
Hana Sarasvati seorang wanita yang mendekati setengah abad itu terlihat makin cantik dan menawan diantara beberapa teman dekatnya. Kembang kampus dulu julukannya sehingga banyak kumbang berkeliaran mengelilinya.
Namun hati Hana tertambat pada seorang lelaki sederhana yang tampan. Bagus Permana adalah Kakak kelas Hana dan mereka berdua adalah idola di kampus nya. Bagas yang pendiam dan berprestasi selalu mendapat beasiswa di kampus membuat Hana sangat tertarik dan dia pula yang mengejar ngejar Bagus hingga akhirnya lelaki itu pun menerima cinta nya.
Awalnya Bagus tak tahu jika Hana adalah seorang anak manja dari keluarga kaya yang hidupnya tak pernah merasakan susah dan kekurangan. Dia hanya tahu Hana adalah gadia cantik yang baik dan ceria selalu bersemangat jika bertemu dengan nya.
Bagus baru mengetahui kehidupan asli Hana setelah mereka berdua sudah mulai hubungan yang lebih serius. Hana mengajak Bagus datang ke rumahnya saat ada Ayah dan Ibunya di rumah karena biasanya mereka berdua jarang sekali ada di tempat karena sering bepergian keluar negeri.
Hana mengamit tangan Bagus dengan bahagia, dia ingin memperkenalkan lelaki pilihannya pada kedua orang tua nya. Lelaki tampan yang membuat nya tergila-gila dan tak mengindahkan para kumbang jantan yang berlomba mendekati nya. Senyum nya selalu terkembang sempurna saat menggenggam erat jemari tangan Bagus.
Ayah dan Ibu nya adalah orang tua yang memiliki trah keturunan darah biru dan seorang kaya dari turunan nya. Mereka berdua memikiki kriteria khusus dalam mencari calon menantu anak-anak nya. Pasti yang di utamakan adalah bobot,bibit dan bebet nya yang memiliki kualitas dan status kedudukan yang sama dengan keluarga mereka.
"Ayah, Ibu perkenalkan ini Mas Bagus." Hana memperkenalkan Bagus di hadapan kedua orang tuanya. Bagus memberikan hormat dengan mencium kedua tangan mereka.
Pak Wiryo memberikan tangan kanan nya untuk di cium oleh Bagus namun pandangan matanya tak lepas menyelidik dari atas kepala hingga ke ujung kaki Bagus. Begitu pun dengan Bu Dewi istrinya bersikap sama namun masih menunjukkan respek pada Bagus.
Ckk!!
Menyebalkan sekali sikap Ayah dan Ibu pada Mas Bagus. Taruh lah mereka kurang suka namun jangan terlalu di perlihatkan di hadapan Mas Bagus begini.
"Duduk !"perintah Pak Wirya tegas.
Bagus dan Hana duduk sambil menundukkan kepala dalam-dalam tak berani menatap wajah Ayah Hana. Pun dengan Istrinya juga tak berani bersuara memecah keheningan..,.
"Sudah punya apa kau berani mencintai anak saya? " tanya Pak Widya to the point tanpa tedeng alih-alih lagi. Karena bagi nya membawa seorang laki-laki masuk ke hadapan mereka berarti lelaki itu memiliki hubungan khusus terhadap putri-putrinya.
Hana memiliki seorang kakak perempuan dan adik laki-laki. Kakak Hana, Mbak Trini telah menikah dengan Adinata lelaki pilihan orang tuanya. Dan masih terhitung kerabat jauh dari Ayah nya.
"Ayah!! " Seru Hana tak suka dengan pertanyaan Ayah nya. Dia kasihan dengan Bagus yang masih duduk menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Diam Hana! Biar kan lelaki pilihan mu ini mengatakan kesanggupannya ketika berani memilih kamu! " jawab Wira lagi.
Bagus merasa tertentang dengan perkataan Ayah Hana. Dia kemudian mulai menjawab "Maaf kan saya Pak, sudah berani mencintai dek Hana. Memang saya belum memiliki sesuatu yang berharga seperti yang Bapak tanyakan. "
"Namun ijin kan saya memilih dek Hana menjadi pendamping hidup saya dan berjanji akan membahagiakan dek Hana dengan seluruh hidup saya "
pak Wirya terkekeh mendengar jawaban pemuda di depannya itu. Dia menyangsikan kesanggupan pemuda di hadapannya itu mengingat penampilanmu sangat sederhana sekali dan mungkin dia tak bisa memenuhi kriteria yang di ingin kan nya untuk calon menantu idaman nya.
