
Bimo berjanji pada Aryo malam ini akan menginap di rumah Papi nya.Dia akan menjemput Adinda dari rumah sakit setelah dinas. Aryo mengangguk lemas dia memang sedang butuh tempat curhat yang benar dan itu tempatnya adalah Abang sulung nya.
Setelah memutuskan telepon. Aryo segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang nyaman. Bunda selalu menjaga kebersihan dan kerapihan kamar nya walaupun Aryo jarang menempatinya.
Tok..tok..tok..
Pintu kamarnya di ketuk dari luar, Aryo bergegas bangun dari posisi nya yang sedang tengkurap. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Tenyata Bunda yang tadi mengetuk pintu kamarnya.Bunda membawa selimut tebal yang telah rapi dan wangi.
"Yo' ini selimutnya baru selesai di laundry sama Mbok Nah."
Aryo menerima selimut pemberian Ibu sambung nya itu dengan wajah muram. Ibunya melihat lagi ke wajah Aryo dan keheranan akan sikap Aryo tadi terlihat ceria setelah dari wakuncar. Kenapa sekarang berubah muram.
"Aryo sakit nak?" tanya nya kuatir
Aryo menggelengkan kepalanya. Dia tak mau ibunya kuatir." Aryo sehat Bun, hanya lelah saja."
Bunda menempelkan punggung telapak tangan kanan nya di kening anak nya itu walaupun sudah se besar ini namun perhatian bunda masih sama seperti dia masih kanak-kanak dulu. Tidak berkurang sedikitpun kasih sayang bunda walaupun mereka sudah memiliki si bungsu Myrna yang manja.
"Gak apa-apa Bunda. Aryo sehat, mumpung ada cuti satu Minggu ini Aryo mau manfaatin untuk istirahat yang banyak di kamar " jawabnya sambil mengambil tangan ibunya dan menggenggamnya dengan penuh kasih.
Gurat halus telah menghiasi kening ibunya namun tak menghilangkan kecantikan dan kebaikan di hatinya. Ibunya kemudian menepuk pipi Aryo lalu berbalik kembali ke kamarnya.
Setelah ibunya berlalu Aryo segera menutup pintu lagi dan kembali merebahkan tubuhnya yang kekar. Ponselnya berbunyi lalu dia melihat nama Andrea yang terpampang seketika senyumnya terbit. Hati yang tadi galau jadi ceria lagi.
Mereka berdua ngobrol kesana kemari menuntaskan rindu yang tadi belum tuntas sampai tak terasa sudah satu jam dan tiba-tiba saja Bimo sudah menepuk pantatnya dengan keras. Aryo mengaduh kesal karena obrolannya dengan Andrea terganggu. Namun dia segera memamerkan deretan gigi rata nya pada Bimo karena dia tak mau Bimo ngambek tak mau menginap disini sedangkan saat ini dia butuh sharing dengan abangnya.
__ADS_1
Dia menyudahi obrolannya dengan Andrea dan berjanji besok siang akan main lagi kesana mumpung masih cuti.
Bimo memberikan sekotak makanan cepat saji kesukaanya. Ayam goreng crispy saus pedas dan kentang satu bungkus.
"Nih, buat cemilan hahaha"
"Eh, junk food nih Mas, tapi gak apa-apa sih daripada mubazir..hehehe..thanks you brother"
"Alaaah lagunya junk food padahal tiap pesiar minta nya makanan ini kan?" kata Bimo sambil melempar satu sachet saus cabe ke arah Aryo.
Aryo tertawa terbahak lalu meletakkan makanan nya ke atas nakas. "Myrna tadi udah dapat jatah belum?"
"Udah dong..mana mau buka pintu kalau gak di bawain sogokan ayam crispy begini. Persis abang nya yang kolokan ini deh!" ledek Bimo. Aryo nyengir saja memang mereka berdua memiliki kemiripan dalam hal selera makanan.
Adinda sedang berbicara dengan kedua mertuanya di ruang keluarga. Mereka bertigaJ terlihat asyik menikmati Risol mayo dan sekuteng buatan Bunda tadi sore. Dan Myrna terlihat menikmati Ayam crispy dari Bimo di meja makan.
Myrna nyengir sambil mengacungkan jempol kanan nya.Papi menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku anak gadisnya yang manja.
"Din, kalau mau nambah lagi masih ada di meja makan ya risolnya" tawar Bunda sambil menyendokkan sekuteng ke mulutnya.
