
Setelah Axell memapah Andrea duduk di tepi ranjang dia mengambil kursi dan duduk di depan Andrea.
"Kenapa sih Kak, tadi baik-baik aja kan? " tanya Axell menyelidik wajah ayu kakak kandung nya.
Deg.. deg.. deg..
Hati Andrea belum selesai bergenderang nyaring. Dia meraih gelas yang berisi air putih di atas nakas. Lalu menyorongkan nya di bibir.
Glek.. Glek..
" Jangan-jangan Hamil? "ledek Axell sambil menurun naik kan alis mata nya yang lebat.
Andrea melempar kan bantal ke wajah Axell.
"Ngawur banget sih! "sentak nya kesal.
Axell nyengir saja dia emang percaya kalau kakak nya tak. mungkin berbuat hal yang melanggar norma agama dan masyarakat. Lagian dia juga baru beberapa hari bertemu Aryo mana bisa langsung hamil Hahaha..
"Duhhh... sensi amat yak! sini aku priksa kali aja hamil anaconda... wkwkwkkwkw" ledek nya lagi sambil berdiri menggeser kursi nya.
Tak urung Andrea tersenyum juga mendengar celotehan adik bungsu nya itu.
"Aku gak apa-apa Cell! gak usah di priksa deh.." jawab Andrea.
Namun Axcell tetap keluar mengambil stetoskop.
"Bentar aku ambil stetoskop dulu!" Axell keluar kamar Andrea dan berjalan ke arah lemari peralatan medis nya.
Ting.. tong... Ting.. tong
Bel gerbang rumah berbunyi, Axell. urung ke kamar kakak nya dia keluar melihat tamu yang memencet bel tadi
Pagi ini mendung mengatur manja pada langit sehingga sepoi angin yang memuat titik air tertembus sepoi-sepoi berasa sejuk seperti di daerah puncak.
"Assalamualaikum Cell" sapa Aryo
Axcell membukan gembok yang menggantung garang di slot pagar.
"Waalaikum salam Mas. cari siapa ya? ledek Axell
Aryo tersenyum miring "Cari perkara Mas.. hahaha"
Axell mempersilahkan calon ipar nya itu masuk. Namun langkah nya terhenti ketika Aryo menyodorkan sekotak donat kentang yang beraneka toping.
"Wah ini sogokan manis nih, bikin saya gak kuasa nolak.. hahaha" Axell memang Pecinta semua jenis kue sehingga dia sangat girang menerima buah tangan Aryo.
Aryo tersenyum lalu melangkah menuju ruang tamu. Dia menghempas pantatnya yang tepos itu di atas sofa beludru warna silver.
__ADS_1
"Mana Kakak? "tanya Aryo ketika melihat rumah dalam keadaan hening.
Axell tersadar jika dia tadi mau memeriksa kakaknya yang habis muntah-muntah.
"Oh ya ampun... gue lupa lagi kalau mau priksa di kakak" jawab nya sambil menepuk jidat nya sendiri.
"Mas, pacar nya lagi sakit, tuh ngerem di kamar. Aku mau priksa dulu kali dia kambuh sakitnya kemarin " jawab Axell sambil melangkah ke kamar Andrea.
"Cell, ikut ya?! " pinta Aryo kuatir juga.
Axcell mengangguk mereka berdua berjalan menuju kamar Andrea yang terletak di lantai 2.
Tok.. tok..
Walaupun dengan kakak kandung sendiri tetap aturan mengetuk pintu di jalan kan. Sejak mereka sekolah dasar sudah di ajarin sama kedua orang tua nya jika hendak masuk ke kamar orang tua ataupun anggota keluarga yang lain wajib hukum nya mengetuk pintu.
Karena jika langsung nyelonong masuk, takut nya si empu nya kamar sedang beristirahat jadi membuat nya terganggu. Atau pas si empu nya kamar sedang berganti pakaian kan bisa berabe tuh, Selain itu mereka juga harus saling menghormati privacy tiap orang di rumah ini.
"Masuk! " perintah Andrea dari dalam
Ceklek..
Gagang pintu berwarna silver berbahan alumunium itu di buka dari luar.
Aryo melihat sang kekasih sedang meringkuk di dalam selimut. Air conditioner kamar terasa sangat dingin menusuk tulang.
Andrea mengangguk, sebenarnya hanya mual akibat stres aja tadi yang membuat nya lemas tak bertenaga.
Axcell mengangkat kursi yang ada depan meja rias kakak nya.
"Duduk Mas" Kata Axcell sambil mengeluarkan stetoskop.
Andrea berusaha duduk dari Tiduran nya. Aryo membantu memegang punggung gadis itu.