"Siapa nama mu? "tanya Pak Wirya
"Nama saya Bagus Permana Pak"
"Hmmm... ceritakan sedikit tentang dirimu dan keluarga mu, mungkin bisa jadi pertimbangan saya" Lelaki berusia 58 tahun itu menginterogasi.
Bagus melirik Hana, gadis itu mengangguk seakan mengijin kan nya berbicara.
"Saya seorang Mahasiswa semester akhir di kampus yang sama dengan Hana. Orang tua saya sekarang tinggal Ibu saya. Ayah saya sudah lama meninggal saat saya masih duduk di bangku Sekolah menengah." Bagus menghela nafas mencari oxygen yang akan di isikan ke dalam paru-paru nya
Bu Dewi tertarik mendengar Ibu Bagus seorang juru masak.
"Di restoran mana ibu mu bekerja? "tanya Ibunya Hana sambil melihat ke wajah Bagus.
"Di Restoran Padang Selera bundo"
Bu Dewi menutup mulutnya karena restoran yang di sebutkan Bagus tadi milik salah satu kolega suaminya.
"Sudah lama kah ibu mu bekerja disana? " cecar nya penasaran.
Bagus Mencoba mengingat memori nya yang sudah lama tersimpan.
__ADS_1
"Sudah bu, sejak Ayah saya meninggal dunia Ibu bekerja disana"
Pak Wirya tersenyum miring seakan meremehkan profesi Ibu Bagus. Namun Hana mencoba menetralisirkan keadaan yang kurang menyenangkan itu.
"Pekerjaan Juru Masak sangat berarti bagi seorang pengusaha restoran, bukan lah demikian Ayah? " tanya Gmna mencoba membuka pemikiran Ayah nya.
"Hemmm... " jawab Ayah nya agak berat karena dalam hati nya sangat membenarkan pemikiran Hana.
"Lalu apa rencana mu jika kami merestui kalian? Apa yang akan kau berikan pada putri kesayangan kami? "
Tubuh Bagus berkeringat dingin, se umur hidup baru kali ini dia merasakan kegugupan yang teramat sangat menyiksa dirinya.
Jika dia tak mencintai wanita di samping nya itu maka tak sudi rasanya dia berada di situasi yang tak menyenangkan ini.
Harga diri nya sedikit tercubit menghadapi orang tua Hana namun dia harus memperjuangkan wanita cantik ini karena dia serius ingin merenda masa depan bersama nya.
"Saya tidak bisa berjanji terlalu muluk pada Bapak dan Ibu namun saya bisa berjanji akan membahagiakan Hana saat hiduo bersama saya" jawabnya mencoba mempertahankan harga diri nya.
Pak Wirya terkekeh melihat kenekatan anak muda di depan nya itu, batin nya mungkin Bagus tak tahu nama Wiraguna Aditama Prasetya di kota ini sehingga dia berani sekali mencintai putri kesayangannya padahal dirinya tak punya kedudukan yang sama dengan keluarga nya.
"Pulang lah dulu ke rumah, perbaiki niat mu dan perbanyak bekal mu dulu jika sudah bisa memenuhi permintaan kami datang lah kembali kemari meminta Hana maka restu akan kau dapatkan" jawab nya dengan suara menekan tegas.
"Buat kan Hana rumah seperti yang sekarang dia diami,dalam tempo 6 bulan. Sanggup? " sambung nya lagi.
Bagus tertegun mendengar permintaan Pak Wirya itu seperti isyarat penolakan halus dari Pak Wirya, air mata Hana mengalir deras mendengar permintaan Ayah nya.
"Ayah mana mungkin Mas Bagus bisa memenuhi permintaan Ayah dalam tempi yang sangat cepat itu? Aku tak setuju! "
Pak Wirya melirik istrinya minta dukungan akan aksinya. Bu Dewi mengangguk menandai dia setuju dam akan membantu melancarkan aksi suami nya.
__ADS_1
"Hana, kalau memang Bagus cinta kamu Dan mau berjuang untuk mendapatkan kamu untuk menjadi pendamping hidup nya, maka Bagus harus berusaha memenuhi permintaan Ayah mu. Toh nanti semua itu untuk kebahagian kamu juga" lanjut Bu Dewi.
Hana menghembuskan nafas kesal "Ayah tak boleh menolak Mas Bagus. Hana cinta mati sama dia, kalau Ayah tak merestui kami, maka jangan harap besok bisa melihat Hana bernafas lagi! " gadis itu menangia keras dia tahu orang tua nya menolak Bagus maka dari itu mereka berusaha mengajukan persyaratan yang tidak masuk akal