
Selama perjalanan mereka berdua terdiam hanya deru motor sportnya yang meraung-raung membelah malam, Aryo mengambil kedua tangan Andrea agar memegang erat perutnya dari belakang, dan gadis itu pun segera memeluk tubuh kekar itu, kepalanya di sandarkan ke punggung lebar lelaki itu. Gadis itu seakan menikmati moment indah yang akan mereka kenang untuk satu tahun ke depan. Menabung rindu dan menahan galau selama berjauhan itu seperti orang sedang makan pedas tapi tidak diberi segelas air untuk menghalau pedasnya.
Motor sport sudah berhenti di depan pintu gerbang berwarna hitam dan menjulang tinggi, Pak Abidin sopir pribadi papinya itu tampak berlari membuka gerbang. Pak Abidin memang di berikan tempat tinggal di paviliun belakang bersama istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga mereka.
sudah lama dia bekerja dengan Papi sejak Myrna masih sekolah menengah Atas, dan kebetulan juga mereka berdua memiliki satu anak laki-laki usianya di bawah Myrna 2 tahun dan sedang sekolah SMK dia bernama Faiz dan tinggal bersama mereka di paviliun, sebenarnya Faiz memiliki adik yang sudah meninggal karena bencana banjir bandang di daerah tempat tinggal mereka dahulu, keluarga mereka sangat terpukul karena kehilangan anak perempuan satu-satunya itu membuat mereka hijrah ke kota dan Pak Abidin saat itu bertemu dengan Bunda yang saat itu sedang tertimpa musibah. Mobil yang di kendarainya menabrak motor karena pengendaranya membawa motor dengan ugal-ugalan.
Untung saja pengendara motor itu hanya luka ringan dan Pak Abidin yang melihat Bunda akan di peras oleh pemuda itu maju melindungi wanita paruh baya itu dengan memperlihatkan video yang sempat di abadikan Faiz ketika sedang duduk di depan warung nasi dekat perempatan jalan. Keluarga Pak Abidin saat itu sedang berisirahat makan siang di sebuah warung tegal dan Faiz yang memang hobby fotografi segera mengeluarkan ponselnya untuk merekam kondisi jalanan kota besar yang baru saja di injaknya dalam hidup.
Untung lah Video Faiz sangat berguna untuk menyelamatkan Bunda dari pemerasan dan massa yang sudah berkumpul merangsek ingin menghakimi akibat provokasi pengendara itu. Berkat bantuan dan pembelaan Pak Abidin, Bunda segera mengajak keluarga itu mengikutinya ke rumah.
Setelah suaminya pulang kerja Bunda menceritakan kejadian yang dialaminya dan sejak saat itu Pak Bagus langsung meminta Pak Abidin untuk bekerja sebagai sopir pribadinya dan anak serta istrnya akan di tanggung olehnya bahkan Pak Bagus berjanji akan membiayai pendidikan Faiz hingga kuliah.
" Malam Pak Bidin, Papi sudah datang ya?" sapa Aryo pada lelaki yang seumuran ayahnya itu sopan. Dan Pak Abidin mengangguk hormat walaupun usia Aryo lebih muda darinya.
__ADS_1
" Sudah Mas, Eh ada Non Andrea. Silahkan masuk non" Pak Abidin membuka kan pintu ruang tamu keluarga itu.
Aryo memasuk kan ke garasi motor sport yang akan di tinggalnya lagi selama 1 tahun ke depan itu dengan menaruhnya di pojokan. Tak mungkin Bimo Mau menunggang kuda besinya jika datang kemari sehingga jalan satu-satunya menyimpannya di ujung garasi.
Lalu dia menutup garasi dari luar, kemudian menggandeng tangan gadisnya untuk masuk ke dalam rumah, arloji di pergelangan tangan kirinya sudah menunjuk kan pukul 22.15 waktu setempat. Ruang keluarga sudah terlihat temaram lampunya pertanda sudah tidak ada aktifitas lagi disitu. Aryo mengajak Andrea ke kamar adik perempuannya, dia mengetuk pintu dari luar beberapa kali ketukan.Tak lama kemudian si empunya kamar muncul membuka pintu.
" Astaga..tuh rambut kenapa jadi kayak habis kena bom molotov ?! " canda Aryo ketika melihat rambut ikal Myrna acak adul dan matanya terlihat sembab. Myrna yang ingin membalas Aryo jadi mengurungkan niat karena melihat sosok Andrea di belakang tubuh kakaknya.