"Ehem... manjaaaaa nyaaaa.. hahaha"Axcel emang julid kok dengan kakak perempuan satu-satu nya itu.
Andrea mencubit lengan kekar Axcell sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Bawel aja dari tadi ish.!masak aku di katain hamil sih Mas! "adu Andrea pura-pura ngambek.
Aryo melotot ke arah Axcell pura-pura marah juga padahal dia hanya bercanda menggoda kekasih nya agar tidak ngambek lagi.
"Lha ini dia, yang harus tangung jawab.Masa harus teriak ke bapak anaconda sih buat minta pertanggung jawaban huahahaha. "
"Axcell!!! ish cubit ya!! "ancam si kakak pada adiknya yang usil itu.
Aryo tersenyum geli meihat kedua saudara itu berantem kecil. Mereka berdua bakal jadi orang terdekatku kelak. Batin nya lagi.
__ADS_1
Akhir nya Axcell. serius memeriksa kakak nya. di tempelkan nya ear pieces ke kedua telinga nya dan mulai menempel kan Bell diaphgram ke bawah leher Andrea.
Di geser-geser kan diaphgram itu ke kiri dan ke kanan. Sesaat kemudian di melepaskan stetoskop nya.
"Hmm.. everything is okay..gapapa sih Kak, masuk angin kali ya? "tanya Axcell seolah udah jadi dokter beneran padahal masih mahasiswa semester 4.
"Apa ku bilang tadi aku gak apa-apa Ngeyel. sih jadi orang! "sumurnya kesal.
Axcell menyodorkan kotak kue ke Andrea.
"Nih kak obat nya udah datang Pasti langsung sembuh deh.. "
Andrea tersenyum kecut memdengar ledakan Axcell duh... gimana ya mau menolak ajakan Mas Aryo padahal aku tadi mual karena stres mau di ajak ketemu Mami nya. Aryo menatap kekasih nya itu dengan iba.
Dia jadi kasihan dan berniat mengurung kan niat nya mengajak Andrea ke rumah Mas Bimo.
"Yank, istirahat aja deh, hari ini kita di rumah aja. Kasihan kamu sakit" Kata Aryo menggengam tangan Andrea
Axcell berdiri di samping Aryo dia tak tahu jika ada masalah kecil yang membuat beban kakak. nya.
"Gak apa-apa Mas," jawab nya merasa tak enak hati jika membatalkan keinginan kekasih nya. Dia merasa kekanakan jika bersikap seperti itu.
"Yuk ke ruang makan aja, kita Ngobrol di luar saja, ntar di kira sakit beneran kalau disini "Ajak Andrea merasa tak nyaman jika berada di dalam kamar dengan lelaki yang belum resmi jadi muhrim nya.
Axcell. memang tak meninggalkan kedua orang kekasih itu untuk menjaga saja agar tidka terjadi hal-hal yang di ingin kan mereka berdua hihihi... tapi karena kakak nya juga cepat tanggap akhirnya dia bisa bernafas lega dan tidak takut membuat Aryo tersinggung.
Ketiga orang itu beriringan keluar kamar dan duduk di meja makan. Andrea berjalan menuju dapur membuatkan segelas minuman untuk Aryo.
"Yank gak usah repot-repot udah duduk aja disini" kata nya sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.
"Gak apa-apa, gak repot kok cuma seduh teh hangat aja sih"
Axcell membuka kotak kue yang dari tadi terlihat melambai minta di comot isi nya.
"Tante kemana Cell? "tanya Aryo karena dari tadi tak melihat Mama Andrea
"Mama tadi ke kantor Papa, ada acara family gathering"
"Jaga rumah dong kamu, emang gak ngampus? "
"Ho-oh jadi satpam rumah dulu Hehehe.. aku ada kelas online satu jam lagi Mas, jadi agak santai" Axcell mencomot donat toping keju kesukaannya.
Andrea Sudah datang membawa secangkir teh hangat rasa melati. Lalu duduk di sebelah Aryo.
"Kalau sakit aku batalin aja ya, kita gak usah nge mall. Dan kita gak jdi ke rumah Mas Bimo. IS..TI.. RA.. HAT aja!! aku temani disini sampai sore! " kata Aryo sambil melihat wajah Andrea.
Harus nya Andrea tersenyum senang bahkan ingin melonjak-lonjak karena kegirangan tidak jadi bertemu dengan Ibu kandung Calon suami nya. Namun sebagian hati nya merasa galau karena kalau hari ini di atak bertemu dengan calon mertua nya maka selama nya masalah nya tak akan selesai dan dia juga tak akan dapat restu Mami Aryo.
__ADS_1
Padahal kurang beberapa bulan lagi mereka menikah tak elok rasa nya jika mengabaikan restu serta kehadiran sang calon mertua.