Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Tak dapat ijin


__ADS_3

Andrea terus merengek memohon agar Axell membantu memuluskan rencana nya.


Namun pemuda berumur 20 tahun itu jelas menolak keras karena dia tidak mau membuat celaka kakak nya dan membuat kedua orang tua nya cemas.


"Kak please...jangan membuat Papa dan Mama cemas dan gelisah dong. Lagian kalau Mas Aryo tahu kakak nekad pergi kesana pasti dia akan marah besar. Disana bahaya Kak." Axell mencoba melarang kakak nya dengan lembut.


Andrea terdiam, saat ini dia hanya ingin meminta ijin saja bukan meminta nasehat si bocil yang sudah dewasa. Sebenar nya dia juga agak takut juga kalau Aryo akan marah jika tahu dia ikut ekspedisi ke Merapi.


"Sudah lah kak, lupain saja keinginan konyol itu lagian belum tentu disana kalian bertemu, disana luas kak." kata nya lagi.


Andrea menghembuskan nafas berat kemudian tanpa berkata apa pun dia keluar dari kamar adiknya dengan langkah gontai.


Axell heran melihat tingkah pola kakak nya yang belakangan hari ini agak absurd. Dia gak habis pikir kenapa kakaknya punya keinginan yang tak masuk akal. Andaikan Aryo bisa sewaktu-waktu di hubungi pasti saat ini juga Axell akan mengadukan masalah ini ke dia.


Di dalam kamar Andrea masih mondar mandir di depan meja rias. Dia berpikir keras bagaimana cara nya besok dia bisa berangkat ke Merapi bersama anak Mapala. Dia tadi sudah berjuang keras untuk ikut menyusup ke rombongan Satrio dan sekarang dia harus berjuang sekali lagi untuk meminta ijin resmi orang tua nya.


Akhirnya dia memberanikan diri keluar kamar menuju kamar Papa dan Mama nya. Perlahan dia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu dua kali.


Tok..tok..tok..


"Siapa?"suara berat sang ayah terdengar dari dalam kamar.


"Kakak, Pah! Kakak mau bicara sebentar" kata Andrea dengan jantung dag..dig.dug..menahan gugup.


Tangan nya terasa dingin berkeringat, "Masuk nak !" seru Papa nya


Ceklek !!


Pintu berwarna putih tulang itu terbuka lalu Andrea masuk perlahan dengan kepala menunduk menahan gugup.


"Pa..Ma.." sebutnya lirih.


Mama yang sedang merajut switer untuk Axell menghentikan tangan nya. Sedang kan Papa yang sedang membaca kitab suci Alquran juga menghentikan kegiatannya.


"Ada apa nak?" tanya Mama lembut.

__ADS_1


Andrea ragu-ragu mau mengatakan sesuatu yang mengganjal hati nya. Tangan nya saling meremas menandakan kegugupan nya yang sangat dalam.


"Duduk dulu, apa perlu apa sama Papa dan Mama" perintah Papa nya.


Andrea masih terpaku di tempat berdiri nya. Entah dapat keberanian darimana akhirnya dia mulai mengeluarkan suara dengan terbata-bata.


"Kakak..mau..mau..min.minta ijin"


Pak Rony menutup Alquran sebelum nya beliau mengucapkan " Sodaqallah hul adzim.." untuk menyelesaikan bacaan nya.


" Mau kemana?" tanya Lelaki yang masih tampak gagah dan tampan di usianya menjelang 55 tahun itu.


"Besok Kakak mau ikut acara kampus ke Jogjakarta." Dia mengatur nafas nya yang menderu. Sengaja dia tak mengatakan pergi ke Merapi karena sudah bisa di pastikan akan terjadi penolakan keras dari Ayah nya.


"Kok mendadak ? Memang nya acara apa? Penting kah?" cecar Si Ibu yang terkenal kritis dan jeli.


Andrea salah tingkah mendapat pertanyaan bertubi-tubi. Dia mengjimpun kekuatan lagi dengan menghembuskan nafas nya perlahan.


"Ehmm...sebenar nya rencana nya sejak Kakak sakit Ma, waktu itu Kakak mau ikut tapi ragu karena sakit. Sekarang kan kondisi Kakak sudah sehat jadi ijin kan Kakak ikut ya Ma?" jawab nya dengan wajah di buat memelas.


