Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Resti ketemu


__ADS_3

Pak Basri bergegas berjalan mendahului 4 orang di belakang dan menyibakkan alang-alang yang menjulur keluar. Dia memutari pohon bambu dan terkejut mendapati seorang gadis sebaya anak sulung nya sedang menangis di depan pohon bambu. Posisi tubuhnya Dusuk Sambil memelukku Kedua Kaki nya di depan dada.


Tofan, Zein dan dua orang anak buah Pak Basri mendapati pemandangan yang membuat bulu kuduknya meremang.


"Resti!! " seru Zein terkejut melihat gadis yang di cari nya beberapa saat yang lalu sedang menangis sambil memeluk kaki nya. Di depan nya terdapat jasad seorang gadis kecil memakai pakaian yang sudah berubah warna dari putih menjadi kotor bercampur tanah.


Jasad gadis kecil itu tertimbun batu besar sebagian hanya menyisakan separuh tubuhnya yang membiru.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun " Serempak mereka berlima mengucapkan kalimat Tarji yaitu Kalimat tarji adalah kalimat yang menyatakan pengakuan dengan tulus bahwa kita akan kembali menghadap Allah. Kalimat tarji adalah innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn artinya “Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali”.


Tofan yang paling schock melihat kondisi gadis kecil yang sudah tak bernyawa tadi. Di dalam penglihatannya tadi gadis itu terlihat menangis kesakitan mungkin arwah nya menginginkan jasad nya segera di temukan oleh tim SAR agar bisa di makam kan selayaknya oleh pihak keluarga.


Zein menepuk pundak Resti pelan, perlahan gadis itu menoleh ke arah Zein dan saat melihat senior nya itu dia langsung berdiri dan menghambur di pelukan Zein.


Karena tak siap dengan pelukan Resti dan mendadak Zein pun hampir terjatuh dengan posisi tubuhnya limbung di bawah gadis manis bertubuh sintal itu. Namun Pak Basri dengan sigap membantu menangkap tubuh Zein dengan kedua tangan nya.


"Aduh! " Zein meringis kesakitan ketika kepala nya beradu dengan kepala Resti.


"Hiks.. hiks.. hiks.. Mas Zein aku takut!" isak Resti masih di pelukan Zein.


"Eh.. iya Res,tolong bangun dulu berattt! " keluh Zein yang mendapatkan senyuman di wajah para Tim SAR.


Resti tersadar telah memeluk tubuh senior tampan nya itu dengan erat lalu dia seger melepaskan pelukan nya itu dengan sekali Hentakan karena malu juga.


"Res,kok bisa ada disini? "tanya Zein heran.

__ADS_1


Resti menggelengkan kepala tanda bingung dengan keadaan nya saat ini. Pak Basri dan yang lain nya mengernyitkan alisnya membentuk tanda tanya.


"Abang kenal dengan Kakak ini? " tanya Tofan pada Zein.


Zein menghela nafas pelan dan mengangguk " Resti ini tim relawan saya,tadi nya saya mau mencari dia karena tiba-tiba dia berjalan keluar kampung seperti orang linglung. Dan ternyata dia ada di jurang ini"


Tofan melihat Resti dengan intens lalu dia mengangguk angguk seakan paham dengan kejadian yang menimpa gadis itu.


"Bang, sepertinya Kak Resti kesini karena arwah gadis ini yang menuntun nya kesini, sepertinya almarhumah ingin segera di temukan jasadnya" kata Tofan


Semua yang ada disitu bergidik ngeri juga ternyata arwah gadis kecil ini memberi petunjuk pada para rekan melalui Resti.


"Pak sebaiknya kita segera memindahkan batu yang menindih jasad ini. Kasihan dia kesakitan minta segera di urus jenasahnya" kata Tofan seolah bisa mengetahui keinginan si jasad.


Lalu Pak Basri menyuruh Adi untuk menghubungi rekan-rekan nya di atas untuk mengirimkan kantong jenazah dan peralatan untuk mengevakuasi jasad gadis malang itu.


