
Axell termenung di taman depan. Wajah nya tampak kuyu seperti ikan yang kehabisan air di dalam kolam. Sebenarnya dia mau mengatakan perasaan nya pada Malika namun kesempatan nya untuk makan bertemu gadis itu belum ada.
Tadi sore dia mendapatkan pesan dari Malika jika ayah nya sedang anfal lagi dan di larikan ke rumah sakit oleh Kartika dan Tante Marina, dia masih ada tugas yang tak bisa di tinggalkan dan dia meminta tolong pada Axell untuk menemani Kartika.
Malika adalah orang yang tak memiliki. banyak teman dekat yang care seperti Axell sehingga hanya dengan pemuda itu lah dia bisa meminta bantuan untuk sementara menghibur adik bungsunya itu agar tidak merasa sendiri.
Gadis itu terlihat lelah matanya sudah seperti panda dan Hijab yang di kenakannya sudah tak berbentuk lurus lagi. Hari menjelang malam namun Malika belum juga datang. Kartika menungu di depan ruang ICU sendiri karena Tante dan Om nya sedang mencari kan darah untuk Ayah nya yang saat ini membutuhkan darah lagi.
Axell datang menemui Kartika yang terlihat pucat, adik kandung Malika ini memang usianya di bawah Axell satu tahun namun dia sudah menjelma menjadi gadis yang mandiri,tegar dan sudah bekerja di sebuah perusahaan pertambangan sebagai finance.
Kartika hanya kuliah setara diploma 3 saja karena dia tak mau membebani hidup Malika,dan setelah lulus dan wisuda tahun yang lalu suatu keberuntungan bagi nya langsung di terima bekerja disitu. Kebetulan kampus nya bekerja sama dengan perusahaan yang membutuhkan mahasiswa berprestasi yang siap kerja.
Dan adik kandung Malika ini memiliki otak encer dan selalu berprestasi di bidang akademiknya, dan datang lah kesempatan emas itu padanya tanpa melalui seleksi lagi. Saat ini gaji yang di terimanya hanya cukup untuk hidup bukan untuk gaya hidup namun dia tetap bersyukur karena bisa mandiri tanpa merepotkan Malika lagi.
Malika sering menyuruh nya kuliah lagi dan mau membantu biaya kuliah nya tapi Kartika masih belum ada keinginan untuk melanjutkan belajarnya lagi, karena mengingat Ayah nya dalam kondisi yang butuh perhatian dan dana yang tidak sedikit untuk berobat. Dan dia bukan lah orang egois yang mementingkan kepentingan nya.
Karakter kedua orang kakak beradik itu berbeda, Malika gadis tomboy yang memiliki sifat tegas, cekatan, berbicara ceplas ceplos namun hatinya mudah terenyuh dan memaafkan jika orang yang melukainya itu telah meminta maaf dengan tulus padanya.
Berbeda dengan adiknya yang memiliki pembawaan lembut dan mudah menangis jika ada yang menyakitinya. Namun dia memiliki sifat yang tegas dan keras kepala melebihi kakaknya, dia orang yang sulit memaafkan orang yang menyakiti hati nya dan akan siap untuk membela keluarga ketika ada yang menginjak harga diri mereka.
__ADS_1
Itu lah Sifat manusia yang tak bisa di tebak hanya dengan melihat penampilannya. Malika yang cuek tomboy dan ceplas ceplos ternyata memiliki hati yang mudah iba, dan Kartika yang berpenampilan feminim lemah lembut memilili sifat yang keras dan insecure.
Tapi sebagai saudara kandung mereka berdua saling menyayangi mengingat betapa banyak ujian hidup untuk memberikan mereka ketika orang tua nya tidak tinggal bersama. Luka dan air mata sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Namun Tuhan tidak pernah tidur dan akan Selalu bersama Hamba Nya yang sabar.Kini mereka berdua telah menjadi dua wanita mandiri dan berhasil dalam karier.
"Assalamualaikum Tika, kamu sendirian saja disini? " sapa Axell sambil memberikan satu kantong belanjaan yang berisi makanan untuk Kartika.
"Waalaikum salam, eh Mas Axell. Iya sekarang sendiri, tadi bertiga dengan Om dan Tante. Mereka sedang mencari donor darah untuk Ayah di PMI." jawabnya pelan tak bersemangat.
Axell duduk di samping adik mantan kekasih nya itu. Dia terkejut mendengar keadaan Pak Farhan yang sedang membutuhkan donor darah.
