
Setelah urusan bayar membayar selesai, di Aryo dan keluarga nya keluar restoran entah sengaja ingin mencari perhatian Aryo atau memang udah gak tahan dengan sikap dingin lelaki itu tiba-tiba Dona memeluk tubuh tegap lelaki itu dari samping, tangan kiri nya sengaja di selipkan di belakang punggung nya.
Aryo tak bisa menghindar karena Dona sengaja menempelkan erat tubuhnya. Parfum beraroma passion fruit menguar dari leher jenjang nya.
Bu Hana dan Bu Vania tertawa senang melihat kedua anak itu terlihat mesra padahal hanya Dona saja yang bersikap manja banget dan sok mesra pada Aryo.
"Ar senyum dong, kayak sakit gigi aja sih dari tadi diam terus" Canda Dona sambil terus meningkatkan tangan nya ke tubuh Aryo.
Andrea menghela nafas kasar rasanya kadar cemburunya sudah naik beberapa persen melihat sang calon suami di pepet oleh sepupunya.
Terus aja nempel gak perduli sama orang
teriak batin Andrea kesal. Mitha berlari mensejajarkan sahabatnya agar tidak bertingkah konyol.
"Mi kita langsung pulang ya? Aryo ada janji sama senior mau ke rumahnya sore ini. " Sungut Aryo dengan nada dingin. Bu Hana yang melihat kekesalan di wajah tampan anaknya itu jadi sedikit takut jika Aryo benar-benar kesal dan marah.
Sebenarnya Bu Hana agak segan dengan Aryo anak bungsu dengan Pak Bagus, karena dia ingat perlakuannya dulu saat Aryo masih kecil. Dia lebih memilih mencari kesenangan sendiri daripada mengurusi anak sulung dan bungsunya.
Dalan hati kecilnya dia merasakan penyesalan yang dalam karena telah menelantarkan dan menyerahkan pengasuhan anak-anak nya pada mantan suaminya sehingga kedua Anaknya sekarang terasa sangat jauh walaupun raga mereka dekat.
Sedikit iri dengan istri Bagus yang sekarang yang lebih dekat dengan kedua anaknya. Walaupun dia sendiri sudah memiliki anak Kembar dari Ferdy namun perasaan sepi dan sedihnya sebagai seorang ibu harus di di telan nya mentah-mentah ketika melihat Bimo dan Aryo lebih nyaman dan kerasan tinggal dengan Papi dan Ibu tirinya daripada tinggal dengan nya sebagai bu kandung.
"Ehmm... Iya kita antar Tante Vania dan Dona pulang dulu ya setelah itu antar Mami ke hotel" Akhirnya jawaban yang di tunggu-tunggu Aryo keluar juga dari mulut wanita yang berselera tinggi itu.
__ADS_1
Pulang dari mengantar Dona dan Mama nya, membuat Aryo makin pendiam, dia makin malas menanggapi ocehan wanita yang telah melahirkannya itu yang memuji Dona setinggi langit agar dia tergugah dan tertarik untuk menjalani hubungan serius dengan Dona.
Mami melirik dengan sudut matanya agak kesal sebenarnya dia tadi saat bersama sepupunya dia malu dengan sikap Aryo yang acuh pada Vania dan Dona namun dia tak bisa memarahi anak bungsunya itu di depan saudaranya karena takut menghilangkan wibawa Aryo di mata calon besan nya.
Setelah mengantar Dona dan Vania kembali ke rumahnya, Aryo segera melajukan kendaraan nya menuju hotel tempat ibunya menginap. Dia ingin segera meluncur ke rumah Bimo karena ingin meluapkan kekesalannya pada Ibunya.
"Mi, hari ini Mami check out kan?" tanya Aryo tanpa menoleh karena sedang konsentrasi mengemudi.
"Ehmmm.. sebenar nya sayang juga kalau sekarang check out, secara voucher nya sampai 2 hari ini jatahnya" Jawab bu Hana dengan berat.