"Iya beres bunda. Nih masih belum habis" jawab Wanita berparas manis itu.
Bimo keluar kamar bersama Aryo dan bergabung dengan mereka. Bimo berencana akan menceritakan masalah yang menimpa adiknya itu pada Papi dan Bunda agar mereka bisa memberikan saran terbaik buat adiknya.
Sebenarnya Aryo keberatan jika masalah ini di ketahui Papi nya karena dia takut Papi akan meradang dan tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Namun Bimo menenangkannya dia berkata jika masalah ini adalah masalah keluarga yang harus di pecahkan bersama.
__ADS_1
Setelah Bimo menceritakan iso hati Aryo pada Papi dan Bunda, terlihat sekali wajah Papi merah menahan amarah namun bunda selalu siaga menepuk-tepuk lengan suaminya berusaha menenangkan agar tensi nya tidak naik.
"Pi, jangan emosi ya. Sabar dulu kita cari solusi bersama. Kasihan jantung dan tensi Papi" kata Bunda lembut.Papi merubah posisi duduknya menjadi bersandar lagi di punggung sofa yang empuk.
"Sungguh keterlaluan sekali Mami nya anak-anak. Enak sekali main jodoh-jodohin dengan keponakannya." katanya dengan geram.
Bimo dan Aryo menunduk dia tak berani melihat wajah ayahnya namun mereka juga mengharapkan solusi untuk masalah ini.
"Kapan Mami kalian datang kemari? Suruh menghadapi Papi kalau dia kemari! Bimo bilang sama Mami kamu, jangan berani menekan anak dengan pura-pura sakit seperti itu! Lagu lama di ulang lagi oleh Mami kalian!"
"Pi, sabarr..sabarr" Bunda mengelus lengan Papi lagi menenangkan singa yang sedang terluka. Rasa sakit hati pada mantan istrinya terasa lagi. Dia sebenarnya sudah melupakan kepahitan dan luka di khianati mantan istrinya. Namun dia kembali merasakan luka lagi saat Hanah mantan istrinya yang matrealistis itu mencoba menjodohkan anak kedua nya dengan wanita pilihannya yang di katakan lebih dari Andrea gadis tunangan Aryo.
Hanah tak pernah berubah dari dulu hanya harta dan kedudukan saja yang di pikirkannya. Dia tak pernah merawat Aryo dan Bimo sejak kecil tapi tiba-tiba dengan kekuatannya sebagai ibu kandung mendoktrin anaknya agar menuruti keinginannya.
Dia tak akan membiarkan Hana menekan Aryo karena dia sudah tahu motif Hana hanya ingin kedudukan nya di mata masyarakat saja biar selalu di anggap orang terhormat. Hati seorang ayah yang tak rela jika anaknya tersakiti walauoun oleh orang tua kandung nya sendiri.
Dia tak akan mengajari Aryo berbuat tak baik pada ibunya dengan cara menolak keinginan nya namun dia akan mencari cara agar Hana tahu sendiri bahwa pilihannya itu tidak baik untuk Aryo. Pak Bagus yakin akan mendapatkan cara untuk menghalangi niat Hana.
"Aryo, besok kalau Mami kalian datang,Papi undang ke rumah ini bersama dengam gadis pilihannya." akhirnya Pak Bagus menyuarakan ide yang tadi melintas di pikirannya. Dia akan memberi pelajaran pada mantan istrinya itu.
"Papi mau merencanakan apa pada Mami?"tanya Aryo cemas.
Pak Bagus hanya terkekeh saja. Dia tahu Aryo pasti menduga-duga hal yang tidak-tidak. Namun dia menjamin jika semua akan aman terkendali kecuali jika keadaan memaksa dia bertindak di luar rencana nya.
Adinda tak mau berkata apapun karena bukan kapasitasnya berpendapat karena dia tidak sedang di mintai pendapat juga. Dia hanya percaya jika Papi mertua nya itu mampu mengendalikan keadaan dalam situasi sesulit apapun.
__ADS_1
" Tolong aku Pi, jangan biarkan Mami mengatur masa depan dan kehidupan ku" bisik Aryo lirih.
"Tak usah kuatir akan hal yang belum terjadi nak. Serahkan semua pada Allah SWT yang akan mengatur hidup mu.Percaya lah semua akan baik-baik saja" kata Pak Bagus lembut. Membuat semua anggota keluarga nya lega.