
Dona heran sekali dengan sikap Om Ferdy yang tampak acuh dan terburu-buru meninggalkan nya, dia memutus kan untuk ke kamat tante nya untuk mengorek keterangan penyebab si Om kesal.
Tok..tok..tok...
Tok..tok..tok..
Dua kali ketukan di pintu kamar nya membuat Hana tersenyum sumringah dia menganggap bahwa suami nya itu kembali lagi ke kamar setelah berdebat tadi.
Hmmm...apa ku bilang pasti Papa gak akan bisa marah lama sama Mama..Dan gak bakalan bisa dia jauh dari Mama. Batin nya senang dan dia berjalan ke arah pintu dan segera memutar gagang nya.
Klek...
Ternyat wajah yang nongol di depan nya itu bukan wajah suami nya. Dia mendesah kecewa karena tebakan nya meleset.
"Hai Tan, boleh masuk?!" pinta Dona. Bu Hana melebarkan daun pintu dan tangan nya mempersilahkan keponakan nya itu masuk.
Dona melenggang masuk ke dalam kamar yang masih dalam kondisi berantakan karena baju Bu Hana berserakan di lantai dengan koper yang masih terbuka.
" Tan, Om Ferdy tadi kemana kok seperti buru-buru sih?" tanya Dona sambil meletak kan bobot tubuh nya di atas ranjang yang berukuran Queen size itu.
Bu Hana menghel nafas perlahan sambil tangan nya memungut pakaian satu persatu dan mulai di susun nya di dalam lemari.
"Om kamu seperti nya lagi angot ngambek. Kami tadi sempet berselisih paham sedikit. Dia gak suka dengan sikap Tante tadi ke itu tuh si Andrea kampungan itu! Dan dia menyuruh Tante merestui mereka!" jawab Bu Hana sambil terus merapikan pakaian nya.
Dona mengernyitkan kedua alis nya yang tebal. Dia tak menyangka jika Om Ferdy memiliki respek pada Andrea.
__ADS_1
"Maksud nya Om Ferdy tidak mendukung Tante untuk memisah kan Aryo dan Andrea? Dia setuju dengan pertunangan mereka?" sungut Dona kesal.
Bu Hana mengangguk kan kepala lalu dia menutup pintu lemari dan ikut duduk di sebelah gadis itu..
"Terus Tante jawab apa saat Om ferdy menyuruh seperti itu?" Dona sedikit merajuk.
"Tante bilang Om tak usah ikut campur urusan ini, eh tiba-tiba Om marah dan keluar meninggal kan Tante. Ya sudah lah paling nanti dia kembali kemari"
Dona menghembuskan nafas lega namun di dalam hati Bu Hana sedikit ada kekuatiran jika suami nya benar-benar marah dan meninggalkan nya disini sendiri. Karena tadi dia memang sedikit keterlaluan juga hmmm...sedikit menurut dia padahal hal itu telah melukai harga diri suami nya.
Sebenar nya dia sangat tahu watak Ferdy jika marah dia tak akan bisa lama-lama paling lama 3 jam pasti dia gak akan betah mendiam kan istri nya sendiri maka dari itu dia tidak terlalu ambil pusing dengan kepergian suami nya toh beberapa jam lagi pasti dia akan kembali menemui nya.
Dona pamit kembali ke kamar nya karena sudah menguap berkali- kali ingin mengistirahatkan mata dan tubuh nya. Setelah kepergian Dona wanita paruh baya yang masih rajin suntik antiaging di klinik kecantikan itu merebahkan tubuhnya.
Dia menunggu kedatangan Ferdy sambil iseng mengirim pesan singkat pada Bimo menanyakan kabar Aryo.
Di dalam taxi online yang membawa nya ke bandara Adi Sumarmo, Pak Ferdy termenung memikirkan sikap istri nya yang makin tak terkendali dan sifat keras nya yang sering mengintimidasi orang membuat orang di sekitar nya sakit hati.
Pak Ferdy tadi segera memesan tiket online ke Bandung karena dia benar-benar marah pada Bu Hana karena merasa tak di hargai sebagai seorang suami. Bahkan dia tak meminta pendapatnya ketika mengambil keputusan untuk memisah kan Andrea dan Aryo.