"Res, kami gak apa-apa kan? Apa ada yang luka? "


Resti menggelengkan kepala sambil mengusap air mata yang merembes di pipinya. Pak Basri mengambil HT nya dan menghubungi lagi anak buah nya yang di atas tebing.


Mereka memberitahukan jika 2 orang tim SAR yang membawa peralatan untuk memindahkan batu sudah turun ke bawah.


Tak berapa lama yang mereka tunggu telah datang dengan membawa linggis, pacul dan kantong jenazah.


Mereka berenam segera mengungkit batu yang menindih jasad itu, suara binatang hutan mulai terdengar, gemericik aliran air sungai terdengar syahdu di telinga.

__ADS_1


Hampir 20 menit mereka bekerja keras mengangkat batu yang menimbun jenazah gadis kecil itu. Batu hitam yang menghimpun tubuhnya yang tertelungkup ke dasar sungai akhirnya bisa di geser ke samping. Dan tubuh tak bernyawa itu di balik dengan penuh hati-hati oleh Pak Basri sebagai ketua Tim SAR.


Wajahnya sendu dan tangan nya bergetar menahan kesedihan sebagai seorang ayah yang memiliki dua orang putri juga dan dia menitik kan air mata pedih tak bisa membayangkan kesedihan orang tua gadis itu. Zein membantu mengangkat jasad yang sudah kaku dan membiru.


Setelah jenazah sudah masuk ke dalam kantong dan di letakkan di atas tandu dan di ikat dengan tali karmantel. Setelah persiapan selesai Pak Basri memberi aba-aba pada tim nya untuk membawa nya naik ke atas dengan menarik tandu tadi dari atas.


Adi menghubungi rekannya yang ada di atas untuk segera menurunkan tali untuk menarik tandu yang terikat dengan kantong jenazah gadis malang itu.


Setelah tandu berhasil di tarik ke atas mereka yang ada di bawah segera mencari jalan naik ke atas dengan cara memutari tebing.


----


Rumah Sakit Umum daerah Jogjakarta terlihat Hilir mudik ambulance yang membawa korban baik relakan maupun penduduk.


Aryo dan Galuh sudah di tangani oleh dokter yang berkompeten di bidang nya. Pihak kesatuan Aryo ada disana telah di hubungi mereka mendapat laporan jika ada 2 kadet nya yang mengalami kecelakaan saat mencari korban bencana alam. Kondisi Aryo masih tak sadarkan diri begitu pun dengan Galuh.


Mungkin benturan itu yang membuat mereka harus menjalani perawatan intensip. Komandan telah menghubungi keluarga Aryo melalui ponsel Papi nya. Betapa terkejutnya Pak Bagus mendengar musibah yang dialami putra kesayangan nya itu. Tubuhnya hampir limbung untung saja saat itu Mas Bima ada di sebelahnya dan segera menangkap tubuh nya.


Bima mengambil alih ponsel Papi nya dan segera mengatakan kalau mereka menyetujui prosedur penyelamatan Aryo yang terbaik sebagai dokter dia mencemaskan keadaan adik kandung nya dan dia segera memberitahukan akan terbang ke Jogjakarta sekarang juga.


Setelah mengistirahatkan Papi nya di sofa, dia mencari bunda nya yang sedang ada di dapur dengan hati-hati dia mengabarkan keadaan Aryo saat ini.


Bunda menangis histeris dan jatuh bersimpuh di lantai. Apa yang menjadi firasatnya tadi pagi ternyata berkaitan dengan musibah yang dialami anak sambungnya.


Myrna yang sedang berada di kamar terkejut mendengar tangis bunda yang keras. Seumur hidup dia hanya 2 kali melihat Bunda nya menangis itu saat Kakeknya berpulang ke Haribaan sang Khalik dan saat ini.

__ADS_1


Dengan panik dia seger keluar kamar nya dengan masih memakai mukenah di tubuhnya karena dia habis melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


_6


__ADS_2