"Tapi Mami kan udah janji sama Mas Bimo untuk menginap di rumahnya. dia bisa kecewa Lho kalau Mami berubah pikiran" Aryo mencoba memprovokasi ibunya agar menyetujui ajakan abang nya. Karena kalau Mami di rumah Bimo dia bisa aman bertemu dengan Andrea karena tidak di recoki Mami.
" Hmmm... iya juga Bimo pasti marah sama Mami kalau Mami gak jadi Nginep disana."
Se umur umur dia tak pernah menyindir Ibunya namun kali ini dia tak tahan jika membiarkan Ibunya bersikap egois mementingkan tidur di hotel daripada menginap di rumah anaknya.
"Ya udah mungkin besok sekalian Mami check out jadi gak bolak balik kemari" jawab Bu Hana pelan sambil memainkan kan ponselnya dia membaca beberapa pesan dari Ferry suaminya.
"Terserah Mami aja deh, yang jelas malam ini Aryo gak bisa menemani Mami. Maaf Mi Aryo juga ada kegiatan yang tak bisa di tinggalkan. "
Bu Hana tampak kecewa namun dia tak bisa memaksa kehendaknya lagi karena sejak siang tadi Aryo sudah menuruti keinginannya.
__ADS_1
Mungkin Malam nanti dia akan menghubungi teman lamanya Jeng Arina dan Sofi agar mereka menemani nya menghabiskan malam di hotel ataupun jalan-jalan.
Andrea sudah tiba di rumah sore hari dengan mengendarai taxi online setelah mengantarkan Mitha di rumah nya. Dia kesal sekali pada Aryo dan rasanya ingin meluapkan kekesalannya pada kekasih nya itu. Dia tak sanggup melihat kedekatan Dona yang agresif dan dukungan Mami nya yang semakin menambah kecewa di hatinya.
Dia memasuki rumah dengan wajah yang murung seperti kerupuk yang tersiram kuah bakso. Kebetulan Axell baru saja selesai bermain basket di lapangan depan komplek perumahan dan saat ini sedang menuangkan segelas air putih dan menegurnya hingga tandas. Masih dengan tubuh berpeluh serta baju nya telah basah kuyup keringat dia menyapa kakak nya.
"Kak tadi Bang Zul nitip diktat katanya ketinggalan di mobil nya waktu nganterin kakak sakit"
Andrea mengangguk dia sedang tak berselera menjawab. Axell heran melihat wajah kakak nya yang biasanya ceria berubah menjadi muram.
"Kayaknya mau turun hujan deras deh, siap-siap ember Ahhhh.. takut kebanjiran kamarku" sindir Axell usil.
Andrea tak bergeming dia tetap diam dan langsung masuk ke kamarnya.
"Eh.. kenapa lagi sih? Ada Bang Aryo malah manyun,emang habis berantem kali ya? Ah... nanti aku selidiki lewat Kak Ratna aja pasti komplit tuh berita." batin Axell. sendiri ketika melihat Kakaknya ngeloyor saja masuk ke kamar tanpa membalas candaannya.
Di dalam kamar Andrea menghempaskan tubuh ramping nya di atas ranjang nya yang empuk, di sejak pulang dari Mall tadi sengaja ponselnya di silent sehingga dia tak terlihat mendengar notifikasi apapun masuk. Dia berharap Aryo menghubunginya terlebih dahulu untuk menjelaskan sikapnya saat bersama Dona.
Dia mulai mengusap aplikasi berwarna hijau dan melihat ada 3x panggilan tak terjawab dan semuanya dari Zul.
Arrrggghh... kesal sekali dia melihat gawainya kemudian dia melemparkan nya di atas ranjang.
__ADS_1
Dia tak berniat menelpon kembali Zul karena kondisi hatinya sekarang sedang cemburu. Dia ingin mendengar penjelasan Aryo tentang sikap manja Dona padanya.
Duh... rasanya sakit sekali melihat kamu bermesraan dengan wanita lain mas. batin nya kesal.