"Eh Kak Andrea, hmm..." serunya kikuk, namun Andrea tersenyum melihat penampilannya karena dia juga telah mengalami hal yang sama seperti Myrna tadi siang hingga sore. Menangisi tugas Aryo yang sangat beresiko, namun dia berusaha menampilkan wajah tegar di depan semua orang menyembunyikan tangisnya yang hanya di tumpahkan di ats sajadah dan bantal di kamarnya.
Mata Myrna membulat kemudian berlari menghambur memeluk calon kakak ipar yang sudah dia anggap kakak sendiri karena memiliki nasib yang sama dengannya saat ini.
"Ayo masuk Kak..Dah MAs Aryo " Myrna langsung menarik tangan Andrea dan menutup pintu kamarnya namun di tahan oleh tangan kekar Aryo.
__ADS_1
" Woy, gak gitu juga kali, kan Mas mau berduaan dulu sama yayang nya Mas main sabotase aja nih!" tolak Aryo kesal karena dia masih ingin bersama dengan Andrea, dia ingin malam ini bersama kekasihnya hingga pagi menjelang. Sudah terbiasa baginya untuk tidak tidur ketika masih pendidikan. Dia ingin mengajak Andrea ke taman sebelah paviliun dekat kolam renang,sebenarnya dia juga mengajak Myrna sebagai upaya unutk menghibur adiknya yang akan LDR an lagi dengan sahabatnya.
Myrna memajukan bibirnya gemas dengan kakaknya namun dia juga memahami perasaan kakaknya yang akan berjauhan lama dengan calon istrinya.
" Awas jangan macam-macam lo Mas, Aku laporin Papi dan Bunda ya biar cepet dikawinkan !" ancamnya, di balas dengan gelak tawa keduanya, lalu Andrea meletakkan tas ranselnya ke sofa dikamar myrna kemudian diakeluar mengikuti Aryo ke taman.
Aryo membawa beberapa makanan yang ada di dalam kulkas dan dua cangkir coklat panas yang akan menemani mereka menghabiskan malam. Untuk menghindari fitnah dan hal yang di inginkan Aryo, diam-diam Bunda mengirikan pesan kepada Faiz untuk menemani Aryo di taman. Karena pesan itu suatu perintah yang tak bisa di abaikan membuat Faiz segera membawa peralatan belajarnya pindah ke taman belakang.
Malam itu hingga pukul 02.00 dini hari di habiskan dua insan yang sedang mempersiapkan hati itu untuk membahas rencana masa depan mereka, termasuk perjuangan meminta restu Ibu kandung Aryo yang sampai sekarang masih belum kunjung menyetujui hubungan mereka. Andrea sudah menguap berkali-kali hingga membuat pemuda itu merasa kasihan dan menyuruh ya untuk beristirahat di kamar Myrna.
Suara adzan dari masjid terdengar merdu menyuarakan kalam ilahi untuk mengingatkan manusia untuk segera bersujud menghadap Tuhan Nya. Aktifitas keluarga Pak Bagus sudah di mulai sejak pukul 04.00. Bi Asih dan Bi Nunung asisten rumah tangga itu bergerak membersihkan rumah, menyapu, mengepel dan memasak menyiapkan sarapan untuk tuan rumah mereka, Pak Bagus dan istrinya sudah sholat subuh berjamaah di kamar,sedangkan Aryo baru saja selesai mandi dan bersiap untuk sholat di kamarnya. Baju seragam dinas sudah di siapkan di sofa, setelah selesai beribadah Aryo segera mengganti baju nya dengan seragam kebesarannya.
Andrea dan Myrna pun sudah rapi dengan pakaian kasualnya. Mereka tak mau terlambat untuk mengantarkan kekasihnya ke medan laga. Kedua gadis itu sejak subuh saling menceritakan kegalauan hati mereka akibat di tinggal satgas oleh kekasihnya. Saling menguatkan dan percaya adalah resep untuk kelanggengan hubungan itu sendiri, kedua mata gadis itu juga sembab karena menangis sejak tadi, Andrea kemudian membasuh wajahnya dengan air kran diatak mau air matanya membuat kekasihnya tidak konsentrasi dalam bertugas. Dia harus siap dan kuat karena sudah resiko pilihan hidupnya mencintai seorang aparat keamanan.
__ADS_1
Saat sarapan tiba, Bimo dan Adinda muncul di hadapan mereka semua, perut buncit Dinda sudah membulat besar,memang tinggal hitungan hari saja dia akan menjalani persalinan putra pertamanya. Bunda menuntun Dinda dan mengajak duduk menantunya itu di bangku sebelahnya. Dia mengelus perut menantunya dengan perasaan sayang dan takjub. Sebagai seorang ibu dan bidan dia tahu menantunya itu sudah terlihat kelelahan jika berjalan jauh dengan perut sebesar itu.