
Aryo melirik Andrea mencoba meminta pertimbangan dari gadis nya, Andrea memalingkan wajahnya tak mau melihat kegalauan hati kekasihnya
Serba salah posisi nya saat ini, di acc hati nya sakit namun jika dilarang smaa saja dia mengibarkan bendera peperangan lagi pada Bu Hana. Jadi dia hanya bisa diam tak bisa berkutik.
Bimo kasihan melihat Andrea dan dia pun ingin menengahi nya, dia mengirim pesan pada Papi nua yang berdiri tak jauh dari situ.
"Pi, kasih masukan dong tuh anak Papi bingung" pesannya pada sang ayah. saat itu hape Pak Bagus berbunyi tanda ada pesan masuk. Segera dia mengambil ponselnya dan melihat si pengirim pesan itu.
"Okey santai aja ntar Papi tandai Aryo
ketik balasan dari Pak Bagus dengan cepat dan Do seberang tempat duduk nya Bimo sudah mengangguk tanda mengerti.
"Ar, ayo kenapa diam?! Terima itu hak takutnya Tante Vania tersinggung lho kalau kamu menolaknya. Dia tulus ikhlas kasih kado itu buat kamu dan special dari Swiss"
Aryo memindai satu persatu wajah orang terdekat nya pas ketika ekor mata nya bersirobok dengan mata Papi, lelaki setengah abad lebih itu mengedipkan sebelah matanya. Dan hanya anak-anak Pak Bagus lah yang tahu arti isyarat itu.
"Baik Mi, Aryo Terima pemberian Tante Vania tapi tanpa syarat apa pun ya? kalau bersyarat lebih baik Mami dan Dona bawa pulang kembali saja. " kata Aryo tegas.
Dan merah padam lah wajah Hana Saraswati mendengar jawaban anak bungsu nya yang menohok itu. Demi apapun di dunia ini ingin rasanya dia menangis mendapatkan perlakuan Aryo seperti itu.
"Aryo, dengerin kata Mami, Tante Vania tuh kasih kadon ikhlas kamu jangan suudzon begitu. Gak baik tau kasihan Dona kan tersinggung nanti nya"
Aryo kemudian menyambung ucapan ibunya dengan senyum simpul di ujung bibirnya. Daripada menjawab ocehan ibunya lebih baik diam dan tersenyum daripada acara nya hari ini berantakan akibat ibunya ngambek dan berbuat hal yang tak di inginkan.
"Dona ayo berikan pada Aryo" perintah Bu Hana sambil mendorong lembut pundak keponakannya.
Dona memberikan kotak berwarna hitam metalik ke tangan Aryo. " Makasih Ya, sampaikan pada Tante Vania dan Om salamku lain kali tidak usah repot-repot cukup doakan saja"
Andrea panas sekali melihat Aryo menerima kado itu namun dia berusaha tersenyum walaupun ujung kelopak matanya sudah mengembun. Pasti kado itu barang yang mahal dan Andrea belum bisa memberikan kado terbaik versinya.
__ADS_1
"Ayo buka dong, Mami pengen tahu isinya" Bu Hana mencoba berakrab-akrab dengan anaknya.
"Boleh kan Mami buka, sini kotaknya! "
Dona tersenyum membayangkan raut wajah lelaki itu tersenyum lebar ketika mendapatkan kado istimewa itu, Aryo menarik pita warna biru yang terjalin apik di atas box nya lalu mengeluarkan kotak lagi di dalam box itu dan setelah di buka tampak lah sebuah Jam Tangan mewah dengan merk terkenal yang harganya mencapai dua digit.
Selang beberapa saat Aryo memegang jam tangan itu dengan raut wajah datar saja, dia tak silau dengan benda mewah karena sang Ayah mendidiknya hidup bersahaja sejak kecil.
" Dona tolong sampaikan pada Tante Vania, ini terlalu mahal untuk ku. Mungkin Mas Bimo lebih pantas menerima ini" kata Aryo setelah membuka kotak kado nya.
Bu Hana mendelik mendengar perkataan anaknya namun tidak bagi Bimo justru wajahnya sumringah mendengar hal itu.
"Lho ini kado buat kamu nak, kalau Bimo kan tidak wisuda udah lewat kan acara nya. Jangan bikin Mami kecewa deh"
Dona pun menatap wajah Aryo dengan perasaan yang entah tak bisa di gambarkan dengan benda apapun di dunia ini. Rasa kecewa dan merasakan di permalukan menusuk kalbunya. Kalau bukan karena intimidasi mama nya dia bakal kabur saat itu juga menghilang dari hadapan Aryo. Memang dia suka dengan Aryo tapi rasa kecewa karena sikap Aryo membuatnya berpikir kembali untuk meneruskan pengejarannya itu.
"Hmm.. lebih baik kau buang saja ke tong sampah itu, kalau memang kamu keberatan menerima kado dari Mama ku. Permisi Tante aku mau pulang saja daripada disini aku tak di harapkan! " Dona menghentakkan kaki nya kesal dan mulai berjalan menjauhi Aryo dan keluarga nya.
