
Andrea berlari kecil menuju kelas nya, dia terlambat sepuluh menit dari jam masuk gara-gara sejak tadi malam perutnya melilit dan bolak balik buang air besar. Ibunya sudah menyarankan untuk absen satu hari saja karena tak tega melihat wajah kesakitan putri sulung nya.
Namun Andrea merasa enggan meninggal kan mata kuliah wajib yang sangat di segani mahasiswa hukum yaitu mata kuliah PHI (pengantar hukum Indonesia). Dosennya yang pelit senyum dan suka memberikan tugas dadakan dan mid tes itu membuat nya harus memaksakan diri hadir mengikuti kelas.
Tok.. tok.. tokk
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, mendadak kelas menjadi hening. Pak Dewanto si dosen menyebalkan itu melirik ke arah pintu.
"Masuk! "suara bariton nya terdengar, lalu muncul lah seraut wajah cantik jelita di depan pintu.
"Selamat pagi Pak, Maaf saya terlambat karena sedang kurang sehat" jawab Andrea beralasan. Memang wajah nya yang cantik dan biasa terlihat segar itu tampak sedikit pucat.
Lelaki bujang tua itu melihat sosok Andrea yang sangat cantik di mata nya. Dia yang Biasanya galak dan tak ada toleransi terhadap mahasiswa / mahasiswi yang telat itu tiba-tiba terkesima. Naluri kelelakiannya kembali muda lagi.
Tiba-tiba Pak Dewanto tersenyum ramah dan mempersilahkan Andrea masuk ke dalam kelas. Bahkan setelah Andrea duduk Pak Dewanto malah asyik memperhatikan wajah mahasiswi nya itu.
"Siapa nama kamu? "tanya Pak Dewa, panggilan akrab para mahasiswa nya.
Diantara ratusan mungkin ribuan mahasiswa nya, hanya Andrea saja yang pernah di tanyai namanya.
"Andrea Pak" jawab nya pelan sambil meringis menahan sakit perut tiba-tiba. Pak Dewa seperti nya menaruh empati pada mahasiswi nya yang sedang kesakitan itu.
"Lebih baik kamu segera ke klinik kampus,wajah kamu pucat! tolong salah satu dari kalian mengantar Andrea kesana" perintah Pak dewa dengan suara yang di pertegass.
Beberapa mahasiswi kasak kuduk melihat sikap Pak dewa yang biasanya dingin berubah menjadi hangat. Ada beberapa mahasiswa yang berusaha menjadi Body guard Andrea dan menawarkan diri mengantar nya ke klinik.
"Biar saya saja Pak yang mengantar Andrea! " Rico si cowok flamboyan di kelas menawarkan diri. Andrea menggeleng karena dia tidak ingin nanti Rico mengambil kesempatan untuk mendekatinya.
"Saya sama Mitha saja Pak " ujar nya dengan nada lemas.
__ADS_1
Akhirnya Mitha teman akrab Andrea di kelas menggandeng lengan nya keluar kelas, dan lamat-lamat terdengar suara Pak Dewa menggelegar menerangkan materi.
Andrea memasuki klinik dan di bantu salah satu perawat yang sedang berjaga untuk Tiduran di bed pasien.
Seorang dokter wanita yang sedang piket mulai memeriksa nya. Pertama dia memeriksa detak jantung dan denyut nadi, lalu memukul pelan perut gadis itu beberapa kali. Setelah itu dr Arlita menyuruh Andrea untuk duduk dan menyuruh Mitha untuk masuk ke ruang konsul nya. Mereka berdua duduk di hadapan dokter yang ramah itu.
" Sudah berapa kali buang air besar nya mbak? "tanya dr Arlita sesuai dengan name tag di dada nya.
"Ini Sudah enam kali dok sejak dari rumah." jawab Andre dengan meringis menahan perut yang kembali melilit.
"Terakhir makan apa saja sebelum diare? dan obat apa saja yang telah di minum tadi? " lanjut dokter sambil menulis resep di kertas resepnya.
"Semalam saya kehujanan dok, terus saya langsung makan bakso dengan kuah yang super pedas. Saya tadi pagi minum 2 tablet diare saja" Kata Andrea masih meringis menahan gas di dalam perutnya yang menggelegak.