Dia melihat Andre adalah gadis yang baik dan tidak neko-neko terlepas dari dia baru pertama kali bertemu dengan gadis itu di Rumah Sakit tadi sore, berbeda dengan Dona walaupun dia keponakan Hana dan katanya dari keluarga ningrat dan lulusan luar negeri tapi sikap nya sungguh arogan dan terkesan pemaksa persis seperti Tante nya. Walaupun mereka masih ada hubungan saudara jauh tapi Ferdy tidak mengenal baik kepribadian Dona.
Dia menghembuskan nafas berat, untung nya tadi dia mendapat tiket ke Bandung untuk penerbangan terakhir malam ini dan masih ada waktu 1 jam lagi untuk boarding.
Entah kenapa dia sudah lelah dengan sikap Hana yang keras dan tak mau mengalah itu. Selama mereka menikah dia selalu mengalah jika berdebat atau berselisih paham dengan Hana, berkali-kali dia di kecewakan namun dia pun sering memaafkan tapi kali ini hati nya benar-benar tersinggung karena sebagai lelaki dia merasa tak di hargai lagi.
__ADS_1
Berkali-kali telepon dari istrinya di abaikan dan 10 kali pesan singkat melalui aplikasi hijau itu tak di balas hanya di baca saja. Tekad nya sudah bulat ingin memberi pelajaran pada istri nya agar tidak menyepelekan status nya sebagai kepla keluarga.
Di kamar Hotel Bu Hana kesal sekali dengan Pak ferdy dia akhir nya tertidur dan berharap suami nya itu akan kembali lagi ke hotel untuk menemui nya lagi.
~💥💥
Suara mesin monitor yang memperdengarkan detak.jantung terdengar mengiris hati, Aryo sudah di pindah ke ruang ICU untuk di observasi pasca operasi jika besok kondisi nya sudah membaik maka bisa di pindah ke ruang perawatan.
Bimo masih duduk di temani oleh Danu dan Fahmi teman nya. Mereka tampak mengobrol mengenai kondisi Aryo tiba-tiba suara ponsel nya berbunyi.
Ternyata Adinda sang istri tercinta sedanh menghubungi nya, dia sudah 3x ini menghubungi sang suami. Maklum pengantin baru yang belum pernah berpisah lebih dari sehari. Dinda memang tidak bisa menemani keluarga Bimo ke Jogja karena tadi ada meeting penting di kantor nya yang tidak bisa di wakil kan.
Dinda menanyakan kondisi adik ipar nya pasca operasi. Dia juga merasakan kesedihan yang mendalam terkait musibah yang di alami Aryo.
Jika besok dia bisa meminta ijin pada sang atasan dia akan terbang ke Jogjakarta untuk menemani Bimo. Setelah selesai bercakap-cakap dengan istrinya ponsel nya berdering lagi yang ternyata si Mami yang menanyakan kabar adik nya.
Mami juga menanyakan apakah Andrea muncul kesana lagi untuk menunggui Aryo karena gadis itu memnag tak ada disitu maka Bimo mengatakan hal yang sebenarnya dan si Ibu menitip pesan jika nanti ada Andrea, Bimo harus mengusir gadis itu.
Bimo tak mengindah kan permintaan ekstrim ibu nya itu. Dia masih tak mendukung keinginan ibu nya untuk memisah kan cinta mereka berdua. Dan memang Bu Hana juga segan dengan si sulung sehingga dia tak memaksa nya terlalu berlebihan takut Bimo marah.
Setelah selesai meladeni Ibu nyae melalui telpon, Bimo menghempas kan pantat nya lagi ke bangku tunggu di depan ruang ICU. Saat ini Aryo dan Galuh memang mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Dan tadi ada orang tua dan Adik nya Galuh bercakap-cakap dengan nya mengenaik kondisi Galuh dan Aryo.
Tap..tap..tap
Suara langkah kaki di koridor rumah sakit terdengar jelas apalagi koridor yang menuju ruang ICU ini hening dan sepi sehingga ada suara agak bising sedikit pasti terdengar.
__ADS_1
Bimo melongok ke arah suara langkah itu. Terlihat Myrna dan Andrea berjalan mendekati nya. Wajah kedua gadis itu tampak segar walaupun masih ada sisa sembab yang terlukis disitu.