"Ar!! kejar Dona! kenapa kamu diam saja!! keterlaluan kamu! " kesal sekali Bu Hana melihat anaknya hanya diam tak bergeming melihat keponakannya ngambek.
Andrea masih terdiam dia tak mau ikut campur urusan ibu dan anak itu walaupun di dalam hatinya ingin berteriak " jangan kejar!"
Pak Bagus menghela nafas kesal melihat hal ini, dia sudah bisa membaca akan terjadi hal yang tak di inginkan di acara istimewa anaknya, daripada anaknya menanggung malu di hadapan semua rekan-rekan dan pimpinannya lebih baik saat ini dia ambil sikap mengalah saja. Karena Hana akan berbuat hal apapun demi mencapai tujuan nya hari itu.
"Bimo, tolong kejar Dona, gak lucu bukan Aryo berseragam begini berlarian mengejar wanita. Tak ada etika nya jika membuat keributan di saat seperti ini! " sindir Pak Bagus tajam.
Bu Hana terdiam tertusuk sekali dengan ucapan mantan suaminya, dia langsung berbalik menghadap Pak Bagus dengan mata berkilat marah.
" Mas aku ingin bicara empat mata sekarang! " suaranya terdengar tajam dan dia segera berjalan mencari tempat agak jauh dari rombongan anak dan istri dari mantan suami nya itu.
__ADS_1
Pak Bagus pun akhirnya mengalah mengikuti langkah kaki mantan istrinya itu ke arah pintu keluar hall. Yang berjalan 600 meter dari rombongan nya.
" Mas, tolong jangan kau halangi aku menjodohkan Dona dengan Aryo. Masa depan Aryo jauh lebih baik daripada dengan anak bau kencur itu. Keluarga Vania terhormat dan berada keturunan ningrat, nomor bibit dan bener nya sudah jelas. Pasti kamu akan bangga dengan mereka jika mereka bersatu di pelaminan! "
" Nyonya Hana, jika anda ingin menjodohkan anakmu yang lain silahkan tapi tidak dengan Aryo!" tegas sekali larangan Pak Bagus
Bu Hana mengetatkan urat leher nya tanda sangat emosional seolah-olah ingin menerkam mantan nya itunamun dia berusaha menenangkan diri agar tidak memancing emosi nya lagi.
" Ingat Mas,Aryo itu juga anak ku! aku yang mengandung dan melahirkan nya dengan bertaruh nyawa! jadi aku juga berhak atas hidup nya! "
Bagus mendecih kesal dengan perkataan Hana, dimana perasaan nya saat ini membahas hal yang memang sudah kodrat dan kewajiban nya sebagai seorang ibu terhadap anak nya.
Namun lelaki itu akan terus melawan Hana sampai titik penghabisan siang ini agar imantan nya itu tahu diri dan tak bisa mencampuri hidup kedua anaknya lagi demi kepentingan nya sendiri.
" Oke kamu ibunya, kamu mengandung dan melahirkan nya ke dunia tapi dimana kamu saat Aryo butuh kamu saat dia terbaring sakit saat kecil? Dimana kamu saat malam dia menangis membutuhkan kasih sayang mu? Setelah dia seperti ini kau datang ingi mengatur hidupny seolah dia boneka yang tak bernyawa dan tak berperasaan!" sinis sekali Pak Bagua menyindir Hana. Raut wajah malu dan terluka sudah terlihat di wajahnya yang ayu.
Hana terdiam tapi dia tetap kesal dan ingin bersikukuh dengan pendiriannya. Lalu Pak Bagus melanjutkan lagi ucapan nya sambil menatap tajam manik mata Hana wanita yang dulu di punya nya setengah mati.
"Jika kamu ingin membuat acara anakmu berantakan dan dia menanggung malu silahkan, akan tetapi sampai kapan pun kamu tak akan pernah melihat lagi wajah Aryo tersenyum padamu bahkan bisa jadi dia akan menghilang dari kehidupan mu! " jawab Pak Bagus enteng
Hana mendengus kesal karena bukan itu jawaban yang diinginkan nya. Dia benar-benar kesal matan suaminya tak mau mendukung usaha nya menyatukan Aryo dengan Dona.
"Tolong dengar kan aku sekali ini saja Hana, jika kau tak mau aku membuka aib mu di depan Ferdy, tolong berhenti menjodohkan Aryo mulai sekarang, dia sudah punya pilihan terbaik bahkan jauh lebih baik daripada keponakanmu itu! "
"Apa maksudmu? aib apa yang akan kau beberkan pada Mas Ferdy! "
Pak Bagus melipat tangan nya di depan dada lalu tersenyum sinis melihat lawan bicara nya.
"Masih ingat dengan Sriany? jika kau terus mendesak Aryo aku tak akan segan-segan menceritakan tentang Sriany dan skandalmu pada Ferdy!
__ADS_1
Mendadap wajah Bu Hana pucat lalu dia terdiam sesaat.