria dan Zul kok kamu yang heboh sih? "cibir Ratna sebenarnya dia takut jika sahabatnya itu terjebak dengan perasaan nya sendiri.
"Nanti apa? jangan bilang kau takut nanti mereka berdua bertemu disana dan Saling bertarung memperebutkan sang putri tidur? hihihi" Kata Ratna absurd.
Andrea mencubit pinggangnya lagi. Ratna menahan sakit seperti di. gigit neneknya semut.
" Bukan itu maksudku aku takut terjadi hal yang berbahaya untuk mereka "
"Mereka itu siapa? yang jelas dong Say.. jangan memikirkan dua orang ya? nanti hati mu tak muat menampung."Andrea terdiam mendengar sindiran Ratna.
Ya Tuhan, kuatkan hatiku jangan biarkan hatiku memikirkan yang lain selain tunanganku.. doanya dalam hati.
__ADS_1
Di belakang mobil Papa Andrea terpaut 2 mobil lain, tampak mobil Zul mengikuti dengan merambat. Sebelum dia berangkat ke Merapi dia ingin menyampaikan perasaannya sekali lagi pada gadis itu, kalau sampai dia di tolak lagi dia akan pergi meninggalkan kota ini untuk melupakan Andrea.
Beberapa saat kemudian mobil telah berhenti di depan rumah. Papa membunyikan klakson agar Axell membuka kan pintu pagar. Tak lama Axell. keluar dengan memakai celana jeans pendek robek-robek. Dia membuka pintu pagar dan membantu menurunkan barang-barang kakaknya. Saat akan menutup pagar dia melihat sosok Zul berdiri di depan mobil yang di parkir diantara beberapa rumah tetangga nya.
"Bang Zul! "panggil Axell sambil dia mendatangi lelaki itu, sebelum nya dia menutup pintu pagar rumahnya.
Zul terkejut karena Axell mengetahui keberadaannya. Dia ingin menghindar tapi sudah tertangkap basah sedang berdiri mengintai rumah Andrea.
"Ehmm eh Axell," sapa nya gugup. Axell tersenyum sambil menyalami Zul.
"Mau kemana?"
Zul jadi salah tingkah, " Oh.. Ehmmm.. mau ke rumah teman tapi bingung nomer rumahnya " jawabnya asal.
Axell tahu Zul sedang salah tingkah namun dia tak mau membuat malu kakak tingkatnya itu dengan langsung menuduh kalau sedang membuntuti kakaknya.
"Oh temannya di komplek ini Bang? Namanya siapa? siapa tahu kenal " tanya Axell santai sambil tersenyum penuh misteri.
"Iya teman kerja Abang, namanya Farid.Dia bilang tinggal di komplek ini."Zul meraba-raba kantong kemeja nya seperti sedang mencari sesuatu.
"Hmm.. Farid ya? mungkin orang baru kali ya, aku belum kenal rasanya" Axell mencoba mencari jawaban tanpa bermaksud mempermalukan lawan bicara nya. Dia hanya ingin mengetahui maksud Zul mengamati rumahnya, jangan sampai dia berbuat hal yang yang tak inginkan.
Dia percaya Zul orang baik tapi dia tetap waspada dan tetap melindungi keselamatan kakak kandungnya. Semoga saja Zul tidak punya niat buruk pada Kakaknya karena Axell menaruh hormat dan respek sama ketua MAPALA di kampus nya itu.
Karena tak enak hati dan takut dianggap melakukan hal yang kurang baik Zul akhirnya berterus terang pada Axell. Sebagai lelaki yang berniat baik dia tak ingin meninggalkan kesan jelek pada Axell.
__ADS_1
"Ehmm, sebenarnya aku juga pengen tahu kabar Andrea apa dia sudah sembuh? Jujur aku kuatir dengan Andrea Cell. " akhirnya kejujuran yang di katakan Zul.
Axell menghela nafas dan melipat tangannya di depan dada. Dia tahu Zul naksir kakaknya tapi dia ingin kejujuran langsung dari Zul.