Andrea menggelengkan kepala. Sebenar nya dia ingin mengangguk namun hati nurani nya melarang dia melakukan itu.


Biar bagaimana pun dia tetap tak mau berbohong karena dia menghormati kedua orang tua nya dan tak mau membuat satu kesalahan besar.


"Duduk lah disini.." Sang Ayah menepuk sisi ranjang yang ada di depan Andrea. Mama nya menggeser badan untuk memberikan tempat untuk duduk anak gadis nya.


Andrea berjalan mendekati ujung ranjang dan duduk di sebelah Ibunya.


"Kakak sekarang katakan pada Papa dan Mama, ada urusan apa Kakak mau ke Jogjakarta. Sedang kan Kakak tahu sendiri disana sedang tidak baik-baik saja." kata Papa nya sambil menatap penuh kasih.


Andrea meneteskan air mata nya perlahan. Tes..tes..tes..


Sang Ayah mengambil selembar tissue yang ada di atas nakas lalu memberikan nya pada si anak.


"Apa yang kau sembunyikan nak? Katakan pada kami agar kami bisa membantu mu" suara penuh kelembutan itu membuat nya semakin mengeraskan tangis nya.

__ADS_1


Bu Rony menjadi bingung dengan kelakuan anak nya. Padahal mereka belum melarang atau pun memarahi Andrea tapi kenapa gadis ini terlihat sangat sedih dan menangis.


"Andrea ingin ke Merapi karena ingin jadi relawan." jawabnya pelan


"Apa !!!" suara keterkejutan dari kedua orang tua nya yang melengking membuat nya tersentak karena terkejut.


"Tunggu..tunggu..! Sejak kapan Kakak ikut kegiatan menjadi relawan?" cecar Bu Rony tegang karena dia tak menyangka anaknya itu diam-diam mengikuti kegiatan ekstrim di kampus nya.


"Hmmm..ba..baru besok Ma kalau di ijinkan sama Papa dan Mama"


"Jadi, kamu baru mulai besok ? Mama yakin niat kamu kesana bukan karena ingin jadi relawan. Benar begitu kak? Jujur saja sama Mama Papa"


Andrea makin tak bisa berkata apapun karena dia juga ketakutan jika orang tuanya marah dan ujung-ujung nya melarangnya pergi.


"Sebenarnya memang Kakak sudah sudah lama jadi ingin jadi relawan, kebetulan besok ada acara kampus jadi kakak mau ikut. Boleh ya Ma, Pa"katanya memohon.


Pak Rony melihat dari mata anaknya ada yang di sembunyikan jadi dia akan mengorek masalah ini sampai anaknya benar-benar bicara jujur padanya.


"Kalau Kakak bicara jujur niat kesana karena apa, insya Allah akan Papa pertimbangkan keinginan Kakak "


Mata Andrea berbunar penuh harap dengan perkataan ayahnya.


"Andrea ingin bertemu Mas Aryo disana" akhirnya dia bicara terua terang


"Apa ?? Aryo?" tanya kedua orang tua itu kompak lagi.


Andrea menceritaka semuanya pada orang tuanya dan keresahan nya memikirkan Aryo menjelang hari pernikahan mereka. Dia memiliki rasa kuatir dan was was akan terjadi sesuatu hal buruk pada kekasihnya.


Pak Rony mengusap kepala anak gadisnya lalu beliau membacakan sebuah terjemahan Alquran tentang kesabaran yang isi nya Ayat tentang kesabaran: QS Al-Baqarah Ayat 153 dan Artinya


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)


Andrea tersipu malu mendengar nasihat Ayah nya. Dia memang kurang sabar menghadapi suatu masalah. Dia menunduk malu pada kedua orang tuanya.


"Jadi ...segala sesuatu itu jangan di pikir kan terlalu berlebihan ya nak. Ingat Allah tidak suka hamba selalu berprasangka buruk pada Nya. Ingat Allah itu sesuai dengan prasangka hamba Nya."

__ADS_1


Andrea mengangguk "Ya udah Pa Ma , Kakak tidak jadi ikut mereka ke Merapi. Kakak akan menunggu berita Mas Aryo saja disini"


__ADS_2