"Hmmmm.... jadi gitu ya. Sementara makanan nya yang bertekstur lembek ya, lambung anda sedang tidak baik-baik saja. Ini resep yang harus di tebus. Tolong hindari makanan yang asam dan pedas" kata dr Arlita sambil menulis kan resep untuk pasien nya.
"Untuk saat ini sebaiknya mbak Andrea istirahat di klinik dulu, dan ini resepnya tolong berikan ke kamar obat di sebelah ruangan saya, lalu minum obat sebelum makan"
" Dre kata petugas apotik nya tadi di minum sebelum makan. Setelah itu harus makan dengan makanan yang lembek. Aku ke kantin dulu ya mau beliin kamu bubur ayam " Kata Mitha sambil menggenggam telapak tangan Andrea yang agak demam.
"Ini Mit, bawa aja dompet aku. Pakai uang yang ada disitu" kata Andrea sambil mengeluarkan dompet warna merah pada temannya
"Gak usah Dre, kan cuma beli bubut doang yang ceban juga dapat. Gak sampai jual motor kok hahahaha" canda Mitha sambil tertawa garing.
Andrea tersenyum Sungkan walaupun mereka berteman baik, dan namun dia tak mau merepotkan temannya yang sudah rela memberikan waktu kuliah nya untuk mengantarnya ke klinik. Dia merasa tak enak jika merepotkan Mitha lagi.
"Udah bawa aja sih, Please aku gak mau minum obat kalau kamu tak mau bawa dompetku ini "ancam Andrea dengan bercanda.
"Ish nih anak bandel beud sih, nanti saja aku bawa dan habiskan isi dompetku kalau kamu udah sehat oke! Dah aku cabut dulu kelamaan ntar sakitnya "
__ADS_1
Akhirnya Andrea hanya bisa mengangguk kan kepala sambil mulai minum obat nya. Tadi perawat juga memberikan segelas air mineral untuk nya.
klinik yang berukuran 6 x 10 meter itu hanya klinik kecil aja dan di sediakan khusus untuk mahasiswa dan mahasiswi kampus itu.
Klinik sederhana hanya untuk pasien dengan penyakit ringan. Dan tak memungut biaya sepeser pun untuk seluruh civitas akademika disitu.
Penggagas terbentuknya mini klinik itu dari Rektor lama yang sudah purna bakti. Beliau menginginkan ada fasilitas kesehatan pertama di dalam kampus itu, agar para civitas akademik yang saat berada di kampus sedang kurang sehat bisa berobat gratis. tanpa harus keluar biaya dan keluar dari lingkungan kampus.
Pintu klinik terbuka dari luar tampak sesosok lelaki tampan memakai kemeja flanel coklat sedang berdiri di depan meja resepsionis.
Sesaat kemudian seorang perawat menyuruh nya masuk ke dalam ruang tunggu. Dan saat dia sedang menyandarkan kepala nya di bangku ruang tunggu seorang gadis keluar dari dalam ruangan.
"Andrea! "
"Mas Zul! "
Keduanya sontak saling menyebutkan nama karena sedikit terkejut.
"Lho kamu kenapa disini?kamu sakit?"tanya Zul terkejut
Andrea mengangguk kan kepalanya dia terpaksa tersenyum sambil menahan perih.
"Mas Zul ngapain? sakit juga? "
Zulfikar menggaruk kan kepala nya yang tak gatal.
"Aku mau nganter ini buat Mitha. Tadi aku ketemu dia ke kantin beli bubur ayam aku di suruh nya langsung nganter kesini. " jawab Zul sambil memperlihatkan sekotak makanan ke arah Andrea.
Andrea celingukan mencari keberadaan Mitha.
__ADS_1
"Mitha lagi ambil tas di kelas katanya" jawab Zul seolah tahu apa yang di pikirkan Andrea. gadis itu manggut-manggut tanda mengerti.
"Dek, lebih baik aku antar kamu pulang aja, wajah kamu masih pucat itu. Daripada tidur disini kan? " tawar Zul pada gadis itu.