"Memang golongan darah Om Farhan apa?siapa tahu aku cocok"
Axell menggaruk garuk kan tangan ke kepalanya yang tak gatal, Sayang sekali golongan darah nya A, kalau saja darahnya sama maka tak segan-segan dia akan menjadi pendonor untuk ayah orang yang saat ini di cintai nya.
"Apakah persediaan rumah sakit kosong??"
Kartika hanya mengangguk lalu menunduk sedih. Dia belum siap kehilangan sosok ayah yang sudah lama di caranya selama ini. Baru saja dia bertemu namun Ayah nya dalam kondisi sakit-sakitan.
Adzan magrib sudah terdengar dari Toa Masjid yang ada di rumah sakit, Axell mengatakan ingin menunaikan ibadah kewajiban nya sebagai hamba Allah terlebih dahulu. Kartika mempersilahkan namun dia tak bisa ikut sholat karena sedang berhalangan.
__ADS_1
Ketika Axell sedang sholat, Malika telah tiba di rumah sakit dengan Haris, Sebenar nya dia tak mau Haris mengikutinya namun dia tak bisa menolak ketika Haris mengatakan jika dia bisa menjadi pendonor untuk ayah nya karena darah mereka sama.
Antara sedih dan senang mendengar pernyataan Haris, namun tak ada lagi waktu untuk menolak bahkan berdebat panjang, dia harus gerak cepat untuk segera ke rumah sakit agar nyawa ayah nya bisa terselamatkan. Tadi pagi saat Kartika mengirim pesan padanya kalau Ayah nya anfal dia terus memonitor kondisi ayah nya melalui tante dan om nya. Dia belum bisa pulang saat itu karena posisi nya sedang berada di kalimantan. Dan sedang ada acara dengan kesatuannya. Hatinya nya sedih mengingat jarak yang tak bisa di tempuhnya dengan cepat.
Sampai siang hari dia mendapatkan kabar jika ayah nya membutuh kan transfusi darah dan saat ini stok di Rumah Sakit menipis, masih butuh 2 kantong lagi. Dan seluruh keluarga telah di kerahkan untuk mencari diantara teman-teman,tetangga dan saudara namun sampai pukul 14.00 wib belum mendapat kabar tentang hasil pencarian darah untuk sang ayah sehingga dengan berat hati dia mulai mengumumkan di grup kantor satu letting angakatan nya. Dan di teruskan ke grup di kesatuannya. Dan ada beberapa orang kandidat namun mereka hampir semuanya berada di luar pulau penempatannya.
Hancur harapannya untuk bisa mendapatkan donor bagi ayah nya namun tiba-tiba Haris menelpon nya dan bersedia datang ke rumah sakit saat itu juga, seperti makan buah simalakama rasanya saat ini bagi Malika. Dia yang sebenarnya tak ingin berhutang budi bahkan nyawa pada Haris tapi Tuhan berkehendak dia harus mendapatkan bantuan itu melalui darah Haris.
Dan komandan nya pun segera memberinya ijin untuk terbang kembali ke Jakarta setelah mengetahui dari wakilnya jika anggotanya saat ini sedang mengalami musibah dan Ayah nya sangat membutuhkan donor darah untuk kelangsungan hidupnya.
Setelah mengantungi ijin dari komandan nya Malika segera terbang kembali ke pangkalan nya di Jakarta untuk menjemput Haris dan bersama mereka ke rumah sakit agar bisa segera diambil tindakan untuk ayah nya.
Axel telah kembali dari sholat dan menuju ke ruang ICU untuk menemani Kartika, dia tidak tahu jika Malika sudah datang sejak 20 menit yang lalu bersama Haris karena mereka masih di ruang pengambilan darah.
Kartika pun lupa memberitahu tahu jika Kakaknya sudah tiba disana. Gadis cantik berusia 22 tahun itu menyodorkan sebotol air mineral untuk Axell dan lelaki itu menerima nya.
Selang beberapa saat kemudian kemudian dari arah sayap kanan koridor ICU terlihat dua orang berseragam Angkatan Udara sedamg berjalan mendekati mereka dan berdua, Axell tersedak melihat Malika dengan Haris berduaan. Wajah gadis pujaan nya itu sedikit menunduk menahan sedih berbeda dengan raut wajah Haris yang full senyum.
Ada rasa tak rela melihat Malika dan Haris namun dia tak bisa apa-apa saat ini karena status nya saat ini hanya sebagai seorang teman lama yang kembali lagi. Harus rela walaupun hati tak bisa merelakan mantan nya itu bersama dengan yang lain.
__ADS_1